Cerita Panas Bersambung – “Aahhh… aaahhh… sssttt… shhh…” hanya desahan dari Bu Rina yang kudengar saat kumasukan lidahku ke lubang vaginanya. “Iya, sayang, terus! Sshhhs… Itu itilnya juga ya, sayang!“
Berbunga-bunga aku dipanggil sayang oleh Bu Rina. “Itil tuh yang mana, bu?” aku bertanya belum paham.
“Itu tuh yang seperti kacang tapi kecil.” jawabnya parau.
Oke, aku menemukannya, ada di atas bibir vagina bu Rina. Tanpa bicara lagi langsung aku jilati benda mungil bernama itil itu. “Ouw yah, terus sayang…! isep yang kuat! Owwhhh… sssshhh…” bukan hanya desahan kali ini, tapi juga erangan keluar dari bibir manis Bu Rina.
Rintihannya terdengar dahsyat. Bu Rina memegang rambutku, mengisyaratkan agar aku lebih kencang menghisap-hisap itilnya. Tubuh Bu Rina yang montok dan semok menggeliat dan menggelinjang-gelinjang semakin kencang dan tak beraturan. Kupegangi pinggulnya agar itilnya tetap dalam hisapanku.
“Oowwhhhhh…. Sayaaang!” erang panjang Bu Rina. Kurasakan cairan hangat keluar dari lubang vaginanya. “Hhhh… hhh… Ibu sudah keluar, sayang.” katanya sambil terengah-engah. “Sini, masukin punya kamu, Din!” Bu Rina memegang penisku dan menuntunya masuk ke lubang vaginanya.
Cleebb! Kudorong penisku hingga masuk menembusnya. Terasa hangat dan ketat kurasakan. ”Goyang, Din. Gerakkan maju mundur, tapi jangan sampai lepas.” perintahnya. Mulai kugoyang pinggulku sambil kupegangi pinggang ramping Bu Rina. Payudaranya yang membulat besar, yang terlihat sungguh sangat menggiurkan, masih belum berani kupegang.
“Owh yeah, sayang… hmmmm… sshhh.. yeah…” Bu Rina kembali mendesah. Kupercepat gerakanku yang terus menghujam vaginanya. “Owhhh… ahhhhh… oowwssshhhhhh…“ desahannya terdengar semakin memilukan. ”Aarrgghhhhhhhh…!” kembali Bu Rina mengerang panjang, dan kali ini cairan hangat terasa menyembur di batang penisku. Ternyata dia telah kembali orgasme.
“Kamu juga keluarin dong, sayang.” rayu bu Rina genit dengan muka memerah dan berkeringat.
“I-iya, bu.” aku memang merasa seperti kebelet namun kutahan dari tadi. Aku masih ingin menikmati rasa ini sedikit lebih lama. “Ntar kalau keluarnya di dalam gimana, bu?” tanyaku sambil terus menggoyang.
“Gak pa-pa, sayang, Ibu sudah di KB kok. Mau gaya lain gak, sayang?” tawarnya.
“Gaya gimana, bu?” tanyaku yang memang belum pengalaman.
Bu Rina mengeluarkan penisku dan langsung nungging. Kulihat pantatnya yang masih kencang, mulus dan besar, lalu dituntunnya lagi penisku masuk ke lubang vaginanya. “Hmm, nikmat, sayang!” erang Bu Rina saat kutusuk tubuh montoknya dari belakang.
“Iya, bu. Nikmat baget…” aku mengangguk mengiyakan. Ternyata gerakan nungging ini membuatku tak tahan. Semakin cepat kugoyang Bu Rina, semakin terasa nikmat kedutan di ujung penisku. “Aaahhh….” aku mengerang keenakan.
“Ooowhhh… shhhh…” desis Bu Rina tak kalah nikmat.
“Aku mau keluar, sayang.” tanpa sadar, aku ikut memanggil Bu Rina dengan sebutan sayang.
“Aku juga, sayaaaang…!“ Bu Rina menjerit panjang.
“Ahhhh…” aku menggeram. Lalu crottt.. crottt.. crottt.. aku pun meledak, spermaku berhamburan memenuhi liang kewanitaannya.
“Ahhh… shhh… nikmat, sayanggg…” Bu Rina menyambutnya dengan semburan yang tak kalah dahsyat. Dia kembali orgasme untuk yang ke sekian kalinya.
Aku pun terkulai lemas di lantai sambil menyandarkan tubuhku ke sofa. Bu Rina turun dari sofa dan ikut berbaring di lantai dengan kepala diletakkan di pahaku. Untuk sesaat kami hanya tertegun diam tanpa kata. Setelah nafas kami kembali teratur, aku segera mengenakan kembali pakaianku, begitu juga dengan Bu Rina. Kami berpelukan dan berciuman sesaat sebelum akhirnya berpisah malam itu.
Aku tertegun di kamar kost-anku, perasaanku tak menentu, pikiranku kacau balau. Aku masih belum percaya dengan kenikmatan yang baru saja kurasakan, namun di sisi lain ada perasaan takut dengan apa yang telah terjadi. Mungkinkah suatu hari suami Bu Rina akan mengetahui atau kah sikap Bu Rina akan berubah terhadapku. Tidak bisa dipungkiri meski usia Bu Rina dua kali lebih tua dariku tapi ada perasaan yang special terhadapnya.
Esoknya aku menjalani aktivitas seperti biasa, bangun pagi dan berangkat ke kampus. Seperti biasa juga kulihat Bu Rina sedang menjemur pakaian di depan kamar kostku. Namun ada yang tidak biasa pagi ini, biasa nya Bu Rina selalu mengunakan jilbabnya bahkan sedang menjemur sekalipun namun pagi ini kutemui Bu Rina menjemur tanpa jilbabnya, bahkan hanya menggunakan daster tipis. Aku berjalan menuju luar, Bu Rina hanya memandang sesaat, tanpa sapa bahkan tanpa senyum. Sungguh aneh aku rasa, biasanya kalau aku lewat Bu Rina selalu menyapa atau setidaknya tersenyum.
Di kampus, pikiranku melayang, pelajaran kuliah tak ada yang masuk. Pikiranku terus tertuju pada Bu Rina, apakah Bu Rina menyesali apa yang telah aku dan dia lakukan sehingga sikapnya dingin begitu. Aku tak bisa terus membiarkan pikiranku menerka-nerka. Sehabis mata kuliah pertama aku langsung pulang, aku memberanikan diri bertanya pada Ibu Rina.
Tanpa masuk ke kamar kost, aku langsung menuju pintu rumah Bu Rina. “Pagi, bu.” sapaku, kebetulan pintu belakang rumah Bu Rina tidak tertutup.
“Masuk aja, Din.” terdengar sahutan dari dalam rumah. Kutemui Bu Rina yang sedang menonton TV dengan masih mengggunakan daster merah muda yang tadi pagi.
Setelah dipersilahkan duduk, aku pun memulai percakapan. “Maaf, bu, ada yang ingin kubicarakan.” Bu Rina hanya terdiam dan nampaknya dia juga tahu akan arah pembicaraanku. “Maaf ya, bu, kalau aku lancang, aku mau bertanya tentang yang kemarin.”
“Memangnya kenapa, Din?”
“Maaf ya, bu, dengan yang kemarin.”
“Kenapa minta maaf?”
“Sepertinya Ibu menyesali dengan yang terjadi kemarin.”
“Hmm…” Bu Rina terdiam sejenak sambil menarik nafas. “Ibu gak menyesal kok, Din, justru ibu merasa malu sama kamu.”
“Loh, kok malu sama aku, bu?”
“Yah, kamu masih muda, masa ibu yang sudah tua ini suka sama kamu.”
“Yah, aku juga gak tahu, bu, tapi aku juga merasakan perasaan yang aneh terhadap ibu, entah kenapa tiba-tiba aku merasa takut karena kemarin sikap ibu menjadi berubah dingin seperti tadi.”
“Ibu bukan dingin, Din, ibu juga bingung harus gimana. Apalagi tadi pagi ibu sudah sengaja menggunakan baju ini tapi kamu terus berjalan tanpa melirik sama sekali.”
“Oh, jadi untuk aku ya, bu?”
“Gak tau kenapa bangun tidur tadi ibu ingin merasakan kembali seperti kemarin, jadi ibu langsung menggunakan baju ini, eh tapi kamunya lurus terus gak ngelirik sekalipun.”
“Seperti kemarin gimana, bu, bukannya ibu sering seperti itu?”
“Yah, ibu memang sering berhubungan intim seperti itu, tapi yang kemarin beda banget.”
“Beda gimana, bu?”
“Seumur-umur ibu baru ngerasain keluar lebih dari 1 kali dalam sekali main, kalau sama suami ibu paling cuma sekali, bahkan sering juga ga keluar sama sekali.”
Baca Juga
- Cerita Dewasa Bersambung: Kenikmatan Tante Girang
- Cerita Seks Bersambung Birahi Ibu dan Anak
- Cerita Panas Bersambung Bugil dengan Pembantu
- Novel Dewasa: Seks Teman Kantor
- Cerita Dewasa: Seks Kebaya Merah
- Cerita Panas: Tukang Kebun Besar Kali
- Novel Erotis Istri Selingkuh
- Wattpad Dewasa Ngentot Anak SMP
- Cerbung Ngeseks Dengan Kakak Dan Adik Kandungku
- Ketahuan Coli Jadi Ngewe sama Bibi
- Ngentot Ukhti di Hutan
- Istri yang Diperkosa Supir
- Dibantu Intan di Kamar Mandi
- Hilangnya Perawan Pramugari

