KONGJONES CERITA DEWASA LENGKAP

CERITA SEX BERSAMBUNG

Author: Akong Sugi

  • ANAK NAKAL : BUNDA Part 5

    ANAK NAKAL : BUNDA Part 5

    Cerita Dewasa Bersambung – “Oh, maaf, bund,” aku segera menutup pintu kembali. Untuk beberapa saat aku diam di depan pintu kamar mandi. “Biasanya Doni mandi duluan, ndak tau kalau bunda mandi duluan. Habis bunda ndak ngunci sih.”

    “Kamu mau mandi?” tanyanya. “Masuk aja!”

    “Lho, bunda ‘kan di dalam,” kataku.

    “Gak papa, sama bunda sendiri koq malu?” katanya.

    Aku agak ragu, tapi kemudian aku pun masuk. Bunda melirikku sambil tersenyum, “Ndak usah malu, copot sana bajunya.”

    Aku pun mencopot seluruh pakaianku. Bunda menyiram badannya di bawah shower. Terus terang hal itu membuatku terangsang banget. Penisku langsung menegang. Dan setan pun masuk ke otakku, aku melihat bundaku seperti seorang bidadari, segera aku memeluknya dari belakang, penisku yang sedang tegang maksimal menempel di pantatnya.

    “Bunda, maafin, Doni. Tapi Doni ndak tahan lagi!” kataku. Bunda terkejut dengan seranganku. Aku meremas-remas toketnya, kupeluk erat bunda.

    “Doni… sabar, Don, sabar!” kata bunda.

    “Tapi, aku tak mau melepaskan bunda,” kataku.

    Bunda mematikan shower, kemudian membelai tanganku. Aku menciumi lehernya dan menghisapnya dalam-dalam. “Oh, Doni… anak bunda sekarang sudah besar…” katanya. Tangan satunya tiba-tiba menyentuh kepala penisku. Penisku yang sudah tegang itu dipegangnya, makin tegang lagi, lebih keras dari sebelumnya. Kemudian bunda mengocoknya lembut. “Kamu ingin ini kan?”

    Aku mengangguk.

    “Bunda tahu koq, kamu kan anak bunda,” katanya. “Lepasin bunda sebentar.”

    Aku lalu melepaskan pelukanku. Bunda berbalik, tinggi kami hampir sama, tapi aku lebih tinggi sedikit. Matanya menatapku lekat-lekat.

    “Bunda, mengakui punya hasrat kepada anak bunda sendiri. Bunda tidak bohong. Itu semata-mata bunda rindu dengan belaian ayahmu. Dan bunda selama ini juga takut untuk bisa menjalin hubungan dengan lelaki lain. Tapi… bunda berpikir keras, apa jadinya kalau bunda berhubungan dengan anak sendiri, itu kan tabu… tapi bunda merasa nyaman bersamamu, hanya denganmu bunda sepertinya ingin, bukan lelaki lain. Dan bunda juga butuh itu,” kata bunda sambil terus mengocok lembut otongku yang udah tegang max.

    Aku makin keenakan tak konsen apa yang diucapkan olehnya, tapi ketika ia berlutut di hadapanku dan menciumi kepala penisku, aku baru yakin dan ini bukan mimpi. Bunda mengoral penisku.

    “Oh, bunda,” rintihku.

    “Bunda akan berikan sesuatu yang engkau tak pernah sangka sebelumnya,” kata bunda. Ia lalu menjilati kepala penisku. Lubang kencingku dijilati seperti kucing. Kedua tangannya aktif sekali, yang satu meremas-remas telurku yang satunya mengocok-ngocok penisku. Penisku yang sudah tegang makin tegang saja.

    “Bunda… enak sekali,” kataku.

    Lidah bunda menjelajah seluruh permukaan penisku yang tanpa rambut itu. Bunda menjilati pinggiran kepala penisku, membuatku lemas saja. Lalu seluruh batangku dijilatinya. Kemudian dimasukkanlah kepala penisku ke mulutnya. Ia kemudian perlahan-lahan memaju mundurkan kepalanya. Penisku yang besar itu makin masuk ke rongga mulutnya. Ia kemudian menghisapnya dengan kuat. Aku makin lemas. Lemas keenakan.

    Bunda lalu mengusap-usap perutku, sesekali meremas-remas pantatku, tanganku pun secara otomatis meremas rambutnya. Kalau misalnya ini film bokep aku pasti sudah coli. Tapi ini tak perlu coli karena ada yang bertugas mengocok penisku di bawah sana. Dengan mulutnya dan oh… lidahnya menari-nari mengitari kepala penisku, aku benar-benar keenakan.

    “Bunda… oh… enak banget! Udah, bunda… bunda… Doni… kelu…aaaaarrrr… AAAAHHHH!” aku keluar. Spermaku tak bisa ditahan lagi. Bunda makin cepat memaju mundurkan kepalanya, penisku seperti ingin meledak dan SRETTT… CROOOTTT… CROOOOTTT… entah berapa kali aku menekan penisku ke kerongkongannya sampai ia agak tersedak. Spermaku banyak sekali muncrat di dalam mulutnya.

    Bunda mendiamkan sebentar penisku hingga tenang dan tidak keluar lagi. Ia lalu menyedotnya hingga spermanya tidak keluar lagi, dan baru mengeluarkan penisku. Ia menengadahkan tangannya, kemudian ia keluarkan spermaku. Mungkin ada kalau 5 sendok makan. Karena pipi bunda sampai seperti menyimpan banyak air di mulutnya.

    “Banyak banget spermamu,” Bunda lalu menciumi baunya. “Baunya bunda suka.” Bunda lalu berdiri menyalakan shower. Membersikan mulut dan tangannya. “Mandi bareng yuk,” katanya.

    “I-iya, Bun,” sahutku.

    Kami pun mandi bersama. Pertama bunda menyabuni tubuhku. Dari dadaku, perutku, punggungku, kakiku dan penisku pun disabuni. Penisku tegang lagi.

    “Ih… masih ingin lagi?” kata bunda sambil menyentil penisku.

    “Habis, bunda seksi sih,” kataku.

    Bunda tersenyum. “Nanti ya, habis ini.”

    Aku pun bergantian menyabuni bunda. Saat itu mungkin aku bukan menyabuni, tapi membelainya. Aku jadi tidak malu lagi untuk mencumbunya. Aku menggosok tubuhnya. Punggungnya aku sabuni, ketiaknya, dadanya aku pijat-pijat, putingnya aku pelintir-pelintir, ia mencubitku.

    “Anak Nakal! Ibu nanti jadi terangsang. Sebentar, sabar dulu,” katanya.

    Aku tak peduli, shower aku nyalakan untuk membersihkan sabun-sabun di tubuh kami. Aku memanggut bibir bunda. Kemudian aku menetek kepada bunda, kuhisapi putingnya.

    “Don, di kamar bunda aja yuk,” katanya. “Mumpung Vidia sama Nur belum pulang.”

    Aku mengangguk.

    Bunda mengambil handuk dan membersihkan air di tubuhnya, aku pun melakukannya. Dan agak mengejutkannya, aku segera membopongnya.

    “Eh… apa ini?” ia terkejut.

    “Doni ndak sabar lagi, Bun.” kataku.

    “Oh… anak bunda, jiwa muda,” katanya.

    Kami keluar dari kamar mandi, aku masih telanjang, demikian juga bunda. Kami lalu masuk ke kamar bunda. Segera bunda aku letakkan di ranjang, kamar aku kunci. Bunda segera mulutnya kupanggut, kuciumi lehernya, payudaranya pun aku hisap-hisap. Kuremas, putingnya aku pelintir-pelintir, kuputar-putar, bunda menggelinjang. Ia remas-remas rambutku. Kuhisap buah dadanya yang putih dan ranum itu hingga membentuk cupangan. Cupangan demi cupangan membekas di buah dadanya yang besar.

    “Nak… ohh… bunda terangsang banget,” katanya.

    “Bunda, ohh…” aku menciumnya lagi.

    Sekarang aku turun ke perutnya, lalu ke tempat pribadinya. Aku tak tinggal diam, segera aku ciumi, aku jilati, aku sapu memeknya yang basah sekali itu.

    “Ohhhh… Donn… i-itu… aahhh…” bunda menggelinjang. Kakinya terbuka aku memegangi pahanya. Kulahap habis itu memeknya, klitorisnya pun aku jilati, hal itu membuatnya menggelinjang hebat.

    Nafas Bunda mulai memburu. Ia meremas-remas rambutku, ketika aku menuju titik sensitifnya, ia semakin menekan kepalaku. Aku pun makin semakin menekan lidahku, hal itu membuatnya bergetar hebat.

    “Don… bunda… bunda keluar… aaahhhh… ahhhh… ahhhhhhhh!!” pinggul bunda bergetar. Sama seperti orgasme-orgasme sebelumnya. Aku pun segera bangkit, melihat reaksi bunda. Pahanya menekan pinggangku. Saat itulah penisku sudah menegang, siap untuk masuk ke sarangnya.

    “Bunda… bunda siap?” tanyaku.

    “Masukkan… masukkan! Bunda sedang orgasme,” katanya.

    Cerita Selanjutnya…

    ***

    Baca Juga

  • ANAK NAKAL : BUNDA Part 4

    ANAK NAKAL : BUNDA Part 4

    Cerita Dewasa Bersambung – Hari itu aku membantu menjaga toko sampai sore. Dan setelah itu aku habiskan waktuku di kamar sambil melihat foto-foto hasil ngentotku dengan bunda tadi. Aku melakukan coli berkali-kali sampai penisku ngilu dan lemas. Malam itu aku tidur nyenyak sekali, entah berapa banyak tissu yang kuhabiskan, yang jelas aku baru sadar tissue di meja kamarku tinggal sedikit sekali.

    Hari-hari setelah itu aku jadi berbeda. Siang hari setelah aku pulang sekolah, aku menyiapkan teh hangat untuk bunda, kemudian pasti ia mengantuk dan tidur. Setelah itu aku pasti ngentotin beliau seperti sebelum-sebelumnya, dan kini aku tidak takut lagi seperti dulu. Tapi aku tak melakukannya setiap hari, hanya kalau ada kesempatan saja. Dan itu tidak pasti atau jarang. Kalau aku sedang kepingin saja. Kalau tiap hari bisa bikin bunda curiga. Aku ingin bercinta dengan bundaku dalam keadaan sadar, karena aku setiap ngentot dengan bundaku selalu aku dengar rintihannya memanggil-manggil aku dalam mimpinya. Ia seperti membayangkan ngentot dengan aku. Ini tanda tanya besar. Dan itu terjawab ketika aku melihat rekaman di kamar mandi pada suatu siang setelah aku pulang dari ujian di sekolah.

    Aku melihat rekaman video bunda mastrubasi dengan jarinya di kamar mandi. Ia mengocok-ngocok memeknya, sambil berkali-kali memanggil namaku. Kenapa? Apakah ia mengalami ‘mother complex’?

    Setelah ia mengeluh panjang, ia lalu menutupi wajahnya sambil menggumam, “Kenapa dengan aku? kenapa? Apa yang aku lakukan? Kenapa aku menginginkan anakku sendiri?”

    DEG…!! betapa kagetnya aku mendengar pengakuan bundaku sendiri dari rekaman itu. Ternyata benar, bunda menginginkan aku. Aku jadi ingin saja ngentotin dia setelah ini. Obsesiku kepada ibuku sendiri makin besar. Terlebih ketika tahu bahwa bunda masih haidh, masih produktif berarti.

    Malamnya bunda sedang menghitung-hitung penghasilan. Kami di rumah sendirian. Nuraini ikut mabid atau apalah namanya. Kak Vidia juga sedang nginap di kampus ada kegiatan apa gitu. Aku sedang menonton tv sambil sesekali mengamati bunda, mengamatinya saja bikin aku terangsang. Aku berusaha menyembunyikan tegangnya penisku.

    “Bunda, bunda capek kayaknya, ndak istirahat?” tanyaku.

    “Nanti dulu, Don, masih kurang dikit lagi,” katanya.

    “Kalau bunda capek, aku menawarkan diri untuk mijitin bunda kalau tidak keberatan,” kataku.

    Bunda tersenyum renyah kepadaku. Ia kemudian masih melanjutkan pekerjaannya. Hingga kemudian acara tv selesai dan aku mematikan tv. Bunda kemudian duduk di sampingku. Aku hampir aja beranjak.

    “Lho, katanya mau mijitin bunda?” tanyanya.

    “Oh, jadi toh?” kataku.

    “Iya dong,” katanya.

    Bunda kemudian membelakangiku. Aku lalu mulai memijitinya. Ia masih memakai kerudungnya yang lebar. Aku mulai memijiti pundaknya.

    “Oh… enak sekali, Don, pinter juga kamu memijat,” katanya.

    “Siapa dulu dong,” kataku.

    Aku berinisiatif kalau malam ini aku harus bisa ngentot ama bunda. Aku pun mulai pembicaraan. “Bunda, boleh tanya?” tanyaku.

    “Tanya apa?” tanyanya.

    “Doni waktu itu lupa sesuatu, trus pulang lagi ke rumah. Nah, Doni mendengar bunda manggil-manggil nama Doni di kamar mandi sambil merintih, emangnya kenapa itu, bunda?” tanyaku.

    Bunda terkejut. Jantungnya berdebar-debar, ia bingung mau jawab apa. Ia pun bertanya balik, “Kapan itu?”

    “Beberapa waktu lalu, emangnya bunda ngapain sih di kamar mandi?” tanyaku.

    “I-itu… nggak ada apa-apa koq,” jawabnya.

    “Tapi koq, manggil-manggil nama Doni?” tanyaku.

    Bunda terdiam. Aku lalu memeluk bunda dari belakang. Dari situlah aku tahu bahwa jantung beliau berdebar-debar. Bunda lalu bersandar di dadaku. Matanya berkaca-kaca. Ia lalu menutup wajahnya.

    “Bunda, kalau bunda misalnya rindu sama ayah, Doni bisa mengerti koq. Mungkin wajah Doni mirip ama ayah,” kataku.

    Bunda lalu terisak, kami berpelukan. Bunda bersandar di pundakku. Ia tak berani melihat wajahku. Ia terus memelukku dan aku membelai kerudungnya yang panjang. Cukup lama ia bersandar di pundakku. Sampai aku kemudian mulai memberanikan diri untuk melihat wajahnya.

    “Maafkan, bunda, engkau mirip sekali dengan ayahmu, dan bunda rindu dengan sentuhan ayahmu,” katanya.

    “Boleh Doni minta sesuatu, bunda?” tanyaku.

    “Apa itu?” tanyanya.

    “Doni ingin mencium bunda,” kataku.

    Ia tersenyum, “Boleh saja, kenapa memangnya?”

    “Tapi bukan di pipi, di sini,” kataku sambil menyentuhkan telunjukku di bibirnya.

    “Ah, Doni ini koq kolokan banget? Aku ini bundamu, bukan kekasihmu,” kata bunda.

    “Sekali saja bunda, Doni ingin tahu rasanya ciuman, please… sekali saja,” kataku.

    Bunda terdiam. Ia menatap wajahku. Ia mengangguk walau agak ragu. Aku senang sekali, tersenyum. YES! dalam hatiku.

    Aku perlahan mendekatkan wajahku, wajah bunda kutarik ke arahku dan bibirku menempel di bibirnya. Pertama cuma menempel, selanjutnya aku mulai menghisap bibir bunda. Lagi dan lagi. Dan akhirnya kami berpagutan. Nafas bunda mulai memburu. Tiba-tiba bunda mendorongku.

    “Tidak, Don, tidak. Kita terlalu jauh. Kita ini ibu dan anak. Ndak boleh beginian,” katanya.

    “Lalu kenapa bunda mastrubasi sambil manggil-manggil Doni?” tanyaku.

    “Kamu tahu?” tanyanya.

    “Iya, Doni tahu. Itu artinya bunda kepingin kan?” tanyaku. “Sampai berfantasi ama Doni.”

    Ia tak menjawab. Tampaknya aku menang. Bunda sepertinya pasrah. Aku ingin coba lagi. Kupegang kedua tangannya, aku memajukan wajahku lagi, kini ciumanku disambut. Wajah kami makin panas karena gairah. Lama sekali kami berpagutan, nafas ibuku makin memburu.

    Aku lalu menarik wajahku lagi, “Kalau misalnya bunda kepingin dan tidak ada yang bisa memuaskan bunda, Doni bisa koq. Tapi jangan sampai semuanya tahu.”

    “Tidak, Don… hhmm…” bibir bunda aku cium lagi sebelum selesai berkata-kata. Ia berusaha mendorongku. “Sudah, Don, sudah… bunda ndak mau, ingat kita ibu dan anak.”

    “Lalu kenapa bunda membayangkan dientotin Doni?” tanyaku lagi. Kucium lagi bibirnya.

    “Itu.. .hmmmm… itu… itu karena bunda khilaf, maafin bund… hhmfff,” bunda tak kuberi kesempatan melakukan penjelasan. Kuremas-remas dadanya dari luar gamisnya. Bunda pun mendorongku lebih kuat lagi.

    “Baiklah, baiklah… bunda memang ingin kamu, bunda ingin ngentot dengan kamu, ayo ngentotin bunda! Sekarang!” katanya. “Buka bajumu!”

    Aku lalu menghentikan aktivitasku. Melihat air matanya berlinang, aku mengurungkan niatku. Aku berdiri. “Maafin Doni, bunda. Maaf!”

    Aku mencium tangannya lalu berbalik dan masuk ke kamarku. Perasaanku campur aduk setelah itu. Beberapa kali bunda mengetuk pintu kamarku, tapi tak kutanggapi, aku pun tertidur.

    Paginya aku bangun, kemudian ingin ke kamar mandi. Saat itulah aku dikejutkan karena ternyata bunda ada di dalam kamar mandi telanjang, bener-bener polos. Aku terkejut dan mematung.

    “Doni!?” bunda terkejut.

    Cerita Selanjutnya…

    ***

    Baca Juga

  • ANAK NAKAL : BUNDA Part 3

    ANAK NAKAL : BUNDA Part 3

    Cerita Dewasa Bersambung – Tentu saja beliau tak menjawab. Sepertinya bunda sudah siap, aku posisikan penisku di ujung vaginanya. Kepala penisku sudah ingin masuk saja. Aku tak sabar, dan… BLESSS….!! Lancar banget, ohhhh… HANGATT…. !! ini ya rasanya memek wanita itu. Aku lalu ambruk di atas tubuh bunda, ia kutindih. Toketnya dan dadaku berpadu, Penisku berkedut-kedut dan anehnya memeknya juga seperti meremas-remas penisku. Ngilu rasanya, tapi nikmat.

    “Bunda, seperti inikah bunda rasanya ngentot?” tanyaku. Aku mengabadikan peristiwa ini ke ponselku, kuclose up wajah bunda yang tidur, vaginanya yang sekarang penisku masuk ke sana juga kuabadikan, bahkan posisiku menindih bundaku pun aku abadikan.

    “Doni… ohh… puasin, bunda…” terdengar suara bisikan bunda. Apa maksudnya, apakah bunda sadar?

    Sejenak aku bingung, ternyata bunda memimpikan aku, bermimpi bersetubuh denganku. Itu membuatku makin bergairah. Aku kemudian menaik-turunkan pantatku perlahan-lahan, menikmati saat-saat ini. Tapi aku hanya punya waktu 3 jam kurang lebih, tak ingin aku sia-siakan kesempatan ini. Kugoyang pantatku naik turun, makin lama makin cepat.

    “Bunda… oh… Doni kembali masuk ke tempat bunda,” racauku, makin lama makin cepat. Bunda aku tindih, pahanya terbuka lemas. Dan aku sepertinya akan keluar, oh sperma perjakaku… kemana ya harus keluar?

    “Bunda, ke wajah bunda aja ya keluarnya… oohhh… keluar, bunda!!!” seruku. Aku segera mencabut dan berlutut di depan wajah bunda. Penisku kuarahkan ke situ.

    CROOT…. CROTT… CROOTTT…. Banyak sekali tembakannya, aku sudah tidak perjaka lagi. Bunda sendiri yang menghilangkannya, spermaku belepotan di wajah bunda, sebagian masuk ke mulutnya, aku terus mengocoknya hingga tetes terakhir, lalu aku bersihkan sisa di ujung penisku ke mulutnya.

    Momen ini tak bisa aku lewatkan segera aku abadikan ke ponselku. Aku lalu berbaring lemas di sampingnya. “Bunda… nikmat, bunda,” kataku. Aku peluk dia dari samping sambil memeluk toketnya.

    Butuh waktu 15 menit bagiku untuk istirahat sebentar, kemudian aku bersihkan wajahnya dengan tisu yang ada di meja riasnya. Agar tidak bau sperma aku seka wajah ibuku pakai pelembab, biar tak ketahuan. Disaat membersihkan itulah aku terangsang lagi melihat payudaranya. Aku kenyot lagi dua buah toket besar itu. Kubenamkan wajahku ke tengah payudara, kuhisap aromanya yang harum. Aku kemudian menghadapkan tubuh ibuku miring ke tepi ranjang. Ternyata tepat di depan bundaku ada kaca lemari. Sehingga aku bisa melihat tubuhnya di sana.

    Penisku yang tegang lagi ingin mencari mangsa. Kuposisikan kepala penisku dari belakang pantatnya. Karena masih basah, mudah sekali penisku masuk. SLEB…!! Oh, kembali kedut-kedut vaginanya. Aku angkat sebelah kakinya, sehingga aku bisa melihat dari kaca penisku masuk di sana. Aku lalu bergoyang maju mundur, kuturunkan kaki bunda, tanganku beralih ke toketnya. Pantatnya benar-benar membuatku terangsang hebat. Enak sekali.Aku tak sadar siapa yang kusetubuhi sekarang. Yang aku inginkan adalah puncak kenikmatan. Tapi aku tetap pada pendirianku jangan keluarkan di dalam. Belum waktunya. Aku terus menggoyang pantatku maju mundur. Pantat bunda beradu dengan selakanganku. PLOK… PLOK… PLOK… bunyinya sangat menggairahkan. Dan sepertinya. Setiap kali aku ingin orgasme. Aku istirahat sebentar. Menciumi bibirnya, ketiaknya, dan menghisap putingnya. Dan akhirnya aku tak tahan lagi.

    “Duh, bunda, maaf ya. Aku keluar lagi,” aku langsung cabut penisku dan kukeluarkan di pantatnya. Spermaku masih banyak aja. Enak rasanya penisku sampai berkedut-kedut berkali-kali setiap spermaku muncrat keluar. Aku istirahat sebentar sambil mengumpulkan tenaga. Ngilu sekali penisku. Aku lalu bangkit membersihkan pantat bunda yang belepotan dengan spermaku.

    Aku melihat jam dinding, oh tidak, setengah jam lagi bunda akan sadar, tak sadar aku sudah lama ngentotin bunda. Aku bergegas memakaikan lagi pakaiannya. Jilbabnya yang terkena sedikit sperma aku bersihkan juga. Aku memakaikan lagi branya, tapi entah kenapa aku terangsang lagi. Maklum masih perjaka dan ada mainan baru. Aku lalu melakukan titfuck. Dada bunda mengocok penisku, aku melakukannya sambil sesekali menengok jam dinding, masih ada waktu, aku harus cepat. Aku bantu payudara bunda untuk mengocok penisku, dan aku keluar lagi, spermaku muncrat di belahan toket bunda. Tapi jumlahnya ndak sebanyak tadi,
    karena mungkin sudah mulai kosong kantong produksinya. Aku segera bersihkan cepat-cepat, kuposisikan tubuh bunda seperti tadi tidur, aku berpakaian lalu keluar dari kamar bunda. Aku lalu mandi dan membersihkan diri.

    ***

    Bunda terbangun setengah jam kemudian. Ia keluar kamar ketika aku masih menghitung stok toko. Ia menggeliat.

    “Kenapa, bunda?” tanyaku.

    “Entahlah, bunda koq tidurnya nyenyak ya? Tapi badan bunda pegel-pegel semua. Seperti habis olahraga aja,” jawab bunda. Tapi dalam hati aku senang sekali karena tahu apa yang sebenarnya terjadi.

    Cerita Selanjutnya…

    ***

    Baca Juga

  • ANAK NAKAL : BUNDA Part 2

    ANAK NAKAL : BUNDA Part 2

    Cerita Dewasa Bersambung – Seperti biasa bunda menjaga toko waktu itu. Dan aku menyiapkan teh hangat untuk beliau. Aku berikan setetes kloroform di minumannya. Tujuanku sih agar ia pusing saja dan bisa aku suruh istirahat, baru kemudian aku bekap.

    “Kamu ndak sekolah, Don?” tanya bunda.

    “Tidak dulu bunda, mau bantu toko dulu,” jawabku.

    “Lho, jangan. Ada bunda sama mbak Juni koq. Sekolah saja!” kata bunda. Mbak Juni adalah pegawai kami. Ia ada cerita untuk nanti. Ia janda, beranak satu, tapi masih muda. Usianya baru 21 tahun. Menikah muda. Bodynya masih singset.

    “Tidak mengapa bunda, Doni udah ijin koq,” kataku.

    “Baiklah, tapi cuma hari ini saja ya, jangan ulangi lagi,” katanya.

    Bunda lalu meminum teh hangatnya. Aku pura-pura mencatat barang-barang di toko. Mbak Juni juga melakukan hal yang sama. Dan memindah-mindahkan karung beras. Kemudian datang seorang pembeli yang langsung dilayani oleh Mbak Juni.

    Efek obat mulai terlihat. Bunda memegang kepalanya. Aku pura-pura peduli, “Kenapa, bunda?”

    “Entahlah, bunda tiba-tiba pusing,” katanya.

    “Capek mungkin, istirahat saja bunda,” kataku.

    “Iya deh, aku istirahat sebentar. Mungkin nanti bisa baikan. Mbak Juni, tolong ya!” kata bunda.

    “Iya, bunda,” kata Mbak Juni.

    Bunda agak terhuyung-huyung, lalu beliau masuk kamar. Aku pun menyudahi pura-puraku, kemudian pura-pura ke kamarku, tapi sebenarnya menyusul beliau ke kamarnya. Aku beri waktu sekitar sepuluh menit, hingga kemudian terdengar nafas dengkurang halus bunda. Oh sudah tidur. Aku lalu beranikan diri masuk ke kamarnya. Bunda masih pakai jilbabnya, aku siapkan kloroform ke sarung tanganku, dosisnya seperti yang aku berikan ke kucing percobaan kemarin. Dan BLEP!!!

    Bunda tak berontak, mungkin berontakannya tak berarti. Tangannya ingin menghalau tanganku tapi lemas. Matanya belum sempat terbuka dan ia pun sudah pingsan. Aku pun sangat senang, ini kemenangan.

    Aku lalu kunci pintu kamar bunda. Biar ndak ada siapapun yang masuk. Jantungku berdebar-debar, antara senang, takut dan macem-macem rasanya. Aku duduk di sebelah bunda. Di pinggir ranjang itu aku lihat ujung rambut sampai ujung kakinya. Tanganku mulai bergerilya. Kuraba pipinya, bibirnya, aku buka sedikit, rahangnya aku turunkan hingga ia membuka mulutnya. Sesaat aku ingat ayah, tapi karena aku sudah bernafsu, rasa bersalahku pun aku tepis.

    Aku pagut bibir bunda. Aku hisap lidahnya. Penisku mulai tegang, bunda benar-benar tak bereaksi sama sekali, bahkan sekarang bibirnya mulai basah. Wajah bunda sangat cantik, mungkin seperti Ira Wibowo. Bibirnya sangat lembut, tak puas aku menciumi bibir itu. Aku pun mulai meremas-remas dadanya walaupun masih tertutup gamis. Lalu tanganku mengarah ke selakangannya mengelus-elus tempat pribadinya.

    Karena semakin bergairah, aku pun melepas celanaku sehingga bagian bawah tubuhku tak terbungkus sehelai benang pun. Penisku sudah mengacung tegang. Urat-uratnya mengindikasikan butuh dipuaskan. Aku arahkan jemari bunda untuk menyentuh penisku, Ohh… lemas aku. Lembut sekali jemari beliau. Aku tuntun tangannya untuk meremas telurnya, aku makin keenakan. Seandainya beliau bangun dan mau melakukannya kepadaku tentunya lebih nikmat lagi.

    Aku kemudian naik ke ranjang. Aku berjongkok di depan wajahnya. Penisku aku gesek-gesekkan di pipi, hidung dan bibirnya yang agak terbuka itu. Aku sangat bergairah sekali. Selain itu juga takut ketahuan. Aku buka mulutnya, lalu kucoba masukkan kepala penisku, uhhhh….nikmat banget. Walaupun tak muat, aku buka mulutnya lagi, tangan kiriku mengangkat kepalanya dan tangan kananku membuka mulutnya lebih lebar, lalu kudorong penisku masuk.

    Di dalam mulutnya penisku berkedut-kedut. Nikmat sekali. Aku makin bergairah melihatnya yang masih pakai kerudung. Kuambil ponsel dan aku abadikan ketika penisku masuk ke mulutnya. Kumaju-mundurkan penisku sampai mentok, walaupun giginya mengenai penisku rasanya nikmat sekali. Lucunya lidahnya bergoyang-goyang, entah ia mimpi apa, itu semakin membuatku terangsang. Pelan-pelan penisku menggesek rongga mulutnya, kemudian aku tarik keluar. Sekarang aku posisikan telurku di mulutnya. Karena punyaku sudah tercukur bersih aku bisa melihat semuanya. Seolah-olah bunda sedang menjilati telurku.

    “Bunda, ohhh… nikmat banget,” racauku.

    Kalau terus seperti ini, rasanya aku ingin muntahkan pejuku di wajahnya. Tapi aku tahan. “Tidak, bunda, Doni ingin merasakan ini, bolehkan?” aku meraba vaginanya.

    Aku kemudian melepaskan gamis bunda, kancingnya aku buka semua, hingga ia hanya memakai bra dan CD. Aku turun ke bawah. Kuciumi seluruh tubuhnya, perutnya, pahanya, aku jilati semuanya sampai basah. Bahkan mungkin tak ada satupun yang terlewat. Aku lepas BH-nya. Ohh… dada yang dulu ketika kecil aku mengempeng, sekarang aku mengempeng lagi. Aku hisap teteknya, putingnya aku pilin-pilin, kupijiti gemas. Tapi aku tak ingin memberikan cupang di dadanya, nanti ia curiga. Belum saatnya. Ketiaknya yang bersih tanpa bulu pun aku hisap, kujilati. Semuanya aku jilati. Aku pun mencium bau yang aneh, ketika aku menghisapi jempol kakinya. Dan aku lihat CD-nya basah. Bunda terangsang?

    “Bunda terangsang? Mau dimasukin bunda?” tanyaku.

    Aku pun segera melepaskan CDnya, Dan kuikuti aku telanjang juga sekarang. Punyaku makin berkedut-kedut dan di lubang kencingnya muncul cairan bening. Aku melihat memek bundaku tersayang. Warnanya pink kecoklatan. Inikah tempatku keluar dulu? Betapa bersihnya, ada cairan keluar. Aku segera membuka pahanya, kepalaku mengarah ke sana, kujilati, kuhisap dan klitorisnya aku tekan-tekan dengan lidahku. Intinya lidahku menari-nari di sana seperti lidah ular, menjelajahi seluruh rongga vaginya. Setiap cairan yang keluar aku hisap, rasanya asin-asin bagaimana gitu.

    Aku makin bergairah dan sepertinya bunda juga bergairah, ia sangat banjir, bahkan ketika aku colok-colok dengan lidahku, lebih dalam lagi kakinya bergetar. Ia mengeluh….dan mendesis, walaupun masih tidur dan tidak sadarkan diri tapi dia merasakannya. Mungkin ia bermimpi sedang begituan. Kepalanya yang masih memakai jilbab mendongak ke atas, Dan kemudian pantatnya diangkat, tubuhnya bergetar hebat, memeknya mengeluarkan cairan yang sangat banyak, menyemprot bibirku. Aku lalu duduk.

    “Bunda orgasme?” tanyaku.

    Cerita Selanjutnya…

    ***

    Baca Juga

  • ANAK NAKAL : BUNDA Part 1

    ANAK NAKAL : BUNDA Part 1

    Cerita Dewasa Bersambung – Namaku Doni. Aku anak nomor 2 dari tiga bersaudara. Kami adalah keluarga yang alim. Ayahku sendiri seorang yang taat beragama. Kakakku seorang aktivis di kampus. Kami benar-benar keluarga yang religius. Aku? Aku sebenarnya kalau dilihat dari luar religius, tapi dibalik itu aku cuma anak biasa saja. Ndak sebegitunya seperti kakak perempuanku.

    Kakakku bernama Kak Vidia. Adikku bernama Nuraini. Ibuku? Oh ibuku ini seorang ustadzah. Aku sendiri dikatakan anak nakal oleh ibuku, aku menyebutnya bunda. Ayahku sering menasehatiku untuk tidak bergaul dengan anak-anak geng. Tapi apa boleh dikata, dari sinilah aku banyak mengenal dunia. Memang sih, aku bergaul dengan mereka, tapi tidak deh untuk berbuat yang aneh-aneh. Walaupun aku bergaul dengan mereka tapi aku sadar koq norma-norma yang harus dijaga. Aku bahkan sangat protektif terhadap saudari-saudariku. Ada temenku yang naksir saja langsung aku hajar. Makanya sampai sekarang banyak orang yang takut untuk mendekati kakakku maupun adikku.

    Menginjak kelas 2 SMA, keluarga kami berduka. Ayahku kecelakaan. Ketika pulang kantor beliau dihantam oleh truk. Ia berpesan kepadaku agar jadi anak yang baik di saat-saat terakhirnya. Kami semua bersedih. Terutama bunda. Ia selalu menyunggingkan senyumnya tapi tak bisa menyebunyikan raut wajahnya yang sembab. Otomatis setelah meninggalnya ayah, keluarga kami pun banyak berubah.

    Rasanya sangat berdosa sekali aku kepada ayahku. Aku sampai sekarang belum bisa jadi anak yang baik. Namun aku berusaha untuk berubah, mulai kujauhi teman-teman gengku. Aku pun mulai membantu bunda untuk bekerja, karena warisan ayah tak bisa untuk membiayai kami semuanya ke depan. Setelah aku pulang sekolah, aku selalu menjaga toko kami. Lumayanlah bisa mencukupi kebutuhan kami. Dari pagi sebelum sekolah aku sudah harus pergi ke grosir, membeli sembako, kemudian menyetok ke toko, setelah itu aku baru pergi sekolah. Pulangnya aku harus menjaga toko sampai sore. Begitulah, hampir tiap hari. Jadi tak ada kegiatan ekstrakurikuler yang aku ikuti.

    Membiayai Kak Vidia kuliah, membiayai Nuraini sekolah, bukanlah hal yang mudah. Kak Vidia bahkan untuk uang sakunya sampai rela kerja sambilan. Namun perlahan-lahan kami pun bisa bernafas lega setelah toko kami mulai besar, walaupun begitu kami makin sibuk. Akhirnya kami pun memperkerjakan orang. Anak-anak lulusan SMK. Aku juga sudah kelas 3 SMA. Sebentar lagi lulus. Bingung mau kuliah ke mana. Apa ndak usah kuliah ya? Melihat bunda kelimpungan jaga toko mengakibatkan aku pun mengurungkan niatku kuliah.

    Aku lulus dan adikku Nuraini masuk SMA. Dua tahun yang berat. Namun akhirnya toko kami sudah besar, berkat ide-ide yang kami pakai tiap hari akhirnya toko ini pun besar. Jarang ada toko sembako delivery order. Bahkan tidak sampai tiga tahun kami sudah ada waralaba. Bisa beli mobil, bisa renovasi rumah dan sebagainya. Kak Vidia pun sekarang jadi tidak bingung lagi kuliahnya. Ia sempat cuti 2 semester untuk membantu usaha kami.

    Itulah profil keluarga kami. Tapi tahukah kalau di balik itu semua ada sesuatu hal yang sebenarnya menarik untuk diceritakan? Sebenarnya ini tak boleh diceritakan karena aib tersembunyi keluarga kami. Dan karena inilah hubunganku dengan kakakku, adikku dan ibuku jadi lebih akrab, bahkan aku dianggap sebagai kepala rumah tangga.

    Ceritanya ini dimulai setelah 6 bulan ayah wafat. Aku saat itu benar-benar masih nakal. Menonton bokep sudah biasa bagiku. Bahkan sebenarnya, terkadang aku membayangkan begituan dengan bunda, maupun kak Vidia, atau bahkan terkadang juga dengan Nuraini. Iya, mereka semua pake jilbab, tapi hanya aku yang tahu bagaimana lekuk tubuh mereka, karena di rumah mereka membuka jilbabnya dan pakai pakaian biasa.

    Awalnya aku benar-benar iseng sekali. Saat itu aku baru saja beli kamera pengintip. Bentuknya seperti sebuah gantungan kunci, berbentuk kotak kecil. Ketika ditekan tombol rahasianya, ia akan merekam selama kurang lebih 2 jam. Harganya cukup murah kalau dicari di internet, sekitar 500ribu. Aku menggantungkannya di anak kunci, sehingga ketika ke kamar mandi aku selalu mandi duluan, dan kemudian aku taruh di tempat yang bisa mengawasi semuanya. Jadi seluruh penghuni rumah, sama sekali tak curiga. Awalnya tak ada yang tahu, tapi nanti yang pertama kali tahu adalah Kak Vidia, tapi nanti aku ceritakan.

    Aku meletakkan kunci itu di gantungan baju. Aku posisikan agar kameranya mengawasi seluruh ruangan kamar mandi. Yang pertama kali masuk setelah aku adalah bunda, kemudian Kak Vidia, lalu Nuraini. Setelah semuanya mandi, aku masuk ke kamar mandi untuk mengambil kamera pengintai. Aku kemudian ke kamar untuk menikmati hasilnya. Aku bisa mengetahui tubuh mulus mereka semua tanpa sehelai benang pun.

    Misalnya bunda, rambutnya lurus, tubuhnya sangat terawat, langsing, dadanya besar, mungkin 34C, bahkan yang menarik beberapa minggu sekali bunda mencukur bulu kemaluannya. Kak Vidia juga begitu, kulitnya putih, rambutnya panjang, dadanya ndak begitu besar, 32B tapi putingnya yang bikin aku kaget, berwarna pink. Ini orang bule atau gimana? Tapi begitulah Kak
    Vidia. Ia juga sama seperti bunda, mencukur bulu kemaluannya, bahkan halus seperti bayi. Terakhir Nuraini, jangan kira Nuraini cuma anak SMP, ia ini sangat dewasa. Dadanya besar banget, sama kayak bunda 34C. Masih SMP saja dadanya gedhe, gimana klo sudah SMA nanti? Ia pun sama, punya kebiasaan mencukur bulu kemaluan. Sepertinya cuma aku saja yang tidak. Tapi bolehlah ntar coba dicukur. Kayaknya lebih bersih.

    Selama sebulan itu aku sering ngocok penisku di depan komputer sambil melihat adegan demi adegan di kamar mandi. Hal itu membuat aku terobsesi kepada mereka. Saking terobsesinya, aku kadang punya alasan untuk bisa menyentuh mereka, seperti mencium pipi adikku, mencium pipi bunda, terkadang juga memeluk Kak Vidia. Tapi mereka semua tak curiga. Dan satu-satunya yang membuatku kelewatan adalah memesan kloroform kepada salah seorang teman gengku. Aku pesan beberapa botol. Untuk stok pastinya. Pertama aku coba ke kucing tetangga. Ketika aku bekep pake sarung tangan yang ada kloroformnya, pingsan tuh kucing. Aku pun menghitung berapa kira-kira waktu yang dibutuhkan oleh kucing ini bisa sadar. Satu jam, dua jam, tiga jam. Lama sekali.

    Siapa yang ingin aku coba pertama kali? Kak Vidia ndak mungkin, ia bakal kaget nanti kalau sudah tidak perawan ketika malam pertama dengan suaminya. Begitu juga Nuraini, bisa berabe aku nanti kalau dia melapor ke bunda memeknya perih. Jadi targetku adalah bunda.

    Cerita selanjutnya…

    ***

    Baca Juga

  • JILBAB SEMOK – KISAH JILBABER TERNODA Part 8

    JILBAB SEMOK – KISAH JILBABER TERNODA Part 8

    Cerita Seks Bersambung – Beduin kembali memberikan aba-aba kepada Ali agar melepaskan cengkeramannya di pergelangan kaki Latifa, lalu digeser dan didorongnya sebuah bantal di bawah pinggul Latifa, kemudian diletakkannya kedua lutut Latifa di atas pundaknya. Dengan demikian terbukalah selangkangan Latifa secara optimal.

    Celah memeknya yang terlihat licin mengkilat dibasahi oleh cairan lendir kewanitaan akibat orgasmenya, kini terkuaklah melebar dihadapan rudal Beduin yang bagaikan pentungan bertopi baja. Satu dua tetes air mazi telah mulai keluar dari saluran kencing Latifa pada saat Beduin meletakkan kepala penis kebanggaannya itu di gerbang kenikmatan si gadis kota.

    Tapi Beduin tidak buru-buru untuk melakukannya. Ia ingin menyaksikan bagaimana wajah keputus-asaan Latifa saat gairah birahinya terus menerus dipacu. Secara sangat sadis Beduin kembali mengusap-usap dan memilin-milin klitoris Latifa dengan jari tengah dan ibu jarinya secara ritmis namun tanpa henti. Akibatnya, Latifa yang masih lemas sehabis mencapai puncak orgasmenya dan agak lega memperoleh kesempatan sebentar untuk melepaskan lelah di tebing gunung, mendadak dipaksakan untuk mendaki kembali naik ke gunung guna mencapai puncak orgasme berikutnya.

    “Hehehe… gimana, Neng, enak tenan ya? Hmm… ini biji pentil ngumpet melulu, bapak pijit-pijit ya biar gedean dikit dan gampang digaruk-garuk… hehehe, lha tuh nongol lagi. Kelihatan mulai merah, bikin bapak jadi nafsu aja. Ntar dicup-cup dan digigit-gigit mau ya, Neng… tapi sekarang bapak mau kasih bibit unggul dulu ke Eneng, hehehe…” Beduin cengengesan dan tersenyum lebar penuh kemesuman ketika melihat mangsanya tak berdaya.

    Latifa hanya dapat menatap Beduin dengan mata yang sayu dan kuyu, tenaganya hampir habis terkuras, namun sang pemerkosa baru akan memulai dengan penjarahannya.

    Tanpa rasa jijik sedikitpun, Beduin mulai menjilati tebing bukit kemaluan Latifa. Lidahnya bagaikan ular, menyelinap memasuki celah kenikmatan yang telah mulai licin oleh ludah dan lendir kewanitaan itu. Sambil menjilat bagian dalam vagina Latifa, ibu jari dan telunjuk tangan kiri Beduin tak henti-hentinya mengusap dan memilin-milin kelentit kesayangannya. Kemudian tanpa peringatan apapun, Beduin menusuk masuk lubang dubur Latifa dengan jari tengah kanannya!!

    “Aaah… a-aduh! Jangan! Toloong! Enggak mau! Aihh… a-ampun! Haraam, Pak! Jangaan! Kasihani saya, Pak! Ngiluu… auw!!” Latifa melolong menjerit-jerit bagaikan hewan akan disembelih. Tubuhnya kembali menggeliat-geliat dan meronta, berusaha menggeser ke kiri dan ke kanan menghindari perbuatan maksiat yang sedang dilakukan oleh Ustadz cabul itu.

    “Geli ngilu ya, Neng?! Ntar juga biasa… percuma ngelawan, Neng, mendingan nyerah dan nikmati aja. Sekarang masih belon biasa, tapi ditanggung sebentar ketagihan minta nambah! Hmmh… makin dijilat semakin wangi nih memek! Wuih, juga makin gede dan merah aja nih itil. Udah nggak malu lagi rupanya, hehehe…” Semakin semangat dan bernafsu Beduin merangsang semua tempat peka di selangkangan Latifa.

    Ustadz cabul itu memutuskan untuk sekali lagi memaksa Latifa mengalami orgasme dengan cara rangsangan oral -oleh karena itu kembali dijilat-jilat dan digigit-gigitnya bibir dan dinding kemaluan Latifa, lalu digesek-gesekkannya kumis pendeknya yang bagaikan sikat ijuk itu menusuk kelentit Latifa.

    Tak tahu harus melakukan perlawanan apa lagi, Latifa hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan serta memukul-mukulkan tumit kakinya ke punggung Beduin. Namun semuanya tak ada guna sama sekali, kelentitnya yang sedemikian peka terus disiksa habis-habisan. Ibarat disentuh dengan kawat beraliran listrik, maka klitoris Latifa menyalurkan rangsangan tiada hentinya ke seluruh tubuh indah gadis itu yang semakin meliuk dan menggelepar-gelepar. Arus rangsangan itu juga memasuki seluruh permukaan syaraf di kepala dan otak Latifa. Dan terus menerus menyerang tak kenal lelah hingga…

    “Aaahh… auw!! Pak, a-ampuun! Ayuk mesti ke belakang, mesti ke belakaang! Aoohh… lepaskan! Ayuk mesti ke belakang! Aiihh…” Latifa melolong disertai ketegangan, badannya kaku melenting ke atas memberikan tanda tercapainya lagi orgasme untuk yang ke sekian kalinya.

    “Hehehe, si neng enggak usah kebelakang… ini namanya pipis air mazi, Neng. Iya, pinter gitu… pipis terus enggak apa-apa, malahan jadi makin licin nih terowongan. Bapak mau masuk, jangan ngelawan atau berontak segala. Ikutin aja semua kemauan bapak, ntar pasti ketagihan… Mau dibikinin anak enggak, Neng?! Nah, bapak mulai permisi masuk ya,” sambil berceloteh Beduin menekan kepala penisnya yang besar dengan batang kemaluan hitam penuh urat melingkar-lingkar dan agak bengkok itu ke tengah celah kewanitaan Latifa. Perlahan-lahan ia mendorong hingga mulai masuk sedikit, lalu ditekannya lagi dengan lebih kuat.

    “Tahan dikit ya, Neng… pasti ngilu dijebol barang pusaka bapak! Nih bapak tekan dan puter-puter dikit ya kaya buka peles botol… kalo sakit bilang ya, Neng, bapak sayang si neng geulis! Ooh… sempitnya!!” ujar Ustadz Beduin mulai menodai Latifa yang telah tak berdaya di bawah kekuasaannya itu.

    Latifa merasakan perutnya menegang dan mengejang karena secara tak sadar hati nuraninya tetap menolak. Otot-otot vaginanya mengerut berkontraksi seolah berusaha menahan serangan batang besar dan panjang di liang kemaluannya. Dia mengeluh dan mendesis tak karuan ketika merasakan desakan kepala penis Beduin yang menyelinap ke liang kenikmatannya. Ketika akhirnya kepala penis itu berhasil bertahta di tengah jepitan vaginanya, maka pandangan Latifa jadi semakin nanar. Butir-butir keringat semakin nyata mengalir di atas dahinya.

    Tanpa rasa belas kasihan lagi kini Beduin menyekal keras kedua pergelangan kaki Latifa yang langsing dan mengangkangkan paha belalang idaman setiap pria itu selebar mungkin sehingga Latifa jadi menjerit-jerit kesakitan. Dan jeritan itu semakin memilukan, semakin menimbulkan rasa iba ketika penis Beduin membelah lipatan kewanitaan Latifa mili demi mili meski si empunya tetap tak rela menerima perkosaan yang tak mungkin dielakkan lagi itu.

    “Ya Allah… tolong! Sialan semuanya! Bangs…mmpffh!!” teriakan Latifa terhenti dan terbungkam karena mulutnya disergap dengan penuh kerakusan oleh Beduin.

    Perkosaan yang dialami Latifa oleh ayah tirinya beberapa hari lalu cukup menyakitkan memeknya, namun apa yang kini dialaminya melebihi beberapa kali penderitaannya. Liang kewanitaannya jadi terasa sangat panas, perih, ngilu dan seolah-olah dibelah oleh kayu kasti yang ketika masih remaja sering dimainkannya di sekolah menengah.

    Penis Beduin bukan hanya lebih panjang dan lebar daripada penis ayah tirinya, namun juga agak membengkok ke atas sehingga proses pemasukannya menjadi jauh lebih sulit. Untuk itu Beduin secara sangat perlahan melakukan tarik-dorong dengan disertai mengubah-ngubah arah tusukannya karena ia memang sudah berpengalaman dalam menjarah pelbagai perempuan. Dengan cara tarik-dorong ini maka dinding-dinding kewanitaan Latifa yang memang masih sangat sempit untuk ukuran penis Beduin, jadi seolah-olah ikut ditarik keluar-masuk. Namun meski telah basah oleh lendir air mazinya, Latifa tetap saja merasakan perih dan ngilu yang teramat sangat hingga menyebabkannya terus melenguh dan merintih keras, disertai mengalirnya air mata di pipi gadis cantik itu.

    “Tenang, Neng… shhh… jangan ngelawan! Pasrah aja! Emang sekarang sakit, tapi itu biasa, Neng… jangan sedih-sedih dong, kan lagi dikasih kenikmatan! Semua perempuan emang nangis kalo ngelayani abang, tapi sebentar lagi pengen minta tambah,” Beduin memberikan tanda kepada kedua lelaki lainnya untuk melepaskan bantuan mereka, dan kini Beduin sendiri yang merejang kedua pergelangan tangan Latifa di atas kepalanya.

    Tarik dorong, maju mundur, serong ke kiri, putar ke kanan, sekali-kali perlahan, lalu berubah menjadi cepat, ganti lagi ritme bagaikan penari dangdut yang sedang goyang pinggul. Semuanya dipraktekkan oleh Ustadz cabul ini. Gerakan-gerakan itu sangat memberikan kenikmatan baginya, namun bagi Latifa adalah siksaan sakit tanpa henti.

    Beduin menatap dengan penuh kepuasan perawat cantik yang tengah dikuasainya itu. Dilihatnya wajah demikian ayu manis di bawah tindihannya yang terlihat lelah kehabisan tenaga. Mata yang biasanya amat jeli bersinar kini telah kuyu hampir tertutup dan basah pelupuknya. Hidung mancung bangir dengan dua lubang sangat mungil kembang-kempis mengiring isak tangis yang tersedu-sedu. Mulut yang dihiasi dua bibir merah basah setengah terbuka membuat Beduin tak henti-henti melumatnya.

    *** SELESAI ***

    Baca Juga

  • JILBAB SEMOK – KISAH JILBABER TERNODA Part 7

    JILBAB SEMOK – KISAH JILBABER TERNODA Part 7

    Cerita Seks Bersambung – Latifa dengan segera berusaha memberontak, namun Dollah yang berada di ujung ranjang langsung memegang dan merejang kedua pergelangan tangannya yang langsing lalu menekannya kuat-kuat ke kasur sehingga Latifa jadi tak berdaya lagi untuk menepis tangan Beduin yang mulai meraba-raba bukit kembar di dadanya, apalagi untuk mencakar muka penjarahnya, tak ada kemungkinan sama sekali.

    Meski begitu, Latifa tetap melawan sekuat tenaga dan meronta-ronta. Ia tidak ingin menyerah dengan mudah. Namun tentu saja hal ini sia-sia karena tenaga Beduin yang seolah dirasuki setan terlalu kuat, apalagi dibantu oleh Dollah yang ikut merejang tangannya. Rontaan serta tendangan-tendangan kaki Latifa hanya menyebabkan gaun tidur penutup tubuhnya kini semakin tersingkap, membuat betis dan pahanya yang begitu putih dan mulus jadi terpampang jelas.

    “Mphfhh… sialaaan! Jahanaaam! S-siapa kamuu! Mpffhff… auowfhh… hhmmfh…” Latifa berusaha memaki-maki lelaki yang sedang menciuminya, namun yang dilihatnya hanya mata jelalatan yang penuh nafsu.

    Latifa bahkan merasakan bahwa gaunnya telah tersibak seluruhnya ke atas dan hanya dalam waktu beberapa menit kemudian tangan Beduin yang meraba-raba gundukan dadanya dari luar gaun tidurnya dengan kasar merenggut telah bh berukuran 34B-nya hingga terlepas. Kini terbukalah kedua buah dada Latifa yang sangat sekal dan padat dengan dihiasi dua puting coklat yang terlihat mencuat ke atas, nampak begitu menggemaskan bagi setiap lelaki yang melihatnya.

    “Hmhh… wangi tenan nih tetek. Pasti penuh isinya, udah lama enggak ada yang nyusu. Abang punya sapi dan kambing, jadi ngerti banget gimana mesti keluarin susu perahan alam si néng. Abang isep dan gigit-gigit biar bisa keluar ya, udah pengen ngerasain susu gadis muda. Ssshh… uuuh… maniisnya!!” celoteh Ustadz Beduin yang seolah telah kerasukan sambil menghisap dan menggigit puting Latifa, membuatnya jadi menggelinjang mati-matian.

    Air mata mengalir kembali dengan derasnya membasahi pipi Latifa karena peristiwa biadab beberapa hari lalu kini terulang kembali, bahkan sekarang yang menggarap tubuhnya adalah lelaki setengah baya yang sama sekali tidak dikenalnya.

    Ketika melihat betapa eratnya kerjasama antara ketiga lelaki itu maka Latifa menarik kesimpulan bahwa semuanya telah diatur oleh Dollah. Ayah tirinya itu sudah merancang pelecehan ini dengan seksama. Betapa Latifa menyesali kebodohannya selama ini -segala macam sopan santun dan adat istiadat tidak ada maknanya bagi laki-laki itu. Dollah hanya mempunyai satu keinginan, yaitu menggarap tubuh montoknya habis-habisan. Dan sekarang menawarkannya kepada laki-laki lain

    Sambil meremas-remas dan menggigiti puting susu Latifa, dengan sigapnya Beduin telah menindih tubuh gadis itu dan gaun tidurnya juga telah dicabik-cabik sehingga tubuh montok Latifa telah telanjang bulat di bawah tubuhnya.

    Dollah yang dari tadi hanya memegangi, sedikit demi sedikit mulai tidak dapat menahan nafsunya melihat tubuh putri tirinya yang berada dalam cengkraman Ustadz Beduin yang terus menciumi dan menyedot-nyedot puting susu Latifa yang telah tegang mencuat. Maka sambil tetap memegangi kedua pergelangan tangan Latifa ke atas kepala, Dollah menunduk dan mulai menciumi pipi dan bibir Latifa yang setengah merekah.

    “Huekhg!” Latifa merasa sangat jijik dan mual karena bau mulut Dollah yang tak pernah menyikat giginya, sehingga mulut itu selalu beraroma asam tak menyenangkan.

    Ali yang mengambil semua adegan penjarahan itu dengan ponselnya ikut merasa si ‘adik’ di balik celana mulai terbangun, apalagi melihat geliatan tubuh Latifa yang putih mulus tanpa daya ketika Beduin mulai merosotkan badannya dan menciumi pusar Latifa yang melekuk indah di perutnya yang datar.

    Kumis jenggot si Ustadz cabul menggelitik perut Latifa, membuatnya jadi kegelian dan semakin menendang-nendang dengan kaki jenjangnya yang diusahakannya agar selalu terkatup rapat. Namun apalah daya Latifa karena si Ustadz jahanam itu telah sempurna menempatkan diri di tengah kedua kaki si gadis cantik yang kini dipaksa melebar.

    Mata Beduin bagaikan akan meloncat keluar ketika melihat betapa indahnya pemandangan yang terpampang di hadapannya. Diantara kedua paha putih mulus Latifa terlihat selangkangannya yang membukit dengan belahan amat licin tanpa bulu. Tepat di bagian tengahnya tampak celah kenikmatan Latifa yang menekuk ke dalam, menyembunyikan rongganya yang sangat mungil dan sempit milik seorang gadis alim.

    Ustadz Beduin merasakan kemaluannya memberontak mengangguk-angguk karena tak sabar lagi ingin membelah lipatan hangat itu dan menerobos masuk untuk menyemburkan benihnya ke rahim yang masih jarang ditaburi oleh air mazi lelaki, terkecuali dalam peristiwa perkosaan beberapa hari lalu oleh ayah tirinya.

    Latifa menyadari kedudukannya yang sangat lemah dan tak akan bisa lolos dari bencana pelecehan kedua kalinya, dan harapannya kini hanyalah agar semuanya cepat berlalu dan ia akan meninggalkan desa kelahirannya untuk selama-lamanya. Karena itu dibiarkannya mulutnya dilumat habis-habisan oleh ayah tirinya, diusahakannya sedapat mungkin menahan nafas melalui hidung dan hanya menarik udara dari mulut saja. Dengan demikian tak begitu banyak aroma amat memuakkan dari mulut Dollah yang harus diciumnya. Selain itu ditutupnya matanya rapat-rapat karena Latifa tidak ingin melihat wajah para pemerkosanya, terutama Ustadz Beduin yang sama sekali tidak ia kenal sebelumnya.

    Namun Ustadz cabul itu bukan anak kemarin sore yang dapat begitu saja dipuaskan nafsunya. Latifa harus merasakan bahwa yang kali ini akan menggagahinya bukan lelaki sembarangan, melainkan seorang pemimpin di kampung yang cukup disegani karena mempunyai ‘senjata; yang jarang dimiliki oleh lelaki lain. Selain itu, dia mempunyai kondisi tubuh dan stamina yang sangat tangguh, melebihi kesanggupan lelaki desa yang jauh lebih muda darinya.

    Menikmati tubuh wanita yang digagahinya namun memejamkan mata tak mau melihat wajah sang pemerkosa bukanlah sesuatu yang dapat memuaskan Ustadz Beduin. Tak ada kepuasan lebih tinggi jika ia dapat mengawasi dan menatap wajah wanita yang semula menolak mentah-mentah namun akhirnya dapat dikalahkan. Terutama wajah ayu cantik berlinang air mata yang memohon belas kasihan dan mendengarkan ratapan minta ampun karena tak tahan dan tak sanggup lagi melayani kegagahan dan kejantanannya.

    Hal ini juga harus dialami oleh Latifa yang kini telah berada di dalam genggaman dan cengkramannya –gadis itu harus ditaklukkannya hingga bersedia melayani semua keinginan nafsu birahinya dengan senang hati, betapapun menjijikkan dan merendahkan diri bagi yang sedang diperkosa.

    Untuk mencapai tujuan itu maka tubuh sintal Latifa harus dipermainkan serta dirangsang sehingga mendekati titik didih birahi kewanitannya, sampai gadis itu jadi tidak sanggup lagi menahan diri serta rasa malunya untuk minta dipuaskan perlahan sirna, barulah saat itu Beduin akan menikmati kehangatan firdausi yang telah diidam-idamkannya sejak lama.

    Beduin memberikan tanda kepada Ali agar memegangi pergelangan kaki kiri Latifa dan menariknya selebar serta sejauh mungkin ke samping, sementara ia sendiri memegang pergelangan kaki kanan Latifa dan mulailah jari-jari Latifa yang kecil mungil itu dimasukkan ke dalam mulutnya, lalu dihisap-hisap dan dijilatinya, terutama di celah-celah diantara jari kaki yang begitu peka.

    Tentu saja Latifa langsung menggelinjang dan menggeliat-geliat tak karuan karena menghadapi serangan yang sama sekali tak diduganya ini. Belum pernah ada yang melakukan hal seperti ini kepadanya. Kumis dan jenggot pendek Beduin bagaikan sikat mengesek-gesek telapak kakinya, menggelitik celah jarinya yang secara bergantian dihisap-hisap pula.

    “Lepaas! Lepaskan aku! Mau diapaain?! Gelii…!! Aiih… aah… oooh… hhhh… enggak mau! Lepaskan! U-udah! Gelii… sialan semuaanya! Kalian bangsat! Lepaas! Ohmmph…” Latifa meliuk-liukkan tubuhnya yang telanjang, yang tanpa sadar malah semakin memacu nafsu birahi si Ustadz cabul.

    Kini jari-jari tangan ustadz Beduin yang berkuku panjang mulai mengusap-usap lembah kemaluan Latifa. Dibelahnya celah yang tertutup bibir kemaluan itu, dicarinya sebutir daging yang tersembunyi disitu, lalu dicubit dan dipilin-pilinnya pelan.

    Bagai terkena aliran listrik, tubuh Latifa langsung menggelepar dan mengejang sambil menendang-nendang tak berdaya karena kedua pergelangan kakinya dicekal erat. Beduin melakukan aksinya berganti-ganti; kaki kanan, kaki kiri, kembali ke kaki kanan, sementara tangan satunya tetap merangsang celah kewanitaan Latifa yang semakin lama menjadi semakin lembab. Semuanya tak sanggup lagi ditahan oleh tubuh Latifa sebagaimana wanita muda yang membutuhkan belaian dan kemesraan lawan jenisnya, tak perduli apakah rangsangan itu berdasarkan kasih sayang atau dipaksakan.

    “Udah! Aah… auw! Aihh… ohh… emhh… sshh… aughh!!” jeritan Latifa melengking memenuhi seluruh ruangan ketika badannya melengkung ke atas menandakan tercapainya orgasme pertama, sementara dihadapan matanya meledak jutaan bintang bagaikan kunang-kunang di malam gelap gulita.

    *** Bersambung ***

    – Part 8 –

    Baca Juga

  • JILBAB SEMOK – KISAH JILBABER TERNODA Part 6

    JILBAB SEMOK – KISAH JILBABER TERNODA Part 6

    Cerita Seks Bersambung – Selama tiga hari Latifa menderita demam -dan oleh karena itu tidak lagi mengalami pelecehan ulang yang sangat dibencinya itu- ia juga berharapan bahwa peristiwa yang dialaminya itu hanya terjadi sekali saja….

    Sementara itu, tiga hari setelah peristiwa penggarapan anak dan adik tirinya, pak Dollah serta Ghazali duduk di ruang tamu penghulu desa bernama Ustadz Beduin. Beduin adalah penghulu desa Bojongan yang terletak sekitar 20 km terpisah dari desa kediaman pak Dollah. Kunjungan pak Dollah dan Ali adalah kunjungan yang ‘terpaksa’ -karena seminggu lagi mereka harus membayar hutang mereka kepada Ustadz Beduin.

    Kedatangan pak Dollah serta Ghazali ke Ustadz Beduin adalah kedatangan ketiga kalinya untuk negosiasi soal yang sama : soal hutang mereka kepada Ustadz yang sudah lama jatuh tempo waktu pembayarannya, namun karena Dollah maupun Ali tak mempunyai pekerjaan tetap dan selama krisis ekonomi semakin sukar untuk keduanya mencari nafkah, maka mereka tetap belum mampu membayar balik hutang mereka.

    Hutang yang membebani pundak kedua lelaki pemerkosa Latifa itu sebetulnya adalah salah mereka sendiri, karena awal mulanya akibat kegemaran mereka berjudi – yaitu judi yang dimulai hanya kecil-kecilan : tarungan ayam jantan. Dari soal adu ayam kemudian dilanjutkan dengan pelbagai jenis permainan kartu – hanya ‘kecil-kecilan; saja.

    Namun apa yang dimulai dengan jumlah kecil akhirnya semakin bertambah, semakin bertumpuk, dan kedua ‘pejantan’ kampung itu akhirnya ibarat masuk jebakan lumpur hisap, semakin lama semakin dalam terseret lingkaran setan. Istilahnya yang tepat adalah gali lubang tutup lubang, pinjam uang di satu tempat untuk membayar hutang di tempat lain, dan akhirnya mereka jatuh ke dalam cengkeraman Ustadz lintah darat yang rupanya memang mengincar rumah milik istri pak Dollah yang baru meninggal itu.

    Pak Dollah tentu saja tak ingin kehilangan tempat meneduhnya , dan bagaikan ‘pucuk dicinta ulam tiba’ maka pada saat ini ada kemungkinan lain untuk menghapus semua hutangnya kepada Ustadz Beduin yang sama seperti Dollah adalah kambing bandot tua rakus daun muda – kesempatan ini harus dipakai sebelum Latifa balik ke kota!

    Ustadz Beduin yang telah jemu dan bosan selalu dijanjikan pengembalian hutang oleh Dollah dan Ali sebenarnya tak mau lagi bertemu dan menerima kunjungan kedua penghutang itu. Namun ketika oleh Dollah diperlihatkan KTP anak perempuan tirinya yang sempat dicurinya dari dompet Latifa, maka wajah Beduin yang sudah sangat kecut asam bagaikan cuka tahunan itu mulai berubah serta mengajak tamunya duduk.

    “Begini, pak Ustadz, kita kan sama-sama sudah dewasa dan tahu bagaimana kesenangan masing-masing. Saya mempunyai usul yang pasti sukar untuk ditolak oleh pak Ustadz -dan jika usul saya diterima, maka saya akan membantu untuk melaksanakannya. Pasti pak Ustadz tak akan menyesal, karena apa yang akan dinikmati oleh pak Ustadz harganya sangat mahal. Pasti lebih dari cukup untuk sekaligus menghapuskan semua hutang kami,” demikian pak Dollah mengajukan penawaran tanpa ada rasa malu sama sekali karena artinya menjual tubuh putrinya.

    “Pak Ustadz kan baru kehilangan istri yang kedua karena sakit parah dan meninggal, kemudian istri ketiga kan baru diceraikan karena selingkuh, sedangkan istri pertama pasti sudah uzur, mungkin tak begitu memenuhi apa keinginan pak Ustadz yang segar bugar seperti anak muda ini,” tambah Ghazali dengan siasat menjilat.

    “Kalau memang kalian bersedia untuk menyediakan dan mempersiapkan segalanya, maka mungkin semuanya nanti dapat diatur. Apakah cukup untuk menghapus hutang kalian yang begitu banyak, masih tanda tanya besar. Tergantung bagaimana pengalaman pertama,” balas Ustadz Beduin yang memegang dan menatap foto Latifa di KTP yang sedemikian cantik. Pikiran kotornya mulai membayangkan bagaimana geliatan perlawanan gadis kota yang akan menjadi bulan-bulanan permainan ranjang dan pelampiasan nafsunya ini.

    Ketiga lelaki dengan niat tak senonoh itu merancang bahwa Latifa tidak akan diberi kesempatan untuk kembali ke kota. Begitu keadaan tubuhnya pulih dari sakit demamnya, maka kesempatan itu tak boleh diabaikan dan langsung akan dijebak dan dijadikan ‘gadis persembahan’ untuk membayar hutang.

    Sementara itu hampir seminggu telah berlalu dan perlahan-lahan Latifa mulai sembuh dari demamnya. Keinginan untuk makan minum juga telah hampir pulih sehingga ia memutuskan untuk kembali ke kota dan melupakan segala pengalaman pahit yang telah dialaminya disini. Latifa berniat untuk kembali pada hari Jum’at setelah sarapan pagi dan untuk itu sebagai seorang terpelajar dan sopan santun, maka Latifa telah memberitahukan hal ini pada ayah tirinya (dengan wajah tanpa mimik sedikitpun dan suara sangat dingin serta datar tanpa emosi) dua hari sebelumnya yaitu di hari Rabu pagi ketika makan siang.

    Hal ini kembali merupakan kesalahan besar karena dengan demikian sang ayah tiri serta adik laki-laki tirinya yang sudah punya maksud jahat langsung dapat merancang jebakan yang akan dipasang. Mereka langsung memberitahu Ustadz Beduin bahwa ‘sang kelinci’ sudah siap untuk dijadikan santapan dan direncanakan bahwa hari Kamis petang menjelang malam Jum’at tanggal 13 adalah waktu terbaik untuk melaksanakan jebakan itu.

    Setelah makan tengah hari, Latifa mulai membereskan dan memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Sejak pagi hari Latifa melihat ayah dan saudara lelaki tirinya pergi meninggalkan rumah entah kemana, dan ketika makan tengah hari, mereka tak pulang, padahal biasanya paling tidak salah seorang dari mereka akan pulang makan di rumah. Namun hal itu sama sekali tak meresahkan Latifa, bahkan ia merasa gembira tak usah berhadapan muka atau bahkan duduk bersama satu meja dengan orang yang telah merenggut kegadisannya.

    Menjelang masuk awal petang hari, cuaca mulai memburuk. Udara semakin mendung dan hujan lebat mulai turun disertai dengan kilat dan petir sambung-menyambung. Semuanya tak menjadi bahan perhatian Latifa karena semua isi pikirannya hanya dipenuhi hasrat dan tujuan untuk kembali ke tempat kerjanya.

    Tanpa disadarinya keadaan di luar menjadi semakin gelap akibat mendung dan hujan lebat -bagai ulangan peristiwa dimana hari naas ketika Latifa kehilangan mahkota kegadisannya. Hanya bedanya kali ini lampu tetap menyala sehingga dengan penuh ketenangan Latifa dapat melanjutkan membereskan kopernya, hingga esok hari ia dapat berangkat setelah sarapan.

    Selesai merapihkan semuanya maka Latifa merasa lebih tenang. Diambilnya buku novel yang dibawanya dan belum sempat dibaca habis akibat peristiwa yang dia alami, dan juga karena sakitnya beberapa hari ini. Dalam posisi setengah duduk terbaring di ranjang, ia mulai membaca. Novel karya pengarang terkenal itu dengan cepat membawanya ke alam hayalan, mengajak Latifa agar melupakan duka nestapanya untuk sejenak.

    Tanpa terasa satu jam telah berlalu, ditambah dengan udara sejuk bahkan agak dingin akibat hujan lebat, maka Latifa mulai memejamkan matanya yang terasa berat. Tak lama kemudian tanpa terasa ia sudah semakin ngantuk, maka diletakkannya buku yang baru selesai dibacanya itu dan beberapa menit kemudian iapun jatuh tertidur…

    Sebagaimana rumah-rumah di pedalaman, maka kamar tidur Latifa juga tidak mempunyai lubang kunci. Derasnya hujan angin serta gemuruh guntur menyamarkan bunyi pintu kamar yang terbuka perlahan-lahan disertai intipan mata jalang Beduin yang entah kapan tiba.

    Jakun Beduin turun naik dan matanya melotot wanita muda ayu cantik terbaring di ranjang dalam posisi menyamping dengan wajah menghadap pintu dimana Beduin sedang mengintip. Ustadz pejantan cabul yang usianya mendekati limapuluh itu semakin blingsatan dan nafasnya semakin memburu melihat betis dan paha Latifa yang begitu putih dan mulus, tersingkap di bawah gamisnya.

    Meskipun bagian atas tubuh Latifa tertutup rapat dan rapi sebagaimana seorang gadis alim shalihah, namun semuanya tak dapat menyembunyikan tonjolan bukit kembar di dada Latifa yang bergerak naik turun seirama dengan tarikan nafas halusnya yang sama sekali tidak terdengar.

    Beduin merasakan alat kejantanannya langsung terbangun -apalagi disaat Latifa tanpa sadar sedikit membalikkan tubuhnya telentang sehingga pahanya jadi agak membuka, memperlihatkan sebentuk selangkangan yang tertutup oleh celana dalam kecil berwarna putih. Dari jarak itu, Beduin tidak dapat melihat dengan jelas apakah di balik celana dalam itu kemaluan Latifa bersembunyi di balik bulu lebat atau hanya sebagian tersembunyi di balik bulu halus…

    Ali dan Dollah yang berada di belakang Beduin hanya memberikan sedikit dorongan di punggung Ustadz mesum itu sebagai tanda bahwa mangsa yang diincar telah sedemikian lengah terbaring dan siap untuk dinikmati. Keduanya telah sepakat bahwa Dollah akan membantu Beduin untuk merejang Latifa agar tak sanggup berontak, sedangkan Ali baru akan menyusul ikut ‘pertempuran’ jika diperlukan tenaganya. Ali mempunyai tugas lebih penting, yaitu mengambil semua adegan penjarahan Latifa oleh pak Dollah dengan ponselnya, dan ini akan dijadikan bukti hingga tak dapat dipungkiri seandainya Beduin akan menyalahi janjinya dan tak bersedia menghapuskan hutang-hutang mereka sebagaimana ucapannya secara lisan.

    Memang pada saat itu ibarat iblis sedang menguasai alam sekitar desa -hujan semakin deras mengguyur sehingga di dalam rumah pun suram gelap, menguntungkan manusia-manusia yang hendak berniat jahat. Juga bunyi limpahan air hujan di atap rumah menutup semua bunyi lain -termasuk bunyi engsel pintu kamar tidur Latifa yang perlahan-lahan dibuka oleh Beduin, serta langkah ketiga lelaki jahanam yang kini telah berdiri di samping ranjang dan mengawasi si bidadari yang tertidur itu.

    Ali mempersiapkan ponselnya dan berdiri di sebelah kanan ranjang, sementara Dollah berada di ujung bagian kepala ranjang. Ketika keduanya telah siap dalam posisi yang strategis itu, maka Beduin segera melepaskan baju, celana panjang serta kaos yang menutupi badan atasnya sehingga ia kini hanya memakai celana dalam saja.

    Bagaikan seorang suami yang terpesona dengan kemolekan tubuh istrinya, maka Beduin dengan setengah merebahkan diri mulai mendekatkan mukanya yang bopéngan bekas cacar serta berhias kumis dan jenggot lebat bagai kambing gunung ke wajah Latifa yang sedemikian cantik jelita. Lalu dengan rakusnya ia mulai menciumi bibir tipis Latifa yang setengah terbuka.

    Latifa yang tengah terbuai di alam mimpi langsung terbangun begitu bibirnya direnggut dengan kasar oleh mulut dan lidah yang kini secara ganas dan kurang ajar serta beraroma tak sedap dan juga penuh air liur memuakkan berusaha menerobos masuk ke dalam rongga mulutnya. Latifa dengan…

    ***

    Baca Juga

  • JILBAB SEMOK – KISAH JILBABER TERNODA Part 5

    JILBAB SEMOK – KISAH JILBABER TERNODA Part 5

    Cerita Seks Bersambung – Latifa berusaha mencakar paha sang pemerkosa dibelakang pinggulnya dengan kuku-kuku kedua tangannya, namun Dollah sudah siap dan terbiasa dengan reaksi perlawanan wanita dalam posisi sepertiini. Kedua tangan Latifa yang menggapai ingin menyakar itu lekas ditangkap, dicekal pergelangan nadinya dan lalu ditelikung ke belakang.

    Dalam kedua tangannya berada dipunggung dan ditelikung maka Latifa tak dapat menunjang lagi badan bagian atasnya, namun ini justru memudahkan Ali yang sedang disepong untuk menjambak jilbab dan rambut Latifa, lalu dengan ritmis diturun-naikkan dengan irama yang sangat memuaskan “otong”nya.

    Dengan satu tangan Dollah tetap menelikung nadi mangsanya sehingga Latifa tak dapat mencakar, sementara tangannya yang lain meremas-remas buah dada Latifa yang menggantung indah dan memilin serta memijit-mijit putingnya.

    jilbab-toge-puteri-aulia-UGM (7)

    Tubuh Latifa kembali mengkhianati : rasa ngilu, sakit, nyeri dan nikmat berkumpul lagi menjadi satu dan melanda semua bagian peka yang sedang dirangsang oleh Dollah dan Ali, memacu pusat orgasme di otaknya kembali bekerja.

    Dollah merasakan dinding vagina Latifa kembali mulai berdenyut, semakin lama menjadi semakin cepat, mantap memijit kemaluannya, dan dengan sangat tak terduga oleh Latifa, mendadak jari tengah Dollah yang baru saja memilin putingnya, pindah merantau menusuk masuk ke lubang anusnya.

    Teriakan kaget dan kesakitan Latifa teredam oleh penis Ali yang menancap di mulutnya, yang disaat sama berdenyut-denyut pula sambil menyemburkan lahar panas ke arah kerongkongannya. Kembali Latifa merasakan tubuhnya bagai meledak mengalami orgasme untuk kesekian kalinya, terutama disaat bersamaan Dollah juga menyemprotkan sperma hangatnya ke dalam rahimnya.

    Ketiga insan itu dalam waktu hampir bersamaan mengalami orgasme secara bersama-sama – ketiganya merasakan tubuh mereka mengejang beberapa menit sebelum terkulai lemas penuh dengan keringat beberapa saat kemudian.

    Sementara Latifa masih lemas setengah pingsan, Ali yang termuda, dalam waktu singkat, hanya seperempat jam, telah mulai pulih kembali tenaganya, terutama ketika melihat tubuh Latifa yang putih mulus, yang telanjang bulat setengah telungkup diatas tubuh ayah tirinya. Betapa kontras warna kedua tubuh itu, Dollah yang agak gemuk berisi berkulit hitam legam dekil, sedangkan Latifa bertubuh ramping langsing berkulit putih kuning langsat. Namun yang menarik perhatian Ali adalah bongkahan pantat Latifa yang begitu sempurna, besar bulat tanpa cacat sedikitpun. Membayangkan betapa sempitnya lubang yang tersembunyi diantara belahan itu menyebabkan si ayam jago di selangkangan Ali mulai bangun dan siap untuk kukuruyuk kembali.

    Ali menyentuh kaki Dollah sehingga sang ayah membuka matanya, diberikannya tanda agar Dollah memeluk Latifa secara ketat untuk mencegah jangan sampai gadis itu dapat berontak. Dollah segera mengerti apa maksud Ali, ia langsung meletakkan tubuh Latifa diatas tubuhnya sendiri dengan sempurna, kemudian dipeluknya pinggang putri tirinya yang langsing itu dengan kedua lengannya yang berotot sehingga Latifa tak mungkin bergeser kemanapun.

    IFFAH

    Ali dengan perlahan mendekati tubuh Latifa dari belakang, ditariknya pinggul Latifa ke atas sehingga menjadi posisinya sekarang menjadi berlutut menungging tinggi dan sekaligus kedua paha Latifa yang masih gemetar halus akibat sisa orgasme dibukanya lebar-lebar dan ditahan di kiri kanan oleh paha ayah tirinya. Kini terpampang dengan jelas celah diantara belahan pantat Latifa yang di bagian tengahnya terlihat cekungan berwarna coklat muda kemerahan dihiasi kerut-kerutan halus tipis menandakan masih sempurnanya tegangan otot lingkar yang melindungi anus Latifa.

    Ali mengolesi telapak tangannya dengan ludah lalu diratakannya ke ujung kepala penisnya sehingga benda itu jadi terlihat licin mengkilat, selanjutnya ia meneteskan ludahnya di cekungan anus Latifa. Penuh kepuasan Ali melihat bahwa cekungan itu mulai berdenyut dan “menelan” tetesan ludahnya seolah ada sedotan kuat yang menarik ke dalam. Kejantanan Ali yang semula masih terlihat agak menggantung kini menjadi tegak penuh kegagahan karena sang empunya telah membayangkan betapa perlawanan sia-sia dari otot lingkar pelindung itu, namun jika telah ditembus dikalahkan maka justru secara alamiah akan menarik menyedot kemaluannya semakin dalam.

    Dengan kedua tangannya Ali memegang dan agak menarik bongkahan pantat Latifa ke kiri dan ke kanan, lalu mulailah ia menekan kepala penisnya di pintu gerbang paling intim dari Latifa, adik tirinya itu. Bagaikan disengat oleh hewan berbisa, Latifa melonjak meronta dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Dollah yang kuat, anusnya terasa sangat panas dan perih bagai disayat pisau saat ada barang keras berusaha untuk masuk ke dalam sana.

    “Aaaaaah, auuuuuuuuww, jangaaaan! Aduuuuuuh, jangaaaan! Sialaaaan! Ampuuuuuun, sakiiiiiiiiit, lepaaaas, tolooong lepaskan! Mmmphh, auuuuuuuuuww! Tolong, Bang, kasihani saya, saya enggak mau disodomi! Sakiiiiiit, Bang, udaaah!” Latifa menjerit dan berteriak sekuat nafas yang dapat dikeluarkan dari 

    paru-parunya, namun semua sia-sia dan terlambat karena tanpa rasa kasihan, Ali terus mendorong kemaluannya untuk menembus keperawanan Latifa yang kedua.

    Selama ini Latifa hanya mendengar dari teman-teman dekatnya yang telah menikah bahwa suami mereka kadang menginginkan variasi dalam ML dengan memakai jalan belakang. Semuanya menceritakan secara sembarang saja apa yang dirasakan saat itu – namun Latifa tak pernah membayangkan betapa sakit dan penderitaan yang dialami disaat ini. Berbeda dengan Ali yang diawal penetrasi juga merasakan betapa susah dan peretnya memasuki lubang anus adik tirinya, namun kini mulai terbiasa dan secara ritmis memaju mundurkan pinggulnya untuk lebih menikmati penjarahannya itu.

    Dollah melihat penuh kepuasan wajah cantik Latifa yang kini dibasahi oleh air mata dan dari celah bibir mungilnya yang terbuka terdengar rintihan dan keluhan tiada henti menimbulkan iba. Suara rintihan Latifa semakin lama semakin sesuai dan sinkron dengan dengusan Ali yang kini makin mempercepat gerakan pinggulnya. Dirasakannya bahwa semua lahar yang berkumpul di pelirnya makin mendidih dan akhirnya menyemburkan membasahi bagian dalam anus Latifa yang sudah sedemikian peka sehingga dengan jeritan putus asa kesekian kalinya, Latifa jatuh pingsan kembali dan ambruk diatas tubuh ayah tirinya.

    ************************************************************************************

    Latifa sebagai seorang gadis alim shalihah yang selama ini tak pernah mengikuti aliran dunia anak muda modern dengan pesta pora dan kelakuan hura-hura sebagaimana yang dikerjakan dan dialami oleh para selebs, tentu saja sangat shock mendapat perlakuan sangat tak senonoh yang diperbuat oleh ayah dan saudara laki-laki tirinya.

    Setelah diperkosa habis-habisan di malam itu, maka Latifa menangis semalaman di kamarnya. Ia tak mau keluar, semua kepercayaannya terhadap keluarga sendiri pun punah. Disesalkannya dirinya yang tidak jadi pulang ke kota tempatnya bekerja sebagaimana telah direncanakannya semula, malah mau dibujuk untuk menginap semalam lagi.

    Kini hilanglah sudah kehormatannya, hilang kegadisannya yang layak untuk dipersembahkan kepada suaminya di malam pengantin nanti.

    Di saat mengalami puncak keputusasaannya itu, hanya kesadaran bahwa banyak sekali pasien yang sangat berterima kasih terhadap perawatannya yang jadi hiburan. Dan dengan berdasarkan rasa kesadaran itulah akhirnya Latifa berhasil memejamkan mata dan mulai jatuh pulas ketika malam telah amat larut, memasuki hampir jam setengah tiga pagi. Tubuhnya terasa sangat penat, pegal, terutama di bagian-bagian yang sangat intim. Semuanya terasa memar dan memang terlihat banyak bekas cupangan serta gigitan gemas. Namun yang paling menyakitkan adalah selangkangannya karena begitu lama berusaha ditutupnya pada saat dipaksakan untuk menguak membentang, sendi pahanya jadi terasa bagaikan patah dan dilolosi tulang-tulangnya.

    Esok harinya Latifa jatuh sakit, badannya demam panas dingin, menggigil. Kepalanya terasa pusing melayang, perutnya bagaikan diaduk-aduk serta mual sehingga berkali-kali ia muntah. Rencananya untuk secepat mungkin meninggalkan tempat malapetaka itu kembali harus ditunda dan terpaksa dibatalkan. Makanan daerah Sunda yang biasa menjadi favoritnya sama sekali tak dapat ditelan, sehingga akhirnya hanya bubur hangat yang dapat sedikit menghilangkan rasa lapar dan berhasil dimakan tanpa dimuntahkan kembali.

    ***

    Baca Juga

  • JILBAB SEMOK – KISAH JILBABER TERNODA Part 4

    JILBAB SEMOK – KISAH JILBABER TERNODA Part 4

    Cerita Seks Bersambung – Ali meraba dan membelai payudara berkulit halus itu dengan penuh kemesraan ; ibarat seorang ahli benda purbakala sedang menilai cawan porselen dynasti Ming yang sangat langka, mengusap-usap dengan sangat hati-hati. Jari-jari tangan Ali menaiki lerengnya yang terjal dan dengan lembut menuju ke arah puncaknya yang berwarna merah kecoklatan, ia menyentuhnya sedemikian perlahan dan halus seolah ingin menambah kemancungan dan ketinggiannya. Dan memang Latifa mulai mendesah mengeluh perlahan dengan mata masih setengah tertutup karena merasakan buah dadanya mengalami godaan yang sangat berbeda dengan kekasaran yang dialaminya tadi oleh Dollah.

    “Wah, ini tedoy emang betul yahud, legit dan kenyal banget. Bisa dijadikan guling nih, sambil nyusu anget, pasti lebih sehat dari susu kaleng. Enggak tahan lagi nih, mau néték dulu ah, boleh ya?” celoteh Ali sambil meremas kedua buah dada dan bergantian menyedot menggigit kedua puting merah mencuat milik Latifa, menyebabkan Latifa semakin menggelinjang meronta tapi semua sia sia saja.

    Sementara itu Dollah telah menempatkan diri diantara paha Latifa – mulutnya dengan bibir tebal berkilat karena berulang kali dibasahi oleh lidahnya sendiri ibarat ular python telah menemukan mangsa.

    Latifa masih di dalam keadaan setengah ekstase akibat orgasme menyadari apa yang akan segera dialaminya, ia berusaha lagi memberontak sekuat tenaga tapi tetap tak berdaya menghadapi kedua lawan yang demikian kuat dan sedang dipenuhi oleh hawa nafsu dan bisikan iblis.

    jilbab-toge-puteri-aulia-UGM (5)

    Dollah kini berusaha menekan nafsu iblisnya dan bertindak seolah seorang suami di malam pengantin akan merenggut mahkota kegadisan istrinya. Diciuminya secara bergantian telapak kaki Latifa, jari-jari kakinya, betis langsing halus mulus, paha licin putih, naik melusur ke atas ke arah selangkangan Latifa yang tercukur rapi.

    Kini Latifa mulai merasakan malu sehingga tak terasa pipinya yang basah airmata merona merah, malu karena tubuhnya tanpa dikehendaki dan diluar kemauannya sendiri mulai merasakan pengaruh rangsangan dari ayah dan saudara tirinya. Selangkangan Latifa yang masih terasa pegal kaku karena tadi dipaksa membuka oleh Ali, kini kembali dipaksa menguak. Kedua pahanya yang sekuat tenaga ingin dirapatkan, telah dipaksa lagi dipengkang sehingga terasa ngilu. Kedua lutut Latifa menekuk dan diletakkan di bahu kiri kanan Dollah – sementara mulut dowérnya semakin mendekati mengendus-endus lipatan paha Latifa sampai akhirnya menempel di bukit Venus putri tirinya itu.

    “Duuuuh, sialaaan! Ini mémék emang buatan alam kelas satu, enggak pernah ngeliat bukit gundul licin kayak gini. Pinter banget ngerawatnya, hmmh… kalo mau tetep tinggal disini, ntar abah cukurin tiap hari, terus langsung dijilatin. Mau ya, Nduk? Mmmmmh, udah keluar madu lagi, duuuh manisnya, Nduk!” Dollah berceloteh sendiri sambil mulai menjilati kemaluan Latifa. Lidahnya yang kasar menyapu dan menyelinap diantara celah bibir kewanitaan Latifa, menjilati dinding yang telah licin akibat madu pelumas disaat orgasme beberapa menit lalu, ditelusurinya bibir bagian dalam vagina kemerah-merahan itu, menuju lipatan atas dan akhirnya menemukan apa yang dicarinya.

    Kembali Latifa diterpa rasa kegelian yang tak terkira, klitorisnya yang beberapa saat lalu menjadi sasaran lidah Ali sehingga memaksanya naik ke puncak orgasme, kini dilanjutkan dan diulang kembali. Ibarat seorang yang baru dipaksa mendaki, akhirnya mencapai puncak gunung, tapi tak diberikan waktu istirahat untuk menuruni tebing ke bawah – kini mulai lagi diseret dan dipaksa sekali lagi mendaki ke arah puncak. Latifa tak rela diperlakukan seperti ini, dikutuknya kelakuan kedua lelaki yang sedang menjarahnya itu, namun apalah daya seorang wanita dalam keadaan seperti ini.

    Latifa berusaha menekan semua perasaan nikmat yang semakin menguasai tubuhnya, badannya yang sejak tadi meliuk meronta, kini dibiarkannya lemas lunglai, ia berharap bahwa dengan memperlihatkan reaksi “dingin” itu kedua pemerkosanya akan bosan dan menghentikan kegiatan mereka. Sayang sekali lawan yang dihadapinya – terutama Dollah bukan lelaki sembarang dan ingusan, ia telah mempunyai pengalaman cukup banyak dan tahu bagaimana memaksa bangun gairah seorang wanita yang sedang dikuasainya.

    Bibir Dollah yang tebal kini mengecup dan melekat di kelentit idamannya, tak dilepaskannya sasaran utamanya itu, dicakupnya daging kecil berwarna merah jambu milik Latifa diantara bibirnya, dipilinnya ke kiri dan ke kanan, ditekan dan dijepitnya dengan gemas diantara bibirnya, dilepaskannya sebentar dan digantinya dengan sapuan lidah ampuhnya, demikian terus menerus dan berulang-ulang.

    Diserang dengan cara sangat ampuh seperti ini, Latifa akhirnya harus mengakui kekalahannya – rambutnya yang hitam bergelombang menjadi kebanggaannya telah acak-acakan tergerai, hanya jilbab penutupnya yang masih belum terlepas, disertai rintihan putus asa, tubuh sintal bahenolnya kembali kejang di orgasme keduanya.

    “Toloooong, lepaaaaas, janggaaaan diterusiiiiiin, aaaauuuuuwww, aaaiiiihh, enggggggak maaauuu, tolooong, oooouuuuuuuw, eeemmmppffffhh!” kembali Latifa melenguh menjerit putus asa berusaha menembus bisingnya deraian hujan menimpa atap rumah, dan kembali mulutnya tertutup oleh bibir Ali yang berusaha sejauh mungkin mencium mulut adik tirinya dengan penuh kemesraan.

    jilbab-toge-puteri-aulia-UGM (6)

    Dollah merasa puas melihat hasil rangsangannya – ia tahu bahwa di saat ini Latifa sedang dilanda badai orgasme lagi – dan saat ini adalah saat yang terbaik untuk menembus celah vaginanya. Tak ada rasa yang lebih nikmat bagi Dollah ketika menembus keperawanan seorang gadis pada saat otot-otot dinding vaginanya berdenyut berkontraksi karena orgasme. Saat itu adalah saat paling membahagiakan bagi pria berpengalaman : merasakan penisnya menembus liang kewanitaan wanita yang seolah dipijit diurut-urut oleh dinding nan licin basah namun masih sangat sempit dan penuh kehangatan. Semuanya itu disertai dengan wajah si wanita yang seolah-olah tak percaya dengan apa yang terjadi : nikmat sakit, sakit tapi nikmat.

    Dollah kini telah berhasil menempatkan kepala penisnya yang keras, tegang berwarna hitam, dihiasi oleh pembuluh darah yang melingkar-lingkar menghiasi sepanjang batangnya. Kepala penisnya yang gundul bagaikan topi baja serdadu terlihat sangat gagah dengan lobang di tengah agak membuka seperti mulut ikan, mulai memasuki vagina putri tirinya. Mili demi mili, sang penis maju menusuk membelah celah yang belum pernah dijarah oleh lelaki manapun itu – disertai rasa kepuasan Dollah namun penderitaan bagi Latifa yang menangis tersedu-sedu, menjerit, merintih memilukan hati mengiringi kehilangan miliknya yang selama ini sangat dijaga dan diharapkannya akan diberikan kepada suami tercintanya kelak.

    Habislah harapan muluk Latifa untuk memasuki malam perkawinan dengan kesucian yang utuh, punah sudah impiannya untuk meneteskan air mata kebahagiaan di dalam pelukan kekasih dan suaminya ketika dengan penuh kerelaan ia mempersembahkan mahkota kegadisannya.

    Sesuai dengan rencana maka saat ini Dollah tak memperlakukan Latifa dengan kasar, ia tidak menusuk secara brutal membabi buta ke dalam vagina sang putri, melainkan agak diputar-putarnya gerakan maju mundur sang penis.

    “Nikmaaat tenaaaan, Nduk… begeuuuuur teuuuiiiing no bahenoool, abaaah dikasiiiih hadiaaaah begini enaaak, ntar abah ajariiiin yang lebiiiiih mantaaaab lagi. Ayooooh goyaaaangin tuh pinggul, jangan dieeem aja. Abaaah cobaa masuuuk dalemaaaaan lagi, Neng… jangan berontaaak ya, ntaar sakit, terima pasraaah aja!!” dengus Dollah sambil dengan yakin memaju-mundurkan pinggulnya, ibarat pompa air berusaha mencari sumber di tempat yang semakin dalam. Sesekali disodoknya ke arah atas, kiri, kanan, bawah, lalu diulangnya lagi dari awal.

    Gerakan ini menyebabkan dinding tempik Latifa yang sedang mengalami penjarahan pertama seolah diaduk – diulek dan digesek dengan penuh kemesraan.

    Sementara Ali tetap memegangi kedua nadi Latifa sambil mulutnya tak kunjung berhenti menyusu di puting kiri kanan Latifa yang tetap mengeras bagaikan batu kerikil. Kedua lelaki itu penuh kepuasan mengamati wajah Latifa yang telah mendongak ke atas namun tetap menggeleng ke kiri dan ke kanan. Wajah cantik Latifa semakin terlihat kuyu dan lemas, hidung bangirnya kembang kempis mendengus dan bernafas semakin cepat, sementara bibirnya yang mengkilat basah setengah terbuka.

    “Auuummph, aaaaaoooohh, eeemmmpppph, eeeeeengghhh, aaaaaauuuww, ssssshhhhhh, udaaaah doong, aaaahhhh, udaaaaah, saaakiiiiiiit, ngiluuuuuu, ouuuuhhh, eeemmpphh, iiyyyaaaa, auuuuw, iyaaaaa,” tak sadar lagi Latifa mengeluarkan suara khas wanita yang sedang dilanda kenikmatan birahi.

    Dollah dan Ali yang rupanya telah beberapa kali mengerjai wanita secara bersama, kembali saling berpandangan dan yakin bahwa pertahanan Latifa telah hancur luluh dan kini tinggal dilanjutkan permainan seksual ini untuk mengubah Latifa dari gadis alim menjadi wanita dewasa yang bukan saja hilang rasa malunya bersenggama, namun sebaliknya bahkan tak segan segan menagih jatah untuk selalu dipuaskan.

    Merasakan bahwa Latifa telah tak sanggup melawan, maka mereka berdua mengganti lagi posisi badan mereka : Ali kini setengah terlentang dengan penis telah berdiri mengacung ke udara, Latifa diangkat oleh Dollah dan diatur berlutut sambil menungging untuk “memanjakan” penis Ali, sedangkan dari belakang sang ayah tiri kembali mendorong dan memasukkan penisnya ke vagina Latifa.

    Meskipun telah demikian licin basah, namun karena baru saja diperawani maka tetap terasa perih sakit disaat penis ayah tirinya mulai masuk sehingga Latifa tak sadar memekik dan melepaskan penis Ali yang sedang dikulumnya sambil menggoyang pinggul seolah ingin melepaskan diri dari penetrasi Dollah.

    Namun Dollah telah memegangi pinggang Latifa yang ramping sehingga pinggulnya tak dapat digeser ke samping – sementara Ali juga dengan mantab menjambak jilbab putih dan menekan kembali kepala Latifa untuk melakukan “service” ke rudalnya yang berukuran tak kalah dengan milik ayah tirinya.

    Ketika Dollah semakin dalam mendorong penisnya maka Latifa kembali merasa perih ngilu kesakitan, mungkin karena bagian selaput daranya yang beberapa menit lalu sobek kembali terbuka lukanya.

    ***

    Baca Juga