KONGJONES CERITA DEWASA LENGKAP

CERITA SEX BERSAMBUNG

JILBAB SEMOK – KISAH JILBABER TERNODA Part 8

Cerita Seks Bersambung – Beduin kembali memberikan aba-aba kepada Ali agar melepaskan cengkeramannya di pergelangan kaki Latifa, lalu digeser dan didorongnya sebuah bantal di bawah pinggul Latifa, kemudian diletakkannya kedua lutut Latifa di atas pundaknya. Dengan demikian terbukalah selangkangan Latifa secara optimal.

Celah memeknya yang terlihat licin mengkilat dibasahi oleh cairan lendir kewanitaan akibat orgasmenya, kini terkuaklah melebar dihadapan rudal Beduin yang bagaikan pentungan bertopi baja. Satu dua tetes air mazi telah mulai keluar dari saluran kencing Latifa pada saat Beduin meletakkan kepala penis kebanggaannya itu di gerbang kenikmatan si gadis kota.

Tapi Beduin tidak buru-buru untuk melakukannya. Ia ingin menyaksikan bagaimana wajah keputus-asaan Latifa saat gairah birahinya terus menerus dipacu. Secara sangat sadis Beduin kembali mengusap-usap dan memilin-milin klitoris Latifa dengan jari tengah dan ibu jarinya secara ritmis namun tanpa henti. Akibatnya, Latifa yang masih lemas sehabis mencapai puncak orgasmenya dan agak lega memperoleh kesempatan sebentar untuk melepaskan lelah di tebing gunung, mendadak dipaksakan untuk mendaki kembali naik ke gunung guna mencapai puncak orgasme berikutnya.

“Hehehe… gimana, Neng, enak tenan ya? Hmm… ini biji pentil ngumpet melulu, bapak pijit-pijit ya biar gedean dikit dan gampang digaruk-garuk… hehehe, lha tuh nongol lagi. Kelihatan mulai merah, bikin bapak jadi nafsu aja. Ntar dicup-cup dan digigit-gigit mau ya, Neng… tapi sekarang bapak mau kasih bibit unggul dulu ke Eneng, hehehe…” Beduin cengengesan dan tersenyum lebar penuh kemesuman ketika melihat mangsanya tak berdaya.

Latifa hanya dapat menatap Beduin dengan mata yang sayu dan kuyu, tenaganya hampir habis terkuras, namun sang pemerkosa baru akan memulai dengan penjarahannya.

Tanpa rasa jijik sedikitpun, Beduin mulai menjilati tebing bukit kemaluan Latifa. Lidahnya bagaikan ular, menyelinap memasuki celah kenikmatan yang telah mulai licin oleh ludah dan lendir kewanitaan itu. Sambil menjilat bagian dalam vagina Latifa, ibu jari dan telunjuk tangan kiri Beduin tak henti-hentinya mengusap dan memilin-milin kelentit kesayangannya. Kemudian tanpa peringatan apapun, Beduin menusuk masuk lubang dubur Latifa dengan jari tengah kanannya!!

“Aaah… a-aduh! Jangan! Toloong! Enggak mau! Aihh… a-ampun! Haraam, Pak! Jangaan! Kasihani saya, Pak! Ngiluu… auw!!” Latifa melolong menjerit-jerit bagaikan hewan akan disembelih. Tubuhnya kembali menggeliat-geliat dan meronta, berusaha menggeser ke kiri dan ke kanan menghindari perbuatan maksiat yang sedang dilakukan oleh Ustadz cabul itu.

“Geli ngilu ya, Neng?! Ntar juga biasa… percuma ngelawan, Neng, mendingan nyerah dan nikmati aja. Sekarang masih belon biasa, tapi ditanggung sebentar ketagihan minta nambah! Hmmh… makin dijilat semakin wangi nih memek! Wuih, juga makin gede dan merah aja nih itil. Udah nggak malu lagi rupanya, hehehe…” Semakin semangat dan bernafsu Beduin merangsang semua tempat peka di selangkangan Latifa.

Ustadz cabul itu memutuskan untuk sekali lagi memaksa Latifa mengalami orgasme dengan cara rangsangan oral -oleh karena itu kembali dijilat-jilat dan digigit-gigitnya bibir dan dinding kemaluan Latifa, lalu digesek-gesekkannya kumis pendeknya yang bagaikan sikat ijuk itu menusuk kelentit Latifa.

Tak tahu harus melakukan perlawanan apa lagi, Latifa hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan serta memukul-mukulkan tumit kakinya ke punggung Beduin. Namun semuanya tak ada guna sama sekali, kelentitnya yang sedemikian peka terus disiksa habis-habisan. Ibarat disentuh dengan kawat beraliran listrik, maka klitoris Latifa menyalurkan rangsangan tiada hentinya ke seluruh tubuh indah gadis itu yang semakin meliuk dan menggelepar-gelepar. Arus rangsangan itu juga memasuki seluruh permukaan syaraf di kepala dan otak Latifa. Dan terus menerus menyerang tak kenal lelah hingga…

“Aaahh… auw!! Pak, a-ampuun! Ayuk mesti ke belakang, mesti ke belakaang! Aoohh… lepaskan! Ayuk mesti ke belakang! Aiihh…” Latifa melolong disertai ketegangan, badannya kaku melenting ke atas memberikan tanda tercapainya lagi orgasme untuk yang ke sekian kalinya.

“Hehehe, si neng enggak usah kebelakang… ini namanya pipis air mazi, Neng. Iya, pinter gitu… pipis terus enggak apa-apa, malahan jadi makin licin nih terowongan. Bapak mau masuk, jangan ngelawan atau berontak segala. Ikutin aja semua kemauan bapak, ntar pasti ketagihan… Mau dibikinin anak enggak, Neng?! Nah, bapak mulai permisi masuk ya,” sambil berceloteh Beduin menekan kepala penisnya yang besar dengan batang kemaluan hitam penuh urat melingkar-lingkar dan agak bengkok itu ke tengah celah kewanitaan Latifa. Perlahan-lahan ia mendorong hingga mulai masuk sedikit, lalu ditekannya lagi dengan lebih kuat.

“Tahan dikit ya, Neng… pasti ngilu dijebol barang pusaka bapak! Nih bapak tekan dan puter-puter dikit ya kaya buka peles botol… kalo sakit bilang ya, Neng, bapak sayang si neng geulis! Ooh… sempitnya!!” ujar Ustadz Beduin mulai menodai Latifa yang telah tak berdaya di bawah kekuasaannya itu.

Latifa merasakan perutnya menegang dan mengejang karena secara tak sadar hati nuraninya tetap menolak. Otot-otot vaginanya mengerut berkontraksi seolah berusaha menahan serangan batang besar dan panjang di liang kemaluannya. Dia mengeluh dan mendesis tak karuan ketika merasakan desakan kepala penis Beduin yang menyelinap ke liang kenikmatannya. Ketika akhirnya kepala penis itu berhasil bertahta di tengah jepitan vaginanya, maka pandangan Latifa jadi semakin nanar. Butir-butir keringat semakin nyata mengalir di atas dahinya.

Tanpa rasa belas kasihan lagi kini Beduin menyekal keras kedua pergelangan kaki Latifa yang langsing dan mengangkangkan paha belalang idaman setiap pria itu selebar mungkin sehingga Latifa jadi menjerit-jerit kesakitan. Dan jeritan itu semakin memilukan, semakin menimbulkan rasa iba ketika penis Beduin membelah lipatan kewanitaan Latifa mili demi mili meski si empunya tetap tak rela menerima perkosaan yang tak mungkin dielakkan lagi itu.

“Ya Allah… tolong! Sialan semuanya! Bangs…mmpffh!!” teriakan Latifa terhenti dan terbungkam karena mulutnya disergap dengan penuh kerakusan oleh Beduin.

Perkosaan yang dialami Latifa oleh ayah tirinya beberapa hari lalu cukup menyakitkan memeknya, namun apa yang kini dialaminya melebihi beberapa kali penderitaannya. Liang kewanitaannya jadi terasa sangat panas, perih, ngilu dan seolah-olah dibelah oleh kayu kasti yang ketika masih remaja sering dimainkannya di sekolah menengah.

Penis Beduin bukan hanya lebih panjang dan lebar daripada penis ayah tirinya, namun juga agak membengkok ke atas sehingga proses pemasukannya menjadi jauh lebih sulit. Untuk itu Beduin secara sangat perlahan melakukan tarik-dorong dengan disertai mengubah-ngubah arah tusukannya karena ia memang sudah berpengalaman dalam menjarah pelbagai perempuan. Dengan cara tarik-dorong ini maka dinding-dinding kewanitaan Latifa yang memang masih sangat sempit untuk ukuran penis Beduin, jadi seolah-olah ikut ditarik keluar-masuk. Namun meski telah basah oleh lendir air mazinya, Latifa tetap saja merasakan perih dan ngilu yang teramat sangat hingga menyebabkannya terus melenguh dan merintih keras, disertai mengalirnya air mata di pipi gadis cantik itu.

“Tenang, Neng… shhh… jangan ngelawan! Pasrah aja! Emang sekarang sakit, tapi itu biasa, Neng… jangan sedih-sedih dong, kan lagi dikasih kenikmatan! Semua perempuan emang nangis kalo ngelayani abang, tapi sebentar lagi pengen minta tambah,” Beduin memberikan tanda kepada kedua lelaki lainnya untuk melepaskan bantuan mereka, dan kini Beduin sendiri yang merejang kedua pergelangan tangan Latifa di atas kepalanya.

Tarik dorong, maju mundur, serong ke kiri, putar ke kanan, sekali-kali perlahan, lalu berubah menjadi cepat, ganti lagi ritme bagaikan penari dangdut yang sedang goyang pinggul. Semuanya dipraktekkan oleh Ustadz cabul ini. Gerakan-gerakan itu sangat memberikan kenikmatan baginya, namun bagi Latifa adalah siksaan sakit tanpa henti.

Beduin menatap dengan penuh kepuasan perawat cantik yang tengah dikuasainya itu. Dilihatnya wajah demikian ayu manis di bawah tindihannya yang terlihat lelah kehabisan tenaga. Mata yang biasanya amat jeli bersinar kini telah kuyu hampir tertutup dan basah pelupuknya. Hidung mancung bangir dengan dua lubang sangat mungil kembang-kempis mengiring isak tangis yang tersedu-sedu. Mulut yang dihiasi dua bibir merah basah setengah terbuka membuat Beduin tak henti-henti melumatnya.

*** SELESAI ***

Baca Juga