Cerita Ngentot Bersambung – “I..iya ma…” jawabku lalu kembali mengenyot susunya.
“Keluarin aja sayang… jangan di tahan”
Kocokan mama semakin cepat, akupun juga semakin bernafsu mengenyot susu mama. Hingga akhirnya aku tidak tahan lagi untuk mengeluarkan spermaku.
“Crooooottt crrroooooottttt”
Spermaku muncrat dengan banyaknya, berhamburan membasahi tangan mama, perutku, perut buncit mama, serta sprei tempat tidur.
“Makasih ma…”
“Iya, enak kan sayang? Kalau kamu mau lagi ngelurkan peju nanti panggil mama aja yah.. asal jangan kamu jangan kasih tahu papa ya”
“I..iya ma” Selesai aku muncrat, pak Jupri tiba-tiba menarik tangan mama dengan kasar ke arahnya.
“Awh!” Mama sampai menjerit kecil dibuatnya. Sungguh kurang ajar! Dia ternyata belum puas untuk menyetubuhi mama! Mamapun disetubuhi sekali lagi olehnya. Kali ini dengan gaya anjing. Walaupun aku marah dengan sikap kasarnya pada mama, tapi perlakuannya pada mama memang membuat aku sebagai anaknya jadi ikut bernafsu.
Mama terlihat sangat seksi dientotin dengan gaya itu. Ya, aku masih di ranjang yang sama dengan mereka untuk terus menonton dari dekat aksi perzinahan ibu kandungku ini.
Hingga akhirnya aku kembali melihat bagaimana pak Jupri dengan nikmatnya mengejang memuntahkan spermanya ke rahim mama. Setelah itu barulah pak Jupri pergi setelah puas dua kali menzinahi mamaku.
“Udah nontonnya sayang? Mama mau beres-beres dulu nih… nanti ketahuan sama papa”
“Eh, bentar mah… aku masih pengen meluk mama” jawabku. Mama yang masih terlentang telanjang memang menggodaku untuk kembali memeluknya. Akupun kembali rebahan dan memeluk tubuh mama.
“Ya sudah… sebentar saja yah… jangan lama-lama”
“Iya Ma…” ahhh, memang nyaman sekali berada di sebelah mama. Memang tidak lama aku memeluk mama, karena setelah itu mama permisi ingin mandi dan beres-beres. Tapi aku tahu ini barulah permulaan. Aku yakin masih ada kegilaan-kegilaan lain yang akan ku alami. Dan mungkin hanya tinggal waktu saja sampai aku bisa menyetubuhi mama.
*******
Beberapa hari berlalu setelah kejadian itu. Aku sering berpapasan dengan pak Jupri di luar rumah, dia hanya tertawa cengengesan saja ke arahku. Melihat wajahnya itu sungguh membuat aku muak! Aku yakin dia masih terus menyetubuhi mama ketika kami anak-anaknya sibuk sekolah dan papa sibuk berkerja.
Setelah kejadian hari itu aku juga sering beronani, parahnya aku malah onani sambil menghayal mamaku sedang disetubuhi oleh pria brengsek itu. Sebenarnya aku ingin minta dionanikan oleh mama, tapi aku takut memintanya, lagian tidak ada kesempatan karena ada
orang di rumah. Hari ini sepulang sekolah, akupun memberanikan diri untuk memintanya, mumpung hanya ada aku dan mama di rumah.
Segera aku menuju ke kamar mama. Tampak mama baru saja selesai mandi. Dia hanya mengenakan handuk putih. Perut mama yang buncit karena hamil tampak menekan handuk itu. Pemandangan yang terlihat seksi dan menggairahkan bagiku.
“Ma…”panggilku dari depan pintu.
“Ya sayang?”
“Aku mau keluarin sperma lagi, boleh?”
“Hihihi… kamu ini. Kan udah mama bilang waktu itu kalau mau keluarin peju bilang aja ke mama”
“Berarti boleh ma?”
“Boleh… sini-sini” jawab mama tersenyum manis. Dadaku berdebar saking senangnya.
Akupun segera masuk ke dalam kamar mama. Segera ku turunkan celanaku sehingga penisku yang sudah tegang sedari tadi kini terjuntai di hadapannya.
“Buka aja bajumu sayang… telanjang aja, cuma ada kamu dan mama kok sekarang di rumah” suruh mama. Akupun menuruti perkataannya. Ku buka juga bajuku sehingga kini aku telanjang bulat di dalam kamar mama. Tanpa menunggu lagi segera ku kocok penisku.
Mama sampai tertawa kecil melihat aku yang sepertinya sangat bernafsu pada dirinya.
“Hihihi, buru-buru amat sih? Santai aja, Papa dan adik-adikmu masih 1 jam lagi kok pulangnya” ujar mama mendekat lalu mengacak-ngacak rambutku. Aku dapat mencium harum tubuh mama dari jarak ini. Wangi sabun dari tubuhnya membuat aku semakin horni.
“Ma… buka handuknya dong…” pintaku dengan nafas berat karena sudah terlalu bernafsu.
“Iya… Dasar ih kamu…” Sambil terus senyum-senyum memandangku mamapun mulai melepaskan ikatan handuknya. Dia kini telanjang bulat di depanku. Aku jadi semakin bernafsu melihat pemandangan ini. Tubuh telanjang ibu kandungku dengan kulit putih mulusnya terpampang di hadapanku. Perut buncitnya yang sedang hamil kini tidak tertutupi lagi.
Sungguh seksi. Kocokankupun semakin cepat dibuatnya.
“Pengen kayak yang waktu itu lagi nggak kamunya?” tanya mama senyum-senyum kecil.
Dia lalu berbaring di tempat tidur kemudian merentangkan tangannya. Aku girang bukan main. Segera aku langsung terjun berbaring ke sebelahnya. Aku senang sekali bisa berduaan lagi peluk-pelukan di atas ranjang mamaku ini. Akhirnya kejadian seperti waktu itu terulang lagi. Aku menyusu pada mama sambil mama mengocok penisku. Ini sungguh posisi yang paling aku suka.
Senyum manis mama yang selalu berusaha memandangku selama aku menyusu dan dikocok juga makin membuat aku terbuai. Aaaahh… Seandainya aku bisa memiliki mama seorang diri, seandainya tidak ada si Jupri brengsek itu.
“Ma… tadi mama gituan lagi yah sama pak Jupri?” tanyaku setelah melepaskan kulumanku pada puting mama.
“Iya… kenapa sayang?”
“Mama kok mau-maunya sih sama pak Jupri?”
“Dia cuma beruntung aja kok…”
“Gimana awalnya sih ma?” tanyaku lagi penasaran.
“Hmm… gimana ya… Ya dia cuma beruntung aja waktu itu datang ke rumah. Terus lihat mama lagi main-main sama terong, mama lagi pengen banget waktu itu sayang karena udah lama gak dapat jatah dari papa. Jadi dia mulai deh, awalnya mama gak mau, orangnya kan
jelek kayak itu, beda dengan papa dan pacar-pacar mama yang dulu. Tapi dia terus maksa mama, karena mama juga udah horni ya kejadian deh” jelas mama sambil tetap terus mengocok penisku.
“Emang kapan tuh ma? Kok orang rumah gak ada yang tahu?”
“Yeee… kalau ketahuan bisa gawat dong, hihihi.. Hampir 2 tahun yang lalu, sejak kita baru pindah ke sini, berarti waktu kamu kelas 3 SMP. Sampai sekarang gak bosan-bosan tuh orang” jawab mama. Tentu saja, dengan tubuh seindah dan wajah secantik mama siapa
juga yang bakalan bosan. Apalagi mama mau-maunya disetubuhi dengan kasar seperti yang aku lihat waktu itu.
Walaupun aku kesal sama pak Jupri, tapi entah kenapa aku ingin melihatnya lagi menyetubuhi mama.
“Ma… boleh nggak besok aku gak sekolah?”
“Hah? Ngapain? Emang kenapa kamu gak sekolah?” tanya mama heran sampai kocokannya pada penisku terhenti.
“A..aku mau lihat mama gituan lagi”
“Duh… kamu ini, kamu suka yah sayang lihat mama disetubuhi orang lain?”
“I..iya ma”
“Hihihi, dasar, ternyata anak mama ini nakal juga, punya fantasi jorok ke mamanya. Tapi masa sampai bolos sekolah pula sih? Jangan ah…” jawab mama sambil kembali melanjutkan kocokannnya.
“Yah.. ma, sekali-kali mah… boleh yah…”
“Hmmph… kamu ini, ya sudah deh boleh, dasar kamu ini anak nakal” ucap mama genit sambil mengecup keningku.
“Hehe, makasih mah…”
“Ya sudah, buruan dong keluarin spermanya, ntar papa keburu pulang lho, bisa kacau nanti kalau papa ngelihat kamu mesum ke mama kayak gini, hihihi”
“Eh, i..iya mah” Akupun kembali mengenyot buah dada mama untuk menghisap susunya. Meskipun mama tadi bilang buruan, tapi aku tetap melakukannya dengan santai, aku ingin
menikmatinya. Satu tanganku kembali meraba-raba tubuh mama, baik buah dadanya maupun perut buncitnya.
Mamapun tampaknya mengerti, dia pasrah saja membiarkan aku yang masih sangat ingin berlama-lama dengannya seperti ini. Sambil aku terus mengenyot buah dadanya, mama juga terus mengocok penisku dengan telaten, sesekali dia meremas buah zakarku dengan lembut. Aroma tubuh serta senyum manisnya sungguh membuat aku nyaman.
Hingga akhirnya beberapa saat kemudian akupun tidak tahan untuk memuntahkan spermaku. Mama yang menyadarinyapun mempercepat kocokan tangannya.
“Maaaa”
Crooott…
Spermaku muncrat berhamburan dengan nikmatnya. Tangan mama terus mengocok pelan penisku sampai pejuku keluar seluruhnya, sementara aku mengerang kenikmatan sambil terus menyedot susu mama. Sungguh orgasme yang luar biasa!
“Udah? Puas?”
“Belum sih ma, hehe” Ya, aku memang tidak pernah puas.
“Dasar, udah sana.. bentar lagi Papa dan adik-adikmu pulang. Disambung besok pagi aja, kan katanya besok gak sekolah, hihihi.”
“I..iya mah” Akupun bangkit dan segera berpakaian, begitu pula mama. Tidak lama kemudian Papapun pulang. Mama kembali berperilaku seperti istri yang setia dan ibu yang baik. Mereka tidak tahu, kalau di belakang mereka mama diam-diam sudah sering berzinah. Papa tidak tahu, kalau anak yang sedang di kandung mama mungkin bukanlah anaknya.
. . .
Besoknya, seperti yang direncakan, akupun tidak pergi sekolah. Aku berpura-pura sakit perut. Tentunya hanya mama yang tahu kalau aku sedang berpura-pura supaya aku bisa menonton aksi zinahnya nanti. Setelah papa dan adik-adikku berangkat, barulah aku kembali bertingkah normal.
“Udah sembuh yah sayang?” goda mama saat aku turun dari kamarku.
“Udah ma..”
“Huu… pengen lihat mama dizinahi orang jadi sembuh yah? hihihi”
“Eh, itu… Hehehe” Ah… entah kenapa aku jadi berdebar-debar menunggu pak Jupri datang kerumah untuk berkawin dengan mamaku. Belum apa-apa penisku sudah ngaceng.
Aku kemudian melihat mama senyum- senyum padaku, dia menurunkan tali dasternya, dengan sedikit sentuhan, dasternya itu kemudian jatuh terlepas dari tubuhnya. Mama telanjang bulat!
“Mama telanjang??”
“Iya… kenapa? Selama ini kalau kalian udah pergi dan mama sendirian di rumah, mama juga selalu begini” jawabnya dengan senyum genit.
“Ooh…” aku tidak menyangka, ternyata mama sangat nakal di belakang kami!
Part Selanjutnya… Part 5
***
Baca Juga
- Cerita Dewasa Bersambung: Kenikmatan Tante Girang
- Cerita Seks Bersambung Birahi Ibu dan Anak
- Cerita Panas Bersambung Bugil dengan Pembantu
- Novel Dewasa: Seks Teman Kantor
- Cerita Dewasa: Seks Kebaya Merah
- Cerita Panas: Tukang Kebun Besar Kali
- Novel Erotis Istri Selingkuh
- Wattpad Dewasa Ngentot Anak SMP
- Cerbung Ngeseks Dengan Kakak Dan Adik Kandungku
- Ketahuan Coli Jadi Ngewe sama Bibi
- Ngentot Ukhti di Hutan
- Istri yang Diperkosa Supir
- Dibantu Intan di Kamar Mandi
- Hilangnya Perawan Pramugari

