KONGJONES CERITA DEWASA LENGKAP

CERITA SEX BERSAMBUNG

Mamaku Idamanku dan Tetangga : Part 5

Cerita Ngentot Bersambung – Mama kemudian beres-beres rumah dengan bertelanjang bulat. Sebuah pemandangan yang membuat aku berdegub kencang. Mama terlihat sangat seksi. Dengan kondisi perut buncit

karena hamil dia tetap lihai membersihkan rumah. Sesekali mama melempar senyum padaku seakan-akan dia tahu kalau aku sedang terpesona melihatnya. Setelah selesai membersihkan rumah, pak Jupripun datang. Waktunya sunguh pas. Mereka sepertinya sudah terbiasa dengan rutinitas dosa ini.

“Woi, lo gak sekolah? Sengaja pengen lihat mama lo gue entotin lag?” ledek pak Jupri padaku.

“Andi tadi katanya sakit perut mas” jawab mama sambil mengedipkan mata padaku. “Tapi gak apa kan mas kalau Andi ikut nonton lagi?” kata mama kemudian.

“Ya gak apa, gue malah senang bisa ngentotin lo di depan anak-anak lo, huahahaha” jawab pak Jupri seenaknya. Pak Jupri lalu ngobrol-ngobrol sedikit dengan mama sambil menyeruput kopinya, beberapa perkataannya malah merendahkan aku dan papa. Setelah itu pak Jupri lalu menarik tangan mama dengan kasar ke dalam kamar. Sungguh bejat! Tidak tahu diuntung! Walupun begitu, aku lagi-lagi dibuat konak meskipun sakit hati dengan perlakukan kasarnya pada ibu kandungku ini. Pak Jupri yang tahu reaksiku malah cengengesan remeh kepadaku. Mama malah menjerit manja.

“Sayang….” Sambil diseret pak Jupri mama memanggilku, seakan mengajak aku untuk ikut masuk ke dalam kamar. Akupun menyusul mereka ke dalam kamar. Mereka sudah di atas ranjang, saling bergumul, berciuman dan bertukar air liur! Aku geli sekaligus horni melihat mama mau-maunya menampung liur pak Jupri yang sengaja meludah ke mulutnya.

Mama malah sengaja melirik kepadaku saat menampung liur itu, seakan sengaja membuatku semakin cemburu serta bernafsu kepadanya. Setelah menelannya dia malah tersenyum dan tertawa ke arahku. Perasaanku sungguh campur aduk! Mereka terus melakukan hal itu berkali-kali.

Puas berciuman, pak Jupri yang tidak tahan segera menyetubuhi mama dengan gaya anjing. Seperti kemarin, aku disuruh ikut naik ke atas ranjang untuk melihat bagaimana dia menggenjot mamaku dari dekat. Sambil menonton mamaku disetubuhi, aku terus mengocok

batang penisku dengan tanganku sendiri, sesekali juga sambil meraba-raba tubuh mama.

Tapi apa yang diucapkan pak Jupri berikutnya membuat aku terkejut sekaligus girang.

“Eh, lo sepong dong kontol anak lo…” suruh pak Jupri pada mama. Mama terlihat terkejut mendengarnya, akupun demikian, tapi aku juga antusias menginginkannya. Aku ingin merasakan penisku dijilati oleh mama.

“Sepong punyanya Andi pak?”

“Iya, sepong kontol anak kandung lo, kasihan tuh cuma bisa ngocok aja lihat mamanya gue entotin, huahaha”

Mama terlihat ragu. Mungkin dia tidak pernah terpikir untuk melakukan hal yang cukup jauh seperti itu pada anaknya sendiri. Namun kemudian aku malah melihat wajah mama menunjukkan rasa penasaran. Ada birahi yang terpancar dari matanya.

“Hmm… Sayang, penis kamu… mau mama jilatin?”tanya mama padaku.

“M..mau mah…” tentu saja aku mau.

“Hihihi, dasar, sekarang kamu kayaknya benar-benar nafsu sama mama sendiri yah…” tawa mama renyah.

“Huahaha, kan udah gue bilang siapapun pasti nafsu sama lo, termasuk anak lo sendiri” ledek pak Jupri yang dibalas mama dengan senyuman.

“Ya sudah, sini sayang mendekat” suruh mama sambil membuka mulutnya. Aku dengan dada berdebar menggeser maju tubuhku dan mulai mengarahkan penisku ke mulut mama, dan ‘Hap’ penisku masuk ke mulut mama. Ibu kandungku baru saja memasukkan penis

anaknya sendiri ke dalam mulutnya. Badanku gemetar, rasanya sungguh luar biasa!

“Huahahaha, gimana? Enak kan mulut mama lo?” Pak Jupri terbahak sambil lanjut menggenjot vagina mama. Aku tidak ingin menjawabnya, aku hanya terus memandangi wajah mama. Dia terus menatapku bahkan berusaha tersenyum padaku meskipun mulutnya

sedang tersumpal penis. Sungguh membuat aku jadi semakin bernafsu hingga akupun memaju-mundurkan pinggulku seakan menyetubuhi mulut mama.

Sebuah pemandangan yang sangat ganjil dan gila, apalagi kalau terlihat oleh papa.

Entah apa jadinya bila dia melihat istri yang dia cintai, yang dia pikir adalah istri yang setia dan penurut, sedang digenjot depan belakang oleh bapak tetangga dan anaknya sendiri.

Setelah beberapa lama, akupun tidak kuat untuk menahan laju spermaku. Sepertinya pak Jupri juga demikian.

Sesaat kemudian kamipun sama-sama menyemprotkan sperma kami ke tubuh mama. Pak Jupri muncrat di vagina mama sedangkan aku di mulut mama. Mama melenguh, mungkin dia ingin agar aku tidak muncrat di mulutnya, tapi tidak sempat dia katakan, sehingga akhirnya

spermaku muncrat memenuhi rongga mulutnya. Namun ternyata mama akhirnya malah menelan semua spermaku sambil penisku masih bersarang di mulutnya.

“Gila lo! Mulut emak sendiri dipejuin.. hahaha” tawa pak Jupri membahana.

Mama hanya tersenyum memandangku sambil menyeka tepi mulutnya. Aku merasa berdosa telah berbuat seperti ini pada mama, tapi memang rasanya sungguh nikmat. Aku justru ketagihan.

Setelah beristirahat lebih dari setengah jam, kami mengulanginya kembali. Sama seperti tadi, pak Jupri menggenjot vagina mama dari belakang, sedangkan aku menggenjot mulut mama. Sambil pak Jupri menyetubuhi mama, dia terus saja berkata-kata yang tidak pantas pada

aku dan mama. Dan sekali lagi, kami muncrat dengan cara yang sama seperti tadi. Aku mengotori mulut mama dengan spermaku lagi. Merasa puas, setelah ronde itu akhirnya pak Jupri pulang ke rumahnya.

. . .

Hari-hariku bersama mama kini sudah berubah. Hampir tiap hari aku selalu

meminta dionanikan serta minta oral kepadanya. Tentunya kami melakukannya ketika Papa dan adik-adikku tidak ada di rumah, walaupun pernah juga kami melakukannya diam-diam meskipun mereka ada di rumah. Sebenarnya aku pernah meminta pada mama apa aku juga

boleh menyetubuhinya, tapi ternyata mama dengan keras menolak. Aku harap hanya masalah waktu saja, karena semakin hari aku semakin bernafsu pada ibu kandungku ini.

Aku juga semakin sering bolos sekolah dengan berbagai alasan, bahkan pernah pura-pura pergi ke sekolah tapi kemudian balik lagi ke rumah. Semuanya hanya demi melihat mamaku disetubuhi oleh pak Jupri tetangga kami yang jelek itu. Sensasi sakit hati namun menggairahkan itu sungguh membuat aku ketagihan.

Hingga suatu hari aku terkejut mendengar cerita kedua adikku kalau mereka pernah melihat mama mengemut penisku. Aksiku dan mama ketahuan! Aku tentunya mencoba mengelak, tapi mereka berkata sangat yakin dengan apa yang mereka lihat. Akupun terpaksa

mengancam mereka supaya tidak cerita ke siapa-siapa, terutama pada Papa.

Untung saja mereka mau menurut karena mereka berdua memang takut padaku dari dulu..

Aku lalu memberi tahu mama kalau Andra dan Bobi pernah melihat perbuatan kami waktu itu.

“Duh… tuh kan ketahuan, kamu sih sayang… maksa banget mintanya waktu itu, padahal ada mereka di rumah, ketahuan tuh kan jadinya… huuuh” ujar mama manja setelah aku

memberitahunya, tampak wajah mama panik. Mungkin dia takut kalau Andra dan Bobi akan mengadu ke papa.

“Tapi aku yakin mereka gak bakal bilang pada siapa-siapa kok ma… sudah aku suruh diam”

“Iya… tapi kan tetap saja ketahuan. Pantesan mereka tadi diam-diam aja ke mama” Mama sepertinya masih tidak menyangka kalau perbuatan gilanya ketahuan satu-per satu. Kemarin

ketahuan berzinah dengan pak Jupri olehku, sekarang aksiku dan mama yang ketahuan oleh Andra dan Bobi.

“Hmmhh…. Tapi ya udah deh, udah ketahuan juga, ya gimana lagi” ujar mama kemudian, dia sudah terlihat lebih santai.

“Ma…”

“Hmm? Apa lagi?”

“Besok aku gak sekolah lagi boleh gak?”

“Kamu mau bolos lagi? Pengen lihat mama digituin lagi ya?”

“Iya Ma… “

“Masa bolos terus sih sayang?” tanya mama heran. Mungkin dia kesal juga melihatku jadi malas sekolah hanya demi melihat dia berbuat zinah.

“Iya Ma… boleh ya ma? Ntar aku kasih tahu papa lho” ancamku, tentu saja aku tidak serius mengancamnya, mama juga tahu itu. Dia tahu aku tidak akan memberitahu papa. Dia tahu kalau aku sudah sangat menyukai permainan ini.

“Hihihi… dasar kamu ini, iya deh iya, dasar anak nakal. Mau jadi apa sih kamu kalau kerjaannya bolos mulu, hihihi” jawab mama sambil tertawa, aku juga ikut tertawa.

. . .

Akupun tidak sekolah besoknya. Ya, lagi-lagi hanya karena demi melihat ibu kandungku ini dizinahi orang yang bukan suaminya, yaitu pak Jupri. Kami bertiga melakukannya lagi seperti yang sudah-sudah, yang mana aku juga dapat jatah sepongan dari mama yang sedang disetubuhi oleh pak Jupri. Tapi aku tidak menyangka kalau mama malah menceritakan pada pak Jupri masalah aksiku dan mama yang ketahuan oleh adik-adikku. Terang saja membuat pria brengsek itu terbahak.

“Huahahaha… Lo ketahuan sama anak-anak lo yang lain?”

“Iya Mas…” ucap mama malu-malu.

“Kenapa gak lo sepongin aja mereka? Terus suruh liat sekalian mamanya gue entotin. Gimana? Lo mau kan gue entoin di hadapan semua anak-anak lo? Hahahaha” Aku terkejut mendengarnya. Sungguh melecehkan dan semakin melunjak perangainya!

“Ditonton rame-rame sama anak-anaknya adek mas?” tanya mama balik.

Anehnya Mama justru terlihat tertarik dengan omongan si brengsek ini.

“Iya, lo mau kan?”

“Hmm.. Gak ah mas, adek malu”

“Ah… gue tau lo mau, lo itu kan jalang, lacur! Hahaha” Anjing! Sungguh brengsek si Jupri mengata-ngatai mama seenaknya, tapi ku rasa mama justru semakin bergairah dikata-katai seperti itu. Mama sepertinya memang penasaran bagaimana rasanya kalau dia disetubuhi

langsung di depan mata anak-anaknya!

“Sayang… gimana nih? Kamu setuju?” tanya mama kini padaku.

“Eh, i..itu, terserah mama aja” jawabku bingung. Sebenarnya aku tidak rela, tapi melihat mama yang sepertinya berminat, membuat aku jadi penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Ya sudah, nanti mama coba tanya ke adik-adikmu yah…” ujar mama

kemudian.

Part Selanjutnya… Part 6

***

Baca Juga