Cerita Dewasa Bersambung – Bunda merasa sangat nikmat dan ingin mengeluarkan kemaluan yang sedang memerawani mulutnya itu, kemudian memasukkan ke rongga antara selangkangan yang bergetar Aku kembali merejang kedua tangan ke atas kepalanya yang masih tertutup jilbab Bunda, sedangkan tangan satunya tetap memencét hidungnya hingga mulutnya tetap terpaksa untuk terbuka untuk mencari nafas.
Aku kini mulai memaju-mundurkan penisnya di mulut Bunda, setiap gerakan maju selalu lebih dalam daripada sebelumnya, menyebabkan Bunda tersedak setiap kalinya, ingin batuk tapi tidak bisa. Agar taida sura yang membuat curiga kedua anak perempuannya..

“Hehehe… nah, gimana rasanya, Bundaa, dirajah dan diperkosa mulutnya, enak kan? enggak bohong kan! Iyaaa… mulai terasa enak Bunnn… nyepongnya, teruuus… iyaaa… gituuuu… kulum nyang bener! Aaaaaah… nikmaatttt emang Bundakuu satu ini! Ayo, iseeeep nyang kuaaat… jilaaaat… iyaaa… akuu udah mau keluaar nih, ooaaah!!!” akhirnya Dollah hanya berhasil memasukkan sekitar setengah dari penisnya ke mulut Latifa.
Ujung kemaluan kuu kini menyentuh, memukul-mukul dinding rahang Bunda di ujung kerongkongannya, menyebabkan Bundaa berkali-kali tersedak menahan rasa mual ingin muntah. Rasa ingin muntah itu mengalami puncaknya ketika alat kejantanan ku terasa semakin membesar dan berdenyut-denyut, hingga akhirnya…
“Aaaaaah… iyaaaaaaa… nduuuuuk… ini keluaaaaar! Enak banget, Bunn… ayo, jangan ada yang dibuang! Teguk, abisin semuanya, bunndaa… aaaah… iyaaaaa!!” Aku menggeram bagai binatang buas disaat ia dengan penuh nikmat menyemprotkan lahar panasnya ke mulut Bundaa
“Ih… masih ingin lagi?” kata bunda sambil menyentil penisku.
Sekarang giliran ku memuaskan Bundaa…
“Bunda, ingin diapain?” tanyaku
“Bunda ingin kamu sodok dari belakang, nak… boleh kan?”
“Tentu bunda, apasih yang tidak buat Bundaaa….” Jawabku sambil tersenyum menyeringai.
“Aku angkat ya bun,,, kaki bunda naikin ke atas satunyaa yaaa…”
Segera Bunda menaikkan kakinya ke atas meja dapur yang mana tidak terlalu tinggi, membuatku mudah untuk memasukkan terpedoku yang sudah meronta ronta ingin di masukkan ke lubang surga kenikmatan dunia.
“Pelan pelan dlu ya nak…” Bunda meminta
Dan tanpa menghiraukan permintaan Bunda, aku langsung menusukkan dengan cukup dalam, sampai Bunda mendesah sambil menutup mulutnya takut jikalau terdengar oleh Kakak dan adikku.
“Aaaaaahhhhhhahhh… hmmmm enak banget sayangku Doni… !”
“Begini gimana Bunda? Enak apa tidak..”
“Heehmmmm,, enak sekali” Bunda sedikit bergetar kakinya, menikmati penetrasi terpedoku.
Perlahan namun bertahap aku mengencangkan ritme genjotanku, Bunda membaringkan tubuhnya ke meja di dapur. Aku berinisiatif untuk memasukkan tanganku ke dalam pakaian Bunda sambil memberikan rangsangan ke puting bundaa. Yang mana dulu aku minum Asi dari situ.
Bunda bergerak menggeliat merasakan kenikmatan, aku tarik tangan Bunda kebelakang, menciptakan momen gaya dogy yang selalu aku tonton di kamarku saat aku dulu sering coli. Namun sekarang aku bisa melakukannya langsung dengan Bundaku.
Kemudian tanpa melepaskan terpedoku dari kemaluan Bunda,, aku tarik bunda ke arah westafel di sebelah meja di dapur. Tangan Bunda keduanya memegang wastafel,, aku mulai mengencangkan gerakan ku, bergetar hebat tubuh Bunda mendekati klimakss..
“Kencangin Don…!” ucap Bunda dengan nada lirih dan horny.
“Iyaa Bunda ,, Doni juga uda mau keluarr inii Bundaa..”
“Sedikit lagi Bundaaa.. Rasanya hangat sekali Bundaaa”
Tubuh semok Bunda mulai bergetar,, kakinya yang menopang tubuhnya mulai lunglai… Aku rasa ini saat nyaaaaaa. Untuk meluapkan spermakuuuu sekuat kuatnya.
“Aaahhhhhhhhh …. HHmmmmmmm Donn…”

“Nikmat Bundaaaa…” aku melakukan gerakan terakhirr dengan menyodok terpedoku dalam dalam… Sehingga terasa menyentuh gundukan rahim Bunda.
Bunda mulai lemas tidak sanggup berdiri,, sementara aku berusaha memopang tubuh Bunda, ku peluk dari belakang agar tidak terjatuh.
Nyeessssss…… Terasa terpedoku terlumuri puncak orgasme Bunda bersatu dengan spermaku.
Setelah lima detik membeku menikmati kehangatan bersama. Aku pun mencabut nya,,, menetes berjatuhan di lantai dapur cairan putih kental yang bersatu dengan punya Bunda. Segera setelah itu Aku memakai celanaku, dan Bunda juga memakai celana dalamnya. Bunda membersihkan noda keringat yang tertinggal di meja dapur, dan aku mengambil kain pel tuk membersihkan bekas cairan yang terjatuh tadi. Setelahnya aku membersihkan wastafel yang tadinya sempat terkena keringat kami.
Dan itu pengalaman yang sangat mendebarkan. Bunda bertumpu kepada wastafel. Dan aku menyodoknya dari belakang. Kami melakukan fast-sex karena saat itu Kak Vidia dan Nuraini ada di rumah. Bahkan terkadang kami mencicil hubungan sex kami ketika Kak Vidia dan Nuraini bolak-balik ke dapur.
Belum, bunda belum hamil. Ia masih menstruasi. Tapi nanti ada saatnya beliau hamil. Karena aku yang memaksanya. Tapi itu nanti. Sekarang beralih ke Kak Vidia dan Nuraini.
**TAMAT**
Baca Juga
- Cerita Dewasa Bersambung: Kenikmatan Tante Girang
- Cerita Seks Bersambung Birahi Ibu dan Anak
- Cerita Panas Bersambung Bugil dengan Pembantu
- Novel Dewasa: Seks Teman Kantor
- Cerita Dewasa: Seks Kebaya Merah
- Cerita Panas: Tukang Kebun Besar Kali
- Novel Erotis Istri Selingkuh
- Wattpad Dewasa Ngentot Anak SMP
- Cerbung Ngeseks Dengan Kakak Dan Adik Kandungku
- Ketahuan Coli Jadi Ngewe sama Bibi
- Ngentot Ukhti di Hutan
- Istri yang Diperkosa Supir
- Dibantu Intan di Kamar Mandi
- Hilangnya Perawan Pramugari












