KONGJONES CERITA DEWASA LENGKAP

CERITA SEX BERSAMBUNG

Tag: cerita panas bersambung

  • Cerbung Sex – Bencana Dinas Di Semarang Part 2

    Cerbung Sex – Bencana Dinas Di Semarang Part 2

    Kesadaran Maya mulai kembali secara perlahan-lahan dan dengan tubuh gemetar Maya perlahan-lahan membuka matanya dan memperhatikan Herman yang sedang merangkak di atasnya. Maya mencoba mendorong badan Herman sambil berkata,

    “Herman, apa yang sedang kau lakukan ini?”, “Sadarlah Herman, aku khan sudah bersuami, jangan kau teruskan perbuatanmu ini!”. Karena menganggap Herman berada dalam keadaan mabuk, Maya mencoba membujuk dan menggugah kesadaran Herman.

    Akan tetapi Herman yang telah sangat terangsang melihat tubuh Maya yang molek halus mulus dan bugil di depan matanya mana mau mengerti, apalagi penisnya telah dalam keadaan sangat tegang.

    “Gila! Cakep banget! Lihat buah dadamu, padat banget. Cocok sama seleraku! Kamu emang pinter menjaga tubuhmu, sayang!”, kata Herman sambil menekan tubuhnya ke tubuh Maya.
    Maya berusaha bangun berdiri, akan tetapi tidak bisa dan dia tidak berani terlalu bertindak kasar, karena takut Herman akan membalas berlaku kasar padanya.
    Sedangkan dalam posisinya itu saja ia sudah tidak ada lagi kemungkinan untuk lari.
    Sambil menjilat bibirnya Herman berbaring di sisi Maya.

    “Lin, lebih baik kamu mengikuti kemauanku dengan manis, kalau tidak saya akan maksa kamu dan saya perkosa kamu habis-habisan. Kalau kamu nurutin, kamu akan merasakan kenikmatan dan tidak akan sakit”. Lalu tangannya ditangkupkan di buah dada Maya, sambil meremas-remasnya dengan sangat bernafsu, sambil merasakan kehalusan dan kepadatan buah dada Maya. “Bodi kamu oke banget!”, kata Herman. “Coba kamu berputar Maya!”. Perlahan-lahan dengan perasaan yang putus asa Maya berputar membelakangi Herman. Dan dirasakanya tangan Herman sekarang ada di pantatnya meremas dan meraba-raba.

    Kemudian Herman menyibakkan rambut Maya, dan dihirupnya leher Maya dengan hidungnya sementara lidahnya menelusuri leher Maya. Sambil melakukan hal itu tangan Herman berpindah menuju kemaluan Maya. Pada bagian yang membukit itu, tangannya bermain-main, mengelus-elus dan menekan-nekan, sambil berkata,

    “Kasihan kamu, Maya, pasti suami kamu tidak tahu cara membahagiakan kamu?”,
    “Tapi tenang aja sayang, dengan saya, kamu nggak bakalan bisa lupa seumur hidup, kamu bakalan merasakan bagaimana menjadi wLuna sejati!”. Sambil memutar kembali tubuh Maya.
    Setelah itu Herman mengambil tangan Maya dan meletakkannya di kemaluannya yang telah sangat tegang itu.

    Ketika merasakan tangannya menyentuh benda hangat yang besar lagi keras itu, tubuh Maya tersentak, belum sempat Maya dapat berpikir dengan jelas, terasa badannya telah ditelentangkan oleh Herman dan dengan cepat Herman telah berjongkok di antara kedua kakinya yang dengan paksa terkangkang akibat tekanan lutut Herman. Dengan sebelah tangannya menuntun penisnya yang besar, Herman lalu menempelkan ujung penisnya ke bibir vagina Maya,

    “Apa kamu mau saya masukin itu?”,
    “Aaahhh…, jangaaann…, jaaangaaann……”, Maya dengan suara mengiba-iba masih berusaha mencoba menghalangi niat Herman.
    Maya mencoba mengeser pinggulnya ke samping, berusaha menghindari penis Herman agar tidak dapat menerobos masuk ke dalam liang kewLunaannya.
    Sambil tersenyum Herman berkata lagi,
    “Kamu tidak dapat kemana-mana lagi, lebih baik kamu diam-diam saja dan menikmati permainan saya ini..!”. Herman lalu memajukan pinggulnya dengan cepat dan menekan ke bawah, sehingga penis besarnya yang telah menempel pada bibir kemaluan Maya dengan cepat menerobos masuk ke dalam liang vagina Maya dengan tanpa dapat dihalangi lagi.
    Testis Herman mengayun-ayun menampar bagian bawah vagina Maya, sementara Maya megap-megap karena dorongan keras Herman.

    Maya belum pernah merasakan saat seperti ini, setiap bagian tubuhnya serasa sangat sensitif terhadap rangsangan. Buah dadanya terangsang saat ditindih oleh dada Herman. Dirinya sudah lupa kalau sedang diperkosa, ia tidak peduli pada tubuh besar Herman yang sedang bergerak naik turun menindih tubuhnya yang langsing. Maya mulai merasakan suatu sensasi kenikmatan yang menggelitik di bagian bawah tubuhnya, vaginanya yang telah terisi oleh penis besar dan panjang milik Herman, terasa menggelitik dan menyebar ke seluruh tubuhnya, sehingga Maya hanya bisa menggeliat-geliat dan mendesis mirip orang kepedasan.

    Maya hanya berusaha menikmati seluruh rasa nikmat yang dirasakan tubuhnya. Sekarang Maya mencoba untuk berusaha aktif dengan ikut menggerakkan pinggulnya mengikuti irama gerakan Herman di atasnya. Herman melihat Maya mengerang, merintih dan mengejang setiap kali ia bergerak. Dan Maya sudah mulai terbiasa mengikuti gerakannya. Herman merasakan tangan Maya merangkul erat pada punggung bawahnya mengelus-elus ke bawah dan meremas-remas pantatnya serta menariknya ke depan agar semakin merapat pada tubuh Maya. Herman terus menggosok-gosokkan penisnya pada klitoris Maya.

    Herman sekarang ingin membuat Maya orgasme terlebih dahulu. Maya semakin terangsang dan tak terkendali lagi setiap kali bagian tubuhnya bergerak mengikuti tekanan dan sodokan Herman, sekarang wajahnya terbenam di dada bidang Herman, mulutnya megap-megap seperti ikan terdampar di pasir, dengan perlahan-lahan mulutnya bergeser pada dada Bossnya dan sambil terus menjilat akhirnya tiba pada puting susu Herman.

    Sekarang Maya secara refleks mulai menyedot dan menghisap puting susu Herman, sehingga badan Herman mulai bergetar juga saking merasa nikmatnya. Penis Herman terasa semakin keras, sehingga Herman semakin ganas saja menggerakkan pantatnya menekan pinggul Maya dalam-dalam. Maya merasakan vaginanya berkontraksi, sambil berusaha menahan rasa geli yang tidak terlukiskan menggelitik seluruh dinding liang kemaluannya dan menjalar ke seluruh tubuhnya.

    Perasaan itu makin lama makin kuat menguasainya sehingga seakan-akan menutupi kesadarannya dan membawanya melayang-layang dalam kenikmatan yang tidak pernah dialaminya selama ini dan tidak dapat dilukiskan ataupun diuraikan dengan kata-kata. Kenikmatan yang dialami Maya tercermin pada gerakan tubuhnya yang meronta-ronta liar tanpa terkendali bagaikan ikan yang menggelepar-gelepar terdampar di pasir. Desahan panjang penuh kenikmatan keluar dari mulutnya yang mungil,
    “Ooohhhh…., aagghh…, adduhhh..!”.

    Baca Juga

  • Cerbung Sex – Bencana Dinas Di Semarang Part 1

    Cerbung Sex – Bencana Dinas Di Semarang Part 1

    Maya adalah salah seorang manager pada bagian Treasury di sebuah bank asing. Maya berumur 28 tahun, dia adalah seorang Sunda yang berasal dari daerah Bogor. Maya telah bersuami dan mempunyai seorang anak yang baru berumur 7 tahun. Tubuh Maya apat dikatakan kurus dengan tinggi badan kurang lebih 163 cm, dengan berat badannya kurang lebih 49 kg. Buah dadanya berukuran kecil tetapi padat, pinggangnya sangat ramping dengan bagian perut yang datar. Kulitnya kuning langsat dengan raut muka yang manis.

    Setibanya di Semarang, setelah check in di hotel mereka langsung mengadakan kunjungan pada beberapa nasabah, yang dilakukan sampai dengan setelah makan malam. Setelah selesai berurusan dengan nasabah, mereka kembali ke hotel, dimana Herman dan Luna melanjutkan acara mereka dengan duduk-duduk di bar hotel sambil mengobrol dan minum-minum. Maya pada awalnya diajak juga, tapi karena merasa sangat lelah, dan di samping itu ia juga merasa tidak enak mengganggu mereka, maka ia lebih dulu kembali ke kamar hotel untuk tidur.

    Menjelang tengah malam, Maya tiba-tiba terbangun dari tidurnya, hal ini disebabkan karena ia merasa tempat tidurnya bergerak-gerak dan terdengar suara-suara aneh. Dengan perlahan-lahan Maya membuka matanya untuk mengintip apa yang terjadi. Hatinya terkesiap melihat Herman dan Luna sedang bergumul. Keduanya berada dalam keadaan polos sama sekali.

    Luna yang bertubuh kecil itu, sedang berada di atas Herman seperti layaknya seseorang yang sedang menunggang kuda, dengan pantatnya yang naik turun dengan cepat. Dari mulutnya terdengar suara mendesis yang tertahan,

    “Ssshhh…, sshhh…”, karena mungkin takut membangunkan Maya.

    Kedua tangan Herman sedang meremas-remas kedua buah dada Luna yang kecil tetapi padat berisi itu. Maya sangat panik dan berada dalam posisi yang serba salah. Jadi dia hanya bisa terus berlagak seperti sedang tidur. Maya mengharapkan mereka cepat selesai dan Herman segera kembali ke kamarnya. Besok dia akan menegur Luna agar tidak melakukan hal seperti itu lagi di kamar mereka. Seharusnya mereka dapat melakukan hal itu di kamar Herman sehingga mereka dapat melakukannya dengan bebas tanpa terganggu oleh siapa pun. Dari bau whisky yang tercium, rupanya keduanya masih berada dalam keadaan mabuk. Maya berusaha keras untuk dapat tidur kembali, walaupun sebenarnya ia merasa sangat terganggu dengan gerakan dan suara-suara yang ditimbulkan oleh mereka.

    Pada saat Maya mulai terlelap, tiba-tiba ia merasakan sesuatu sedang merayap pada bagian pahanya. Maya sangat terkejut dan tubuhnya mengejang, karena pada saat dia perhatikan, ternyata tangan kanan Herman sedang mencoba untuk mengusap-ngusap kedua pahanya yang masih tertutup selimut. Maya berpura-pura masih terlelap dan mencoba mengintip apa yang sebenarnya sedang terjadi. Rupanya permainan Herman dan Luna sudah selesai dan Luna dalam keadaan kelelahan serta mengalami kepuasan yang baru dinikmatinya, sudah tergolek tidur.

    Herman yang masih berada dalam keadaan polos dengan posisi badan setengah tidur disamping Maya, sambil bertumpu pada siku-siku tangan kiri, tangan kanannya sedang berusaha menyingkap selimut yang dipakai Maya. Maya menjadi sangat panik, pada awalnya dia akan bangun dan menegur Herman untuk menghentikan perbuatannya, akan tetapi di pihak lain dia merasa tidak enak karena pasti akan membuat Herman malu, karena dipikirnya Herman melakukan hal itu lebih disebabkan karena Herman masih berada dalam keadaan mabuk. Akhirnya Maya memutuskan untuk tetap berpura-pura tidur dengan harapan Herman akan menghentikan kegiatannya itu.

    Akan tetapi harapannya itu ternyata sia-sia belaka, bahkan secara perlahan-lahan Herman bangkit dan duduk di samping Maya. Tangannya menyingkap selimut yang menutupi tubuh Maya dengan perlahan-lahan dan dari mulutnya menggumam perlahan,

    “Psssttt sayang, mari kubantu menikmati sesuatu yang baru…, nih.., kubantu melepaskan celana dalammu…, nggak baik kalau tidur pakai celana dalam”, sambil tangannya yang tadinya mengelus-elus bagian atas paha Maya bergerak naik dan memegang tepi celana dalam Maya, kemudian menariknya dengan perlahan-lahan ke bawah meluncur di antara kedua kaki Maya.

    Badan Maya menjadi kaku dan dia tidak tahu harus berbuat bagaimana. Maya seakan-akan berubah menjadi patung, pikirannya menjadi gelap dan matanya dirasakannya berkunang-kunang. Herman melihat kedua gundukan bukit kecil dengan belahan sempit di tengahnya, yang ditutupi oleh rambut hitam kecoklatan halus yang tidak terlalu lebat di antara paha atas Maya. Jari-jari Herman membuka satu persatu kancing daster Maya, sambil tangannya bergerak terus ke atas dan sekarang ia menyingkapkan seluruh selimut yang menutupi tubuh Maya, sehingga terlihatlah payudara Maya yang membukit kecil dengan putingnya yang kecil berwarna coklat tua.

    Sekarang Maya tergolek dengan tubuhnya yang tanpa busana, tungkai kakinya yang panjang dan pantat yang penuh berisi, serta buah dada yang kecil padat dan belahan di antara paha atas yang membukit kecil, benar-benar sangat merangsang nafsu birahi Herman. Herman sudah tidak sanggup menahan nafsunya, penisnya yang baru saja terpuaskan oleh Luna, sekarang bangkit lagi, tegang dan siap tempur.

    Sejak saat itu Herman bertekad untuk tidak akan membebaskan Maya. Ia terlalu berharga untuk di biarkan, Herman akan menikmati tubuh Maya berulang-ulang pada malam ini. Kemolekan tubuh Maya terlalu sayang untuk disimpan oleh Maya sendiri pikir Herman. Herman mendorong tubuh Maya dan mulai meremas-remas payudara Maya yang telah terbuka itu,
    “Dengerin sayang, kamu akan saya ajarin menikmati sesuatu yang nikmat, asal kamu baik-baik nurutin apa yang akan saya tunjukkan”.

    Baca Juga

  • Cersex Bersambung – Hilangnya Perawan Pramugari Part 3 [Last]

    Cersex Bersambung – Hilangnya Perawan Pramugari Part 3 [Last]

    Nampak Fonny seperti akan muntah, karena mulutnya merasakan batang kemaluan Suwandi yang masih basah oleh cairan sperma itu. Setelah itu Suwandi kembali memopakan batang kemaluannya didalam rongga mulut Fonny, wajah Fonny memerah jadinya, matanya melotot, sesekali dia terbatuk-batuk dan akan muntah. Namun Suwandi dengan santainya terus memompakan keluar masuk didalam mulut Fonny, sesekali juga dengan gerakan memutar-mutar. “Aahhhh….”, sambil memejamkan mata Suwandi merasakan kembali kenikmatan di batang kemaluannya itu mengalir kesekujur tubuhnya. Rasa dingin, basah dan geli dirasakannya dibatang kemaluannya. Dan akhirnya, “Oouuuuhhhh…Fonnnyyy…sayanggg… ..”, Suwandi mendesah panjang ketika kembali batang kemaluannya berejakulasi yang kini dimulut Fonny. Dengan terbatuk-batuk Fonny menerimanya, walau sperma yang dimuntahkan oleh Suwandi jumlahnya tidak banyak namun cukup memenuhi rongga mulut Fonny hingga meluber membasahi pipinya. Setelah memuntahkan spermanya Suwandi mencabut batang kemaluannya dari mulut Fonny, dan Fonny pun langsung muntah-muntah dan batuk-batuk dia nampak berusaha untuk mengeluarkan cairan-cairan itu namun sebagian besar sperma Suwandi tadi telah mengalir masuk ketenggorokannya. Saat ini wajah Fonny sudah acak- acakan akan tetapi kecantikannya masih terlihat, karena memang kecantikan dirinya adalah kecantikan yang alami sehingga dalam kondisi apapun selalu cantik adanya.

    Dengan wajah puas sambil menyadarkan tubuhnya didinding kasur, Suwandipun menyeringai melihat Fonny yang masih terbatuk-batuk. Suwandi memutuskan untuk beristirahat sejenak, mengumpulkan kembali tenaganya. Sementara itu tubuh Fonny meringkuk dikasur sambil terisak-isak. Waktupun berlalu, jam didinding kamar Fonny telah menunjukkan pukul 1 dini hari. Sambil santai Suwandi pun menyempatkan diri mengorek-ngorek isi laci lemari Fonny yang terletak disamping tempat tidur. Dilihatnya album foto- foto pribadi milik Fonny, nampak wajah-wajah cantik Fonny menghiasi isi album itu, Fonny yang anggun dalam pakaian seragam pramugarinya, nampak cantik juga dengan baju muslimnya lengkap dengan ****** ketika foto bersama keluarganya saat lebaran kemarin dikota asalnya yaitu Bandung. Kini gadis cantik itu tergolek lemah dihadapannya, setengah badannya telanjang, kemaluannya nampak membengkak.

    Selain itu, ditemukan pula beberapa lembar uang yang berjumlah 2 jutaan lebih serta perhiasan emas didalam laci itu, dengan tersenyum Suwandi memasukkan itu semua kedalam kantung celana lusuhnya, “Sambil menyelam minum air”, batinnya. Setelah setengah jam lamanya Suwandi bersitirahat, kini dia bangkit mendekati tubuh Fonny. Diambilnya sebuah gunting besar yang dia temukan tadi didalam laci. Dan setelah itu dengan gunting itu, dia melucuti baju seragam pramugari Fonny satu persatu. Singkatnya kini tubuh Fonny telah telanjang bulat, rambutnya pun yang hitam lurus dan panjang sebahu yang tadi digelung rapi kini digerai oleh Suwandi sehingga menambah keindahan menghiasi punggung Fonny. Sejenak Suwandi mengagumi keindahan tubuh Fonny, kulitnya putih bersih, pinggangnya ramping, payudaranya yang tidak terlalu besar, kemaluannya yang walau nampak bengkak namun masih terlihat indah menghias selangkangan Fonny.

    Tubuh Fonny nampak penuh dengan kepasrahan, badannya kembali tergetar menantikan akan apa-apa yang akan terjadi terhadap dirinya. Sementara itu hujan diluar masih turun dengan derasnya, udara dingin mulai masuk kedalam kamar yang tidak terlalu besar itu. Udara dingin itulah yang kembali membangkitkan nafsu birahi Suwandi. Setelah hampir sejam lamanya memberi istirahat kepada batang kemaluannya kini batang kemaluannya kembali menegang. Dihampirinya tubuh telanjang Fonny, “Yaa…ampuunnn bangg…udah dong….Fonny minta ampunn bangg…oohhh….”, Fonny nampak memelas memohon-mohon kepada Suwandi.

    Suwandi hanya tersenyum saja mendengar itu semua, dia mulai meraih badan Fonny. Kini dibaliknya tubuh telanjang Fonny itu hingga dalam posisi tengkurap. Setelah itu ditariknya tubuh itu hingga ditepi tempat tidur, sehingga kedua lutut Fonny menyentuh lantai sementara dadanya masih menempel kasur dipinggiran tempat tidur, Suwandi pun berada dibelakang Fonny dengan posisi menghadap punggung Fonny. Setelah itu kembali direntangkannya kedua kaki Fonny selebar bahu, dan…. “Aaaaaaaaakkkkhh………”, Fonny melolong panjang, badannya mengejang dan terangkat dari tempat tidur disaat Suwandi menanamkan batang kemaluannya didalam lobang anus Fonny. Rasa sakit tiada tara kembali dirasakan didaerah selangkangannya, dengan agak susah payah kembali Suwandi berhasil menanamkan batang kemaluannya didalam lobang anus Fonny. Setelah itu tubuh Fonny pun kembali disodok-sodok, kedua tangan Suwandi meraih payudara Fonny serta meremas-remasnya. Setengah jam lamnya Suwandi menyodomi Fonny, waktu yang lama bagi Fonny yang semakin tersiksa itu. “Eegghhh….aakkhhh….oohhh…”, dengan mata merem-melek serta tubuh tersodok- sodok Fonny merintih-rintih, sementara itu kedua payudaranya diremas-remas oleh kedua tangan Suwandi. Suwandi kembali merasakan akan mendapatkan klimaks, dengan gerakan secepat kilat dicabutnya batang kemaluan itu dari lobang anus Fonny dan dibaliklah tubuh Fonny itu hingga kini posisinya terlentang. Secepat kilat pula dia yang kini berada diatas tubuh Fonny menghujamkan batang kemaluannya kembali didalam vagina Fonny. “Oouuffffhhh……”, Fonny merintih dikala Suwandi menanamkan batang kemaluannya itu. Tidak lama setelah Suwandi memompakan kemaluannya didalam liang vagina Fonny “CCREETT….CCRROOOT…CROOTT…”, kembali penis Suwandi memuntahkan sperma membasahi rongga vagina Fonny, dan Fonny pun terjatuh tak sadarkan diri. Fajar telah menjelang, Suwandi nampak meninggalkan kamar kost Fonny dengan tersenyum penuh dengan kemenangan, sebatang rokok menemaninya dalam perjalanannya kesebuah stasiun bus antar kota, sementara itu sakunya penuh dengan lembaran uang dan perhiasan emas. Entah apa yang akan terjadi dengan Fonny sang pramugari cantik imut-imut itu, apakah dia masih menjual mahal dirinya. Entahlah, yang jelas setelah dia berhasil menikmati gadis cantik itu, hal itu bukan urusannya lagi

    Baca Juga

  • Cersex Bersambung – Hilangnya Perawan Pramugari Part 2

    Cersex Bersambung – Hilangnya Perawan Pramugari Part 2

    Setelah puas dengan itu, kini Suwandi mendorong tubuh Fonny hingga kembali terjatuh kekasurnya. Sejenak dikaguminya tubuh Fonny yang tergolek tak berdaya ditempat tidurnya itu. Baju seragam pramugarinya masih melekat rapi dibadannya. Baju dalaman putih dengan dasi kupu-kupu berwarna biru ditutup oleh blazer yang berwarna kuning tua serta rok pendeknya yang berwarna biru seolah semakin membangkitkan birahi Suwandi, apalagi roknya agak tersingkap hingga pahanya yang putih mulus itu terlihat. Rambutnya yang panjang sebahu masih digelung sementara itu topi pramugarinya telah tergeletak jatuh disaat penyergapan lagi. “Hmmpphhh…mmhhh…”, sepertinya Fonny ingin mengucapkan sesuatu kepadanya, tapi apa perdulinya paling-paling cuma permintaan ampun dan belas kasihan. Tanpa membuang waktu lagi kini diputarnya tubuh Fonny menjadi tengkurap, kedua tangannya yang terikat kebelakang menempel dipunggung sementara dada dan wajahnya menyentuh kasur. Kedua tangan kasar Suwandi itu kini mengusap-usap bagian pantat Fonny, dirasakan olehnya pantat Fonny yang sekal. Sesekali tangannya menyabet bagian itu bagai seorang ibu yang tengah menyabet pantat anaknya yang nakal “Plak…Plak…”. “Wah sekal sekali pantatmu…”, ujar Suwandi sambil terus mengusap-usap dan memijit- mijit pantat Fonny. Fonny hanya diam pasrah, sementara tangisannya terus terdengar. Tangisnya terdengar semakin keras ketika tangan kanan Suwandi secara perlahan-lahan mengusap kaki Fonny mulai dari betis naik terus kebagian paha dan akhirnya menyusup masuk kedalam roknya hingga menyentuh kebagian selangkangannya. Sesampainya dibagian itu, salah satu jari tangan kanan Suwandi, yaitu jari tengahnya menyusup masuk kecelana dalamnya dan langsung menyentuh kemaluannya. Kontan saja hal ini membuat badan Fonny agak menggeliat, dia mulai sedikit meronta-ronta, namun jari tengah Suwandi tadi langsung menusuk lobang kemaluan Fonny. “Egghhmmmmm…….”, Fonny menjerit badannya mengejang tatkala jari telunjuk Suwandi masuk kedalam liang kewanitaannya itu. Badan Fonny pun langsung menggeliat- geliat seperti cacing kepanasan, ketika Suwandi memainkan jarinya itu didalam lobang kemaluan Fonny. Dengan tersenyum terus dikorek- koreknyalah lobang kemaluan Fonny, sementara itu badan Fonny menggeliat-geliat jadinya, matanya merem-melek, mulutnya mengeluarkan rintihan- rintihan yang teredam oleh kain yang menyumpal mulutnya itu “Ehhmmmppphhh….mmpphhhh…..”.

    Setelah beberapa menit lamanya, kemaluan Fonny pun menjadi basah oleh cairan kewanitaannya, Suwandi kemudian mencabut jarinya. Tubuh Fonnypun dibalik sehingga posisinya terlentang. Setelah itu roknya disingkapkan keatas hingga rok itu melingkar dipinggulnya dan celana dalamnya yang berwarna putih itu ditariknya hingga bagian bawah Fonny kini telanjang. Terlihat oleh Suwandi, kemaluan Fonny yang indah, sedikit bulu-bulu tipis yang tumbuh mengitari lobang kemaluannya yang telah membengkak itu. Dengan bernafsunya direntangkan kedua kaki Fonny hingga mengangkang setelah itu ditekuknya hingga kedua pahanya menyentuh ke bagian dada. Wajah Fonny semakin tegang, tubuhnya gentar, seragam pramugarinyapun telah basah oleh keringat yang deras membanjiri tubuhnya, Suwandi bersiap-siap melakukan penetrasi ketubuh Fonny. “Hmmmmpphhh……….hhhhhmmmmppp…. ..”, Fonny menjerit dengan tubuhnya yang mengejang ketika Suwandi mulai menanamkan batang kemaluannya didalam lobang kemaluan Fonny.

    Matanya terbelalak menahan rasa sakit dikemaluannya, tubuhnya menggeliat-geliat sementara Suwandi terus berusaha menancapkan seluruh batang kemaluannya. Memang agak sulit selain Fonny masih perawan, usianyapun masih tergolong muda sehingga kemaluannya masih sangat sempit. Akhirnya dengan sekuat tenaganya, Suwandi berhasil menanamkan seluruh batang kemaluannya didalam vagina Fonny. Tubuh Fonny berguncang-guncang disaat itu karena dia menangis merasakan sakit dan pedih tak terkirakan dikemaluannya itu. Diapun menyadari bahwa malam itu keperawanannya akhirnya terenggut oleh Suwandi. “Ahh….kena kau sekarang !!! akhirnya Gue berhasil mendapatkan perawan elo !”, bisiknya ketelinga Fonny. Hujanpun semakin deras, suara guntur membahana memiawakkan telinga. Karena ingin mendengar suara rintihan gadis yang telah ditaklukkannya itu, dibukannya kain yang sejak tadi menyumpal mulut Fonny. “Oouuhhh…..baang….saakiitt…banngg….amp uunn …”, rintih Fonny dengan suara yang megap- megap. Jelas Suwandi tidak perduli. Dia malahan langsung menggenjot tubuhnya memopakan batang kemaluannya keluar masuk lobang kemaluan Fonny. “Aakkhh….ooohhhh….oouuhhhh….ooohhhggh… .”, Fonny merintih-rintih, disaat tubuhnya digenjot oleh Suwandi, badannya pun semakin menggeliat-geliat. Tidak disadarinya justru badannya yang menggeliat-geliat itu malah memancing nafsu Suwandi, karena dengan begitu otot-otot dinding vaginanya malah semakin ikut mengurut-urut batang kemaluan Suwandi yang tertanam didalamnya, karenanya Suwandi merasa semakin nikmat. Menit-menitpun berlalu dengan cepat, masih dengan sekuat tenaga Suwandi terus menggenjot tubuh Fonny, Fonny pun nampak semakin kepayahan karena sekian lamanya Suwandi menggenjot tubuhnya.

    Rasa pedih dan sakitnya seolah telah hilang, erangan dan rintihan pun kini melemah, matanya mulai setengah tertutup dan hanya bagian putihnya saja yang terlihat, sementara itu bibirnya menganga mengeluarkan alunan-alunan rintihan lemah, “Ahhh…..ahhhh…oouuhhhh…”. Dan akhirnya Suwandi pun berejakulasi di lobang kemaluan Fonny, kemaluannya menyemburkan cairan kental yang luar biasa banyaknya memenuhi rahim Fonny. “A..aakkhhh…..”, sambil mengejan Suwandi melolong panjang bak srigala, tubuhnya mengeras dengan kepala menengadah keatas. Puas sudah dia menyetubuhi Fonny, rasa puasnya berlipat-lipat baik itu puas karena telah mencapai klimaks dalam seksnya, puas dalam menaklukan Fonny, puas dalam merobek keperawanan Fonny dan puas dalam memberi pelajaran kepada gadis cantik itu.

    Fonny menyambutnya dengan mata yang secara tiba-tiba terbelalak, dia sadar bahwa pasangannya telah berejakulasi karena disakannya ada cairan-cairan hangat yang menyembur membanjiri vaginanya. Cairan kental hangat yang bercampur darah itu memenuhi lobang kemaluan Fonny sampai sampai meluber keluar membasahi paha dan sprei kasur. Fonny yang menyadari itu semua, mulai menangis namun kini tubuhnya sudah lemah sekali. Dengan mendesah puas Suwandi merebahkan tubuhnya diatas tubuh Fonny, kini kedua tubuh itu jatuh lunglai bagai tak bertulang. Tubuh Suwandi nampak terguncang-guncang sebagai akibat dari isak tangis dari Fonny yang tubuhnya tertindih tubuh Suwandi. Setelah beberapa menit membiarkan batang kemaluannya tertanam dilobang kemaluan Fonny, kini Suwandi mencabutnya seraya bangkit dari tubuh Fonny. Badannya berlutut mengangkangi tubuh lunglai Fonny yang terlentang, kemaluannya yang nampak sudah melemas itu kembali sedikit- demi sedikit menegang disaat merapat kewajah Fonny. Dikala sudah benar-benar menegang, tangan kanan Suwandi sekonyong-konyong meraih kepala Fonny. Fonny yang masih meringis-ringis dan menangis tersedu-sedu itu, terkejut dengan tindakan Suwandi. Terlebih-lebih melihat batang kemaluan Suwandi yang telah menegang itu berkedudukan persis dihadapan wajahnya. Belum lagi sempat menjerit, Suwandi sudah mencekoki mulutnya dengan batang kemaluannya. Walau Fonny berusaha berontak namun akhirnya Suwandi berhasil menanamkan penisnya itu kemulut Fonny.

    Baca Juga

  • Cersex Bersambung – Hilangnya Perawan Pramugari Part 1

    Malam telah larut dimana jarum jam menunjukkan pukul 23.15. Suasana sepi menyelimuti sebuah kost-kostan yang terletak beberapa kilometer dari Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng.. Kost-kostan tersebut lokasinya agak jauh dari keramaian sehingga menjadi tempat favorit bagi siapa saja yang menginginkan suasana tenang dan sepi. Kost-kostan yang memiliki jumlah kamar mencapai 30 kamar itu terasa sepi karena memang baru saja dibuka untuk disewakan, hanya beberapa kamar saja yang sudah ditempati, sehingga suasananya dikala siang atau malam cukup lengang. Saat itu hujan turun lumayan deras, akan tetapi nampak sesuatu telah terjadi disalah satu kamar dikost-kostan itu. Seiring dengan turunnya air hujan, air mata Fonny juga mulai turun berlinang disaat lelaki itu mulai menyentuh tubuhnya yang sudah tidak berdaya itu. Saat ini tubuhnya sudah dalam kekuasaan para lelaki itu, rasa keputus asaan dan takut datang menyelimuti dirinya. Beberapa menit yang lalu secara tiba- tiba dirinya diseregap oleh seseorang lelaki disaat dia masuk kedalam kamar kostnya setibanya dari sebuah tugas penerbangan. Kedua tangannya langsung diikat kebelakang dengan seutas tali, mulutnya disumpal dengan kain dan setelah itu tubuhnya dicampakkan oleh lelaki itu keatas tempat tidurnya. Ingin rasanya dia berteriak meminta pertolongan kepada teman-temannya akan tetapi kendaraan antar jemput yang tadi mengantarkannya sepertinya sudah jauh pergi meninggalkan kost-kostan ini, padahal didalam kendaraan tersebut banyak teman-temannya sesama karyawan. Fonny Dewi Seftiani adalah seorang Pramugari pada sebuah penerbangan swasta, usianya baru menginjak 19 tahun, wajahnya cantik imut-imut, postur tubuhnya tinggi dan langsing proporsional. Dengan dianugerahi penampilan yang cantik ini sangat memudahkan baginya untuk diterima bekerja sebagai seorang pramugari. Demikian pula dengan karirnya dalam waktu yang singkat karena kecantikannya itulah dia telah menjadi sosok primadona di perusahaan penerbangan itu. Banyak lelaki yang berusaha merebut hatinya, baik itu sesama karyawan ditempatnya bekerja atau kawan-kawan lainya. Namun karena alasan masih ingin berkarir maka dengan secara halus maksud-maksud dari para lelaki itu ditolaknya. Akan tetapi tidak semua lelaki memahami atas sikap dari Fonny itu. Suwandi adalah salah satu dari orang yang tidak bisa menerima sikap Fonny terhadap dirinya.

    Kini dirinya bersama dengan seorang temannya telah melakukan seuatu perhitungan terhadap Fonny. Rencana busuk dilakukannya terhadap Fonny. Malam ini mereka telah menyergap Fonny dikamar kostnya. Suwandi adalah satu dari sekian banyaknya lelaki yang menaruh hati kepada dirinya, akan tetapi Suwandi bukanlah seseorang yang dikenalnya dengan baik karena kedudukannya bukanlah seorang karyawan penerbangan ditempatnya bekerja atau kawan-kawannya yang lain, melainkan dia adalah seorang tukang batu yang bekerja dibelakang kost-kostan ini. Ironisnya, Suwandi yang berusia setengah abad lebih dan melebihi usia ayah Fonny itu lebih sering menghalalkan segala cara dalam mendapatkan sesuatu, maklumlah dia bukan seseorang yang terdidik. Segala tingkah laku dan perbuatannyapun cenderung kasar, karena memang dia hidup dilingkungan orang-orang yang bertabiat kasar. “Huh rasakan kau gadis sombong !”, bentaknya kepada Fonny yang tengah tergolek dikasurnya. “Aku dapatkan kau sekarang….!”, lanjutnya. Sejak perjumpaannya pertama dengan Fonny beberapa bulan yang lalu, Suwandi langsung jatuh hati kepada Fonny. Dimata Suwandi, Fonny bagaikan bidadari yang turun dari khayangan sehingga selalu hadir didalam lamunnanya.

    Diapun berniat untuk menjadikannya sebagai istri yang ke-4. Bak bukit merindukan bulan, Suwandi tidak berdaya untuk mewujudkan impiannya itu. Predikatnya sebagai tukang batu, duda dari 3 kali perkawinan, berusia 51 tahun, lusuh dan miskin menghanyutkan impiannya untuk dapat mendekati sang bidadari itu. Terlebih-lebih ada beberapa kali kejadian yang sangat menyakitkan hatinya terkait dengan Fonny sang bidadari bayangannya itu. Sering tegur sapanya diacuhkan oleh Fonny, tatapan mata Fonny pun selalu sinis terhadap dirinya. Lama kelamaan didalam diri Suwandi tumbuh subur rasa benci terhadap Fonny, penilaian terhadapnya pun berubah, rasa kagumnya telah berubah menjadi benci namun gairah nafsu sex terhadap Fonny tetap bersemi didalam dirinya tumbuh subur menghantui dirinya selama ini. Akhirnya dipilihlah sebuah jalan pintas untuk melampiaskan nafsunya itu, kalaupun cintanya tidak dapat setidaknya dia dapat menikmati tubuh Fonny pikirnya. Jadilah malam ini Suwandi melakukan aksi nekat, diapun membulatkan hatinya untuk memberi pelajaran kepada Fonny sekaligus melampiaskan nafsunya yang selama ini mulai tumbuh secara subur didalam dirinya. Kini sang bidadari itu telah tergeletak dihadapannya, air matanya pun telah membasahi wajahnya yang putih bersih itu. “Lihat aku, cewek *******…..!”, hardiknya seraya memegang kepala Fonny dan menghadapkan kewajahnya. “Hmmmphh….!!”, jeritnya yang tertahan oleh kain yang menyumpal dimulutnya, mata Fonny pun melotot ketika menyadari bahwa saat ini dia telah berhadapan dengan Suwandi seseorang yang dibencinya.

    Hatinya pun langsung ciut dan tergetar tatkala Suwandi yang berada dihadapannya tertawa penuh dengan kemenangan, “Hahaha….malam ini kamu jadi pemuasku, gadis cantik”. Keringat pun langsung mengucur deras membasahi tubuh Fonny, wajahnya nampak tersirat rasa takut yang dalam, dia menyadari betul akan apa-apa yang bakal terjadi terhadap dirinya. Disaat seperti inilah dia menyadari betul akan ketidak berdayaan dirinya, rasa sesal mulai hadir didalam hatinya, akan sikap- sikapnya yang tidak berhati-hati terhadap Suwandi. Kini dihadapan Fonny, Suwandi mulai melepaskan baju kumalnya satu persatu hingga akhirnya telanjang bulat. Walaupun telah berusia setengah abad lebih, namun karena pekerjaannya sebagai buruh kasar maka Suwandi memiliki tubuh yang atletis, badannya hitam legam dan kekar, beberapa buah tatto menghiasi dadanya yang bidang itu. Isak tangis mulai keluar dari mulut Fonny, disaat Suwandi mulai mendekat ketubuhnya. Tangan kanannya memegang batang kemaluannya yang telah tegak berdiri itu dan diarahkannya kewajah Fonny. Melihat ini Fonny berusaha memalingkan wajahnya, namun tangan kiri Suwandi secepat kilat mencengkram erat kepala Fonny dan mengalihkannya lagi persis menghadap ke batang kemaluannya.. Dan setelah itu dioles-oleskannya batang kemaluannya itu diwajah Fonny, dengan tubuh yang bergetar Fonny hanya bisa memejamkan matanya dengan erat karena merasa ngeri dan jijik diperlakukan seperti itu. Sementara kepala tidak bisa bergerak-gerak karena dicengkraman erat oleh tangan Suwandi. “Ahhh….perkenalkan rudal gue ini sayang…..akhhh….” ujarnya sambil terus mengoles-oleskan batang kemaluannya diwajah Fonny, memutar-mutar dibagian pipi, dibagian mata, dahi dan hidungnya. Melalui batang kemaluannya itu Suwandi tengah menikmati kehalusan wajah Fonny. “Hai cantik !….sekarang sudah kenal kan dengan kontol gue ini, seberapa mahal sih wajah cantik elo itu hah ? sekarang kena deh ama ****** gue ini….”, sambungnya.

    Baca Juga

  • Cerita Ngentot Bersambung | Dibantu Intan Di Kamar Mandi Part 2 [Last]

    Cerita Ngentot Bersambung | Dibantu Intan Di Kamar Mandi Part 2 [Last]

    “Sssshhhh…Aahhhh…” desahnya sambil meremas rambutku. Kuselipkan dua jemariku, kuputar dan kumasukan perlahan dalam-dalam, lalu kutarik dengan cepat, untuk kembali kuhujamkan ke dalam sambil menjilati ujung klitorisnya. Intan semakin menggelinjang ke-enakan, bibirnya digigit, dan mulai meracau.

    Didorongnya pundakku tiba-tiba, dan keluar kata singkat dari bibirnya yang berpulas lipstik pink tipis menggoda “Duduk di kloset gih…”, senyumnya tersimpul. Aku segera bangkit, menutup kloset, dan duduk di atasnya, mengangkangkan kaki, sehingga batang kemaluanku mendongak seolah menantan, dengan testis terkerut karena terangsang. Intan tak berlama-lama, langsung berlutut bertumpu pada kedua telapak atas kakiku yang masih bersepatu, memandangku sebentar dengan gemas.

    Kuelus rambut sebahunya, kuremas gemas, lalu kudorong perlahan ke arahku. Seolah mengertim dikejapkannya dengan jenaka kedua bola matanya, bibirnya menyungkup menyambut kepala penisku yang sudah demikian merona merah.. cup.. dikecupnya, lalu dijulurkannya lidahnya tepat pada lubang bagian atas, ditariknya garis ke bawah lewat jalur pada kepala penis, batang bawah, terus ke bawha, dan di lahapnya sebelah bola nagaku, dikulum, dipijat digigit kecil dan diputarnya kembali lidahnya ke atas, membuatku menggelinjang tertahan. Sungguh sensasi yang sangat luar biasa.

    Aksi nekat kami masih berlangsung sampai saat terdengar suara langkah mendekat yang membuat desah nafas kami sama-sama tertahan sesaat. “Sssttt…”, instruksiku singkat agar Intan menghentikan aktifitasnya kami sama-sama diam sampai akhirnya suara langkah yang sempat mendekat itu beranjak terdengan menjauh. Kami saling memandang dengan sedikit rasa tegang dan deg-deg’an yang masih tersisa dalam hati. Tapi kemudian berubah menjadi senyum merona pada wajah kami masing-masing.

    Batang kemaluanku yang sempat melemas kembali digenggam oleh Intan, sambil kembali dia dengan gemas mengecup dan mengulum burungku. dengan sesekali membuat gerakan “deep throat” yang membuat nafasku tertahan, seolah akan mencapai klimaks saja. “Steven…emmmmhhh…masukin sekarang ya?” Pintanya manja. Akupun segera berdiri dan membimbing kedua lenganya untuk bangkit. Aku berdiri membelakanginya, sementara dia membalikkan diri untuk berpegang pada tepian bak kamar mandi, mengambil posisi menungging sambil berdiri. Aku segera mengelus pantatnya yang mulus & menggairahkan itu, mencari sela-sela di antara rambut kemaluannya yang tipis, daging bertumpuk kemerahan itu tampak menggoda dengan sedikit lelehan bening yang mengalir basah.

    Aku mengarahkan batang penisku ke belahan merekah itu dengan tangan kiri, sementara tangan kananku terlingkar lewat pada kanan Intan, membuat huruf V terbalik dari arah depan, membuka bibir kemaluannya agar mempermudah penetrasi. Kugesekkan kepala kontolku perlahan untuk merasakan sensasi hangatnya cairan miliknya, dan setelah licin, aku mulai mendorong kepala penisku ke dalam mulut mekinya yang mulai melebar, terus semakin dalam, setelah masuk sepertiganya aku berhenti.

    Kedua belah tanganku meraih payudaranya dari belakang, merabanya, memberi pijatan kecil pada putingnya yang menegang. meremasnya, sementara Intan membalikkan lehernya ke arah mukaku. Aku lidahku di dalam mulutnya yang mengeluarkan rintihan-rintihan pelan, sambil menggerakan pantatku dengan gerakan mendorong. Kedepan, membuat kontolku semakin tertanam dalam hangatnya dua belah daging lembu lembap yang seolah merangkul dan menghisapnya dalam sebuah lobang meki.

    “Emmmhhhkk Ahhhkk” Suara Intan tertahan sesaat aku memasukan kontolku dengan gerakan tusukan mendalam, bibirnya masih menempel dan mendesah, mengeluarkan aroma nafas hangatnya yang mulai memburu Intan menggoyangkan pantatnya dengan gerakan memutar, sementara aku memaju mundurkan kontolku dengan sedikit memiringkan pantatku, menciptakan sensasi luar biasa bagi kami berdua.. “Aaahhh..Eeehhhkk..Ouchh…Steven”, seru nya perlahan sambil terus menggoyangkan pantatnya. Peluh menetes di lehernya yang kujilati, dan cairan dari kemaluannya membuat sensasi suara bergesekan yang terdengar merdu di telinga.

    “Cpakkkk…cpakkk…”, membuatku semakin bersemangat meremas payudara Intan yang saat ini demikian keras. “Masukin yang dalam doongggg”, pintanya. Aku menurutinya dengan memperlahan gerakanku dengan tetap mempertahan ritme, irama, dan sodokan yang semakin intensif, agresif dan dalam. Ingin aku memandang wajah Intan lebih leluasa saat bercinta, aku mencabut kemaluanku, membalikkan badan Intan dengan segera, mendudukkannya di tepian bak kamar mandi membimbing kedua kakinya melingkari pantatku, dan kembali aku memasukkan burungku.

    Aku memeluk punggunya, menahan tubuhnya agar tak terjatuh ke belakang, sambil terus menggoyangkan pantatku, menggauli Intan yang terengah-engah sambil memejamkan matanya sambil mencium bibir dan mulutku dengan penuh gairah “Steven… cepetin donk” please, aku mau nyampai nih…”, serunya di antara desahan nafas yang memburu dan lenguhannya yang menggairahkan. Aku menciumi bibirnya sambil mempercepat gerakanku, menahan agar teriakan orgasmennya tak terdengar dari luar kamar mandi

    “Steven, sekarang ya.. sekarang !!”, aku memberi beberapa sodokan mendalam sambil menggoyang pantatku memutar, dan disambut gelora dahsyat hentakan tubuh Intan yang terhempas pada dada dan perutku. “Aaahhkkk.. Steven…Ouuchhhh..Emmmhhh”, tanganya menggapai testisku dan meremasnya, membuat gerakan ku semakin mendalam di dalam hangatnya memek Intan yang mengeluarkan lelehan lendir bening keputihan yang membasahi seluruh batang kontolku. Intan melemas, namun masih memeluk dan menciumiku.. “Ah, curang, kamu belum nyampai ya? “tanyanya “Iya nih”, sahutku sambil tersenyum.. “Kamu memang perkasa ya”, pujinya. “Ah, bisa aja kamu”, aku lalu mencabut penisku, dan tampak lelehan dari vaginanya menetes ke lantai kamar mandi, dan sebagian mengalir di paha mulusnya. “Ayo sini aku keluarin kamu”, katanya singkat, dan aku dibimbingnya duduk di kloset, dia membelakangiku, duduk di atas pangkuanku dengan mengangkangkan kakinya lebar-lebar, sambil tangan kirinya membimbing kontolku kembali membelah memeknya yang basah.

    “Aaahh .. Intan.. ..” , pahaku menegang sesaat, pantatku terhunjam dalam, batang penisku hilang tertelan memeknya yang merekah merah, spermaku muncrat deras ke dalam memeknya yang disambut lenguhan panjang Intan yang ternyata meraih orgasmenya untuk kali yang kedua “Aaahh…”, “Steven…”, tubuhnya memompa beberapa kali sampai kontolku melemah. Lelehan spermaku dan cairan mekinya meluber kelaur membasahi paha, selangkangan dan kemaluan kami. Intan menciumiku dengan lembut. “Kamu hebat banget sih”, senyumnya aku hanya menjawab pujian dengan senyuman.

    Baca Juga

  • Cerita Ngentot Bersambung | Dibantu Intan Di Kamar Mandi Part 1

    Cerita Ngentot Bersambung | Dibantu Intan Di Kamar Mandi Part 1

    Di suatu siang yang panas sekali, aku menghapus peluh yang menetes hampir seperti hujan.Dengan sapu tangan coklat yang selalu kutaruh di saku celana sebelah kanan, setengah celingak-celinguk di depan papan pengumaman jadwal ujian, aku beranjak gontai melangkahkan kaki ke kantin fakultas ekonomi di belakang kampus.

    Beberapa anak angkatan di bawahku tersenyum menyapa ke arahku sambil menundukkan kepala, aku kurang seberapa mengenal mereka, tapi kubalas senyuman itu dengan ramah sambil tetap menunjukkan kerepotanku membawa buku-buku akuntansi yang super duper berat itu.

    Singkat cerita, setelah menenggak sebotol kecil sprite dingin dan membayarnya, aku kembali ke gedung ekonomi, menanti kuliah siang yang terasa lama, karena waktu itu masih jam 11 lebih, dan kampus sepi karena hari jum’at. Akupun memilih duduk di taman kampus dengan rindangya pohon-pohon hijau taman gedung ekonomi.

    Sekitar 10 atau 15 menit melamun, sesosok gadis yang kukenal melangkah tergesa-gesa sambil membetulkan BH nya, dan tampak sama kerepotannya dengan aku, membawa setumpuk buku yang tampak tak seimbang dengan ukuran tangannya yang mungil. Gadis berkulit putih itu tampak mengenaliku, lalu setengah berlari menghampiriku sambil mengurai seulas senyuman manisnya. “Haiiiii”

    Serunya. “Hai juga”, sahutku.. Dia langsung mengibaskan tangganya ke bangku tempat aku duduk, takut ada debu yang akan mengotori celana jeans ketatnya, seketat jeansnya itu membelit pantat cantiknya yang terbungkus CD berenda hitam kesukaanku, yang nampak samar tercetak padat pada lekukan antara paha, memek dan batas paha belakangnya, aku menelan ludah dan kontol ku mulai bergejolak.

    Dia menunduk, tak sengaja memperlihatkan BH renda nya yang tampak menggantungan dada nya yang ber-cup B, lalu segera mengambil posisi memulai obrolan dengan segala keluh kesah kerepotannya di rumah mengerjakan tugas akuntansi manajemen, sampai ribetnya mengurusi manajemen pabrik pakaian milik bokapnya yang sedikit mengalami mis-manajemen.

    Aku menanggapinya dengan senyum dan komentar-komentar singkat yang membangun, sampai tanpa sadar tangannya mendarat di tengah pahaku, tak sengaja menyenggol burungku yang lagi berdiri yang entah kenapa membuat aku tidak tahan dan ingin memasukan kontol ku kedalam lobang vagina nya yang sangat menawan itu.

    Spontat dia nyeletuk bingung : “Eh, lho, kamu kok bangun ? sejak kapan ? hayoop… mikirin apaa?pasti yang jorok-jorok yaa ?, dan komentar itu semakin panjang sering makin merahnya mukaku, aku hanya bisa menunduk malu.

    Tanpa bisa kutebak dia memberikan sebuah kejutan yang sangat-sangat membuat aku suprise setengah mati jantungan “Emmm, mau dibantuin nga ?”

    Wow, pikirku, hemm, aku setengah binguhng juga, bagaimana kita bisa “gituan” di kampus? setengah sadar bibirku mengucap, “Wah, Intan… mau dimana nih ?”. kita ke lantai 3 aja yuk, kan masih sepi. Setengah ragu namun dikalahkan oleh nafsuku aku menurut saja dengan sarannya. Biar nggak bikin curiga OB nya kampys yang bagian nge-pel, Intan pun beranjak duluan ke lantaii 3 dan langsung menuju kamar mandi, lalu menguncinya dari dalam, selang 5 menit, aku menyusuk naik ke lantai 3 dan telah memastikan sama sekali tidak ada orang, aku menuju kamar mandi yang letaknya di pojok dan relatif terhalang pembatas ruangan, aku mengetuk pintu kamar mandi yang tertutup.

    Cklik, terdengan slot dibuka, lalu aku mendorong pelan pintu itu sedikit, menyelinap, lalu cepat-cepat menutupnya seraya menghela nafas panjang karena deg-deg’an sekaligus capek merasakan terjalnya tangga gedung ekonomi, Intan tersenyum sambil langsung menarik pinggangku mendekat, sehingga bibirku yang setengah terburu-buru, dan langsung tanganku ter-alih membuka kancing kemeja Intan, dan menyelipkan tanganku ke sela-sela bh rendanya.

    Bunyi kecipak ciuman seolah bergema, menyadarkan kami yang larut dalam ciuman untuk mengurangi volume suara yang akan membuat orang penasaran saat mendengarkannya itu. Aku yang sangat tak sabar mencumbu Intan dengan ganas, leher dan telinganya tak luput dari sasaran jilatan lidahku, yang membuatnya mendesah manja. Dilepasnya kacamatanya dan ditaruh didalam tasnya yang tergantung di pintu, lalu tangannya beraksi dengan lihai melepas kancing celana, melorotkan celana panjangku, dan menyelipkan tangannya untuk meraih, menarik, dan mengurut batang kemaluanku yang menegang dan puncaknya berubah kemerahan karena terangsang.

    Aku juga melakukan hal yang sama dengan menarik celana panjang jeans ketatnya sebatas paha, berikut celana dalam berenda hitamnya yang sexy, lalu meraba kemaluannya dengan gemas, karena bulu-bulunya tampak selesai dicukur, sehingga belahan kemaluan pinknya sangat menggoda jari telunjuk dan manis tangan kananku bulu-bulunya tampak selesai dicukur, sehingga belahan pinknya sangat menggoda. Jari telunjuk dan manis tangan kananku mengarah ke bibir kemaluannya dan menariknya ke samping kiri dan kanan, sementara jari tengahku memainkan klitorisnya yang mungil dan mulai menegang.

    “Ouchhh…” rintih Intan di telingaku sambil matanya berkejap-kejap merasakan nikmat yang menjalari tubuhnya. “Sssshhh..Ahhhh”, balasku merasakan nikmatnya kocokan tangan Intan yang dibasahi sedikit air. Sambil terus meremas dada mungiknya yang mulus, adegan saling meraba itu berlangsung selama beberapa menit.

    “Steven…”, bisiknya sambil mendorong tubuhku perlahan menjauh, aku mengerti apa yang dimauinya, Aku membantunya melepas celana jeans dan celana dalamnya, menggantungnya di dekat tas. Intan lalu duduk di tepian bak kamar mandi, satu kakinya diangkat ke atas kloset duduk, tanganya ke belakang menyangga tubuhnya, dan setengah meliuk menggoda dengan tatapan penuh birahinya, dia menyorongkan memeknya ke depan, sambil tangannya meraih dadanya sendiir, memilin putingnya, dan meremas payudaranya dengan gerakan memutar ke atas.

    Aku langsung melepas celanaku, menaruhnya lalu segera berjongkok di depan selangkangan Intan, lalu menjilati belahan mekinya yang terbuka lebar, menjejakan hidungku, menghirup aroma wangi khas memeknya yang selalu harum karena dia rajin membasuhnya dengan ramuan jawa dan meminum jamu-jamu yang selalu membuat kondisi memeknya terjaga.

    Baca juga

  • Kisah Istri Yang Diperkosa Supir Part 4 [Last]

    Kisah Istri Yang Diperkosa Supir Part 4 [Last]

    Kurasakan telapak tangannya menggosok-gosok bibir vaginaku naik turun dan kemudian membelah bibir vaginaku dengan jemari tangannya yang lincah dan cekatan dan kembali menggosok-gosokkannya hingga sabun Lux cair itu menjadi semakin berbusa. Setelah memandikan tubuhku lalu dia pun membasuh tubuhnya sendiri sambil membiarkan tubuhku tetap bersandar di bawah pancuran shower. Usai membersihkan badan, supirku lalu menggendongku keluar kamar mandi dan menghempaskan tubuhku yang masih basah itu ke atas kasur tanpa melap tubuhku terlebih dahulu. “Saya akan bawakan makanan ke sini yach!” ucapnya sambil supirku melilit handuk yang biasa kupakai kepinggangnya lalu ngeloyor ke luar kamarku tanpa sempat untuk aku berbicara. Sudah tiga tahun lebih aku tidak pernah merasakan kehangatan yang demikian memuncak, karena keegoisan suamiku yang selalu sibuk dengan pekerjaan.

    Memang dalam hal keuangan aku tidak pernah kekurangan. Apapun yang aku mau pasti kudapatkan, namun untuk urusan kewajiban suami terhadap istrinya sudah lama tidak kudapatkan lagi. Entah mengapa perasaanku saat ini seperti ada rasa sedang, gembira atau.. entah apalah namanya. Yang pasti hatiku yang selama ini terasa berat dan bosan hilang begitu saja walaupun dalam hati kecilku juga merasa malu, benci, sebal dan kesal.

    Supirku cukup lama meninggalkan diriku sendirian, namun waktu kembali rupanya dia membawakan masakan nasi goreng dengan telor yang masih hangat serta segelas minuman kesukaanku. Lalu tubuhku disandarkan pada teralis ranjang. “Biar saya yang suapin Bu Vivi yach!” ucapnya sambil menyodorkan sesendok nasi goreng yang dibuatnya. 

    “Kamu yang masak Ben!” tanyaku ingin tahu. “Iya, lalu siapa lagi yang masak kalau bukan saya, kan di rumah cuma tinggal kita berdua, si neri kan udah saya suruh pulang duluan sebelum hujan tadi turun!” kata supirku. “Ayo dicicipi!” katanya lagi. Mulanya aku ragu untuk mencicipi nasi goreng buatannya, namun perutku yang memang sudah terasa lapar, akhirnya kumakan juga sesendok demi sesendok. Tidak kusangka nasi goreng buatannya cukup lumanyan juga rupanya. Tanpa terasa nasi goreng di piring dapat kuhabisi juga.

    Bolehkan saya memanggil Bu Vivi dengan sebutan mbak?” tanyanya sambil membasuh mulutku dengan tissue. “Boleh saja, memang kenapa?” tanyaku. “Engga apa-apa, biar enak aja kedengaran di kupingnya.” Kalau saya boleh manggil Mbak Vivi, berarti Bu Vivi eh.. salah maksudnya Mbak Vivi, panggil saya Bang aja yach!” celetuknya meminta. “Terserah kamu saja ” kataku. “Sudah nggak capai lagi kan Mbak Vivi!” sahut supirku.

    “Memang kenapa!?” tanyaku. “Masih kuatkan?” tanyanya lagi dengan senyum binal sambil mulai meraba-raba tubuhku kembali. Aku tidak memberi jawaban lagi, hanya menunduk malu, tadi saja aku diperkosanya malah membuatku puas disetubuhinya apalagi untuk babak yang kedua kataku dalam hati. Sejujurnya aku tidak rela tubuhku diperkosanya namun aku tidak mampu untuk menolak permintaannya yang membuat tubuhku dapat melayang-layang di udara seperti dulu saat aku pertama kali menikah dengan suamiku.

    Baca juga

  • Kisah Istri Yang Diperkosa Supir Part 3

    Kisah Istri Yang Diperkosa Supir Part 3

    “Eee..” pekikku begitu kurasakan di belahan pangkal pahaku ada benda yang cukup keras dan besar mendesak-desak setengah memaksa masuk belahan bibir vaginaku. “Tenang sayang.. tenang.. dikit lagi.. dikit lagi..” “Aah.. sak.. kiit..!” jeritku keras-keras menahan ngilu yang amat sangat sampai-sampai terasa duburku berdenyut-denyut menahan ngilunya. Akhirnya batang penis supirku tenggelam hingga dalam dibalut oleh lorong kemaluanku dan terhimpit oleh bibir vaginaku.

    Beberapa saat lamanya, supirku dengan sengaja, penisnya hanya didiamkan saja tidak bergerak lalu beberapa saat lagi mulai terasa di dalam liang vaginaku penisnya ditarik keluar perlahan-lahan dan setelah itu didorong masuk lagi, juga dengan perlahan-lahan sekali seakan-akan ingin menikmati gesekan-gesekan pada dinding-dinding lorong yang rapat dan terasa bergerenjal-gerenjal itu. Makin lama gerakannya semakin cepat dan cepat sehingga tubuhku semakin berguncang dengan hebatnya sampai, “Ouhh..” Tiba-tiba suara supirku dan suaraku sama-sama beradu nyaring sekali dan panjang lengkingannya dengan diikuti tubuhku yang kaku dan langsung lemas bagaikan tanpa tulang rasanya. Begitu pula dengan tubuh supirku yang langsung terhempas kesamping tubuhku. “Sialan kamu Ben!” ucapku memecah kesunyian dengan nada geram. Cerita Bokep

    Setelah beberapa lama aku melepas lelah dan nafasku sudah mulai tenang dan teratur kembali. “Kamu gila Ben, kamu telah memperkosa istri majikanmu sendiri, tau!” ucapku lagi sambil memandang tubuhnya yang masih terkulai di samping sisiku. “Bagaimana kalau aku hamil nanti?” ucapku lagi dengan nada kesal. “Tenang Bu Vivi.., saya masih punya pil anti hamil, Bu Vivi.” ucapnya dengan tenang. “Iya.. tapi kan udah telat!” balasku dengan sinis dan ketus. “Tenang bu.. tenang.. setiap pagi ibu kan selalu minum air putih dan selama dua hari sebelumnya saya selalu mencampurkan dengan obatnya jadi Bu Vivi enggak usah khawatir bakalan hamil bu,” ucapnya malah lebih tenang lagi. “Ouh.. jadi kamu sudah merencanakannya, sialan kamu Ben..” ucapku dengan terkejut, ternyata diam-diam supirku sudah lama merencanakannya. “Bagaimana Bu Vivi..?

    Bagaimana apanya? Sekarang kamu lepasin saya Ben..” kataku masih dengan nada kesal dan gemas. “Maksudnya, tadi waktu di Entotin enak kan?” tanyanya lagi sambil membelai rambutku. Wajahku langsung merah padam mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh supirku, namun dalam hati kecilku tidak dapat kupungkiri walaupun tadi dia sudah memperkosa dan menjatuhkan derajatku sebagai majikannya, namun aku sendiri turut menikmatinya bahkan aku sendiri merasakan organsime dua kali. “Kok ngak dijawab sich!” tanya supirku lagi.

    “Iya..iya, tapi sekarang lepasin talinya dong Benny!” kataku dengan menggerutu karena tanganku sudah pegal dan kaku. “Nanti saja yach! Sekarang kita mandi dulu!” ucapnya sambil langsung menggendong tubuhku dan membawa ke kamar mandi yang berada di samping tempat ranjangku. Tubuhku yang masih lemah lunglai dengan kedua tangan dan kakiku yang masih terikat itu diletakkan di atas lantai keramik berwarna krem muda yang dingin tepat di bawah pancuran shower yang tergantung di dinding. Setelah itu supirku menyalakan lampu kamar mandiku dan menyalakan kran air hingga tubuhku basah oleh guyuran air dingin yang turun dari atas pancuran shower itu.

    Melihat tubuhku yang sudah basah dan terlihat mengkilat oleh pantulan lampu kamar mandi lalu Benny supirku berjongkok dekatku dan kemudian duduk di sampingku hingga tubuhnya pun turut basah oleh air yang turun dari atas. Mata supirku yang memandangiku seperti terlihat lain dari biasanya, dia mulai mengusap rambutku yang basah ke belakang dengan penuh sayang seperti sedang menyayang seorang anak kecil.

    Lalu diambilnya sabun Lux cair yang ada di dalam botol dan menumpahkan pada tubuhku lalu dia mulai menggosok-gosok tubuhku dengan telapak tangannya. Pinggulku, perutku lalu naik ke atas lagi ke buah dadaku kiri dan kemudian ke buah dadaku yang kanan. Tangannya yang terasa kasar itu terus menggosok dan menggosok sambil bergerak berputar seperti sedang memoles mobil dengan cairan kits. Sesekali dia meremas dengan lembut buah dada dan punting susuku hingga aku merasa geli dibuatnya, lalu naik lagi di atas buah dadaku, pundakku, leherku lalu ke bahuku, kemudian turun lagi ke lenganku. “Ah.. mas..” pekikku ketika tangannya kembali turun dan turun lagi hingga telapak tangannya menutup bibir vaginaku.

  • Kisah Istri Yang Diperkosa Supir Part 2

    Kisah Istri Yang Diperkosa Supir Part 2

    Lagi-lagi aku kalah cepat dengan supirku, dia berhasil menangkap tubuhku kembali namun belum sempat aku bangkit dan berusaha merangkak lagi, tiba-tiba saja pinggulku terasa kejatuhan benda berat hingga tidak dapat bergerak lagi. “Benny.. Jangan.. jangan.. mas..” kataku berulang-ulang sambil terisak nangis. Rupanya supirku sudah kesurupan dan lupa siapa yang sedang ditindihnya. Setelah melihat tubuhku yang sudah mulai kecapaian dan kehabisan tenaga lalu supirku dengan sigapnya menggenggam lengan kananku dan menelikungnya kebelakan tubuhku begitu pula lengan kiriku yang kemudian dia mengikat kedua tanganku kuat-kuat, entah dengan apa dia mengikatnya. Setelah itu tubuhnya yang masih berada di atas tubuhku berputar menghadap kakiku. Kurasakan betis kananku digenggamnya kuat-kuat lalu ditariknya hingga menekuk.

    Lalu kurasakan pergelangan kaki kananku dililitnya dengan tali. Setelah itu kaki kiriku yang mendapat giliran diikatkannya bersama dengan kaki kananku. “Saya ingin mencicipi ibu..” bisiknya dekat telingaku. “Sejak pertama kali saya melamar jadi supir ibu, saya sudah menginginkan mendapatkan kesempatan seperti sekarang ini.” katanya lagi dengan suara nafas yang sudah memburu. “Tapi saya majikan kamu Ben..” kataku mencoba mengingatkan. “Memang betul bu.. tapi itu waktu jam kerja, sekarang sudah pukul 7 malam berarti saya sudah bebas tugas..” balasnya sambil melepas ikatan tali BH yang kukenakan. “Hhh mm uuhh,” desah nafasnya memenuhi telingaku. “Tapi malam ini Bu Vivi harus mau melayani saya,” katanya sambil terus mendengus-denguskan hidungnya di seputar telingaku hingga tubuhku merinding dan geli. Setelah supirku melepas pakaiannya sendiri lalu tubuhku dibaliknya hingga telentang.

    Aku dapat melihat tubuh polosnya itu. Tidak lama kemudian supirku menarik kakiku sampai pahaku melekat pada perutku lalu mengikatkan tali lagi pada perutku. Tubuhku kemudian digendongnya dan dibawanya ke pojok bagian kepala ranjang lalu dipangkunya di atas kedua kaki yang diselonjorkan, mirip anak perempuan yang tubuhnya sedang dipeluk ayahnya.

    Tangan kirinya menahan pundakku sehingga kepalaku bersandar pada dadanya yang bidang dan terlihat otot dadanya berbentuk dan kencang sedangkan tangan kanannya meremasi kulit pinggul, pahaku dan pantatku yang kencang dan putih bersih itu. “Benny.. jangan Ben.. jangan!” ucapku berulang-ulang dengan nada terbata-bata mencoba mengingatkan pikirannya. Namun Benny, supirku tidak memperdulikan perkataanku sebaliknya dengan senyum penuh nafsu terus saja meraba-raba pahaku. “Ouh.. zzt.. Euh..” desisku panjang dengan tubuh menegang menahan geli serta seperti terkena setrum saat kurasakan tangannya melintasi belahan kedua pahaku.

    Apalagi telapak dan jemari tangannya berhenti tepat di tengah-tengah lipatan pahaku. “Mass.. Eee” rintihku lebih panjang lagi dengan bergetar sambil memejapkan mata ketika kurasakan jemarinya mulai mengusap-usap belahan bibir vaginaku. Tangan Mas Benny terus menyentuh dan bergerak dari bawah ke atas lalu kembali turun lagi dan kembali ke atas lagi dengan perlahan sampai beberapa kali. Lalu mulai sedikit menekan hingga ujung telunjuknya tenggelam dalam lipatan bibir vaginaku yang mulai terasa berdenyut-denyut, gatal dan geli.

    Tangannya yang terus meraba dan menggelitik-gelitik bagian dalam bibir vaginaku membuat birahiku jadi naik dengan cepatnya, apalagi sudah cukup lama tubuhku tidak pernah mendapatkan kehangatan lagi dari suamiku yang selalu sibuk dan sibuk. Entah siapa yang memulai duluan saat pikiranku sedang melayang kurasakan bibirku sudah beradu dengan bibirnya saling berpagut mesra, menjilat, mengecup, menghisap liur yang keluar dari dalam mulut masing-masing. “Ouh.. Vivi.. wajahmu cukup merangsang sekali Vivi..!” ucapnya dengan nafasnya yang semakin memburu itu.

    Setelah berkata begitu tubuhku ditarik hingga buah dadaku yang menantang itu tepat pada mukanya dan kemudian, “Ouh.. mas..” rintihku panjang dengan kepala menengadah kebelakan menahan geli bercampur nikmat yang tiada henti setelah mulutnya dengan langsung memagut buah dadaku yang ranum itu. Kurasakan mulutnya menyedot, memagut, bahkan menggigit-gigit kecil punting susuku sambil sekali-kali menarik-narik dengan giginya. Entah mengapa perasaanku saat itu seperti takut, ngeri bahkan sebal bercampur aduk di dalam hati, namun ada perasaan nikmat yang luar biasa sekali seakan-akan ada sesuatu yang pernah lama hilang kini kembali datang merasuki tubuhku yang sedang dalam keadaan tidak berdaya dan pasrah. “Bruk..” tiba-tiba tangan Mas Benny melepaskan tubuhku yang sedang asyik-asyiknya aku menikmati sedalam-dalamnya tubuhku yang sedang melambung dan melayang-layang itu hingga tubuhku terjatuh di atas ranjang tidurku.

    Tidak berapa lama kemudian kurasakan bagian bibir vaginaku dilumat dengan buas seperti orang yang kelaparan. Mendapat serangan seperti itu tubuhku langsung menggelinjang-gelinjang dan rintihan serta erangan suaraku semakin meninggi menahan geli bercampur nikmat sampai-sampai kepalaku bergerak menggeleng ke kanan dan ke kiri berulang-ulang. Cukup lama mulutnya mencumbu dan melumati bibir vaginaku terlebih-lebih pada bagian atas lubang vaginaku yang paling sensitif itu. “Benny.. sudah.. sudah.. ouh.. ampun Aar.. riss..” rintihku panjang dengan tubuh yang mengejang-ngejang menahan geli yang menggelitik bercampur nikmat yang luar biasa rasanya saat itu. Lalu kurasakan tangannya pun mulai rebutan dengan bibirnya.

    Kurasakan jarinya dicelup ke dalam lorong kecil kemaluanku dan mengorek-ngorek isi dalamnya. “Ouh.. Ben..” desisku menikmati alur permainannya yang terus terang belum pernah kudapatkan bahkan dengan suamiku sendiri. “Sabar Win.., saya suka sekali dengan lendirmu sayang!” suara supirku yang setengah bergumam sambil terus menjilat dan menghisap-hisap tanpa hentinya sampai beberapa menit lagi lamanya. Setelah puas mulutnya bermain dan berkenalan dengan bibir kemaluanku yang montok itu si Benny lalu mendekati wajahku sambil meremas-remas buah dadaku yang ranum dan kenyal itu. “Bu Vivi.., saya entot sekarang ya.. sayang..” bisiknya lebih pelan lagi dengan nafas yang sudah mendesah-desah.

    Baca juga