KONGJONES CERITA DEWASA LENGKAP

CERITA SEX BERSAMBUNG

Mamaku Idamanku dan Tetangga : Part 3

Cerita Ngentot Bersambung – “Eh, udah kamu kunci?” tanya mama sambil masih dipeluk dari belakang oleh pak Jupri yang jelek itu. Tangannya juga membelai-belai perut buncit mama.

“Udah ma. Hmm… Ma…”
“Iya sayang?”

“Gak takut ketahuan Papa?” tanyaku.
“Ya kamu jangan kasih tahu dong… hihihi”

“Terus itu… mama kan lagi hamil…”
“Aman kok sayang…”

“Tapi itu anaknya Papa kan Ma?” tanyaku curiga juga.
“Hmm.. gimana yah.. mama nggak yakin juga sih”

“M-maksudnya?”

“Iya, cuma kamu yang mama yakin anaknya papa. Kedua adek kamu mungkin anaknya orang lain, termasuk yang di perut mama ini, hihihi”

“Hah?? Orang lain? Berarti mama udah sering ML sama pria lain sebelum ini!?” tanyaku. Mama mengangguk malu-malu.

“Iya… maaf yah… Habisnya papa kamu itu sih, awal-awal nikah saja rajin ngasih jatah ke mama. Setelah kamu lahir, dia jadi semakin sibuk. Ya mama sebagai wanita kan butuh itu juga sayang”



Aku sangat terkejut mendengarnya kenyataan ini. Aku tidak menyangka mamaku seperti ini. Wanita secantik dan terlihat berkelas seperti mama ternyata sudah berkali-kali bersetubuh dengan pria lain selain papa. Aku shock. Tapi melihat senyum manis mama akupun langsung luluh dan menyerah pada nafsu.

“Ahhh.. lama amat sih kalian ngobrolnya, gue pengen ngentot nih…” ujar pak Jupri tiba-tiba. Dia lalu mendorong tubuh mama ke kasur, dan langsung menggenjot mama! Aku
terbelalak melihat ibu kandungku diperlakukan sangat kasar, terlebih dia kan lagi hamil.

“Nghh… mas, pelan-pelan… gak enak dilihat Andi” ujar mamaku sambil menatapku. Tatapan yang sungguh membuat perasaanku tak karuan.

“Peduli amat! Biasanya aja lo kesenangan kalau gue entotin kasar! Masa di depan anak lo musti pelan-pelan! Palingan dia juga suka mamanya gue entotin kayak gini” ujar pak Jupri
kurang ajar sambil terus memompa tubuh mama dengan cepat. Tubuh mama sampai melenting-lenting dibuatnya!

Pak Jupri menggenjot mama dari belakang dengan posisi tiduran menyamping. Dengan posisi seperti itu baik mama dan pak Jupri menghadap ke arahku. Pak Jupri seakan-akan ingin mempertontonkan kepadaku bagaimana biasanya mamaku disetubuhi olehnya.
Mama bahkan ikut-ikutan seperti ingin menunjukkan tontonan yang menarik kepadaku. Dia tersenyum manis padaku sambil terus disetubuhi pria itu!

“Ngghh… mas… ssshhh” rintih mama manja yang terdengar sangat menggoda. Mereka kemudian berciuman, lalu mama melihat ke arahku lagi sambil tersenyum, lalu berciuman lagi, dan menatapku lagi, begitu seterusnya. Sungguh hatiku terasa diaduk-aduk.

“Lo lihat kan kelakuan mama lo?? Kayak lonte kan? Lo kebayang gak kalau papa lo tahu? Huahahaha” ejek pak Jupri lagi.

“Ihh… mas, jangan kasih tahu dong… iya kan sayang? Papa gak boleh tahu kan?” tanya mama padaku. Aku hanya mengangguk kaku. Seharusnya aku marah, tapi kenapa… kenapa aku sangat bernafsu melihat pemandangan ini?? Dadaku bahkan berdebar sangat keras saking bernafsunya.

“Oi, lo kalau mau nonton mending lo lepasin baju lo…. Biar mama lo tahu kalau lo konak ngelihatnya gue entotin, huahahaha” suruh pak Jupri dengan nada mengejek kepadaku.
“Hihihi, emang kamu suka yah sayang lihat mama diginiin pak Jupri?” tanya mama, aku lagi-lagi hanya mengangguk kaku.

“Ya sudah… buka aja bajunya biar lebih enak…” suruh mama kemudian. Dengan ragu-ragu akupun membuka pakaianku hingga telanjang di depan mereka. Ku lihat mama tersenyum melihat penisku yang sedang ngaceng bukan main karena menonton aksi zinahnya. Aku yang malu segera menutupi penisku dari pandangannya dengan tanganku.

“Woi, ngapain lo tutup-tutup segala, kasih liat aja.. Eh, suruh tuh anak lo itu ngocok!” pinta pak Jupri padaku dan mama. Perangai pak Jupri semakin menjadi-jadi. Dia seenaknya saja
berkata!

“Udah sayang.. buka aja, gak usah malu… ngocok aja kalau kamu emang mau” ujar mama menuruti perintah si Jupri. Aku yang mendengar mama berkata seperti itu akhirnya benar-benar mengocok penisku. Sungguh gila. Aku terang-terangan mengocok penisku di depan mereka! Mengocok sambil melihat ibu kandungku disetubuhi orang lain! Mama yang melihat aku asik mengocok tersenyum saja melihatku. Wajahnya yang cantik serta senyumnya yang manis membuat aku semakin belingsatan.

“Ikut naik ke ranjang! Lo lihat mama lo gue entotin dari dekat!” suruh pak Jupri lagi. Aku turuti perkataanya. Akupun naik ke atas ranjang . Ranjang yang biasa menjadi tempat tidur mama dan papa sekarang sedang menjadi tempat perzinahan mamaku dan tetangga kami ini, plus aku anaknya mama yang hanya bisa menonton sambil mengocok. Ahhhh, entah apa jadinya bila seandainya papa mengetahui hal ini. Pak Jupri sungguh bejat! Setelah aku ikut naik ke ranjang dia malah semakin kencang menghentak-hentakkan penisnya bertubi-tubi ke vagina mamaku.

Tubuh mama sampai terdorong-dorong kuat. Buah dada dan perut mama tampak bergoyang kencang. Sialnya melihat pemandangan ini aku malah semakin nafsu dan mempercepat kocokanku. Aku tidak tahan untuk tidak meraba tubuh mama yang putih bening ini. Ku beranikan saja mengelus tubuhnya. Selagi mama dientotin dengan kasar oleh
pak Jupri, satu tanganku membelai-belai tubuhnya, mulai dari wajah cantiknya,
lehernya, buah dadanya, hingga perutnya. Sedangkan tanganku yang lain tetap sibuk mengocok.

“Kamu suka sayang?” tanya mama sambil berusaha tersenyum padaku. Ku lihat wajahnya semakin memerah dengan bulir keringat membasahi.

“Suka ma… mama cantik banget, kulit mama halus” jawabku yang dibalas senyum manisnya.
“Pegang aja sesukamu yah…”
“Iya ma…” Jadilah aku terus membelai-belai mama selagi dia dientotin.

Beberapa bagian tubuhnya yang berkeringat terasa sangat basah di tanganku. Ku coba mencium aroma keringatnya yang menempel pada tanganku, bahkan saking aku bernafsunya aku juga sampai menjilati keringatnya. Aku betul-betul sudah
terbawa nafsu. Ku lihat genjotan pak Jupri pada tubuh mama semakin cepat, sepertinya tidak lama lagi dia akan klimaks. Pak Jupri akan menumpahkan spermanya ke rahim
mamaku! Membayangkannya sungguh membuat aku semakin tidak kuat.

“Ughhh… nih terima peju gue, lihat nih, adek lo gue siram pake pejuuuu!” Racau si Jupri.
“Ngghhh… sayaaaannnggg… lihat mamaaaa” erang mamaku ikut-ikutan.

Gila! Aku tidak kuat untuk tidak muncrat juga! Tubuh pak Jupri lalu mengejang kaku, dia sedang menyemprotkan pejunya di dalam sana. Memindahkan isi kantong zakarnya ke tempat cabang bayi mamaku berada! “Crooottttt croooottttttt” Berbarengan dengan itu aku juga memuntahkan pejuku, sebagian besar mengenai perut mama. Aghh… aku baru saja mengotori badan ibu kandungku sendiri dengan spermaku. Mama yang melihat aku baru saja klimaks, bahkan mengenai tubuhnya, lagi-lagi tersenyum padaku. Mamaku sungguh cantik.

Setelah selesai, Pak Jupri pun rebah ke pelukan mama. Mereka berpelukan sebentar untuk mengatur nafas, setelah itu pak Jupri keluar untuk merokok di luar. Sekarang hanya tinggal aku dan mama yang berada di atas ranjang. Sama-sama sedang telanjang bulat.

“Enak sayang?”
“E..enak ma…” jawabku sambil memilin-milin putting susu mama. Ternyata mama sudah bisa mengeluarkan susu.

“Kamu suka lihat mama dientotin pak Jupri?”
“Tadinya sih aku kesal ma, tapi kok aku suka yah ngelihatnya…”
“Suka lihat mama dikasari juga?” tanya mama senyum-senyum.

“Eh, i..itu.. iya juga ma…”
“Hihihi, makanya jangan kasih tahu papa yah… ntar kamu bisa terus lihat deh mamamu ini dientotin orang” ucap mama genit.
“I..iya ma…”

“Makasih sayang… sini peluk mama” ujar mama sambil membentangkan tangannya. Langsung saja ku rebahkan badanku di sebelahnya dan memeluk tubuhnya. Perut mama yang buncit terasa menekan-nekan penisku yang masih tegang. Aku tidak peduli kalau di
sana masih ada ceceran spermaku.
“Ma…”

“Ya sayang?”

“Aku boleh nyusu?” entah kenapa tiba-tiba aku meminta hal seperti itu. Terlintas begitu saja.

“Hihihi, kamu pengen jadi adek bayi lagi yah?”
“I..iya Ma” jawabku malu.

“Hmm… Boleh kok… kamu kan anaknya mama sendiri” jawab mama membolehkan. Aku senang sekali mendengarnya. Akupun segera mendekatkan mulutku ke buah dadanya dan langsung mengulum putingnya. Kusedot dan kujilati air susunya yang mulai mengalir masuk ke mulutku.

“Enak sayang?” tanyanya, aku mengangguk. Rasanya sungguh luar biasa. Sensasi menyusu pada wanita secantik mama, yang mana kami berdua sedang bertelanjang bulat. Apalagi
penisku yang bersentuhan dengan sela-sela pahanya makin menambah nikmat bagiku. Penisku yang barusan tadi menumpahkan pelurunya kini jadi ngaceng kembali. Melihat itu mama tersenyum dan berbisik padaku.

“Mau mama kocokin gak sayang?” tanya mama lagi, tentu saja aku mau. Aku mengangguk.

Mamapun mengocok penisku sambil aku menyusu padanya! Sementara itu, satu tanganku sibuk membelai perut buncitnya serta meremas buah dadanya yang satunya. Sungguh rasanya luar biasa tak terlukiskan! Cukup lama kami melakukannya, rasanya aku tidak ingin berhenti.

“Wah wah wah.. lagi asik nih…” ujar pak Jupri tiba-tiba. Dia sudah kembali masuk ke dalam kamar.
“Ibu dan anak kok kayak gini sih? Dasar ibu anak bejat! Huahaha” ledek pak Jupri kemudian. Ku lihat Mama hanya tertawa kecil saja merespon ucapan pak Jupri, sedangkan aku tidak mau peduli, aku hampir muncrat lagi karena kocokan mama.

“Ma…” erangku.
“Hmm? Mau keluar sayang?”

Part Selanjutnya… Part 4

***

Baca Juga