KONGJONES CERITA DEWASA LENGKAP

CERITA SEX BERSAMBUNG

Tag: cerita panas

  • Mertua Kesepian Memaksaku

    Mertua Kesepian Memaksaku

    Cerita Panas – Mertuaku yang biasa kupanggil Mama ini pindah ke Bandung setelah suaminya meninggal dan tinggal di rumah anak dari istri pertama suaminya. Sebenarnya suaminya memiliki cukup banyak harta tetapi karena mertuaku kawin di bawah tangan, jadi dia tidak mendapatkan harta warisan apa-apa selain perhiasan-perhiasan dari suaminya itu. Karena ada perselisihan, mertuaku dan ketiga anaknya pindah dari rumah itu dan memulai usaha menjadi penjual jamu gendong untuk menafkahi ketiga anaknya. Namun karena sekarang ini dia merasa sudah tidak mempunyai tanggungan apa-apa lagi dan juga telah mempunyai rumah di pinggiran kota Bandung, dia sudah berhenti dari kegiatannya itu. Aku dan istri setiap akhir bulan selalu menyempatkan diri ke rumah mertuaku sekaligus membawa uang ala kadarnya sekedar untuk menambah biaya hidup sehari-hari.

    Namun pada hari itu, Sabtu, entah kenapa istriku tidak enak badan dan menyuruhku pergi sendiri saja. Kubawa motorku ke arah selatan kota Bandung hingga satu jam slot kemudian aku sampai di rumah yang sederhana tapi kokoh itu. Rumah itu sepi namun pintunya terbuka lebar-lebar. Seperti biasanya kurebahkan tubuhku di bangku bale-bale bambu yang ada di ruang tamu untuk melepas lelah. Tak lama kemudian mertuaku datang.

    “Eh, Dik Willy, sudah lama Dik?”
    Dia menyapaku memang kesannya basa-basi tetapi sebenarnya tidak.
    “Enggak, barusan kok”, jawabku menyambut sapaannya.
    “Mana Ida?”, tanyanya.
    “Lagi sakit, Ma. Katanya demam tuh, kusuruh istirahat saja” jawabku.
    “Oh, wah, wah, wah, jangan-jangan tanda-tanda mau punya anak tuh”, ujar mertuaku senang.
    Memang dia ini sangat mendambakan cucu dari pernikahan kami.
    “Mudah-mudahan, Ma”
    “Ya sudah, sudah makan belum. Mama punya sayur asem sama ikan asin pake sambel terasi, kamu mau nggak?”, mertuaku menawariku makan.
    “Iya, aku mau banget tuh”
    Bergegas aku ke ruang makan dan melihat hidangan yang ditawarkannya itu masih belum disentuh siapapun. Sambil makan kami mengobrol lagi.
    “Nony ke mana Ma?” tanyaku.
    “Katanya piknik sama temen-temennya ke luar kota, kemarin sore berangkatnya”
    “Oh”, jawabnya.

    Memang mertuaku hanya tinggal berdua dengan Nony karena Cheny lebih memilih kost di dekat tempatnya bekerja. Kami mengobrol tentang macam-macam sampai obrolan yang nyerempet-nyerempet.
    “Kamu ini sudah hampir dua tahun kok belum punya anak juga?”
    “Ya enggak tahu tuh, Ma”
    “Apa kamunya yang nggak bisa? Kalo nggak bisa sini Mama ajarin”
    “Ajarin apa, Ma?”
    “Mama buatin jamu biar subur”
    “Ah bisa aja Mama nih”
    Obrolan sengaja kupancing dan kuarahkan ke masalah seksual.
    “Ma saya boleh nanya nggak?”
    “Apa?”
    “Dulu Pa’e sering dibuatin jamu nggak?”
    “Ya kalo lagi sakit aja”
    “Untuk yang lain?”
    “Yang lain tuh apa?”
    “Jamu kuat lelaki misalnya?”
    “Ha, ha, ha, kamu ini ada-ada saja. Nggak usah pake begituan juga mertua lakimu itu sudah kuat, kok. Malah sebelum mati dia nambah lagi satu”
    “Jadi nggak pernah sama sekali, Ma?”
    “Pernah sich sekali-kali. Itu juga dia yang minta”
    “Terus Mamanya gimana?”
    “Ya tokcer lah, ha, ha, ha, eh, kamu kok tanya itu sih?”
    “Terus sekarang ini Mama kalo lagi pengen gimana?”

    Wajahnya sedikit memerah tetapi dijawabnya juga, “Ya, banyak-banyakin aja kerjaan, ya masak, nyuci piring, nyapu pekarangan, entar juga lupa, terus sudahnya, capek, ya tidur”
    “Oh”, jawabku.
    “Kamu ini nanyanya ngawur, aja”
    “He, he, he..”
    “Sudah sore sana mandi”
    “Iya Ma”

    Sementara aku mandi, kurasakan penisku yang sudah berdiri tegak. Slot gacor Kukocok penisku sambil membayangkan tubuh mertuaku. Mertuaku ini masih lumayan kencang walau sudah memiliki anak tiga. Menurut istriku, dia rajin luluran kulit sawo matang disertai dengan minum jamu rutin. Perutnya masih cukup ramping walaupun sudah ada sedikit lipatan-lipatan lemak. Buah dadanya yang berukuran 36B itu tetap kencang karena ramuan dari luar disertai jamu-jamuan demikian juga dengan bongkahan pantatnya. Satu hal lagi, dia ini tidak pernah memakai daster, atau baju apapun. Pakaian sehari-harinya adalah kain kebaya dengan kemben yang dililit hingga dadanya.
    “Dik Yanto, nanti kalau sudah airnya diisi lagi ya?”
    “Iya, Ma”.

    Setelah mandi kupompa air di luar kamar mandi sementara itu mertuaku berjongkok mencuci piring di bawah pancuran pompa tangan. Ember yang telah terisi kubawa ke kamar mandi untuk diisikan ke bak, begitu seterusnya hingga penuh. Sambil memompa kuperhatikan belahan buah dada mertuaku hingga membuat penisku berdiri lagi hingga tak sadar handukku terlepas.
    “Wah, semalem belum dikasih ‘makan’ ya?”, begitu sindir mertuaku.
    “Iya nih, Ma”
    “Kenapa sih kamu kok cuma liat nenek-nenek aja langsung berdiri?”
    “Abis Mama montok sih”, jawabku asal saja.
    “Hus, apanya yang montok”
    “Itu belahan teteknya, makanya saya jadi begini”
    “Oh ini, mau lihat?”
    “Iya, mau, mau Ma”
    Sejenak dia berbalik terus membuka kembennya hingga perutnya yang cukup ramping itu terbuka.
    “Nih, liat aja”, katanya sambil kupegang buah dadanya.
    “Eh katanya cuma liat?”
    “Ya liat sama pegang, Ma”
    Kuremas-remas buah dadanya hingga nafasnya tersengal.
    “Sudah To, sudah”
    Tapi aku terus saja meremasnya dengan bersemangat.
    “Sudah To, Mama mau mandi dulu”
    “Bener mau mandi apa mau yang lain?”
    “Bener Mama mau mandi”
    “Nanti lagi ya?”

    Mertuaku tidak menjawab, hanya berlalu ke kamar mandi.
    Aku tunggu di kamar tidurnya hingga beberapa menit kemudian mertuaku sudah masuk ke kamarnya lagi. Tubuhnya hanya berbalut kain saja. Yang membuatku kaget adalah mertuaku membuka begitu saja kainnya di hadapanku yang masih berbaring. Kulihat buah dada yang cukup sekal tadi disertai dengan perut yang ramping dan pantat yang montok. Yang membuatku tak tahan adalah belahan vaginanya yang berbulu sangat lebat berbentuk segitiga. Pelan-pelan kudekati dia dengan pelukan yang cukup hangat dan ciuman yang kuat di bibirnya, mertuaku hanya pasrah saja. Kuteruskan tindakan yang tadi kulakukan di luar. Kali ini aku berjongkok lalu kumainkan vaginanya dengan mulutku sementara tanganku naik turun bergantian. Kuremas-remas bongkahan pantatnya yang padat itu dengan tangan kanan dan tangan kiriku memelintir-melintir puting susunya dengan sesekali menjumput dan meremas buah dadanya itu. Begitu terus bergantian dengan tangan kanan dan kiri. Pada saat yang bersamaan kuhisap-hisap dengan gemas bibir vaginanya.
    “Aghh, aghh, aghh”, suara itu keluar dari mulut mertuaku di iringi dengan suara dari mulutku yang terus menghisap vaginanya yang banjir itu.
    Begitu seterusnya hingga, “Udahh, aghh, masukin aja punya kamu, To”.

    Aku rebahkan mertuaku ranjang dengan pantat dan pinggulnya berada di pinggir ranjang, kedua kakinya kuangkat ke bahuku. Aku berlutut di lantai dengan penisku berada tepat di pintu liang vagina itu. Kumain-mainkan dulu kepala penisku di kelentitnya dengan berputar-putar lalu baru kuturunkan ke vaginanya. Perlahan tapi pasti kumasukkan penisku ke liang vaginanya.
    “Eghh.., sstt, pelan-pelan, To”
    “Mama kayak perawan aja”
    Setiap dorongan sepertinya ada yang mengganjal penisku di dalam vaginanya.
    “Eghh, aduh sakit, To”
    “Hah, sakit?”

    Sambil mendorong kugoyang-goyangkan juga pinggulku ke kiri dan ke kanan supaya lorong vaginanya agak melebar. Setiap dorongan juga kutarik sedikit penisku keluar lalu kudorong lagi supaya bagian yang sulit ditembus itu agak terbuka. Lalu, sleb, sleb, sleb, dengan tiga kali dorongan penisku sudah masuk semua ke dalam rongga vagina mertuaku. Aku berdiam sesaat hingga kurasakan denyutan kecil seperti hisapan-hisapan lembut. Ternyata mertuaku mempunyai vagina yang bisa menghisap-hisap penis. Mungkin karena jamu-jamuan yang rutin diminumnya sehingga dia bisa seperti ini.
    “Ayo To, nunggu apa lagi?”

    Kutarik dengan diiringi helaan nafasku, lalu ku dorong lagi hingga bless, bless, bless, penisku tertancap hingga pangkalnya. Keluar juga suara kecipak dari vagina mertuaku. Dari mulut kami juga keluar suara-suara desahan dan lenguhan nafas kami mewarnai suasana yang erotis.
    “Aghh, aghh, aghh, shh, ohh, aghh”, begitu suara deru nafas mertuaku.

    Aku tetap berkonsentrasi supaya penisku tidak menembak lebih dahulu dan orgasme namun karena nikmatnya vagina mertuaku ini membuatku tak tahan. Namun dengan mengatur nafas aku bisa mengimbangi permainannya. Sudah hampir satu jam kami saling asyik masyuk sampai tanda-tanda akan orgasme terasa pada kami.

    Kulihat gerakan mengejang dari perut mertuaku dan juga wajahnya yang semakin terlihat gelisah disertai keringat dan matanya yang turun seperti fly, kepalanya yang bergeser ke kiri dan ke kanan, tangannya juga berusaha menggapai apa yang bisa diremas. Itu biasanya gejala wanita yang akan orgasme.
    Tak lama kemudian, “Aghh, cepetan To, aku mau nyampe nih”
    “Aku juga, aghh”
    “Iiihh, aghh, ehmm, aghh”
    Begitu jeritan kecil dari mulut mertuaku disertai deru nafasnya menandakan bahwa dia telah orgasme.
    “Ughh, ughh, ughh”, begitu sisa nafasnya menikmati sensasi orgasme yang tiada tara.

    Aku juga merasakan hal yang sama dengan mengejangnya seluruh tubuhku dan menyemprotnya spermaku, entah berapa kali kusemprotkan cairan penuh kenikmatan ini ke dalam rahim mertuaku.
    Tubuh kami langsung lunglai. Aku langsung berbaring telungkup diatas mertuaku dengan kondisi penis yang masih menancap di vaginanya. Tak lama kemudian peniskupun layu dan terlepas dengan sendirinya dari liang vagina yang nikmat itu.
    “Kamu hebat juga, To”
    “Iya dong, Ma”
    “Jangan panggil Mama lagi”
    “Siapa dong?”
    “Heny aja”
    “Iya Hen, ughh gimana enak nggak?”
    “Enak tenan, lho”

    Mata mertuaku langsung sayu dan terpejam lalu tertidur. Aku turun dari tubuhnya dan juga merasa mengantuk sekali hingga aku juga tertidur. Tak terasa kami tertidur hingga aku terbangun dan mertuaku masih di sisiku sambil memeluk tubuhku. Tubuh kami masih telanjang bulat ketika itu.
    Tiba-tiba, “Ehmm, he, he, gimana kamu puas nggak?”
    “Iya Hen, aku puas banget. Aku sudah pengen begini sama kamu sejak lama tapi nggak tahu harus gimana dan takut kamunya marah”
    “Hhh”, mertuaku menghela nafas lega.
    “Yah, kan sekarang sudah”, kataku.
    “Tapi To, aku masih serr-serran lho”, begitu katanya sambil menggenggam penisku yang sedari tadi agak lunglai terasa seperti ingin bangun lagi.
    Sepertinya mertuaku ini tahu bagaimana cara membangunkan kembali penis melalui tekanan-tekanan pada urat-urat di tempat lain. Aku langsung menciumi buah dadanya dan tanganku mengobok-obok vaginanya. Mertuaku mulai terangsang kembali dan dengan cepat aku berada di posisi siap di atas tubuhnya. Dengan sekali dorongan, penisku sudah menancap di dalam vagina yang sudah becek itu.
    Mertuaku berkata, “To, aku yang di atas yah?”
    “Emangnya bisa?”
    “Bisa dong, kan udah nontonn filmnya Cheny”, rupanya mertuaku sering menonton VCD blue film dengan anaknya, Cheny.

    Jadi tidak heran kalau dia faham posisi-posisi dalam bercinta. Dengan berguling kini posisi tubuhnya berbalik berada di atasku. Mertuaku mencoba duduk dengan melipat kakinya lalu dia mulai bergoyang maju-mundur dan memutar ditingkahi dengan suara dari vaginanya hingga menambah gairahnya untuk memacu goyangannya. Aku dari bawah hanya memegangi buah pantatnya dan tanganku yang satu memainkan kelentitnya yang berada tepat berada di perutku. Hanya sekitar setengah jam mertuaku mulai menampakkan gejala ingin orgasme. Dalam hitungan detik dia sudah orgasme. Tubuhnya kembali lunglai dan berbaring di atas dadaku. wpreviewers.com Namun aku belum, hingga secepat kilat aku berbalik dan berada di atasnya dan langsung bergoyang untuk mengejar orgasmeku.
    “Aduhh udahh To, aughh, gelii, To..”, hingga beberapa detik kemudian aku merasakan orgasmeku yang kedua begitu nikmat dengan tembakan spermaku yang masih cukup kuat.

    Kami kemudian mengobrol hal-hal yang berbau pornografi dan erotis hingga terangsang kembali dan kami bersenggama lagi, begitu seterusnya hingga subuh. Entah sudah berapa kali kami melakukan hal yang sebenarnya merupakan aib bagi keluarga kami sendiri. Sekarang ini mertuaku sudah mempunyai cucu dan lebih menjaga jarak denganku. Dia merasa hal yang sudah kami lakukan itu adalah aib dan tidak sepantasnya dilakukan, dan jika kusinggung soal hal itu dia nampaknya agak marah dan tidak suka. Dia telah menjadi nenek yang baik bagi anakku.

    ***

    Baca Juga

  • Agus memperkosa Gadis Polos

    Agus memperkosa Gadis Polos

    Cerita Panas – Mitha terlambat bangun untuk berangkat sekolah, padahal sebelumnya dia selalu bangun lebih pagi. Mungkin semalam keasyikan nonton acara TV, sehingga pagi ini dia harus buru-buru kalau tidak ingin terlambat sampai di SMU. Mitha adalah pelajar kelas 1, minggu depan dia akan berulang tahun yang ke-15.

    Dengan wajah yang manis, rambut sebahu, kulit putih bersih, mata bening dan ukuran payudara 34B, tak heran Mitha selalu menjadi incaran para lelaki, baik yang sekedar iseng menggoda atau yang serius ingin memacarinya. Tetapi sampai hari ini Mitha belum menjatuhkan pilihannya.
    Alasannya cukup klasik, “Maaf ya.., kita temenan aja dulu.., soalnya saya belum berani pacaran.., khan masih kecil, ntar dimarahin ortu kalau ketahuan..” begitu selalu kilahnya kepada setiap lelaki yang mendekatinya.

    Begitulah Mitha, gadis manis yang belum terjamah bebasnya pergaulan metropolis seperti Jakarta tempatnya tinggal. Mitha mungkin akan cukup lama bertahan dalam keluguannya kalau saja peristiwa itu tidak terjadi erek erek singapore.

    Pagi itu selesai menyiapkan diri untuk berangkat, Mitha sedikit tergesa-gesa menjalankan Honda Supra-nya. Tanpa disadarinya dari kejauhan tiga pasang mata mulai mengintainya. Anton (25 tahun) mahasiswa salah satu PTS yang pernah ditolak cintanya oleh Mita, hari itu mengajak dua rekannya (Iwan dan Tejo) yang terkenal bejat untuk memberi pelajaran buat Mitha, karena Anton yang playboy paling pantang untuk ditolak, apalagi oleh gadis ingusan macam Mitha.

    Tepat di jalan sempit yang hampir jarang dilewati orang, Anton dan kawan-kawan memalangkan Toyota Land Cruser-nya, karena mereka tahu persis Mitha akan melewati jalan pintas ini menuju sekolahnya. Sedikit kaget melihat mobil menghadang jalannya, Mitha gugup dan terjatuh dari motornya. Anton yang berada di dalam mobil beranjak keluar.
    “Hai Mit.., jatuh ya..?” kata Anton dengan santainya.
    “Apa-apaan sih kamu..? Mau bunuh aku ya..?” hardik Mitha dengan wajah kesal.
    “Nggak.., cuman aku mau kamu jadi pacarku, jangan nolak lagi lho..! Ntar..” kata Anton yang belum sempat menyelesaikan kata-katanya.
    “Ntar apa..?” potong Mitha yang masih dengan wajah kesal.
    “Ntar gue perkosa lo..!”
    “Sialan dasar usil, cepetan minggir aku udah telat nih..!” bentak Mitha.

    Air mata di pipinya mulai menetes karena Anton tetap menghalangi jalannya.
    “Anton please.., minggir dong..!” pintanya sudah tidak sabaran lagi.
    Anton mulai mendekati Mitha yang gemetar tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi bajingan ini. Tiba-tiba dari arah belakang sebuah pukulan telak mendarat di tengkuk Mitha yang membuatnya pingsan seketika. Rupanya Iwan yang sedari tadi bersembunyi di balik pohon bersama delapan orang lainnya sudah tidak sabar lagi.
    “Ayo kita angkut dia..!” perintah Anton kepada teman-temannya.

    Singkat cerita, Mitha dibawa ke sebuah rumah kosong di pinggir kota. Letak rumah itu menyendiri, jauh dari rumah-rumah yang lainnya, sehingga apapun yang terjadi di dalamnya tidak akan diketahui siapapun.

    Sebuah tamparan di pipinya membuat gadis ini mulai siuman. Dengan tatapan nafsu dari dua lelaki yang sama sekali tidak dikenalnya kecuali satu orang, yaitu Anton. Mitha mulai ketakutan memandang sekelilingnya. Apa yang akan terjadi samar-samar mulai terbayang di matanya. Jelas sekali dia akan diperkosa oleh 3 orang. Rupanya mereka sudah tidak sabaran lagi untuk segera memperkosa Mitha. Tangan-tangan mereka mulai merobek-robek pakaian gadis itu dengan sangat kasar tanpa perduli teriakan ampum maupun tangisan Mitha.

    Setelah menelanjangi Mitha sehingga Mitha benar-benar bugil. Sekali sentak Iwan menjambak rambut Mitha dan menariknya, sehingga tubuh Mitha yang tekulai di lantai terangkat ke atas dalam posisi berlutut menghadap Iwan.
    “An.., lo mau gue apain nih cewek..?” kata Iwan sambil melirik ke arah Anton.
    “Terserah deh.., emang gue pikirin..!”
    Iwan menatap sebentar ke arah Mitha yang sudah sangat ketakutan, air matanya nampak mengalir dan, “PLAK..!” tamparan Iwan melayang ke pipinya.

    Anton dan yang lainnya mulai membuka pakaian masing-masing, sehingga sekejap orang-orang yang berada dalam ruangan itu semuanya telanjang bulat. Mitha yang terduduk di lantai karena dicampakkan Iwan kembali menerima perlakuan serupa dari Anton yang kembali menjambak rambutnya, hanya saja tidak menariknya ke atas, tetapi ke bawah, sehingga sekarang Mitha dalam posisi telentang. Teman-teman Anton memegangi kedua tangan dan kaki Mitha, sedangkan Anton duduk tepat di atas kedua payudara Mitha. Erek erek 2d Penis Anton yang sudah mengeras dengan panjang 18 cm ditempelkan ke bibir Mitha.

    “Ayo isep kontol gue..!” bentak Anton tidak sabaran.
    Karena Mitha tidak juga membuka mulutnya, Anton menampar Mitha berkali-kali. Karena tidak tahan, akhirnya mulut mungil Mitha mulai terbuka. Tanpa ampun Anton yang sudah tidak sabaran memasukkan penisnya sampai habis, tonjolan kepala penis Anton nampak di tenggorokan Mitha. Anton mulai memaju-mundurkan penisnya di mulut Mitha selama 5 menit tanpa memberi kesempatan Mitha untuk bernafas. Mitha kesakitan dan mulai kehabisan nafas, Anton bukannya kasihan tetapi malah semakin brutal menancapkan penisnya.

    Selang beberapa saat, Anton mengeluarkan penisnya dari mulut Mitha, dan segera diganti oleh Penis Iwan yang panjangnya hampir 20 cm. Tejo yang sedari tadi memegang kaki Mitha mulai menjalankan aksinya. Paha Mitha ditarik ke atas dan mengarahkan penisnya ke vagina Mitha. Penis Tejo yang paling besar di antara kedua rekannya tidak terlalu gampang menembus vagina Mitha yang memang sangat sempit, karena masih perawan. edchiryouyaku.net Tetapi Tejo tidak perduli, penisnya terus ditekan ke dalam vagina Mitha dan tidak berapa lama Mitha tampak meringis kesakitan, tetapi tidak mampu bersuara karena mulutnya tersumbat penis Iwan yang dengan kasarnya menembus hingga tenggorokannya.

    Tejo memaju-mundurkan penisnya ke dalam vagina Mitha dan nampak darah mulai menetes dari vagina Mitha. Keperawanan Mitha telah dikoyak Tejo. Iwan yang tidak puas akan “pelayanan” Mitha nampak kesal.
    “Ayo isep atau gue cekik lo..!” bentaknya ke arah Mitha yang sudah dingin pandangannya.
    Mitha yang sudah putus asa hanya dapat menuruti keinginan Iwan. Mulutnya dimaju-mundurkan sambil menghisap penis Iwan.
    “Ayo cepat..!” kata Iwan lagi.
    Karena dalam posisinya yang telentang, agak sulit bagi Mitha menaik-turunkan kepalanya untuk mengulum penis Iwan, tetapi Iwan rupanya tidak mau perduli. Mitha melingkarkan tangannya ke pinggang Iwan, sehingga dia dapat sedikit mempercepat gerakannya sesuai keinginan Iwan.

    Hampir 30 menit berlalu, Iwan hampir ejakulasi, rambut Mitha ditarik ke bawah sehingga wajahnya menengadah ke atas. Iwan mencabut penisnya dari mulut Mitha.
    “Buka yang lebar dan keluarin lidah lo..!” bentaknya lagi.
    Mitha membuka mulutnya lebar-lebar dan menjulurkan lidahnya keluar. Iwan memasukkan kembali setengah penisnya ke mulut Mitha dan, “Ah.., crot.. crot.. crot..!” sperma Iwan yang banyak masuk ke mulut Mitha.
    “Telan semuanya..!”

    Mitha terpaksa menelan semua sperma Iwan yang masuk ke mulutnya, walau sebagian ada yang mengalir di sela-sela bibirnya.

    Tejo yang juga hampir ejakulasi mencabut penisnya dari vagina Mitha dan merangkat ke atas dada Mitha dan bersamaan dengan Iwan mencabut penisnya dari mulut Mitha. Tejo memasukkan penisnya ke mulut Mitha sampai habis masuk hingga ke tenggorokan mitha.
    Dan, “Crot.. crot.. crot..!” kali ini sperma Tejo langsung masuk melewati tenggorokan Mitha.
    Anton yang sedari tadi menonton perbuatan kedua rekannya melakukan hal serupa yang dilakukan Tejo, hanya saja Anton menyemprotkan spermanya ke dalam vagina Mitha.

    Begitulah selanjutnya, masing-masing dari mereka kembali memperkosa Mitha sehingga baik Anton, Tejo dan Iwan dapat merasakan nikmatnya vagina Mitha dan hangatnya kuluman bibir Mitha yang melingkari penis-penis mereka. Prediksi buku togel Mereka benar-benar sudah melampaui batasan keinginan berbalas denadam terhadap Mitha yang tadinya masih polos itu.

    Sebelum meninggalkan Mitha sendirian di rumah kosong, mereka sempat membuat photo-photo telanjang Mitha yang dipergunakan untuk mengancam Mitha seandainya buka mulut. Photo-photo tersebut akan disebarkan ke seantero sekolah Mitha jika memang benar-benar Mitha melaporkan hal tersebut ke orang lain.

    Hari-hari selanjutnya dengan berbagai ancaman, Mitha terpaksa pasrah diperkosa kembali oleh Anton dan kawan-kawan sampai belasan kali. Dan setiap kali diperkosa, jumlahnya selalu bertambah, hingga terakhir Mitha diperkosa 40 orang, dan dipaksa menelan sperma setiap pemerkosanya. Sungguh malang nasib Mitha.

    ***

    Baca Juga

  • Bercinta dengan Gadis Karoke

    Bercinta dengan Gadis Karoke

    Cerita Panas – Istri sudah punya. Anak juga sudah sepasang. Rumah, meskipun cuma rumah BTN juga sudah punya. Mobil juga meski kreditan sudah punya. Mau apalagi? Pada awalnya aku cuma iseng-iseng saja. Lama-lama jadi keterusan juga. Dan itu semua karena makan buah terlarang.

    Kehidupan rumah tanggaku sebetulnya sangat bahagia. Istriku cantik, seksi dan selalu menggairahkan.
    Dari pernikahan kami kini telah terlahir seorang anak laki-laki yang kini berusia delapan tahun dan seorang anak cantik berusia tiga tahun, aku cuma pegawai negeri yang kebetulan punya kedudukan dan jabatan yang lumayan.

    Tapi hampir saja biduk rumah tanggaku dihantam badai. Dan memang semua ini bisa terjadi karena keisenganku, bermain-main api hingga hampir saja menghanguskan mahligai rumah tanggaku yang damai. Prediksi macau 5d Aku sendiri tidak menyangka kalau bisa menjadi keterusan begitu.

    Terus terang waktu itu aku sebenarnya tertarik dengan salah seorang gadis di sana. Wajahnya cantik, Tubuhnya juga padat dan sintal, kulitnya kuning langsat. Dan aku memperkirakan umurnya tidak lebih dari delapan belas tahun. Aku ingin mendekatinya, tapi ada keraguan dalam hati. Aku hanya memandanginya saja sambil menikmati minuman ringan, dan mendengarkan lagu-lagu yang dilantunkan pengunjung secara bergantian.

    Tapi sungguh tidak diduga sama sekali ternyata gadis itu tahu kalau aku sejak tadi memperhatikannya. Sambil tersenyum dia menghampiriku, dan langsung saja duduk disampingku. Bahkan tanpa malu-malu lagi meletakkan tangannya di atas pahaku. Tentu saja aku sangat terkejut dengan keberaniannya yang kuanggap luar biasa ini.

    “Sendirian aja nih…, Omm..”, sapanya dengan senyuman menggoda.
    “Eh, iya..”, sahutku agak tergagap.
    “Perlu teman nggak..?” dia langsung menawarkan diri.
    Aku tidak bisa langsung menjawab. Sungguh mati, aku benar-benar tidak tahu kalau gadis muda belia ini sungguh pandai merayu. Sehingga aku tidak sanggup lagi ketika dia minta ditraktir minum. Meskipun baru beberapa saat kenal, tapi sikapnya sudah begitu manja. Bahkan seakan dia sudah lama mengenalku. Padahal baru malam ini aku datang ke klub karaoke ini dan bertemu dengannya.

    Semula aku memang canggung, Tapi lama-kelamaan jadi biasa juga. Bahkan aku mulai berani meraba-raba dan meremas-remas pahanya. Memang dia mengenakan rok yang cukup pendek, sehingga sebagian pahanya jadi terbuka.

    Hampir tengah malam aku baru pulang. Sebenarnya aku tidak biasa pulang sampai larut malam begini. Tapi istriku tidak rewel dan tidak banyak bertanya. Sepanjang malam aku tidak bisa tidur. Wajah gadis itu masih terus membayang di pelupuk mata. Senyumnya, dan kemanjaannya membuatku jadi seperti kembali ke masa remaja.
    Esoknya Aku datang lagi ke klub karaoke itu, dan ternyata gadis itu juga datang ke sana. Pertemuan kedua ini sudah tidak membuatku canggung lagi. Bahkan kini aku sudah berani mencium pipinya. Malam itu aku benar-benar lupa pada anak dan istri di rumah. Aku bersenang-senang dengan gadis yang sebaya dengan adikku. Kali ini aku justru pulang menjelang subuh.

    Mungkin karena istriku tidak pernah bertanya, dan juga tidak rewel. Aku jadi keranjingan pergi ke klub karaoke itu. Dan setiap kali datang, selalu saja gadis itu yang menemaniku. Dia menyebut namanya Reni. Entah benar atau tidak, aku sendiri tidak peduli. Tapi malam itu tidak seperti biasanya. Reni mengajakku keluar meninggalkan klub karaoke. Aku menurut saja, dan berputar-putar mengelilingi kota Jakarta dengan kijang kreditan yang belum lunas.
    Entah kenapa, tiba-tiba aku punya pikiran untuk membawa gadis ini ke sebuah penginapan. Sungguh aku tidak menyangka sama sekali ternyata Reni tidak menolak ketika aku mampir di halaman depan sebuah losmen. Dan dia juga tidak menolak ketika aku membawanya masuk ke sebuah kamar yang telah kupesan.

    Jari-jariku langsung bergerak aktif menelusuri setiap lekuk tubuhnya. Bahkan wajahnya dan lehernya kuhujani dengan ciuman-ciuman yang membangkitkan gairah. Aku mendengar dia mendesah kecil dan merintih tertahan. Live draw macau 4d Aku tahu kalau Reni sudah mulai dihinggapi kobaran api gairah asmara yang membara.
    Perlahan aku membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan satu persatu aku melucuti pakaian yang dikenakan Reni, hingga tanpa busana sama sekali yang melekat di tubuh Reni yang padat berisi.

    Reni mendesis dan merintih pelan saat ujung lidahku yang basah dan hangat mulai bermain dan menggelitik puting payudaranya. Sekujur tubuhnya langsung bergetar hebat saat ujung jariku mulai menyentuh bagian tubuhnya yang paling rawan dan sensitif. Jari-jemariku bermain-main dipinggiran daerah rawan itu. Tapi itu sudah cukup membuat Reni menggelinjang dan semakin bergairah.
    Tergesa-gesa aku menanggalkan seluruh pakaian yang kukenakan, dan menuntun tangan gadis itu ke arah batang penisku. Entah kenapa, tiba-tiba Reni menatap wajahku, saat jari-jari tangannya menggenggam batang penis kebanggaanku ini, Tapi hanya sebentar saja dia menggenggam penisku dan kemudian melepaskannya. Bahkan dia melipat pahanya yang indah untuk menutupi keindahan pagar ayunya.

    “Jangan, Omm…”, desah Reni tertahan, ketika aku mencoba untuk membuka kembali lipatan pahanya.
    “Kenapa?” tanyaku sambil menciumi bagian belakang telinganya.
    “Aku…, hmm, aku…” Reni tidak bisa meneruskan kata-katanya. Dia malah menggigit bahuku, tidak sanggup untuk menahan gairah yang semakin besar menguasai seluruh bagian tubuhnya. Saat itu Reni kemudian tidak bisa lagi menolak dan melawan gairahnya sendiri, sehingga sedikit demi sedikit lipatan pahanya yang menutupi vaginanya mulai sedikit terkuak, dan aku kemudian merenggangkannya kedua belah pahanya yang putih mulus itu sehingga aku bisa dengan puas menikmati keindahan bentuk vagina gadis muda ini yang mulai tampak merekah.
    Dan matanya langsung terpejam saat merasakan sesuatu benda yang keras, panas dan berdenyut-denyut mulai menyeruak memasuki liang vaginanya yang mulai membasah. Dia menggeliat-geliat sehingga membuat batang penisku jadi sulit untuk menembus lubang vaginanya. Tapi aku tidak kehilangan akal. Aku memeluk tubuhnya dengan erat sehingga Reni saat itu tidak bisa leluasa menggerak-gerakan lagi tubuhnya. Saat itu juga aku menekan pinggulku dengan kuat sekali agar seranganku tidak gagal lagi.

    Berhasil!, begitu kepala penisku memasuki liang vagina Reni yang sempit, aku langsung menghentakkan pinggulku ke depan sehingga batang penisku melesak ke dalam liang vagina Reni dengan seutuhnya, seketika itu juga Reni memekik tertahan sambil menyembunyikan wajahnya di bahuku, Seluruh urat-urat syarafnya langsung mengejang kaku. Dan keringat langsung bercucuran membasahi tubuhnya. Saat itu aku juga sangat tersentak kaget, aku merasakan bahwa batang penisku seakan merobek sesuatu di dalam vagina Reni, dan ini pernah kurasakan pula pada malam pertamaku, saat aku mengambil kegadisan dari istriku. Aku hampir tidak percaya bahwa malam ini aku juga mengambil keperawanan dari gadis yang begitu aku sukai ini. Data macau togel 2024 Dan aku seolah masih tidak percaya bahwa Reni ternyata masih perawan.
    Aku bisa mengetahui ketika kuraba pada bagian pangkal pahanya, terdapat cairan kental yang hangat dan berwarna merah. Aku benar-benar terkejut saat itu, dan tidak menyangka sama sekali, Reni tidak pernah mengatakannya sejak semula. Tapi itu semua sudah terjadi. Dan rasa terkejutku seketika lenyap oleh desakan gairah membara yang begitu berkobar-kobar.

    Aku mulai menggerak-gerakan tubuhku, agar penisku dapat bermain-main di dalam lubang vagina Renny yang masih begitu rapat dan kenyal, Sementara Reni sudah mulai tampak tidak kesakitan dan sesekali tampak di wajahnya dia sudah bisa mulai merasakan kenikmatan dari gerakan-gerakan maju mundur penisku seakan membawanya ke batas ujung dunia tak bertepi.

    Malam itu juga Reni menyerahkan keperawannya padaku tanpa ada unsur paksaan. Meskipun dia kemudian menangis setelah semuanya terjadi, Dan aku sendiri merasa menyesal karena aku tidak mungkin mengembalikan keperawanannya. Aku memandangi bercak-bercak darah yang mengotori sprei sambil memeluk tubuh Reni yang masih polos dan sesekali masih terdengar isak tangisnya.

    “Maafkan aku, Reni. Aku tidak tahu kalau kamu masih perawan. Seharusnya kamu bilang sejak semula…”, kataku mencoba menghibur.

    Reny hanya diam saja. Dia melepaskan pelukanku dan turun dari pembaringan. Dia melangkah gontai ke kamar mandi. Sebentar saja sudah terdengar suara air yang menghantam lantai di dalam kamar mandi. Sedangkan aku masih duduk di ranjang ini, bersandar pada kepala pembaringan.

    Aku menunggu sampai Reni keluar dari kamar mandi dengan tubuh terlilit handuk dan rambut yang basah. Aku terus memandanginya dengan berbagai perasaan berkecamuk di dalam dada. Bagaimanapun aku sudah merenggut kegadisannya. Dan itu terjadi tanpa dapat dicegah kembali. Reni duduk disisi pembaringan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk lain.

    Aku memeluk pinggangnya, dan menciumi punggungnya yang putih dan halus. Reni menggeliat sedikit, tapi tidak menolak ketika aku membawanya kembali berbaring di atas ranjang. Gairahku kembali bangkit saat handuk yang melilit tubuhnya terlepas dan terbentang pemandangan yang begitu menggairahkan datang dari keindahan kedua belah payudaranya yang kencang dan montok, serta keindahan dari bulu-bulu halus tipis yang menghiasi di sekitar vaginanya.
    Dan secepat kilat aku kembali menghujani tubuhnya dengan kecupan-kecupan yang membangkitkan gairahnya. Reni merintih tertahan, menahan gejolak gairahnya yang mendadak saja terusik kembali.
    “Pelan-pelan, Omm. Perih…”, rintih Reni tertahan, saat aku mulai kembali mendobrak benteng pagar ayunya untuk yang kedua kalinya. Renny menyeringai dan merintih tertahan sambil mengigit-gigit bibirnya sendiri, saat aku sudah mulai menggerak-gerakan pinggulku dengan irama yang tetap dan teratur.

    Perlahan tapi pasti, Reni mulai mengimbangi gerakan tubuhku. Sementara gerakan-gerakan yang kulakukan semakin liar dan tak terkendali. printrbottalk.com Beberapa kali Reni memekik tertahan dengan tubuh terguncang dan menggeletar bagai tersengat kenikmatan klimaks ribuan volt. Kali ini Reni mencapai puncak orgasme yang mungkin pertama kali baru dirasakannya.

    Tubuhnya langsung lunglai di pembaringan, dan aku merasakan denyutan-denyutan lembut dari dalam vaginanya, merasakan kenikmatan denyut-denyut vagina Reni, membuatku hilang kontrol dan tidak mampu menahan lagi permainan ini.. hingga akhirnya aku merasakan kejatan-kejatan hebat disertai kenikmatan luar biasa saat cairan spermaku muncrat berhamburan di dalam liang vagina Renny.

    ***

    Baca Juga

  • JILBAB SEMOK – KISAH JILBABER TERNODA Part 8

    JILBAB SEMOK – KISAH JILBABER TERNODA Part 8

    Cerita Seks Bersambung – Beduin kembali memberikan aba-aba kepada Ali agar melepaskan cengkeramannya di pergelangan kaki Latifa, lalu digeser dan didorongnya sebuah bantal di bawah pinggul Latifa, kemudian diletakkannya kedua lutut Latifa di atas pundaknya. Dengan demikian terbukalah selangkangan Latifa secara optimal.

    Celah memeknya yang terlihat licin mengkilat dibasahi oleh cairan lendir kewanitaan akibat orgasmenya, kini terkuaklah melebar dihadapan rudal Beduin yang bagaikan pentungan bertopi baja. Satu dua tetes air mazi telah mulai keluar dari saluran kencing Latifa pada saat Beduin meletakkan kepala penis kebanggaannya itu di gerbang kenikmatan si gadis kota.

    Tapi Beduin tidak buru-buru untuk melakukannya. Ia ingin menyaksikan bagaimana wajah keputus-asaan Latifa saat gairah birahinya terus menerus dipacu. Secara sangat sadis Beduin kembali mengusap-usap dan memilin-milin klitoris Latifa dengan jari tengah dan ibu jarinya secara ritmis namun tanpa henti. Akibatnya, Latifa yang masih lemas sehabis mencapai puncak orgasmenya dan agak lega memperoleh kesempatan sebentar untuk melepaskan lelah di tebing gunung, mendadak dipaksakan untuk mendaki kembali naik ke gunung guna mencapai puncak orgasme berikutnya.

    “Hehehe… gimana, Neng, enak tenan ya? Hmm… ini biji pentil ngumpet melulu, bapak pijit-pijit ya biar gedean dikit dan gampang digaruk-garuk… hehehe, lha tuh nongol lagi. Kelihatan mulai merah, bikin bapak jadi nafsu aja. Ntar dicup-cup dan digigit-gigit mau ya, Neng… tapi sekarang bapak mau kasih bibit unggul dulu ke Eneng, hehehe…” Beduin cengengesan dan tersenyum lebar penuh kemesuman ketika melihat mangsanya tak berdaya.

    Latifa hanya dapat menatap Beduin dengan mata yang sayu dan kuyu, tenaganya hampir habis terkuras, namun sang pemerkosa baru akan memulai dengan penjarahannya.

    Tanpa rasa jijik sedikitpun, Beduin mulai menjilati tebing bukit kemaluan Latifa. Lidahnya bagaikan ular, menyelinap memasuki celah kenikmatan yang telah mulai licin oleh ludah dan lendir kewanitaan itu. Sambil menjilat bagian dalam vagina Latifa, ibu jari dan telunjuk tangan kiri Beduin tak henti-hentinya mengusap dan memilin-milin kelentit kesayangannya. Kemudian tanpa peringatan apapun, Beduin menusuk masuk lubang dubur Latifa dengan jari tengah kanannya!!

    “Aaah… a-aduh! Jangan! Toloong! Enggak mau! Aihh… a-ampun! Haraam, Pak! Jangaan! Kasihani saya, Pak! Ngiluu… auw!!” Latifa melolong menjerit-jerit bagaikan hewan akan disembelih. Tubuhnya kembali menggeliat-geliat dan meronta, berusaha menggeser ke kiri dan ke kanan menghindari perbuatan maksiat yang sedang dilakukan oleh Ustadz cabul itu.

    “Geli ngilu ya, Neng?! Ntar juga biasa… percuma ngelawan, Neng, mendingan nyerah dan nikmati aja. Sekarang masih belon biasa, tapi ditanggung sebentar ketagihan minta nambah! Hmmh… makin dijilat semakin wangi nih memek! Wuih, juga makin gede dan merah aja nih itil. Udah nggak malu lagi rupanya, hehehe…” Semakin semangat dan bernafsu Beduin merangsang semua tempat peka di selangkangan Latifa.

    Ustadz cabul itu memutuskan untuk sekali lagi memaksa Latifa mengalami orgasme dengan cara rangsangan oral -oleh karena itu kembali dijilat-jilat dan digigit-gigitnya bibir dan dinding kemaluan Latifa, lalu digesek-gesekkannya kumis pendeknya yang bagaikan sikat ijuk itu menusuk kelentit Latifa.

    Tak tahu harus melakukan perlawanan apa lagi, Latifa hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan serta memukul-mukulkan tumit kakinya ke punggung Beduin. Namun semuanya tak ada guna sama sekali, kelentitnya yang sedemikian peka terus disiksa habis-habisan. Ibarat disentuh dengan kawat beraliran listrik, maka klitoris Latifa menyalurkan rangsangan tiada hentinya ke seluruh tubuh indah gadis itu yang semakin meliuk dan menggelepar-gelepar. Arus rangsangan itu juga memasuki seluruh permukaan syaraf di kepala dan otak Latifa. Dan terus menerus menyerang tak kenal lelah hingga…

    “Aaahh… auw!! Pak, a-ampuun! Ayuk mesti ke belakang, mesti ke belakaang! Aoohh… lepaskan! Ayuk mesti ke belakang! Aiihh…” Latifa melolong disertai ketegangan, badannya kaku melenting ke atas memberikan tanda tercapainya lagi orgasme untuk yang ke sekian kalinya.

    “Hehehe, si neng enggak usah kebelakang… ini namanya pipis air mazi, Neng. Iya, pinter gitu… pipis terus enggak apa-apa, malahan jadi makin licin nih terowongan. Bapak mau masuk, jangan ngelawan atau berontak segala. Ikutin aja semua kemauan bapak, ntar pasti ketagihan… Mau dibikinin anak enggak, Neng?! Nah, bapak mulai permisi masuk ya,” sambil berceloteh Beduin menekan kepala penisnya yang besar dengan batang kemaluan hitam penuh urat melingkar-lingkar dan agak bengkok itu ke tengah celah kewanitaan Latifa. Perlahan-lahan ia mendorong hingga mulai masuk sedikit, lalu ditekannya lagi dengan lebih kuat.

    “Tahan dikit ya, Neng… pasti ngilu dijebol barang pusaka bapak! Nih bapak tekan dan puter-puter dikit ya kaya buka peles botol… kalo sakit bilang ya, Neng, bapak sayang si neng geulis! Ooh… sempitnya!!” ujar Ustadz Beduin mulai menodai Latifa yang telah tak berdaya di bawah kekuasaannya itu.

    Latifa merasakan perutnya menegang dan mengejang karena secara tak sadar hati nuraninya tetap menolak. Otot-otot vaginanya mengerut berkontraksi seolah berusaha menahan serangan batang besar dan panjang di liang kemaluannya. Dia mengeluh dan mendesis tak karuan ketika merasakan desakan kepala penis Beduin yang menyelinap ke liang kenikmatannya. Ketika akhirnya kepala penis itu berhasil bertahta di tengah jepitan vaginanya, maka pandangan Latifa jadi semakin nanar. Butir-butir keringat semakin nyata mengalir di atas dahinya.

    Tanpa rasa belas kasihan lagi kini Beduin menyekal keras kedua pergelangan kaki Latifa yang langsing dan mengangkangkan paha belalang idaman setiap pria itu selebar mungkin sehingga Latifa jadi menjerit-jerit kesakitan. Dan jeritan itu semakin memilukan, semakin menimbulkan rasa iba ketika penis Beduin membelah lipatan kewanitaan Latifa mili demi mili meski si empunya tetap tak rela menerima perkosaan yang tak mungkin dielakkan lagi itu.

    “Ya Allah… tolong! Sialan semuanya! Bangs…mmpffh!!” teriakan Latifa terhenti dan terbungkam karena mulutnya disergap dengan penuh kerakusan oleh Beduin.

    Perkosaan yang dialami Latifa oleh ayah tirinya beberapa hari lalu cukup menyakitkan memeknya, namun apa yang kini dialaminya melebihi beberapa kali penderitaannya. Liang kewanitaannya jadi terasa sangat panas, perih, ngilu dan seolah-olah dibelah oleh kayu kasti yang ketika masih remaja sering dimainkannya di sekolah menengah.

    Penis Beduin bukan hanya lebih panjang dan lebar daripada penis ayah tirinya, namun juga agak membengkok ke atas sehingga proses pemasukannya menjadi jauh lebih sulit. Untuk itu Beduin secara sangat perlahan melakukan tarik-dorong dengan disertai mengubah-ngubah arah tusukannya karena ia memang sudah berpengalaman dalam menjarah pelbagai perempuan. Dengan cara tarik-dorong ini maka dinding-dinding kewanitaan Latifa yang memang masih sangat sempit untuk ukuran penis Beduin, jadi seolah-olah ikut ditarik keluar-masuk. Namun meski telah basah oleh lendir air mazinya, Latifa tetap saja merasakan perih dan ngilu yang teramat sangat hingga menyebabkannya terus melenguh dan merintih keras, disertai mengalirnya air mata di pipi gadis cantik itu.

    “Tenang, Neng… shhh… jangan ngelawan! Pasrah aja! Emang sekarang sakit, tapi itu biasa, Neng… jangan sedih-sedih dong, kan lagi dikasih kenikmatan! Semua perempuan emang nangis kalo ngelayani abang, tapi sebentar lagi pengen minta tambah,” Beduin memberikan tanda kepada kedua lelaki lainnya untuk melepaskan bantuan mereka, dan kini Beduin sendiri yang merejang kedua pergelangan tangan Latifa di atas kepalanya.

    Tarik dorong, maju mundur, serong ke kiri, putar ke kanan, sekali-kali perlahan, lalu berubah menjadi cepat, ganti lagi ritme bagaikan penari dangdut yang sedang goyang pinggul. Semuanya dipraktekkan oleh Ustadz cabul ini. Gerakan-gerakan itu sangat memberikan kenikmatan baginya, namun bagi Latifa adalah siksaan sakit tanpa henti.

    Beduin menatap dengan penuh kepuasan perawat cantik yang tengah dikuasainya itu. Dilihatnya wajah demikian ayu manis di bawah tindihannya yang terlihat lelah kehabisan tenaga. Mata yang biasanya amat jeli bersinar kini telah kuyu hampir tertutup dan basah pelupuknya. Hidung mancung bangir dengan dua lubang sangat mungil kembang-kempis mengiring isak tangis yang tersedu-sedu. Mulut yang dihiasi dua bibir merah basah setengah terbuka membuat Beduin tak henti-henti melumatnya.

    *** SELESAI ***

    Baca Juga

  • JILBAB SEMOK – KISAH JILBABER TERNODA Part 7

    JILBAB SEMOK – KISAH JILBABER TERNODA Part 7

    Cerita Seks Bersambung – Latifa dengan segera berusaha memberontak, namun Dollah yang berada di ujung ranjang langsung memegang dan merejang kedua pergelangan tangannya yang langsing lalu menekannya kuat-kuat ke kasur sehingga Latifa jadi tak berdaya lagi untuk menepis tangan Beduin yang mulai meraba-raba bukit kembar di dadanya, apalagi untuk mencakar muka penjarahnya, tak ada kemungkinan sama sekali.

    Meski begitu, Latifa tetap melawan sekuat tenaga dan meronta-ronta. Ia tidak ingin menyerah dengan mudah. Namun tentu saja hal ini sia-sia karena tenaga Beduin yang seolah dirasuki setan terlalu kuat, apalagi dibantu oleh Dollah yang ikut merejang tangannya. Rontaan serta tendangan-tendangan kaki Latifa hanya menyebabkan gaun tidur penutup tubuhnya kini semakin tersingkap, membuat betis dan pahanya yang begitu putih dan mulus jadi terpampang jelas.

    “Mphfhh… sialaaan! Jahanaaam! S-siapa kamuu! Mpffhff… auowfhh… hhmmfh…” Latifa berusaha memaki-maki lelaki yang sedang menciuminya, namun yang dilihatnya hanya mata jelalatan yang penuh nafsu.

    Latifa bahkan merasakan bahwa gaunnya telah tersibak seluruhnya ke atas dan hanya dalam waktu beberapa menit kemudian tangan Beduin yang meraba-raba gundukan dadanya dari luar gaun tidurnya dengan kasar merenggut telah bh berukuran 34B-nya hingga terlepas. Kini terbukalah kedua buah dada Latifa yang sangat sekal dan padat dengan dihiasi dua puting coklat yang terlihat mencuat ke atas, nampak begitu menggemaskan bagi setiap lelaki yang melihatnya.

    “Hmhh… wangi tenan nih tetek. Pasti penuh isinya, udah lama enggak ada yang nyusu. Abang punya sapi dan kambing, jadi ngerti banget gimana mesti keluarin susu perahan alam si néng. Abang isep dan gigit-gigit biar bisa keluar ya, udah pengen ngerasain susu gadis muda. Ssshh… uuuh… maniisnya!!” celoteh Ustadz Beduin yang seolah telah kerasukan sambil menghisap dan menggigit puting Latifa, membuatnya jadi menggelinjang mati-matian.

    Air mata mengalir kembali dengan derasnya membasahi pipi Latifa karena peristiwa biadab beberapa hari lalu kini terulang kembali, bahkan sekarang yang menggarap tubuhnya adalah lelaki setengah baya yang sama sekali tidak dikenalnya.

    Ketika melihat betapa eratnya kerjasama antara ketiga lelaki itu maka Latifa menarik kesimpulan bahwa semuanya telah diatur oleh Dollah. Ayah tirinya itu sudah merancang pelecehan ini dengan seksama. Betapa Latifa menyesali kebodohannya selama ini -segala macam sopan santun dan adat istiadat tidak ada maknanya bagi laki-laki itu. Dollah hanya mempunyai satu keinginan, yaitu menggarap tubuh montoknya habis-habisan. Dan sekarang menawarkannya kepada laki-laki lain

    Sambil meremas-remas dan menggigiti puting susu Latifa, dengan sigapnya Beduin telah menindih tubuh gadis itu dan gaun tidurnya juga telah dicabik-cabik sehingga tubuh montok Latifa telah telanjang bulat di bawah tubuhnya.

    Dollah yang dari tadi hanya memegangi, sedikit demi sedikit mulai tidak dapat menahan nafsunya melihat tubuh putri tirinya yang berada dalam cengkraman Ustadz Beduin yang terus menciumi dan menyedot-nyedot puting susu Latifa yang telah tegang mencuat. Maka sambil tetap memegangi kedua pergelangan tangan Latifa ke atas kepala, Dollah menunduk dan mulai menciumi pipi dan bibir Latifa yang setengah merekah.

    “Huekhg!” Latifa merasa sangat jijik dan mual karena bau mulut Dollah yang tak pernah menyikat giginya, sehingga mulut itu selalu beraroma asam tak menyenangkan.

    Ali yang mengambil semua adegan penjarahan itu dengan ponselnya ikut merasa si ‘adik’ di balik celana mulai terbangun, apalagi melihat geliatan tubuh Latifa yang putih mulus tanpa daya ketika Beduin mulai merosotkan badannya dan menciumi pusar Latifa yang melekuk indah di perutnya yang datar.

    Kumis jenggot si Ustadz cabul menggelitik perut Latifa, membuatnya jadi kegelian dan semakin menendang-nendang dengan kaki jenjangnya yang diusahakannya agar selalu terkatup rapat. Namun apalah daya Latifa karena si Ustadz jahanam itu telah sempurna menempatkan diri di tengah kedua kaki si gadis cantik yang kini dipaksa melebar.

    Mata Beduin bagaikan akan meloncat keluar ketika melihat betapa indahnya pemandangan yang terpampang di hadapannya. Diantara kedua paha putih mulus Latifa terlihat selangkangannya yang membukit dengan belahan amat licin tanpa bulu. Tepat di bagian tengahnya tampak celah kenikmatan Latifa yang menekuk ke dalam, menyembunyikan rongganya yang sangat mungil dan sempit milik seorang gadis alim.

    Ustadz Beduin merasakan kemaluannya memberontak mengangguk-angguk karena tak sabar lagi ingin membelah lipatan hangat itu dan menerobos masuk untuk menyemburkan benihnya ke rahim yang masih jarang ditaburi oleh air mazi lelaki, terkecuali dalam peristiwa perkosaan beberapa hari lalu oleh ayah tirinya.

    Latifa menyadari kedudukannya yang sangat lemah dan tak akan bisa lolos dari bencana pelecehan kedua kalinya, dan harapannya kini hanyalah agar semuanya cepat berlalu dan ia akan meninggalkan desa kelahirannya untuk selama-lamanya. Karena itu dibiarkannya mulutnya dilumat habis-habisan oleh ayah tirinya, diusahakannya sedapat mungkin menahan nafas melalui hidung dan hanya menarik udara dari mulut saja. Dengan demikian tak begitu banyak aroma amat memuakkan dari mulut Dollah yang harus diciumnya. Selain itu ditutupnya matanya rapat-rapat karena Latifa tidak ingin melihat wajah para pemerkosanya, terutama Ustadz Beduin yang sama sekali tidak ia kenal sebelumnya.

    Namun Ustadz cabul itu bukan anak kemarin sore yang dapat begitu saja dipuaskan nafsunya. Latifa harus merasakan bahwa yang kali ini akan menggagahinya bukan lelaki sembarangan, melainkan seorang pemimpin di kampung yang cukup disegani karena mempunyai ‘senjata; yang jarang dimiliki oleh lelaki lain. Selain itu, dia mempunyai kondisi tubuh dan stamina yang sangat tangguh, melebihi kesanggupan lelaki desa yang jauh lebih muda darinya.

    Menikmati tubuh wanita yang digagahinya namun memejamkan mata tak mau melihat wajah sang pemerkosa bukanlah sesuatu yang dapat memuaskan Ustadz Beduin. Tak ada kepuasan lebih tinggi jika ia dapat mengawasi dan menatap wajah wanita yang semula menolak mentah-mentah namun akhirnya dapat dikalahkan. Terutama wajah ayu cantik berlinang air mata yang memohon belas kasihan dan mendengarkan ratapan minta ampun karena tak tahan dan tak sanggup lagi melayani kegagahan dan kejantanannya.

    Hal ini juga harus dialami oleh Latifa yang kini telah berada di dalam genggaman dan cengkramannya –gadis itu harus ditaklukkannya hingga bersedia melayani semua keinginan nafsu birahinya dengan senang hati, betapapun menjijikkan dan merendahkan diri bagi yang sedang diperkosa.

    Untuk mencapai tujuan itu maka tubuh sintal Latifa harus dipermainkan serta dirangsang sehingga mendekati titik didih birahi kewanitannya, sampai gadis itu jadi tidak sanggup lagi menahan diri serta rasa malunya untuk minta dipuaskan perlahan sirna, barulah saat itu Beduin akan menikmati kehangatan firdausi yang telah diidam-idamkannya sejak lama.

    Beduin memberikan tanda kepada Ali agar memegangi pergelangan kaki kiri Latifa dan menariknya selebar serta sejauh mungkin ke samping, sementara ia sendiri memegang pergelangan kaki kanan Latifa dan mulailah jari-jari Latifa yang kecil mungil itu dimasukkan ke dalam mulutnya, lalu dihisap-hisap dan dijilatinya, terutama di celah-celah diantara jari kaki yang begitu peka.

    Tentu saja Latifa langsung menggelinjang dan menggeliat-geliat tak karuan karena menghadapi serangan yang sama sekali tak diduganya ini. Belum pernah ada yang melakukan hal seperti ini kepadanya. Kumis dan jenggot pendek Beduin bagaikan sikat mengesek-gesek telapak kakinya, menggelitik celah jarinya yang secara bergantian dihisap-hisap pula.

    “Lepaas! Lepaskan aku! Mau diapaain?! Gelii…!! Aiih… aah… oooh… hhhh… enggak mau! Lepaskan! U-udah! Gelii… sialan semuaanya! Kalian bangsat! Lepaas! Ohmmph…” Latifa meliuk-liukkan tubuhnya yang telanjang, yang tanpa sadar malah semakin memacu nafsu birahi si Ustadz cabul.

    Kini jari-jari tangan ustadz Beduin yang berkuku panjang mulai mengusap-usap lembah kemaluan Latifa. Dibelahnya celah yang tertutup bibir kemaluan itu, dicarinya sebutir daging yang tersembunyi disitu, lalu dicubit dan dipilin-pilinnya pelan.

    Bagai terkena aliran listrik, tubuh Latifa langsung menggelepar dan mengejang sambil menendang-nendang tak berdaya karena kedua pergelangan kakinya dicekal erat. Beduin melakukan aksinya berganti-ganti; kaki kanan, kaki kiri, kembali ke kaki kanan, sementara tangan satunya tetap merangsang celah kewanitaan Latifa yang semakin lama menjadi semakin lembab. Semuanya tak sanggup lagi ditahan oleh tubuh Latifa sebagaimana wanita muda yang membutuhkan belaian dan kemesraan lawan jenisnya, tak perduli apakah rangsangan itu berdasarkan kasih sayang atau dipaksakan.

    “Udah! Aah… auw! Aihh… ohh… emhh… sshh… aughh!!” jeritan Latifa melengking memenuhi seluruh ruangan ketika badannya melengkung ke atas menandakan tercapainya orgasme pertama, sementara dihadapan matanya meledak jutaan bintang bagaikan kunang-kunang di malam gelap gulita.

    *** Bersambung ***

    – Part 8 –

    Baca Juga

  • JILBAB SEMOK – KISAH JILBABER TERNODA Part 6

    JILBAB SEMOK – KISAH JILBABER TERNODA Part 6

    Cerita Seks Bersambung – Selama tiga hari Latifa menderita demam -dan oleh karena itu tidak lagi mengalami pelecehan ulang yang sangat dibencinya itu- ia juga berharapan bahwa peristiwa yang dialaminya itu hanya terjadi sekali saja….

    Sementara itu, tiga hari setelah peristiwa penggarapan anak dan adik tirinya, pak Dollah serta Ghazali duduk di ruang tamu penghulu desa bernama Ustadz Beduin. Beduin adalah penghulu desa Bojongan yang terletak sekitar 20 km terpisah dari desa kediaman pak Dollah. Kunjungan pak Dollah dan Ali adalah kunjungan yang ‘terpaksa’ -karena seminggu lagi mereka harus membayar hutang mereka kepada Ustadz Beduin.

    Kedatangan pak Dollah serta Ghazali ke Ustadz Beduin adalah kedatangan ketiga kalinya untuk negosiasi soal yang sama : soal hutang mereka kepada Ustadz yang sudah lama jatuh tempo waktu pembayarannya, namun karena Dollah maupun Ali tak mempunyai pekerjaan tetap dan selama krisis ekonomi semakin sukar untuk keduanya mencari nafkah, maka mereka tetap belum mampu membayar balik hutang mereka.

    Hutang yang membebani pundak kedua lelaki pemerkosa Latifa itu sebetulnya adalah salah mereka sendiri, karena awal mulanya akibat kegemaran mereka berjudi – yaitu judi yang dimulai hanya kecil-kecilan : tarungan ayam jantan. Dari soal adu ayam kemudian dilanjutkan dengan pelbagai jenis permainan kartu – hanya ‘kecil-kecilan; saja.

    Namun apa yang dimulai dengan jumlah kecil akhirnya semakin bertambah, semakin bertumpuk, dan kedua ‘pejantan’ kampung itu akhirnya ibarat masuk jebakan lumpur hisap, semakin lama semakin dalam terseret lingkaran setan. Istilahnya yang tepat adalah gali lubang tutup lubang, pinjam uang di satu tempat untuk membayar hutang di tempat lain, dan akhirnya mereka jatuh ke dalam cengkeraman Ustadz lintah darat yang rupanya memang mengincar rumah milik istri pak Dollah yang baru meninggal itu.

    Pak Dollah tentu saja tak ingin kehilangan tempat meneduhnya , dan bagaikan ‘pucuk dicinta ulam tiba’ maka pada saat ini ada kemungkinan lain untuk menghapus semua hutangnya kepada Ustadz Beduin yang sama seperti Dollah adalah kambing bandot tua rakus daun muda – kesempatan ini harus dipakai sebelum Latifa balik ke kota!

    Ustadz Beduin yang telah jemu dan bosan selalu dijanjikan pengembalian hutang oleh Dollah dan Ali sebenarnya tak mau lagi bertemu dan menerima kunjungan kedua penghutang itu. Namun ketika oleh Dollah diperlihatkan KTP anak perempuan tirinya yang sempat dicurinya dari dompet Latifa, maka wajah Beduin yang sudah sangat kecut asam bagaikan cuka tahunan itu mulai berubah serta mengajak tamunya duduk.

    “Begini, pak Ustadz, kita kan sama-sama sudah dewasa dan tahu bagaimana kesenangan masing-masing. Saya mempunyai usul yang pasti sukar untuk ditolak oleh pak Ustadz -dan jika usul saya diterima, maka saya akan membantu untuk melaksanakannya. Pasti pak Ustadz tak akan menyesal, karena apa yang akan dinikmati oleh pak Ustadz harganya sangat mahal. Pasti lebih dari cukup untuk sekaligus menghapuskan semua hutang kami,” demikian pak Dollah mengajukan penawaran tanpa ada rasa malu sama sekali karena artinya menjual tubuh putrinya.

    “Pak Ustadz kan baru kehilangan istri yang kedua karena sakit parah dan meninggal, kemudian istri ketiga kan baru diceraikan karena selingkuh, sedangkan istri pertama pasti sudah uzur, mungkin tak begitu memenuhi apa keinginan pak Ustadz yang segar bugar seperti anak muda ini,” tambah Ghazali dengan siasat menjilat.

    “Kalau memang kalian bersedia untuk menyediakan dan mempersiapkan segalanya, maka mungkin semuanya nanti dapat diatur. Apakah cukup untuk menghapus hutang kalian yang begitu banyak, masih tanda tanya besar. Tergantung bagaimana pengalaman pertama,” balas Ustadz Beduin yang memegang dan menatap foto Latifa di KTP yang sedemikian cantik. Pikiran kotornya mulai membayangkan bagaimana geliatan perlawanan gadis kota yang akan menjadi bulan-bulanan permainan ranjang dan pelampiasan nafsunya ini.

    Ketiga lelaki dengan niat tak senonoh itu merancang bahwa Latifa tidak akan diberi kesempatan untuk kembali ke kota. Begitu keadaan tubuhnya pulih dari sakit demamnya, maka kesempatan itu tak boleh diabaikan dan langsung akan dijebak dan dijadikan ‘gadis persembahan’ untuk membayar hutang.

    Sementara itu hampir seminggu telah berlalu dan perlahan-lahan Latifa mulai sembuh dari demamnya. Keinginan untuk makan minum juga telah hampir pulih sehingga ia memutuskan untuk kembali ke kota dan melupakan segala pengalaman pahit yang telah dialaminya disini. Latifa berniat untuk kembali pada hari Jum’at setelah sarapan pagi dan untuk itu sebagai seorang terpelajar dan sopan santun, maka Latifa telah memberitahukan hal ini pada ayah tirinya (dengan wajah tanpa mimik sedikitpun dan suara sangat dingin serta datar tanpa emosi) dua hari sebelumnya yaitu di hari Rabu pagi ketika makan siang.

    Hal ini kembali merupakan kesalahan besar karena dengan demikian sang ayah tiri serta adik laki-laki tirinya yang sudah punya maksud jahat langsung dapat merancang jebakan yang akan dipasang. Mereka langsung memberitahu Ustadz Beduin bahwa ‘sang kelinci’ sudah siap untuk dijadikan santapan dan direncanakan bahwa hari Kamis petang menjelang malam Jum’at tanggal 13 adalah waktu terbaik untuk melaksanakan jebakan itu.

    Setelah makan tengah hari, Latifa mulai membereskan dan memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Sejak pagi hari Latifa melihat ayah dan saudara lelaki tirinya pergi meninggalkan rumah entah kemana, dan ketika makan tengah hari, mereka tak pulang, padahal biasanya paling tidak salah seorang dari mereka akan pulang makan di rumah. Namun hal itu sama sekali tak meresahkan Latifa, bahkan ia merasa gembira tak usah berhadapan muka atau bahkan duduk bersama satu meja dengan orang yang telah merenggut kegadisannya.

    Menjelang masuk awal petang hari, cuaca mulai memburuk. Udara semakin mendung dan hujan lebat mulai turun disertai dengan kilat dan petir sambung-menyambung. Semuanya tak menjadi bahan perhatian Latifa karena semua isi pikirannya hanya dipenuhi hasrat dan tujuan untuk kembali ke tempat kerjanya.

    Tanpa disadarinya keadaan di luar menjadi semakin gelap akibat mendung dan hujan lebat -bagai ulangan peristiwa dimana hari naas ketika Latifa kehilangan mahkota kegadisannya. Hanya bedanya kali ini lampu tetap menyala sehingga dengan penuh ketenangan Latifa dapat melanjutkan membereskan kopernya, hingga esok hari ia dapat berangkat setelah sarapan.

    Selesai merapihkan semuanya maka Latifa merasa lebih tenang. Diambilnya buku novel yang dibawanya dan belum sempat dibaca habis akibat peristiwa yang dia alami, dan juga karena sakitnya beberapa hari ini. Dalam posisi setengah duduk terbaring di ranjang, ia mulai membaca. Novel karya pengarang terkenal itu dengan cepat membawanya ke alam hayalan, mengajak Latifa agar melupakan duka nestapanya untuk sejenak.

    Tanpa terasa satu jam telah berlalu, ditambah dengan udara sejuk bahkan agak dingin akibat hujan lebat, maka Latifa mulai memejamkan matanya yang terasa berat. Tak lama kemudian tanpa terasa ia sudah semakin ngantuk, maka diletakkannya buku yang baru selesai dibacanya itu dan beberapa menit kemudian iapun jatuh tertidur…

    Sebagaimana rumah-rumah di pedalaman, maka kamar tidur Latifa juga tidak mempunyai lubang kunci. Derasnya hujan angin serta gemuruh guntur menyamarkan bunyi pintu kamar yang terbuka perlahan-lahan disertai intipan mata jalang Beduin yang entah kapan tiba.

    Jakun Beduin turun naik dan matanya melotot wanita muda ayu cantik terbaring di ranjang dalam posisi menyamping dengan wajah menghadap pintu dimana Beduin sedang mengintip. Ustadz pejantan cabul yang usianya mendekati limapuluh itu semakin blingsatan dan nafasnya semakin memburu melihat betis dan paha Latifa yang begitu putih dan mulus, tersingkap di bawah gamisnya.

    Meskipun bagian atas tubuh Latifa tertutup rapat dan rapi sebagaimana seorang gadis alim shalihah, namun semuanya tak dapat menyembunyikan tonjolan bukit kembar di dada Latifa yang bergerak naik turun seirama dengan tarikan nafas halusnya yang sama sekali tidak terdengar.

    Beduin merasakan alat kejantanannya langsung terbangun -apalagi disaat Latifa tanpa sadar sedikit membalikkan tubuhnya telentang sehingga pahanya jadi agak membuka, memperlihatkan sebentuk selangkangan yang tertutup oleh celana dalam kecil berwarna putih. Dari jarak itu, Beduin tidak dapat melihat dengan jelas apakah di balik celana dalam itu kemaluan Latifa bersembunyi di balik bulu lebat atau hanya sebagian tersembunyi di balik bulu halus…

    Ali dan Dollah yang berada di belakang Beduin hanya memberikan sedikit dorongan di punggung Ustadz mesum itu sebagai tanda bahwa mangsa yang diincar telah sedemikian lengah terbaring dan siap untuk dinikmati. Keduanya telah sepakat bahwa Dollah akan membantu Beduin untuk merejang Latifa agar tak sanggup berontak, sedangkan Ali baru akan menyusul ikut ‘pertempuran’ jika diperlukan tenaganya. Ali mempunyai tugas lebih penting, yaitu mengambil semua adegan penjarahan Latifa oleh pak Dollah dengan ponselnya, dan ini akan dijadikan bukti hingga tak dapat dipungkiri seandainya Beduin akan menyalahi janjinya dan tak bersedia menghapuskan hutang-hutang mereka sebagaimana ucapannya secara lisan.

    Memang pada saat itu ibarat iblis sedang menguasai alam sekitar desa -hujan semakin deras mengguyur sehingga di dalam rumah pun suram gelap, menguntungkan manusia-manusia yang hendak berniat jahat. Juga bunyi limpahan air hujan di atap rumah menutup semua bunyi lain -termasuk bunyi engsel pintu kamar tidur Latifa yang perlahan-lahan dibuka oleh Beduin, serta langkah ketiga lelaki jahanam yang kini telah berdiri di samping ranjang dan mengawasi si bidadari yang tertidur itu.

    Ali mempersiapkan ponselnya dan berdiri di sebelah kanan ranjang, sementara Dollah berada di ujung bagian kepala ranjang. Ketika keduanya telah siap dalam posisi yang strategis itu, maka Beduin segera melepaskan baju, celana panjang serta kaos yang menutupi badan atasnya sehingga ia kini hanya memakai celana dalam saja.

    Bagaikan seorang suami yang terpesona dengan kemolekan tubuh istrinya, maka Beduin dengan setengah merebahkan diri mulai mendekatkan mukanya yang bopéngan bekas cacar serta berhias kumis dan jenggot lebat bagai kambing gunung ke wajah Latifa yang sedemikian cantik jelita. Lalu dengan rakusnya ia mulai menciumi bibir tipis Latifa yang setengah terbuka.

    Latifa yang tengah terbuai di alam mimpi langsung terbangun begitu bibirnya direnggut dengan kasar oleh mulut dan lidah yang kini secara ganas dan kurang ajar serta beraroma tak sedap dan juga penuh air liur memuakkan berusaha menerobos masuk ke dalam rongga mulutnya. Latifa dengan…

    ***

    Baca Juga

  • JILBAB SEMOK – KISAH JILBABER TERNODA Part 5

    JILBAB SEMOK – KISAH JILBABER TERNODA Part 5

    Cerita Seks Bersambung – Latifa berusaha mencakar paha sang pemerkosa dibelakang pinggulnya dengan kuku-kuku kedua tangannya, namun Dollah sudah siap dan terbiasa dengan reaksi perlawanan wanita dalam posisi sepertiini. Kedua tangan Latifa yang menggapai ingin menyakar itu lekas ditangkap, dicekal pergelangan nadinya dan lalu ditelikung ke belakang.

    Dalam kedua tangannya berada dipunggung dan ditelikung maka Latifa tak dapat menunjang lagi badan bagian atasnya, namun ini justru memudahkan Ali yang sedang disepong untuk menjambak jilbab dan rambut Latifa, lalu dengan ritmis diturun-naikkan dengan irama yang sangat memuaskan “otong”nya.

    Dengan satu tangan Dollah tetap menelikung nadi mangsanya sehingga Latifa tak dapat mencakar, sementara tangannya yang lain meremas-remas buah dada Latifa yang menggantung indah dan memilin serta memijit-mijit putingnya.

    jilbab-toge-puteri-aulia-UGM (7)

    Tubuh Latifa kembali mengkhianati : rasa ngilu, sakit, nyeri dan nikmat berkumpul lagi menjadi satu dan melanda semua bagian peka yang sedang dirangsang oleh Dollah dan Ali, memacu pusat orgasme di otaknya kembali bekerja.

    Dollah merasakan dinding vagina Latifa kembali mulai berdenyut, semakin lama menjadi semakin cepat, mantap memijit kemaluannya, dan dengan sangat tak terduga oleh Latifa, mendadak jari tengah Dollah yang baru saja memilin putingnya, pindah merantau menusuk masuk ke lubang anusnya.

    Teriakan kaget dan kesakitan Latifa teredam oleh penis Ali yang menancap di mulutnya, yang disaat sama berdenyut-denyut pula sambil menyemburkan lahar panas ke arah kerongkongannya. Kembali Latifa merasakan tubuhnya bagai meledak mengalami orgasme untuk kesekian kalinya, terutama disaat bersamaan Dollah juga menyemprotkan sperma hangatnya ke dalam rahimnya.

    Ketiga insan itu dalam waktu hampir bersamaan mengalami orgasme secara bersama-sama – ketiganya merasakan tubuh mereka mengejang beberapa menit sebelum terkulai lemas penuh dengan keringat beberapa saat kemudian.

    Sementara Latifa masih lemas setengah pingsan, Ali yang termuda, dalam waktu singkat, hanya seperempat jam, telah mulai pulih kembali tenaganya, terutama ketika melihat tubuh Latifa yang putih mulus, yang telanjang bulat setengah telungkup diatas tubuh ayah tirinya. Betapa kontras warna kedua tubuh itu, Dollah yang agak gemuk berisi berkulit hitam legam dekil, sedangkan Latifa bertubuh ramping langsing berkulit putih kuning langsat. Namun yang menarik perhatian Ali adalah bongkahan pantat Latifa yang begitu sempurna, besar bulat tanpa cacat sedikitpun. Membayangkan betapa sempitnya lubang yang tersembunyi diantara belahan itu menyebabkan si ayam jago di selangkangan Ali mulai bangun dan siap untuk kukuruyuk kembali.

    Ali menyentuh kaki Dollah sehingga sang ayah membuka matanya, diberikannya tanda agar Dollah memeluk Latifa secara ketat untuk mencegah jangan sampai gadis itu dapat berontak. Dollah segera mengerti apa maksud Ali, ia langsung meletakkan tubuh Latifa diatas tubuhnya sendiri dengan sempurna, kemudian dipeluknya pinggang putri tirinya yang langsing itu dengan kedua lengannya yang berotot sehingga Latifa tak mungkin bergeser kemanapun.

    IFFAH

    Ali dengan perlahan mendekati tubuh Latifa dari belakang, ditariknya pinggul Latifa ke atas sehingga menjadi posisinya sekarang menjadi berlutut menungging tinggi dan sekaligus kedua paha Latifa yang masih gemetar halus akibat sisa orgasme dibukanya lebar-lebar dan ditahan di kiri kanan oleh paha ayah tirinya. Kini terpampang dengan jelas celah diantara belahan pantat Latifa yang di bagian tengahnya terlihat cekungan berwarna coklat muda kemerahan dihiasi kerut-kerutan halus tipis menandakan masih sempurnanya tegangan otot lingkar yang melindungi anus Latifa.

    Ali mengolesi telapak tangannya dengan ludah lalu diratakannya ke ujung kepala penisnya sehingga benda itu jadi terlihat licin mengkilat, selanjutnya ia meneteskan ludahnya di cekungan anus Latifa. Penuh kepuasan Ali melihat bahwa cekungan itu mulai berdenyut dan “menelan” tetesan ludahnya seolah ada sedotan kuat yang menarik ke dalam. Kejantanan Ali yang semula masih terlihat agak menggantung kini menjadi tegak penuh kegagahan karena sang empunya telah membayangkan betapa perlawanan sia-sia dari otot lingkar pelindung itu, namun jika telah ditembus dikalahkan maka justru secara alamiah akan menarik menyedot kemaluannya semakin dalam.

    Dengan kedua tangannya Ali memegang dan agak menarik bongkahan pantat Latifa ke kiri dan ke kanan, lalu mulailah ia menekan kepala penisnya di pintu gerbang paling intim dari Latifa, adik tirinya itu. Bagaikan disengat oleh hewan berbisa, Latifa melonjak meronta dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Dollah yang kuat, anusnya terasa sangat panas dan perih bagai disayat pisau saat ada barang keras berusaha untuk masuk ke dalam sana.

    “Aaaaaah, auuuuuuuuww, jangaaaan! Aduuuuuuh, jangaaaan! Sialaaaan! Ampuuuuuun, sakiiiiiiiiit, lepaaaas, tolooong lepaskan! Mmmphh, auuuuuuuuuww! Tolong, Bang, kasihani saya, saya enggak mau disodomi! Sakiiiiiit, Bang, udaaah!” Latifa menjerit dan berteriak sekuat nafas yang dapat dikeluarkan dari 

    paru-parunya, namun semua sia-sia dan terlambat karena tanpa rasa kasihan, Ali terus mendorong kemaluannya untuk menembus keperawanan Latifa yang kedua.

    Selama ini Latifa hanya mendengar dari teman-teman dekatnya yang telah menikah bahwa suami mereka kadang menginginkan variasi dalam ML dengan memakai jalan belakang. Semuanya menceritakan secara sembarang saja apa yang dirasakan saat itu – namun Latifa tak pernah membayangkan betapa sakit dan penderitaan yang dialami disaat ini. Berbeda dengan Ali yang diawal penetrasi juga merasakan betapa susah dan peretnya memasuki lubang anus adik tirinya, namun kini mulai terbiasa dan secara ritmis memaju mundurkan pinggulnya untuk lebih menikmati penjarahannya itu.

    Dollah melihat penuh kepuasan wajah cantik Latifa yang kini dibasahi oleh air mata dan dari celah bibir mungilnya yang terbuka terdengar rintihan dan keluhan tiada henti menimbulkan iba. Suara rintihan Latifa semakin lama semakin sesuai dan sinkron dengan dengusan Ali yang kini makin mempercepat gerakan pinggulnya. Dirasakannya bahwa semua lahar yang berkumpul di pelirnya makin mendidih dan akhirnya menyemburkan membasahi bagian dalam anus Latifa yang sudah sedemikian peka sehingga dengan jeritan putus asa kesekian kalinya, Latifa jatuh pingsan kembali dan ambruk diatas tubuh ayah tirinya.

    ************************************************************************************

    Latifa sebagai seorang gadis alim shalihah yang selama ini tak pernah mengikuti aliran dunia anak muda modern dengan pesta pora dan kelakuan hura-hura sebagaimana yang dikerjakan dan dialami oleh para selebs, tentu saja sangat shock mendapat perlakuan sangat tak senonoh yang diperbuat oleh ayah dan saudara laki-laki tirinya.

    Setelah diperkosa habis-habisan di malam itu, maka Latifa menangis semalaman di kamarnya. Ia tak mau keluar, semua kepercayaannya terhadap keluarga sendiri pun punah. Disesalkannya dirinya yang tidak jadi pulang ke kota tempatnya bekerja sebagaimana telah direncanakannya semula, malah mau dibujuk untuk menginap semalam lagi.

    Kini hilanglah sudah kehormatannya, hilang kegadisannya yang layak untuk dipersembahkan kepada suaminya di malam pengantin nanti.

    Di saat mengalami puncak keputusasaannya itu, hanya kesadaran bahwa banyak sekali pasien yang sangat berterima kasih terhadap perawatannya yang jadi hiburan. Dan dengan berdasarkan rasa kesadaran itulah akhirnya Latifa berhasil memejamkan mata dan mulai jatuh pulas ketika malam telah amat larut, memasuki hampir jam setengah tiga pagi. Tubuhnya terasa sangat penat, pegal, terutama di bagian-bagian yang sangat intim. Semuanya terasa memar dan memang terlihat banyak bekas cupangan serta gigitan gemas. Namun yang paling menyakitkan adalah selangkangannya karena begitu lama berusaha ditutupnya pada saat dipaksakan untuk menguak membentang, sendi pahanya jadi terasa bagaikan patah dan dilolosi tulang-tulangnya.

    Esok harinya Latifa jatuh sakit, badannya demam panas dingin, menggigil. Kepalanya terasa pusing melayang, perutnya bagaikan diaduk-aduk serta mual sehingga berkali-kali ia muntah. Rencananya untuk secepat mungkin meninggalkan tempat malapetaka itu kembali harus ditunda dan terpaksa dibatalkan. Makanan daerah Sunda yang biasa menjadi favoritnya sama sekali tak dapat ditelan, sehingga akhirnya hanya bubur hangat yang dapat sedikit menghilangkan rasa lapar dan berhasil dimakan tanpa dimuntahkan kembali.

    ***

    Baca Juga

  • JILBAB SEMOK – KISAH JILBABER TERNODA Part 4

    JILBAB SEMOK – KISAH JILBABER TERNODA Part 4

    Cerita Seks Bersambung – Ali meraba dan membelai payudara berkulit halus itu dengan penuh kemesraan ; ibarat seorang ahli benda purbakala sedang menilai cawan porselen dynasti Ming yang sangat langka, mengusap-usap dengan sangat hati-hati. Jari-jari tangan Ali menaiki lerengnya yang terjal dan dengan lembut menuju ke arah puncaknya yang berwarna merah kecoklatan, ia menyentuhnya sedemikian perlahan dan halus seolah ingin menambah kemancungan dan ketinggiannya. Dan memang Latifa mulai mendesah mengeluh perlahan dengan mata masih setengah tertutup karena merasakan buah dadanya mengalami godaan yang sangat berbeda dengan kekasaran yang dialaminya tadi oleh Dollah.

    “Wah, ini tedoy emang betul yahud, legit dan kenyal banget. Bisa dijadikan guling nih, sambil nyusu anget, pasti lebih sehat dari susu kaleng. Enggak tahan lagi nih, mau néték dulu ah, boleh ya?” celoteh Ali sambil meremas kedua buah dada dan bergantian menyedot menggigit kedua puting merah mencuat milik Latifa, menyebabkan Latifa semakin menggelinjang meronta tapi semua sia sia saja.

    Sementara itu Dollah telah menempatkan diri diantara paha Latifa – mulutnya dengan bibir tebal berkilat karena berulang kali dibasahi oleh lidahnya sendiri ibarat ular python telah menemukan mangsa.

    Latifa masih di dalam keadaan setengah ekstase akibat orgasme menyadari apa yang akan segera dialaminya, ia berusaha lagi memberontak sekuat tenaga tapi tetap tak berdaya menghadapi kedua lawan yang demikian kuat dan sedang dipenuhi oleh hawa nafsu dan bisikan iblis.

    jilbab-toge-puteri-aulia-UGM (5)

    Dollah kini berusaha menekan nafsu iblisnya dan bertindak seolah seorang suami di malam pengantin akan merenggut mahkota kegadisan istrinya. Diciuminya secara bergantian telapak kaki Latifa, jari-jari kakinya, betis langsing halus mulus, paha licin putih, naik melusur ke atas ke arah selangkangan Latifa yang tercukur rapi.

    Kini Latifa mulai merasakan malu sehingga tak terasa pipinya yang basah airmata merona merah, malu karena tubuhnya tanpa dikehendaki dan diluar kemauannya sendiri mulai merasakan pengaruh rangsangan dari ayah dan saudara tirinya. Selangkangan Latifa yang masih terasa pegal kaku karena tadi dipaksa membuka oleh Ali, kini kembali dipaksa menguak. Kedua pahanya yang sekuat tenaga ingin dirapatkan, telah dipaksa lagi dipengkang sehingga terasa ngilu. Kedua lutut Latifa menekuk dan diletakkan di bahu kiri kanan Dollah – sementara mulut dowérnya semakin mendekati mengendus-endus lipatan paha Latifa sampai akhirnya menempel di bukit Venus putri tirinya itu.

    “Duuuuh, sialaaan! Ini mémék emang buatan alam kelas satu, enggak pernah ngeliat bukit gundul licin kayak gini. Pinter banget ngerawatnya, hmmh… kalo mau tetep tinggal disini, ntar abah cukurin tiap hari, terus langsung dijilatin. Mau ya, Nduk? Mmmmmh, udah keluar madu lagi, duuuh manisnya, Nduk!” Dollah berceloteh sendiri sambil mulai menjilati kemaluan Latifa. Lidahnya yang kasar menyapu dan menyelinap diantara celah bibir kewanitaan Latifa, menjilati dinding yang telah licin akibat madu pelumas disaat orgasme beberapa menit lalu, ditelusurinya bibir bagian dalam vagina kemerah-merahan itu, menuju lipatan atas dan akhirnya menemukan apa yang dicarinya.

    Kembali Latifa diterpa rasa kegelian yang tak terkira, klitorisnya yang beberapa saat lalu menjadi sasaran lidah Ali sehingga memaksanya naik ke puncak orgasme, kini dilanjutkan dan diulang kembali. Ibarat seorang yang baru dipaksa mendaki, akhirnya mencapai puncak gunung, tapi tak diberikan waktu istirahat untuk menuruni tebing ke bawah – kini mulai lagi diseret dan dipaksa sekali lagi mendaki ke arah puncak. Latifa tak rela diperlakukan seperti ini, dikutuknya kelakuan kedua lelaki yang sedang menjarahnya itu, namun apalah daya seorang wanita dalam keadaan seperti ini.

    Latifa berusaha menekan semua perasaan nikmat yang semakin menguasai tubuhnya, badannya yang sejak tadi meliuk meronta, kini dibiarkannya lemas lunglai, ia berharap bahwa dengan memperlihatkan reaksi “dingin” itu kedua pemerkosanya akan bosan dan menghentikan kegiatan mereka. Sayang sekali lawan yang dihadapinya – terutama Dollah bukan lelaki sembarang dan ingusan, ia telah mempunyai pengalaman cukup banyak dan tahu bagaimana memaksa bangun gairah seorang wanita yang sedang dikuasainya.

    Bibir Dollah yang tebal kini mengecup dan melekat di kelentit idamannya, tak dilepaskannya sasaran utamanya itu, dicakupnya daging kecil berwarna merah jambu milik Latifa diantara bibirnya, dipilinnya ke kiri dan ke kanan, ditekan dan dijepitnya dengan gemas diantara bibirnya, dilepaskannya sebentar dan digantinya dengan sapuan lidah ampuhnya, demikian terus menerus dan berulang-ulang.

    Diserang dengan cara sangat ampuh seperti ini, Latifa akhirnya harus mengakui kekalahannya – rambutnya yang hitam bergelombang menjadi kebanggaannya telah acak-acakan tergerai, hanya jilbab penutupnya yang masih belum terlepas, disertai rintihan putus asa, tubuh sintal bahenolnya kembali kejang di orgasme keduanya.

    “Toloooong, lepaaaaas, janggaaaan diterusiiiiiin, aaaauuuuuwww, aaaiiiihh, enggggggak maaauuu, tolooong, oooouuuuuuuw, eeemmmppffffhh!” kembali Latifa melenguh menjerit putus asa berusaha menembus bisingnya deraian hujan menimpa atap rumah, dan kembali mulutnya tertutup oleh bibir Ali yang berusaha sejauh mungkin mencium mulut adik tirinya dengan penuh kemesraan.

    jilbab-toge-puteri-aulia-UGM (6)

    Dollah merasa puas melihat hasil rangsangannya – ia tahu bahwa di saat ini Latifa sedang dilanda badai orgasme lagi – dan saat ini adalah saat yang terbaik untuk menembus celah vaginanya. Tak ada rasa yang lebih nikmat bagi Dollah ketika menembus keperawanan seorang gadis pada saat otot-otot dinding vaginanya berdenyut berkontraksi karena orgasme. Saat itu adalah saat paling membahagiakan bagi pria berpengalaman : merasakan penisnya menembus liang kewanitaan wanita yang seolah dipijit diurut-urut oleh dinding nan licin basah namun masih sangat sempit dan penuh kehangatan. Semuanya itu disertai dengan wajah si wanita yang seolah-olah tak percaya dengan apa yang terjadi : nikmat sakit, sakit tapi nikmat.

    Dollah kini telah berhasil menempatkan kepala penisnya yang keras, tegang berwarna hitam, dihiasi oleh pembuluh darah yang melingkar-lingkar menghiasi sepanjang batangnya. Kepala penisnya yang gundul bagaikan topi baja serdadu terlihat sangat gagah dengan lobang di tengah agak membuka seperti mulut ikan, mulai memasuki vagina putri tirinya. Mili demi mili, sang penis maju menusuk membelah celah yang belum pernah dijarah oleh lelaki manapun itu – disertai rasa kepuasan Dollah namun penderitaan bagi Latifa yang menangis tersedu-sedu, menjerit, merintih memilukan hati mengiringi kehilangan miliknya yang selama ini sangat dijaga dan diharapkannya akan diberikan kepada suami tercintanya kelak.

    Habislah harapan muluk Latifa untuk memasuki malam perkawinan dengan kesucian yang utuh, punah sudah impiannya untuk meneteskan air mata kebahagiaan di dalam pelukan kekasih dan suaminya ketika dengan penuh kerelaan ia mempersembahkan mahkota kegadisannya.

    Sesuai dengan rencana maka saat ini Dollah tak memperlakukan Latifa dengan kasar, ia tidak menusuk secara brutal membabi buta ke dalam vagina sang putri, melainkan agak diputar-putarnya gerakan maju mundur sang penis.

    “Nikmaaat tenaaaan, Nduk… begeuuuuur teuuuiiiing no bahenoool, abaaah dikasiiiih hadiaaaah begini enaaak, ntar abah ajariiiin yang lebiiiiih mantaaaab lagi. Ayooooh goyaaaangin tuh pinggul, jangan dieeem aja. Abaaah cobaa masuuuk dalemaaaaan lagi, Neng… jangan berontaaak ya, ntaar sakit, terima pasraaah aja!!” dengus Dollah sambil dengan yakin memaju-mundurkan pinggulnya, ibarat pompa air berusaha mencari sumber di tempat yang semakin dalam. Sesekali disodoknya ke arah atas, kiri, kanan, bawah, lalu diulangnya lagi dari awal.

    Gerakan ini menyebabkan dinding tempik Latifa yang sedang mengalami penjarahan pertama seolah diaduk – diulek dan digesek dengan penuh kemesraan.

    Sementara Ali tetap memegangi kedua nadi Latifa sambil mulutnya tak kunjung berhenti menyusu di puting kiri kanan Latifa yang tetap mengeras bagaikan batu kerikil. Kedua lelaki itu penuh kepuasan mengamati wajah Latifa yang telah mendongak ke atas namun tetap menggeleng ke kiri dan ke kanan. Wajah cantik Latifa semakin terlihat kuyu dan lemas, hidung bangirnya kembang kempis mendengus dan bernafas semakin cepat, sementara bibirnya yang mengkilat basah setengah terbuka.

    “Auuummph, aaaaaoooohh, eeemmmpppph, eeeeeengghhh, aaaaaauuuww, ssssshhhhhh, udaaaah doong, aaaahhhh, udaaaaah, saaakiiiiiiit, ngiluuuuuu, ouuuuhhh, eeemmpphh, iiyyyaaaa, auuuuw, iyaaaaa,” tak sadar lagi Latifa mengeluarkan suara khas wanita yang sedang dilanda kenikmatan birahi.

    Dollah dan Ali yang rupanya telah beberapa kali mengerjai wanita secara bersama, kembali saling berpandangan dan yakin bahwa pertahanan Latifa telah hancur luluh dan kini tinggal dilanjutkan permainan seksual ini untuk mengubah Latifa dari gadis alim menjadi wanita dewasa yang bukan saja hilang rasa malunya bersenggama, namun sebaliknya bahkan tak segan segan menagih jatah untuk selalu dipuaskan.

    Merasakan bahwa Latifa telah tak sanggup melawan, maka mereka berdua mengganti lagi posisi badan mereka : Ali kini setengah terlentang dengan penis telah berdiri mengacung ke udara, Latifa diangkat oleh Dollah dan diatur berlutut sambil menungging untuk “memanjakan” penis Ali, sedangkan dari belakang sang ayah tiri kembali mendorong dan memasukkan penisnya ke vagina Latifa.

    Meskipun telah demikian licin basah, namun karena baru saja diperawani maka tetap terasa perih sakit disaat penis ayah tirinya mulai masuk sehingga Latifa tak sadar memekik dan melepaskan penis Ali yang sedang dikulumnya sambil menggoyang pinggul seolah ingin melepaskan diri dari penetrasi Dollah.

    Namun Dollah telah memegangi pinggang Latifa yang ramping sehingga pinggulnya tak dapat digeser ke samping – sementara Ali juga dengan mantab menjambak jilbab putih dan menekan kembali kepala Latifa untuk melakukan “service” ke rudalnya yang berukuran tak kalah dengan milik ayah tirinya.

    Ketika Dollah semakin dalam mendorong penisnya maka Latifa kembali merasa perih ngilu kesakitan, mungkin karena bagian selaput daranya yang beberapa menit lalu sobek kembali terbuka lukanya.

    ***

    Baca Juga

  • JILBAB SEMOK – KISAH JILBABER TERNODA Part 3

    JILBAB SEMOK – KISAH JILBABER TERNODA Part 3

    jilbab-toge-puteri-aulia-UGM (3)

    Cerita Seks Bersambung – Berbeda dengan Dollah yang sedang dilanda orgasme, Latifa merasa sangat terhina dan terpaksa menghirup sperma ayah tiri yang saat itu sangat dibencinya. Cairan kental hangat itu bagai tak henti menyembur dari lubang di puncak kemaluan Dollah, memenuhi kerongkongan Latifa, terasa sepat agak asin dengan bau khas sperma laki-laki. Pertama kali merasakannya membuat perawat cantik berkudung ini tersedak ingin muntah. Namun Dollah bukan anak kemarin sore yang baru masuk usia belasan – kedua tangannya dengan sangat kuat segera memegangi kepala Latifa yang berjilbab sehingga Latifa jadi tak berkutik sama sekali, penis Dollah yang memang besar tetap memenuhi  rongga mulut mangsanya dengan sempurna sehingga tak ada ruangan bagi Latifa untuk melepehkan cairan yang dirasakannya sangat menjijikkan itu.

    Latifa hanya dapat mencakar-cakar lemah kaki Dollah dengan kukunya yang rapih terawat karena lengan atasnya telah ditindih dan ditekan ke kasur dengan kasar oleh lutut ayah tirinya sehingga tidak banyak dapat digerakkannya untuk melawan. Teguk demi teguk air mani Dollah terpaksa harus ditelannya karena jika tidak maka pasti akan masuk memenuhi dan mencekik jalan nafasnya. Latifa mengharapkan agar nasibnya dijarah kedua lelaki itu telah berakhir disini, namun dugaannya itu sia-sia belaka – ini baru babak pertama penderitaannya.

    Setelah sang ayah tiri menarik penisnya dari rongga mulutnya, maka kini giliran sang kakak tiri menagih bagiannya dengan tentunya mendapat bantuan dari sang ayah. Dollah berlutut di samping kiri badan Latifa dan tetap mencekal menekan kedua nadi putri tirinya yang langsing diatas kepalanya yang masih tertutup jilbab dengan tangan kanannya ke kasur, sementara tangan kirinya kembali mengusap-usap buah dada korbannya, Dollah meremas-remas, memijit-mijit dan menyentil-nyentil puting Latifa.

    Serangan bertubi-tubi ini kembali menunjukkan hasilnya karena bagaimanapun Latifa berusaha menekan gejolak birahinya, namun tubuhnya yang bahenol penuh dengan hormon kewanitaan kembali mulai mengkhianatinya. Kedua putingnya yang memang selalu mencuat ke atas dirasakannya semakin hangat gatal dan geli menginginkan ada tangan yang meremasnya. Namun karena tangannya sendiri di rejang ke kasur, maka yang dapat dilakukannya secara tanpa disadari adalah melentingkan tubuh bagian atasnya sehingga buah dadanya semakin membusung keatas.

    “Hehehe, nikmat ya, Nduk? Enggak usah malu-malu deh, enak ya pentilnya dirangsang, ntar lagi abah sama Ali pingin ngerasain susu asli, nih abah bantuin supaya keluar susunya,” Dollah bersenyum cabul lalu menundukkan kepalanya dan mulai menyusu di bongkahan payudara Latifa, mulutnya menyedot-nyedot sambil sesekali menggigit puting susu Latifa yang begitu merangsang.

    “Aaah, auuw, oooh, udah dong abaah… jangan diterusin, enggak mauu… jangaaaan, lepasiiin, iieeempppphh, eeehhmmmp, jangaaan!” keluh si gadis cantik tanpa daya sambil terus menggeliat-geliat penuh keputus-asaan. Namun itu semua hanya makin memacu nafsu birahi dan kebuasan kedua lelaki pemerkosanya.

    Sementara itu, Ali telah menempatkan diri diantara kedua paha Latifa yang begitu halus mulus dengan kulit putih kuning langsat. Kedua tangannya tak henti-henti mengusap-usap betis belalang Latifa – menyentuh dengan mesra kemudian meneruskan elusannya semakin naik ke arah paha, naik dan terus naik menuju ke arah selangkangan Latifa. Nafas kedua lelaki jahanam itu semakin berat mendengus-dengus melihat indahnya bukit kemaluan Latifa – bukit intim itu ternyata licin karena selalu dirawat dan dicukur tandas oleh sang empunya.

    “Wuuiiih, memang lain ya perawat dari kota, memeknya kelimis begini, pasti sering diurut dan mandi spa ya?! Abang pengen nyicipi air celah perawan, pasti manis madunya, betul enggak, Neng?” goda Ali.

    Tanpa menunggu jawaban, Ali merebahkan diri diantara kedua paha Latifa dan mendekatkan wajahnya ke arah selangkangan yang begitu merangsang nafsu setiap lelaki yang melihat itu. Ali menelungkupkan diri di antara kedua paha mulus yang dipaksa untuk dibuka lebar, betapapun Latifa berusaha mengatupkannya, namun tenaganya kalah dengan kedua lengan Ali yang sangat berotot.

    “Emmmhhhh… emang bener, harum banget nih mémék, pake sabun apa sih, Neng? Atau selalu diolesin minyak wangi ya?” tanya Ali sambil mulai mengecup dan menciumi bukit kemaluan Latifa. Lidahnya yang kasar tak kalah dengan sang bapak mulai menjelajahi bukit gundul kemaluan Latifa, Ali menjilat dan membasahinya dengan ludahnya, telaten ia menelusuri celahnya yang masih rapat karena belum pernah diterobos siapapun. Bibir kemaluan luar pelindung celah kewanitaan Latifa mulai dibuka oleh jari-jari Ali disertai dengan jilatan naik turun, sesekali berputar, merintis jalan memasuki bagian dalam yang berwarna kuning kemerahan.

    “Jangaaan, udaaaaah, sialaaaan, anjiing semuanya, enggak malu dua lelaki main keroyokan dengan perempuan!! Oooooh, udaaaah, stoooop, jangan diterusin, aaaaaah!” Latifa semakin menggeliat geli dan menahan gejolak naluri kewanitaannya yang semakin lemah menginginkan penyerahan total.

    “Baguuus amat nih mémék, haruuuum, enggak ada bau pesing sedikitpun, enggak seperti punya lonte desa, rejeki banget bisa ngerasain yang kaya begini,” Ali menjilat semakin ganas sambil menceracau tak karuan. Gerakan paha mulus Latifa yang mengatup membuka tak teratur tak dipedulikannya karena penjelajahannya kini semakin dalam sampai lidahnya menemukan tonjolan daging kecil berwarna merah jambu yang tersembunyi diantara lipatan bibir kemaluan Latifa bagian dalam.

    “Ini dia yang gue cari dari tadi, horeeee akhirnya ketemu juga butir jagung paling lezat… eeeemh, cuppp, cupppp, legitnya nih daging… si neng rupanya enggak disunat ya, jadi ngumpet tuh butir jagung. Tapi udah ketemu nih, jadi perlu diberikan pelayanan extra ya, Neng.” demikian sindir Ali yang kemudian tak berkata-kata lagi karena asyik menjilati kelentit Latifa yang semakin terlihat menonjol keluar.

    jilbab-toge-puteri-aulia-UGM (4)

    “Aaaaaah, lepaaaaas, lepaaaaaskan, jangaaaan, enggaaaak mauuuuu, oooooooohh, emmmppfhhhh,” suara teriakan putus asa Latifa menggema di malam yang dingin itu, namun tetap dikalahkan oleh bisingnya suara hujan menimpa atap rumah, ditambah pula semakin seringnya gema petir dan guntur yang menggelegar menakutkan.

    Dollah yang kembali tak sanggup menahan syahwatnya melihat tubuh Latifa yang telanjang bulat putih mulus meronta-ronta tak berdaya berusaha melawan rangsangan kakak tirinya yang dengan asyik melumat dan menggigit-gigit kelentitnya yang semakin lama semakin memerah, kembali mendekap dan menciumi mulut putri tirinya itu sehingga teriakan Latifa segera teredam.

    Sementara itu Ali terus meningkatkan rangsangannya terhadap klitoris Latifa – dijepitnya daging mungil amat peka itu diantara bibirnya yang tebal dan dowér, kemudian dijilatinya dengan penuh nafsu dan semangat sambil sesekali digosok-gosoknya kelentit yang semakin membengkak itu dengan kumis baplangnya dan juga janggutnya. Terutama janggutnya yang hanya tumbuh beberapa milimeter, bagaikan sapu ijuk kaku sehingga sentuhannya dirasakan oleh Latifa ibarat klitorisnya sedang digosok dengan sikat – itu tak dapat ditahan lagi oleh pusat susunan syaraf Latifa yang kini sedang dipenuhi oleh hormon birahi kewanitaannya.

    Jutaan bintang kini meledak dihadapan matanya mengiringi gelombang orgasme bagaikan angin taufan menghempas tubuhnya yang melambung ke atas, Latifa mengejang beberapa menit ibarat terkena aliran listrik tegangan tinggi, jeritan yang seharusnya melengking, tertahan oleh mulut dan lidah Dollah, hingga akhirnya badan Latifa melemas dan terhempas kembali ke atas ranjang , menggelepar bagaikan orang sekarat.

    Inilah saat yang telah dinantikan oleh kedua lelaki itu – sampai taraf ini mereka akan meruntuhkan pertahanan Latifa : dari perempuan alim berjilbab yang belum pernah disentuh lelaki menjadi wanita binal mendambakan kehangatan tubuh lelaki.

    Sesudah itu mereka akan bergantian dan juga sekaligus menikmati tubuh Latifa namun dengan cara lebih mesra dan hanya dimana perlu akan sedikit saja dikasari secara halus. Mereka telah telah merencanakan siapa lebih dahulu menikmati lubang yang mana, bahkan mereka sebelumnya telah melakukan undian. Dalam undian itu Dollah akan pertama merajah mulut atas Latifa dan memaksa menikmati air maninya, sedangkan Ali mengoral mulut bawah sehingga gadis malang itu mengalami orgasme pertamanya.

    Setelah itu mereka akan bergantian tempat – Ali memaksa Latifa mengoralnya dan menikmati lagi pejuh lelaki kedua dalam hidupnya sementara Dollah akan merebut kegadisan putri tiri yang memang sudah diidamkannya sejak lama.

    Dan babak terakhir mereka berdua akan threesome mengajarkan Latifa untuk di”sandwich” : Dollah tetap berada di bawah dan menikmati kehangatan celah kewanitaan yang baru direnggutnya , sedangkan Ali akan merenggut keperawanan Latifa yang kedua dengan menembus lubang bulat kecil di belahan pantatnya.

    Dalam pelaksanaan maksud jahat mereka itu, keduanya telah sepakat bahwa Latifa akan mereka telanjangi terkecuali jilbab di kepalanya – ini akan memberikan lebih rasa kebanggaan dan ego yang tersendiri : mereka berhasil menjarah seorang gadis alim dan taat tata susila, merebut keperawanannya dan diakhir pergulatan mereka akhirnya si gadis menjadi wanita dewasa yang ke arah dunia luar tetap terlihat alim berjilbab namun di dalam tubuhnya telah terbangun nafsu birahi bergejolak, membuatnya menjadi wanita binal.

    Kedua lelaki ayah dan anak itu saling berpandangan penuh kepuasan melihat korban mereka tergelimpang lemah lunglai dilanda kenikmatan. Untuk beberapa saat bahkan keduanya tak perlu memegang, merejang atau bahkan menindih tubuh Latifa, karena si gadis yang telah mandi keringat akibat orgasme pertamanya itu sedang “menderita” kelemasan. Tubuh Latifa yang sedemikian sintal dan bahenol hanya kejang-kejang lemah tanpa busana disertai sesenggukan tangisnya – saat itu tak sadar harus melindungi auratnya yang sedang dijadikan kepuasan mata para pemerkosanya.

    Kini Ali dan Dollah menukar posisi mereka untuk memulai babak kedua aksi mereka : Ali dalam posisi rebah setengah menyamping di sisi kiri Latifa, memegangi kedua tangan Latifa di atas kepala yang masih terhias jilbab satin hitam. Tangan kiri Ali kini mendapat kesempatan untuk ekspedisi naik turun gunung daging putih yang disana sini agak merah akibat jamahan kasar Dollah tadi. Sesuai dengan rencana maka Ali kini mempermainkan buah dada mangsanya dengan lebih halus daripada ayahnya.

    ***

    Baca Juga

  • JILBAB SEMOK – KISAH JILBABER TERNODA Part 2

    JILBAB SEMOK – KISAH JILBABER TERNODA Part 2

    Cerita Seks Bersambung – Akibat rontaan Latifa maka kain batik kemben yang menutup tubuhnya hanya sampai batas atas dada itupun terlepas dan dengan mudah ditarik ke bawah oleh Dollah dan Ali, kemudian diloloskan melewati pinggul Latifa yang bergeser menggeliat ke kanan dan ke kiri dengan tidak teratur sehingga kini tubuhnya polos bugil tanpa tertutup sehelai benangpun, menyebabkan kedua lelaki durjana itu makin bernafsu melihatnya.

    jilbab-toge-putri-aulia-latifa-UGM (3)

    Latifa mulai mengalirkan air mata karena sadar nasib apa yang akan segera menimpanya dan menyesali dirinya sendiri kenapa mau dibujuk untuk menginap lagi dua malam di rumah yang dihuni dua srigala itu.

    Dollah tak perduli akan tangisan putri tirinya karena nafsu birahi yang selama ini tertahan sudah naik ke ubun-ubunnya, didudukinya perut datar Latifa hingga gadis itu jadi sukar bernafas dan kembali diciumi berulang-ulang bibir ranum Latifa, kembali dijarahnya rongga mulut Latifa yang hangat dengan lidah kasarnya.

    “Eeeehmmm, emang dasar perawat dari kota, mulut atasnya aja harum begini, gimana mulut bawahnya… sebentar lagi abah mau nyicipin, nyerah aja ya nduk, percuma teriak enggak ada yang denger,” demikian celoteh Dollah sambil berulang-ulang meneteskan ludah yang bau, membuat Latifa merasa amat mual.

    “Iya, percuma berontak, pasti cuma akan makin pegel dan sakit badannya. Ikut aja nikmati permainan kita berdua, pasti belon pernah ngalami ginian kan di kota?” ujar Ali menyebabkan Latifa semakin takut.

    Sementara itu Ali tak mau kalah dan ikut beraksi : kedua kaki Latifa yang menendang kesana-sini, ke kiri dan ke kanan, dengan sigap ditangkap dan dicekalnya di pergelangan sehingga Latifa jadi sukar berontak lagi. Tak hanya sampai disini saja : telapak kaki Latifa yang halus licin dan peka diciumi dan dijilat-jilatnya, membuat Latifa terkejut dan semakin menggelinjang kegelian. Apalagi ketika satu persatu jari kakinya dikulum oleh Ali, celah jari kakinya juga dijilat-jilat, membuat ronta kegelian Latifa semakin sukar dikendalikan, dan ini menambah nafsu birahi Dollah yang tengah menindih tubuhnya.

    Kedua pergelangan tangan Latifa direjangnya diatas kepala yang masih tertutup jilbab sehingga tampak ketiak tercukur licin yang menjadi sasaran ciuman dan gigitan Dollah sehingga mulai muncul cupangan-cupangan merah disana.

    Latifa yang kini lepas dari ciuman buas ayah tirinya berteriak sekuat tenaga, namun deras hujan angin disertai dentuman petir dan guntur menutup teriakan minta tolong memelas hati itu.

    Dollah merejang dan menekan kedua pergelangan tangan Latifa diatas kepalanya dengan tangan kiri sementara tangan kanannya kini mulai meremas-remas bukit gunung kembar di dada putri tirinya yang amat menggemaskan itu. Buah dada putih montok kebanggaan Latifa yang sampai saat ini tak pernah disentuh lawan jenisnya kini menjadi sasaran Dollah : selain diremas dan dipijit dengan kasar, putingnya yang berwarna merah tua kecoklatan itu juga diraba dan diusap-usap, sesekali juga ditarik, dipilin bahkan dipelintir ke pelbagai arah oleh Dollah, mengakibatkan rasa geli dan sekaligus juga ngilu tak terkira bagi Latifa.

    latifa putri

    Latifa tetap berusaha berontak sambil menangis sesenggukan, wajah cantiknya terlihat semakin ayu manis tetap di bawah jilbab hitamnya, tapi dirasakannya daya tahannya untuk melawan semakin berkurang.

    Dollah yang telah sering menggarap banyak perempuan entah yang telah bersuami, maupun janda dan bahkan juga perawan di desa sekitar situ merasakan bahwa perlawanan Latifa mulai menurun.

    “Hehehe, mulai lemes ya, Nduk? Gitu donk, pinter banget nih anak manis, ntar lagi diajak ngerasain apa itu surga dunia, tapi sekarang belajar dulu gimana ngisep sosis desa alamiah. Nih sosis makin diisep makin jadi gede, ntar malahan bisa keluarin sari jamu awet muda, mau nyoba kan?” seringai Dollah.

    Latifa tidak langsung mengerti maksud kata-kata Dollah, ia merasakan tubuh ayah tirinya yang hampir delapan puluh kilo itu kini tak menduduki perutnya, melainkan bergeser ke atas dan meletakkan kedua lututnya hampir setinggi lipatan ketiaknya, sehingga dalam posisi ini wajah cantik Latifa langsung berhadapan dengan selangkangan Dollah.

    Dengan tetap merejang dan menekan kedua pergelangan tangan Latifa ke kasur dengan satu tangan kiri saja, Dollah kini dengan sigap melepaskan ikat pinggang serta ritsluiting celananya. Sebagai wanita dewasa dan jururawat, Latifa kini paham apa kemauan Dollah dan dengan penuh ketakutan berusaha mati-matian meronta. Tercium bau tak menyenangkan dari celana dalam ayah tirinya yang mungkin hari itu belum diganti – yang mana segera diturunkan pula oleh Dollah dan bagaikan ular Cobra yang mencari mangsanya, keluarlah rudal kebanggaan Dollah.

    latifa putri aulia

    Kemaluan Dollah yang besar panjang berurat-urat serta di-khitan itu kini mengangguk-angguk di depan wajah Latifa yang berusaha melengos ke samping. Reaksi penolakan semacam ini sudah biasa dialami  dan ditunggu Dollah. “Hehehe, biasa tuh perempuan, selalu malu-malu ngeliat barang lelaki, padahal dalam hati kecil udah pingin ngerasain ya. Tapi sebelumnya bikin si Otong makin binal, ayooh buka tuh bibir lebar-lebar, kulum, isep dan jilat dulu nih sosis alam sampe ngeluarin pejuh obat awet muda.”

    Latifa merasa amat jijik melihat penis Dollah dan tak mau menyerah begitu saja, namun ayah tirinya sudah berpengalaman bagaimana mengatasi penolakan perempuan – dicubitnya puting susu Latifa yang telah tegak mengeras dengan memakai kukunya sehingga Latifa menjerit kesakitan atas perlakuan sadis ini.

    Kesempatan ini telah dinantikan ayah tirinya : segera alat kelelakiannya yang memang telah bersiap di depan wajah Latifa ditempelkan ke bibirnya yang tentu saja Latifa segera menutupnya kembali. Dollah menyeringai sadis dan kini jari-jarinya yang sedang mencubit puting susu Latifa dipindahkan untuk memencét hidung mancung bangir milik putri tirinya sehingga Latifa kelabakan megap-megap mencari udara, otomatis tanpa dikehendaki mulutnya kembali membuka. Kali ini tanpa ada ampun lagi kejantanan Dollah menerobos masuk diantara kedua bibir basah merekah dan memasuki rongga mulut Latifa yang hangat basah.

    Latifa merasa sangat jijik dan ingin mengeluarkan kemaluan yang sedang memerawani mulutnya itu, namun apalah dayanya sebagai perempuan lemah dikeroyok dua laki laki perkasa, apalagi kini ayah tirinya kembali merejang kedua tangan ke atas kepalanya yang masih tertutup jilbab, sedangkan tangan satunya tetap memencét hidungnya hingga mulutnya tetap terpaksa untuk terbuka untuk mencari nafas.

    Dollah kini mulai memaju-mundurkan penisnya di mulut Latifa, setiap gerakan maju selalu lebih dalam daripada sebelumnya, menyebabkan Latifa tersedak setiap kalinya, ingin batuk tapi tidak bisa.

    “Hehehe… nah, gimana rasanya, Nduk, dirajah dan diperkosa mulutnya, enak kan? Abah enggak bohong lan! Iyaaa… mulai pinter nyepongnya, teruuus… iyaaa… gituuuu… kulum nyang bener! Aaaaaah… pinteer emang putri abah satu ini! Ayo, iseeeep nyang kuaaat… jilaaaat… iyaaa… abah udah mau keluaar nih, ooaaah!!!” akhirnya Dollah hanya berhasil memasukkan sekitar setengah dari penisnya ke mulut Latifa.

    Ujung kemaluan Dollah kini menyentuh, memukul-mukul dinding rahang Latifa di ujung kerongkongannya, menyebabkan Latifa berkali-kali tersedak menahan rasa mual ingin muntah. Rasa ingin muntah itu mengalami puncaknya ketika alat kejantanan Dollah terasa semakin membesar dan berdenyut-denyut, hingga akhirnya…

    “Aaaaaah… iyaaaaaaa… nduuuuuk… ini abah keluaaaaar! Pinter banget, Nduuk… ayo, jangan ada yang dibuang! Teguk, abisin semuanya, Nduuuk… aaaah… iyaaaaa!!” Dollah menggeram bagai binatang buas disaat ia dengan penuh nikmat menyemprotkan lahar panasnya ke mulut Latifa.

    ***

    Baca Juga