KONGJONES CERITA DEWASA LENGKAP

CERITA SEX BERSAMBUNG

Author: Akong Sugi

  • Cerita Panas Ibu Rina, Istri dan Mertua Part 2

    Cerita Panas Ibu Rina, Istri dan Mertua Part 2

    Cerita Panas Bersambung – “Tapi kalau pacaran pasti udah pernah kan?”

    “Gak juga, bu, paling kalau sekedar suka sih pernah, tapi kalau pacaran belum.”

    “Masa sih secakep kamu belum pernah pacaran, Din? Kalau begitu sama donk kaya ibu.”

    “Maksudnya?” tanyaku bingung.

    “Dulu ibu tuh nikah muda, usia 15 tahun ibu sudah dijodohkan, malahan waktu itu baru pertama bertemu Bapak tapi ibu langsung dinikahkan. Usia 16 tahun ibu sudah punya anak.”

    “Oh, pantes masih muda Ibu udah punya cucu, kan Ibu masih cantik, gak kelihatan kaya nenek-nenek.” jawabku sambil becanda.

    “Ah, kamu bisa aja, Din.” Bu Rina tersipu malu.

    “Tapi meskipun belum pernah bertemu akhirnya Ibu cinta juga kan sama bapak?”

    “Gak tau juga yah, Din, mungkin selama ini Ibu hanya berusaha menjadi seorang istri yang baik. Kalau dibilang cinta mungkin ibu hanya menjalani tugas saja. Mungkin juga ibu bertahan hanya demi anak saja.”

    “Maksud ibu bertahan?”

    “Yah, mungkin kalau ingin hati ibu itu ingin berpisah. Bapak itu tidak pernah mau ngertiin ibu, keras kepala, kadang kalau keinginannya gak sesuai suka main kasar.”

    “Sabar aja yah, bu.” aku mencoba menghibur.

    “Loh, kok ibu malah jadi curhat sama kamu sih, Din, maaf yah.”

    “Ah, gak pa-pa kok, bu, sapa tau aja bisa ngurangi beban ibu.” dengan spontan kupegang tangan Bu Rina.

    “Gak tau kenapa yah, Din, akhir-akhir ini hari-hari ibu terasa berbeda, seperti ada hal baru yang ibu rasain yang tak pernah ibu rasain dulu.”

    Aku juga merasa yang berbeda. Suatu perasaan yang tak bisa ku pahami. Kalau sedang ngobrol dengan Bu Rina hati terasa tenang, terasa nyaman. Untuk beberapa saat kami tertegun mata kami saling memandang. Pandangan yang tak biasa yang membawa kami untuk beberapa saat berada di alam yang berbeda.

    Bu Rina melepaskan genggaman tanganku, tapi tanpa kuduga dia langsung memelukku. Aku hanya bisa terdiam karena kaget. Lalu aku memberanikan diri membelai kepalanya yang masih tertutup jilbab. Untuk beberapa saat kami berpelukan, lalu Bu Rina mengangkat kepalanya dan kami saling bertatap mata lagi. Seperti sudah kompakan, bibir kami pun langsung melaju hingga saling bersentuhan.

    Cuuup… satu kecupan. Dan diteruskan dengan kecupan-kecupan lain hingga kami saling mengulum bibir dan bermain lidah. Sungguh nikmat kurasakan, bibirnya yang tipis manis dan ludahnya yang hangat melambungkan birahiku hingga saat itu juga penisku mulai berdiri.

    Namun tiba-tiba Bu Rina seperti tersentak. “Maaf kan ibu ya, Din, ibu kelewatan.” katanya sambil cepat-cepat melepaskan ciuman dan menarik pelukan.

    “Ah, nggak kok, bu. Saya juga gak bisa menahan.” aku menjawab. Mungkin ada rasa malu pada dirinya, namun dari wajahnya, aku dapat melihat hal yang sama denganku. Birahi yang meninggi…

    Kami terdiam, tanpa kusadari tatapan Bu Rina tertuju pada celanaku, dia memperhatikan perubahan penisku yang membesar. “Maaf, bu, gak bisa nahan.” dengan malu kututupi celanaku dengan kedua tangan.

    Bu Rina hanya tersenyum.

    “Ah, ibu curang, gak kelihatan, gak seperti aku.” aku coba bercanda untuk menutupi rasa maluku.

    “Kamu juga kan tadi sudah lihat celana dalam ibu, sudah pegang lagi.” sahut Bu Rina, matanya masih tertuju pada tonjolan penisku.

    “Tapi kan itu gak ada isinya, bu. Kalau aku kan isinya yang menonjol yang dilihat ibu.”

    “Apa kamu mau lihat juga celana dalam yang ada isinya? Nih ibu kasih.” Aku terkaget ketika tiba-tiba bu Rina berdiri dan menganggat baju gamisnya sampai ke pinggang hingga bisa kulihat celana dalam warna krem yang menempel pada pantatnya yang montok. Aku hanya melongo sambil menatap indahnya pantat Bu Rina tanpa berkedip. Lalu tiba-tiba bu Rina naik ke pangkuanku dan langsung mencium bibirku. Aku hanya mengikuti karena ini yang pertama bagiku dan aku tak tahu harus bagaimana.

    Semakin lama hisapan Bu Rina kurasa semakin kencang, lalu tiba-tiba Bu Rina memasukkan lidahnya ke mulutku sambil mendesah… ”Ssshhh… ssshhh…!” Ya ampun, nikmat sekali aku rasa saat lidah kami saling bersentuhan dan bermain-main. Sambil menggesek-gesekkan vaginanya ke penisku, bu Rina memegang tanganku dan mengarahkannya ke tonjolan buah dadanya, mengisyaratkan untuk diremas. Aku pun mulai meremas-remas payudara sebelah kanan Bu Rina hingga desahannya semakin kuat.

    Bu Rina membuka kaos oblong yang kukenakan dan dijilatinnya putingku dan sesekali menggigitnya. Aku hanya terdiam, tubuhku serasa merinding. Jilatannya semakin bawah ke pusarku dan langsung dibukanya celana jeans yang kukenakan. Penisku langsung menyembul keluar karena telah bangun dari tadi. Tanpa disentuh langsung dimasukkannya benda itu ke dalam mulutnya. Aku tersentak.

    “Aww…!” erangku, keenakan
    .
    Bu Rina mengeluarkan penisku dari mulutnya. “Kenapa, Din?” dia bertanya.

    “Ngilu, bu. Tapi enak yah?” jawabku cengingisan. “Ibu buka juga dong bajunya, masa aku aja yang telanjang.” lanjutku.

    Bu Rina tersenyum dan mencium penisku, lalu dia mulai membuka bajunya satu persatu. Dibukanya jilbab yang ia pakai hingga terlihat rambutnya yang lurus panjang terurai. Cantik sekali, untuk pertama kali aku lihat bu Rina tanpa kerudung. Dibukanya juga baju gamis dan celana panjang tipis yang melindungi kakinya, hanya menyisakan celana dalam dan BH saja. Terlihat tubuhnya yang montok dengan payudara dan bokong yang besar, meski terlihat sedikit kendur namun tidak mengurangi sedikitpun keindahannya. Lalu dibukanya BH warna krem hingga payudaranya yang bulat besar menyembul keluar dengan puting merah kecoklatan. Dan yang terakhir, bu Rina melepaskan celana dalamnya perlahan-lahan, terlihat bulu-bulu tipis yang tampak dicukur rapi dengan bokong yang besar dan seksi. Baru pertama kali aku melihat wanita telanjang bulat di depanku.

    “Nih, udah sama telanjang, mau diapain sekarang?” tanya Bu Rina menggoda.

    “Hmm.. gak tau juga mau diapain, bu.” jawabku jujur.

    “Uh, dasar! Sini punya kamu dulu, Din, Ibu mainin.” bu Rina langsung memegang penisku yang semakin tegang. “Tahan yah, Din, nanti juga ngilunya jadi nikmat.”

    Bu Rina menjilati penisku, dia mengulum dan menghisap-hisapnya. Tampak jauh beda dengan Ibu Rina yang selama ini aku lihat dengan watak yang tenang dan kalem, namun kali ini Bu Rina terlihat begitu semangat dan menggebu-gebu.

    “Ahh… bu, enak banget! Terus, bu, jangan berhenti…!” erangku sambil memegangi kepalanya. Aku masih belum berani menyentuh tubuhnya.

    Bu Rina pun semakin kencang mengulum penisku dan sesekali juga meremas-remas bijiku. “Gantian yah, Din.” pintanya saat dirasa penisku sudah sangat licin dan basah.

    Ia pun duduk di sofa dan membuka kakinya, dengan perlahan Bu Rina menuntun kepalaku ke arah lubang vaginanya. Bisa kulihat dengan jelas benda berbelahan sempit miliknya yang berwarna merah dan sudah sangat basah. Awalnya aku sungkan, namun dengan bu Rina, lama-kelamaan aku pun menikmatinya. Kuciumi bulunya yang tipis dan kujilat perlahan-lahan lubangnya.

    Baca Juga

  • Cerita Panas Ibu Rina, Istri dan Mertua Part 1

    Cerita Panas Ibu Rina, Istri dan Mertua Part 1

    Cerita Panas Bersambung – Pengalaman ini berawal ketika aku kuliah di universitas di daerah Setiabudhi Badung. Aku nge-kost di daerah Geger Kalong yang saat itu identik dengan DT-nya Aa Gym yang menjadikan tidak terbesit olehku akan mengalami pengalaman yang seru ini.

    Aku nge-kost di sebuah rumah pasangan suami-istri. Mereka mempunyai anak satu namun karena sudah berumah tangga maka anaknya itu sudah tidak tinggal di rumah itu. Tempat kost-ku mungkin berada agak jauh dari kampus dibandingkan dengan tempat kost-kost yang lain dan suananya lebih sepi dan tenang. Mungkin karena itu pula aku memilih kost-an itu disamping harganya yang lebih murah daripada kost-kostan yang lain. Hanya terdapat 3 kamar yang di sewakan di belakang bangunan utama yang ditinggali oleh pemilik kost tersebut. Pemilik kost tersebut Pak Dedi yang bekerja di sebuah perusahaan operator telepon seluler dan istrinya Bu Rina yang hanya sebagai ibu rumah tangga. Pak Dedi berumur sekitar 45 tahunan dan Bu Rina sekitar 38 tahunan.

    Pekerjaan Pak Dedi yang suka mengurusi proyek-proyek pembangunan BTS di daerah-daerah menjadikannya sering keluar kota, mungkin dari itu juga makanya rumah mereka di kostkan, biar Bu Rina tidak kesepian kalau ditinggal keluar kota katanya. Bu Rina mungkin bisa dibilang sudah cukup berumur bahkan sudah menjadi nenek dari anak putrinya semata wayang. Namun dari wajahnya masih terlihat segar dan manis, mungkin waktu mudanya memang cantik.

    Waktu awal aku ngekost disana, aku menganggap Bu Rina seperti kebanyakan ibu rumah tangga lainnya, bahkan aku menganggap sebagai wanita yang alim karena penampilan sehari-harinya selalu menggunakan jilbab dan baju gamis yang longgar sehingga tidak pernah terlihat sedikit pun lekuk tubuhnya dari luar. Pada awal-awal aku biasa saja, mungkin hanya senyum kalau bertemu atau berucap sapa sewajarnya. Bu Rina biasanya sering ngobrol dengan Putri, penghuni kost yang lain.

    Keadaan mulai berubah ketika memasuki smester ke-3, penghuni di kost-an itu hanya tinggal aku karena Putri telah lulus dan sudah tidak tinggal di situ lagi, sedangkan kamar yang satunya lagi memang sudah lama kosong, mungkin karena jaraknya yang jauh dari kampus sehingga kurang peminatnya.

    Suatu pagi hari rabu, aku dapat jam kuliah siang. Sambil nunggu kuliah, aku hanya santai-santai di kost-an sambil baca buku. Lalu datang Bu Rina menjemur pakaian, kebetulan tempat jemuran berada di depan kamarku, jadi sempat juga kuperhatikan Bu Rina yang sedang menjemur pakaian. Tidak seperti biasanya, saat itu Bu Rina menghampiriku setelah selesai menjemur pakaiannya.

    “Tidak kuliah, Din?” tanyanya mengawali percakapan.

    “Jadwalnya siang, Bu.” jawabku.

    “Gimana tinggal di sini, betah gak?” tanyanya lagi.

    “Betah kok, bu, tempatnya bersih, tenang, murah lagi.” jawabku sambil sedikit tertawa.

    “Ya mungkin buat nak udin sih tenang, tapi buat Ibu sih sepi, apalagi setelah anak ibu menikah dan ikut suaminya, makanya rumahnya ibu kost-kan.” kata Bu Rina.

    “Owh… tapi kenapa ibu gak jual aja bu rumahnya trus ibu beli rumah yang tempatnya ramai gitu?” aku balik bertanya.

    “Ini rumah warisan orang tua ibu, dan diamanatkan supaya tidak boleh dijual, makanya ibu tetap bertahan.”

    “Ya bagus lah, bu, kan saya juga jadi dapat kost-an yang murah.” candaku.

    “Ah, kamu bisa aja, Din.” kata Bu Rina sambil tersenyum. “Udah dulu ya, Din, Ibu mau beres-beres rumah dulu.” lalu dia masuk ke rumahnya.

    Hari itu aku merasa sesuatu yang beda, mungkin sudah gak ada Putri teman ngobrolnya yang dulu, jadi Bu Rina mencari teman ngobrol yang lain. Semakin hari aku semakin sering ngobrol berduaan dengan Bu Rina tapi hanya obrolan-obrolan biasa sekitar lingkungan tempat tinggal, aktifitas sehari-hari, hanya sebatas itu. Namun hampir setiap hari atau saat Bu Rina sedang tidak ada kerjaan selalu saja datang untuk ngobrol denganku.

    Hingga pada suatu hari Pak Dedi dapat tugas keluar jawa untuk proyek BTS-nya. Saat itu aku baru saja pulang kuliah. Waktu itu tiba-tiba hujan, karena Bu Rina sedang tidak ada di rumah maka aku mengangkat jemurannya biar tidak kehujanan. Sepulangnya Ibu Rina, aku langsung mengantarkan jemurannya tadi, namun ketika aku kembali ke kamarku, tanpa kusadari ternyata celana dalam bu Rina ketinggalan secara tidak sengaja. Duh, bingung juga jadinya. Mau kuantarkan pasti malu lah hanya mengantarkan satu celana dalam Bu Rina, tapi kalau tidak kuantarkan pasti Bu Rina bakalan berpikiran negative kalau aku sengaja menyembunyikan celana dalamnya. Ah, daripada nantinya jadi macam-macam lebih baik aku antarkan saja.

    Tok.. Tok.. kuketuk pintu belakang rumah Bu Rina. Muncul lah Ibu Rina. “Eh, nak Udin.” sapanya ramah seperti biasa.

    “Maaf, bu, ini ada jemurannya yang tertinggal tadi.” kataku sambil memberikan celana dalamnya dengan menahan malu.

    “Oh ya, makasih, Din.” terlihat wajah Bu Rina juga nampak malu karena celana dalamnya aku pegang. “Udah makan, nak Udin?” Bu Rina mengalihkan pembicaraan.

    “Udah bu, makasih.” jawabku bohong.

    “Ah, pasti belum, ibu juga tahu kamu tuh suka makannya malam, ayo temenin ibu makan.” ajaknya.

    “Udah kok, bu. Beneran.” aku coba menolak.

    “Ayo sini temenin ibu makan, gak baik loh nolak rezeki.” katanya sambil menarik tanganku, memaksa untuk masuk.

    Tak kuasa menolak, aku pun menuruti permintaan Bu Rina. Aku masuk dan mengikutinya yang membawaku ke meja makan.

    “Silahkan duduk, nak Udin.” kata Bu Rina

    “Iya, makasih, bu.” aku pun duduk diikuti dengan Bu Rina yang ikut duduk. “Loh, bapak kemana, bu?” aku bertanya melihat hanya kami berdua yang ada di ruangan itu.

    “Tadi bapak ada tugas mendadak ke Bengkulu, padahal Ibu susah masak, jadinya ga ada yang makan, makanya Ibu ajak nak Udin makan sekalian, biar gak mubazir.” jawabnya.

    Kami pun makan bersama sambil mengobrol berdua. Mulai dari masalah makanan, hoby, tempat kost-an dan lain-lain. Selesai makan aku hendak pamit, meski masih betah ngobrol dengan Bu Rina tapi tak enak juga berduan dalam satu rumah. Apalagi sudah hampir malam, mungkin juga Bu Rina mau melakukan aktivitas lainnya.

    “Sudah dulu yah, bu, sudah malam.” aku pamit.

    “Nyantai aja, nak Udin, temenin Ibu dulu kenapa.” tapi Bu Rina melarang.

    “Ah, gak enak, bu. Kalau dilihat orang kan gak enak.” aku berdalih.

    “Ah, tenang aja, lagian ga akan ada orang yang lihat. Mau ibu bikinin kopi?”

    “Gak usah, bu, makasih.”

    Namun Ibu Rina tetap membikinkan kopi dan mengajakku untuk melanjutkan obrolannya di sofa di depan TV. Kami pun melanjutkan obrolan tadi namun kali ini Bu Rina menanyakan hal tentang aku.

    “Kamu sudah punya pacar, Din? Kok ibu perhatikan kamu gak pernah ngajak perempuan ke sini, padahal kan usia seumur kamu pasti lagi asyik-asyiknya pacaran?”

    “Saya gak punya pacar, bu, lagi konsentrasi kuliah dulu.”

    Baca Juga

  • Malapetaka Dimulai : Tragedi Aida Part 5

    Malapetaka Dimulai : Tragedi Aida Part 5

    Cerita Dewasa Bersambung – “Hehehe… akhirnya tercapai juga keinginan bapak mencicipi memek istri ustadz alim shalihah! Uuhh… emang empuk banget! Enak nggak, neng? Jangan malu-malu deh, ngaku aja sama bapak, hehe.” seru pak Sobri dengan semangat lelaki setengah baya sedang berjaya memperkosa wanita muda.

    Aida tak mempercayai apa yang sedang dialaminya, ia sedang digarap habis-habisan oleh lelaki tua bukan taraf usianya. Gempuran dan hunjaman penis perkasa pak Sobri terasa bagaikan sedang merobek vaginanya, sedang menumbuk rahimnya sekuat-kuatnya hingga terasa begitu ngilu sakit di ulu hati.

    Istri setia yang malang ini berusaha menutup matanya dan menolehkan wajahnya ke samping serta menggigit bibir bawahnya menahan segala campuran rasa yang sedang menimbunnya. Namun pak Sobri terus, terus dan terus menggenjotnya sekuat tenaga seolah diberikan kekuatan oleh setan yang menguasai rumah ustadz yang kosong itu. Maju, mundur, maju, mundur maju menghantam alat kewanitaan yang halus lembut milik Aida, sehingga terasa sekali semakin lama jadi semakin panas, perih dan pedih serta ngilu sakit yang dialami oleh si cantik alim ini.

    Namun di samping itu semua, ujung-ujung syaraf peka di tubuh Aida – terutama di bagian yang paling sensitif – mempersembahkan gejolak kegatalan dan nikmat tak terlukiskan dengan kata-kata. Semua silih berganti semakin lama semakin cepat hingga Aida tak dapat lagi membedakan pada saat hunjaman penis pak Sobri membentur rahimnya : apakah ngilu atau enak, apakah perih atau gatal, apakah sakit atau nikmat, sakit tapi nikmat, apakah nikmat atau sakit, apakah ini khayalan ataukan kenyataan? Apakah dosa jika dia tidak melawan, ataukah dosa jika Aida mengakui bahwa semuanya memang menyakitkan tapi nikmat.

    Aida tak tahu lagi apa yang sedang menghantui benak dan tubuhnya – keinginannya untuk tak menatap mata sang pemerkosa akhirnya terkalahkan. Masa bodohlah semuanya, jilbabnya pun telah terlepas, apa lagi yang harus ia pertahankan? Kesuciannya telah hancur, suaminya selama ini tak pernah memberikan nafkah batin seperti ini, sedangkan pak Sobri memang memaksakan hasrat kelaki-lakiannya dengan sangat nikmat, mengajarkannya bagaimana menjadi wanita dewasa yang dapat mengalami kepuasan badaniah sepenuhnya, yang selama ini selalu tersembunyi.

    Dengan kuyu dan sayu penuh rasa putus asa dan kepasrahan, Aida menatap mata pak Sobri yang bersinar karena sedang menikmati kemenangannya. Dengan sedikit gemetar kedua belahan paha Aida yang sejak tadi dipaksakan merebah terkuak di ranjang, kini mulai bergerak, lutut yang bulat mulus itu menekuk dan melurus. Tanpa dipaksakan, paha mulus Aida mengatup dan menjepit merangkul pinggang pak Sobri, dan seirama dengan hunjamannya ikut menekan seolah ingin membantu penis yang semula sangat menyakitinya itu masuk semakin dalam.

    Hampir satu jam sudah pergumulan kedua insan itu berlangsung, menandakan betapa hebat kejantanan pak Sobri. Inilah memang saat yang telah lama diimpikan oleh pak Sobri : ustazah Aida yang cantik jelita bertubuh sintal bahenol dengan buah dada montok dan goyangan pinggul denok bahenol berada di bawah tindihan tubuhnya. Menyerah pasrah di bawah cengkraman kekuasaannya, kedua matanya penuh rasa putus asa meratap memohon belas kasihan, namun tak tahu pasti apakah penyiksaan nikmat yang dialami harus dilanjutkan atau dihentikan.

    Pak Sobri menyadari bahwa ia tak boleh terlalu serakah dan tamak : istri setia ini telah menyerah dan menikmati perkosaannya, lain kali masih ada kesempatan, jangan sampai perbuatan maksiat ini dipergoki oleh Farah yang mungkin tak lama lagi akan pulang ke rumah. Biarlah cukup untuk kali ini – dan… entah… siapa tahu wanita ini sedang subur, mungkin ia akan menanamkan benih di dalam rahimnya.

    Pak Sobri tak dapat menahan lagi ledakan lahar panasnya menyembur dari kedua biji pelirnya, sedemikian banyak sehingga sebagian meleleh keluar dari vagina Aida. Semprotan bermenit-menit menyirami mulut rahim Aida, disaat mana istri alim shalihah ini mengalami orgame ketiga!

    “Iyaa… auuh… oooh… Paak, emmh… iyaa, terus! Nikmaat…” dengus dan rintih Aida saat dilanda oleh gelombang orgasme bagaikan tsunami untuk yang ketiga kalinya!

    Setelah membantu Aida membersihkan diri di kamar mandi dan membantunya memakai baju kurung serta jilbabnya,   pak Sobri memberikan sebuah amplop tertutup dari slot server luar negeri kepada Aida dengan pesan agar tak menceritakan peristiwa itu kepada siapapun karena hanya merupakan aib bagi Aida. Pak Sobri berjalan menuju pintu dan sebelum keluar ia mengatakan bahwa amplop itu boleh segera dibuka namun jika ia telah pergi jauh dengan mobilnya dan tak terlihat lagi di ujung jalan.

    Tanpa banyak kesulitan pak Sobri menyambungkan alat kompressor bersaluran udara panjang ke ban mobilnya dan ansteker – ban yang memang kempes tapi tak ada lubang sama sekali itu hanya dalam dua menit telah terisi lagi udara sebagaimana semula, lalu pak Sobri menghidupkan mesin dan melaju menghilang di tikungan ujung jalan.

    Aida membuka amplop putih itu dan tercengang ketika menghitung uang yang tersisip disitu : tiga puluh juta! Yang dimenangkan Sobri dari slot thailand. Dengan uang itu maka sementara kehidupan keluarganya dapat dilanjutkan, demikian pula pengobatan ayahnya di rumah sakit, serta pinjaman mereka kepada pak Burhan si rentenier.

    Aida duduk terhempas di kursi : pikirannya kacau, apakah ia berdosa mengalami ini semua? Ini semula tidak ia inginkan sama sekali, namun akhirnya Aida sangat menikmatinya. Apakah uang ini haram, apakah boleh dipakai untuk menolong ayahnya yang sakit parah?

    Aida tak tahu apa jawaban dari 1001 pertanyaan yang memenuhi benaknya, kepalanya dirasakan pusing dan sangat berat, apalagi badannya yang kini telah tertutup rapih kembali dengan baju berlapis-lapis, namun disana sini pasti masih penuh dengan cupangan merah kebirua-biruan akibat ciuman ganas pak Sobri. Aida merasakan pipi dan telinganya memerah mengingat apa yang dialaminya…

    Apakah pak Sobri sudah puas dengan pengalaman sekali saja – ataukah di masa depan masih ada kesempatan lagi mencicipi tubuh Aida yang bahenol itu? Apakah Aida telah belajar kenal dengan semua teknik bercinta, oooh… masih jauh dari itu. Pak Sobri bertekad akan mengulang menggarap Aida dengan cara lain dan mengajarinya menjadi budak sex yang patuh 100%…

    Tamat Bagian Pertama*

    ***

    Baca Juga

  • Ngentot Memek Mbak Indri Yang Nikmat Part 7 [Last]

    Ngentot Memek Mbak Indri Yang Nikmat Part 7 [Last]

    Cerita Ngentot Bersambung – “Sakit memekku .. “ ringgis Indriani Hadi dengan mata berarir karena kesakitan batangku menghujam keluar masuk dengan cepat dan kuat itu.

    “Mau ganti gaya ?” tanyaku yang disambut dengan senyum wanita berjilbab ini dengan menggigit bibirnya.

    “Iya deeh .. pengin nggaya yang lain “ sahut Indriani Hadi dengan menggodaku.

    Aku kemudian kembali menarik pantat Indriani Hadi dan kuremas kemudian aku menggeser dan duduk di sofa itu.

    “Sekarang Mbak Indri .. mundur yaa .. tangan Mbak Indri bertelepak di sofa .. “ ajakku dengan memundurkan punggungku sehingga kini jarak tubuhnya jauh dengan dada Indriani Hadi sedang selakangan Indriani Hadi masih mendudukiku, apalagi batangku setia di dalam memek wanita berjilbab ini

    “Uuh Haan .. yaa .. aaaaaah .. kita naik turun yaaa .. ooh Haan .. nikmaaaaat aaaaaah teruuus sayaaaaaaaang .. aaaah nggak tahaaaaan aaakuu “ erang Indriani Hadi yang ikut bergerak seiring batangku keluar masuk vaginanya. Kami berdua mengambang di udara di atas sofa itu, gesekan kedua alat kelamin kami semakin nikmat, Indriani Hadi sampai menggeleng geleng dan tertawa senang melihatku terpejam merasakan tekanan selakangan Indriani Hadi yang ikut bergerak itu.

    “Ayoo sayaaang sudaaah nggak kuaaaaaat aaaaaaah “ sahut Indriani Hadi dengan nafas ngos ngosan itu, genjotan demi genjotan kami semakin cepat

    “aaaaaaaaauh aaaaaaaaah sssssssshhh sssssssssshhh .. “ dengusku tak karuan disambut dengan pejaman dan dengusan Indriani Hadi bak dikejar kejar.

    Dadanya bergemuruh, buah dadanya naik turun, jilbabnya melambai lambai sampai bersentuhan dengan buah dadanya, semakin indah wanita berjilbab ini dikontoli dengan tetap berjilbab. Bibirnya sampai komat kamit entah apa yang diucapkan, kenikmatan yang baru dirasakan oleh Indriani Hadi yang selama ini mengenal seks sebagai seorang istri yang solehah dan taat beribadah, namun kini telah menjadi wanita yang liar, tak tahu etika sebagai seorang istri. Menikmati kenikmatan seks yang belum pernah di dapatkan.

    “Sayaaang aaah .. dikontoli samaa kaaamuu .. aku bebas .. ngomong jorok ..waduuh .. memekku aaaah .. kontolmu .. ayo kontol .. hajar memek Mbak Indri .. aakuu mau keluaaar nih “ sahut Indriani Hadi dengan meringgis sambil mengikuti gerakanku naik turun, kepalanya menggeleng geleng tak karuan, wajahnya penuh dengan keringat membanjir, demikian pula dengan tubuhnya yang polos itu.

    “Iyaaaaaaaaaah “ erangku singkat

    Gerakan demi gerakan kami yang berlawanan itu sampai membuat vagina Indriani Hadi menyempit dengan cepat

    “Sayaaaaaaaaaang aaaaaaaaaaaaaaaah ……….aaaaaaaaaaaaaaauuh “ erang Indriani Hadi dengan suara parau dan berat, vaginanya menyempit dengan cepat dan matanya terpejam mendongak ke atas, kurasakan jepitan itu sampai membuat aku juga tidak tahan lagi. Indriani Hadi menegang dengan kuat seiring sodokanku yang keras itu.

    “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaauuuuuuh “ erang Indriani Hadi panjang dan berdebam ke belakang, tubuhnya ambruk dengan berkelonjotan tak karuan, aku kemudian memajukan badanku dan menarik kakiku, kupegang kedua kakin Indriani Hadi dan aku menggenjotnya maju mundur menyodokinya, Indriani Hadi sampai ikut tergoncang

    “Haan please ..sudaaaaah aaaaaaah aaaaaaaaauh sakiiiit “ erang Indriani Hadi dengan susah payah menahan genjotan demi genjotanku yang cepat dan keras itu, batangku lancar sekali, Indriani Hadi hanya menikmati orgasmenya sebentar karena aku terus menggenjot dan menghujam

    “Bentaaaaaaaar aaaaaaaaaaah “ erangku dengan menghujamkan batangku dalam dalam, buah dada wanita ini ikut terguncang naik turun. Kuhujamkan batangku ketika aku hendak mencapai orgasme, batangku kutekan kuat dan kusemburkan air maniku di vagina wanita berjilbab ini.

    “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah “ erangku panjang dengan mendongak

    “Craaaaaaaaaaaaaaat .. craaaaaaaaaaaat .. craaaaaaaaaaaaaaaat .. craaaaaaaaaaat “

    Aku sampai ambruk ke depan dan menindih Indriani Hadi di sofa itu, nafasku serasa hancur, kutindih dan kupeluk, tulangku serasa lepas dari tubuhku, dadanya turun naik menggesek buah dada segar Indriani Hadi yang terkapar tak berdaya itu. Kurasakan air maniku meleleh keluar dari sela sela vagina Indriani Hadi yang becek itu.

    Kami diam lama sekali setelah beberapa menit, Indriani Hadi memelukku, menarik kepalaku kemudian. Kubuka mataku dan seulas senyum diberikan padaku

    “Kamu tidur di sini aja yaa .. aku pengin dikelonin sama kamu .. tapi jangan tindih aku deeh “ sahut Indriani Hadi dengan mesra, aku kemudian memeluknya dan menggulingkan tubuh Indriani Hadi itu, dan kini Indriani Hadi berada di atasku

    “Terima kasih, sayaaaang .. kontolmu biar di dalam memek Mbak Indri yaaa .. pengin merasakan kehangatan” rajuk Indriani Hadi dengan menyenderkan kepalanya di dadaku itu.

    “Yaa “ jawabku singkat

    “Sayaang .. kurasakan air manimu banyak jugaa .. “ sahut Indriani Hadi dengan menghembuskan nafasnya agar teratur.

    Sementara air maniku menetes-netes dan mengalir banyak meleleh keluar dari lobang kemalian Indriani Hadi.

    Tiba-tina MBak Indri menarik lepas jilbab di kepalanya, kemudian dengan jilbab itu mbak Indriani mengelap sperma yang menetes-menes di kemaluannya. Berulang-ulang dibersihkannya kemaluannya dengan jilbab itu sampai bersih, dan kini jilbab itu basah kuyub oleh cairan spermaku.

    “Kalo hamil gimana ?” tanyaku

    “Aaah .. biarin aja .. abis nikmat sih .. kapan lagi bisa menikmati kontol gedhe “ sahut Indriani Hadi cuek.

    Kami berdua sampai tertawa sambil menggoda itu, kami lelah sekali bercinta itu, Indriani Hadi kembali memejamkan matanya dan kami tidur berpelukan di sofa dengan batangku masih menancap di vagina wanita berjilbab ini. Kupeluk dan kami pun diam ditengah malam yang dingin itu. Pagi pagi aku harus pulang karena Sahrul Gunawan katanya jam 08 mau mampir ke rumah, aku hanya mengatakan sembunyi saja, sehingga seharian nanti aku bisa menggenjot seharian. Indriani Hadi sampai menjawil hidungku. Aku diminta sembunyi saja di mobilku.

    Baca Juga

  • Malapetaka Dimulai : Tragedi Aida Part 4

    Malapetaka Dimulai : Tragedi Aida Part 4

    Cerita Dewasa Bersambung – Pak Sobri semakin meningkatkan kegiatannya merangsang istri ustadz idaman dengan menangkap dan meremas-remas lagi kedua buah dada Aida, terutama putingnya dijadikan sasaran dipilin dan dicubit ditarik-tarik sehingga Aida jadi menjerit kesakitan. Pak Sobri tidak perduli semua rintihan dan jeritan Aida yang memilukan, bahkan kini mulut dan bibirnya tak cukup memberikan cupangan-cupangan ganas di kedua betis Aida yang putih, namun juga mencapai lipatan paha dan akhirnya melekat di tengah selangkangan Aida untuk memulai perantauannya disana!

    “Ummh… cckkk… sluurpp… uuh wanginya! Neng mandi pake air mawar ya, bisa harum kayak gini?! Bapak jadi ketagihan, mmmh… nggak puas-puas bapak rasanya… nih bapak ciumin dan jilatin ya?!” celoteh pak Sobri diselang-seling dengan ciuman dan gigitan gemas di bukit kemaluan Aida yang gundul kelimis karena selalu dicukur.

    Lidah pak Sobri bagaikan ular menyapu-nyapu bibir kemaluan Aida, lalu berusaha memasuki celah di tengahnya untuk mencari tonjolan daging kecil sebesar butir jagung yang tersembunyi diantara lipatan atas bibir vaginanya.

    “Oooh… jangaan! U-udah, Pak! Tolong kasihani saya! Saya ini istri ustadz, Pak! Oohh… saya tak mau selingkuh, Pak! A-ampun… saya tak akan lapor! Tolong, Pak… jangan! Aaiihh…” Aida menggelinjang dan berontak mati-matian melawan rasa lemasnya, dan selain itu melawan rasa lain yang tak pernah dialaminya karena suaminya tak pernah melakukan bercinta oral di vagina. Rasa menyesal dan bersalah silih berganti mulai terdesak rasa ingin tahu, ingin terus mencoba!

    Tanpa menghentikan remasan dan pilinannya di puting tetek Aida yang begitu montok tegang mengacung itu, pak Sobri kini menjilat-jilat penuh nafsu celah kewanitaan Aida yang semakin basah berlendir. Bagaikan kenikmatan di pagi hari menang slot habanero, maka bibir kemaluan Aida sebagai wanita dewasa menjawab jilatan lidah pak Sobri dan memberikannya kesempatan menampilkan klitorisnya yang seolah malu tersembunyi, dan kelentit ini segera dijadikan sasaran gigi-gigi tajam!

    “Auuw! Aiihh… oohh… ahhh… emmh… u-udah, Pak! Ngiluu…   saya tak tahan! Auww… oooh… j-jangaan digigit, Pak! Sakiiit… ampuun!” jerit Aida sambil tubuhnya mulai kembali kejang-kejang dan gemetar bagaikan terkena aliran listrik, kedua tangannya mencengkeram jari-jari pak Sobri yang tak puas-puas terus menerus meremas buah dadanya.

    Tak hanya mencengkeram, namun kuku-kuku jari Aida yang juga begitu bagus rapih terawat mencakar-cakar lengan bawah pak Sobri, menandakan perlawanan sia-sia menahan rasa nikmat kembali menyiksanya. Kini pak Sobri berganti-ganti menjilat, menggigit-gigit dan menyapu klitoris Aida dengan janggutnya yang berhias jenggot sekasar sapu ijuk.

    Tak lama kemudian Aida sama sekali telah kehilangan rasa malu, kehilangan pertahanan dan akal sehat sebagai istri setia seorang ustadz. Terlalu hebat siksaan kenikmatan yang sedang dialaminya dan ini tak pernah diterimanya dari suaminya yang sah, tak pernah ustadz Mamat mengajarkannya serta memberikan seni percintaan sebagaimana yang selalu diharapkan dan didambakan wanita sehat, tak perduli betapa suci, alim dan shalihahnya si wanita, itu sudah kodrat naluri alamiah.

    Menyadari bahwa kemenangannya di slot habanero gacor telah berada dihadapan mata, maka pak Sobri mengecup dan melekatkan seluruh mulutnya di ambang celah surgawi Aida. Buah kelentit Aida yang bagaikan butir jagung berulang-ulang dijepit diantara barisan gigi depan pak Sobri, bergantian dengan lidahnya yang kasar makin sering memasuki lubang vagina mangsanya. Bergonta-ganti pak Sobri menjepit kelentit diantara deretan giginya, lalu digeser-gesernya gigi itu ke kiri dan ke kanan.

    Kemudian dilepaskannya sebentar kelentit mungil itu dan sebagai gantinya lidah pak Sobri menyentuh dan menggelitik lubang kencing Aida yang juga demikian peka di bagian dalam. Sekaligus kedua ibu telunjuk dan ibu jarinya memulin serta mencubit-cubit kedua puting Aida yang telah amat tegang mengeras bagaikan batu kerikil mungil.

    Aida merasakan dirinya terbawa putaran deras arus gelombang kenikmatan, semakin lama semakin dalam dan akhirnya menyeretnya tenggelam kemudian dilemparkan setinggi-tingginya ke udara. Disitu seluruh syaraf di otaknya mengalami ledakan dahsyat tanpa ada tandingan, disertai sebaran jutaan bintang kecil di pelupuk matanya dan jeritan melengking wanita mendengung di telinganya: jeritannya sendiri!

    “Aaah… auuw… oooh… i-iya! Auuw… Pak, aduuh… eemh… aaihh… u-udah, Pak! Oooh… terruus… oooh… saya mau pipiis!!” Aida tak sadar lagi apa yang dikatakannya, ia memohon kepada pak Sobri agar berhenti atau justru meneruskan dan meningkatkan penggarapan yang sedang dilakukannya.

    Tubuh Aida kembali kaku menegang dan kejang-kejang disaat orgasme lagi-lagi menerpanya, gelombang demi gelombang seolah tak henti-henti. Jari-jari kakinya menekuk melengkung ke dalam seolah ingin membentuk kepalan tinju, pahanya yang begitu lembut halus mengerahkan semua kekuatan otot-ototnya menjepit kepala pak Sobri, lalu membuka kembali, menggesek-gesek maju mundur seolah ingin menggaruk kegatalan tak terhingga.

    Pak Sobri yang telah berpengalaman, merasakan denyutan-denyutan dinding vagina Aida seperti meremas dan memijit-mijit lidahnya yang menjulur menyentuh lubang kencing. Inilah saat terbaik untuk menguasai wanita alim seperti Aida : menyetubuhinya disaat dinding vaginanya berdenyut-denyut. Disaat inilah seorang wanita akan merasakan vaginanya ngilu dibuka, dilebarkan dan dibelah!

    Pak Sobri meraih bantal yang berada di ranjang di samping tubuh mereka, lalu diletakkannya di bawah pinggul Aida dengan menurunkan perlahan-lahan betis dan kaki belalang yang tergantung di pundaknya. Dengan adanya bantal itu maka pinggul Aida jadi terangkat tinggi dengan kedua kaki masih terbentang ke kiri dan ke kanan, sehingga liang kemaluannya jadi terlihat sangat menantang dengan dihiasi bibir berwarna coklat muda kemerah-merahan dan dinding yang masih berdenyut-denyut lemah tapi nyata!

    Aida yang masih tenggelam di dalam badai orgasmenya dan tak perduli lagi tubuhnya yang selalu terlindung jubah gamis berlapis-lapis kini telanjang bulat di hadapan lelaki asing, tak dapat berbuat apa-apa lagi. Dirasakannya kembali tubuh pak Sobri yang penuh bulu tebal bagai gorila menindih tubuhnya, dirasakannya ada sesuatu yang mulai menerobos liang surgawinya. Aida sudah terlalu lemas untuk melawan, ia hanya dapat melenguh panjang menyatakan ketidaksetujuan terhadap apa yang akan terjadi. Namun semuanya sudah terlambat : milimeter demi milimeter celah kesuciannya yang selalu terlindung kini mulai dimasuki oleh alat kemaluan lelaki asing.

    Namun rasa putus asa, ketidakperdulian dan penyerahan yang telah menguasainya terganggu dan terhenti mendadak ketika Aida merasakan bahwa rudal daging yang mulai memasukinya sangat ‘tidak normal’. Suaminya selalu dengan mudah melakukan senggama meskipun harus diakui bahwa ustadz Mamat tidak memperdulikan apakah istrinya cukup licin basah atau belum. Kali ini Aida merasakan bahwa dirinya telah licin dan basah sekali, namun senjata pak Sobri sangat besar, berusaha beberapa kali pun tetap gagal menerobos liangnya yang kecil sempit.

    Namun dengan usaha yang terus-menerus, akhirnya pak Sobri berhasil meretas belahan bibir vagina Aida dan… bleees !

    “Auuw, hentikan! Hentikan! U-udah, Pak, jangan diteruskan! A-aduh… aduduh… aaah… auw! Pak! Aauuw… s-sakiit! Oooh… ampuun!” jeritan Aida menggema bagaikan hewan akan disembelih ketika dirasakan vaginanya bagaikan dibelah kayu.

    Pak Sobri hanya tersenyum sadis melihat wajah ustazah ayu manis di bawahnya menengadah ke atas dengan mata penuh air mata dan bibir merekah mengeluarkan rintih sakit memilukan. Tanpa rasa belas kasihan, pak Sobri terus melaju menekan kejantanannya menembus dan membelah dua dinding memek Aida. Sambil merejang kembali kedua pergelangan tangan Aida di samping kepalanya, pak Sobri menghentakkan pinggulnya, menancapkan dan menumbukkan kepala penisnya yang berbentuk jamur topi baja ke mulut rahim mangsanya, sehingga terasa amat nyeri sakit.

    Cerita Selanjutnya…

    ***

    Baca Juga

  • Cerita Sex Bercinta Dengan Janda Bahenol dan Sangean

    Cerita Sex Bercinta Dengan Janda Bahenol dan Sangean

    Cerita Panas – Perkenalkan Namaku Zakir, Umurku sudah menginjak 28 tahun, Aku sudah punya seorang istri yang cantik dan molek, Tapi masih tidak dikaruniai seorang anak. kami membuka usaha restoran yang besar dan beranggotakan 150 orang karyawan, Hidup kami selalu bahagia dan harmonis tetapi itu semua berubah ketika aku sudah mengenal sih Janda Kembang anak satu itu.

    Janda Kembang ini merupakan salah satu karyawan di restoran kami. Dia bernama Diana kami seing memanggilnya dengan panggilan Yaya sapaan akrab di restoran yang ku miliki. Yaya umurnya baru 22 tahun tetapi sudah menjanda, banyak dari karyawan di tempatku yang mencoba mendekatinya tetapi dia masi menolak mereka. Bagaimana tidak Yaya yang bertubuh montok dan masi sangat menggiurkan bagi banyak mata lelaki yang melihatnya.. Dengan ukuran payudara yang besar, dan bokong yang montok rambut panjang dan kulit yang mulus warna langsat membuat ku juga sering membayangkan kenikmatan bersetubuh dengannya..

    Beberapa kali aku menyapanya dia selalu tersipu malu, aku sering memikirkan apakah dia tertarik kepadaku.

    “Yaa, gimana hari ni apakah ramai pengunjung di restoran kita?” tanyaku.

    “Eeumm.. Cukup rame pak.. Tadi juga ada beberapa tamu yang memesan untuk hajatan besar.” Yaya menjawab dengan suaranya yang lembut dan sedikit manja.

    “Jangan panggil pak.. Panggil saja mas..” aku tersenyum kepadanya. Pembicaraan kami di restoran sekedar sebatas itu, namun aku selalu memperhatikannya. Suatu waktu Yaya menghampiriku dan memintaku untuk meminjamkannya uang untuk kebutuhan membeli susu anak katanya. 

    “Mas.. mohon ijin bole ga kalau Yaya meminjam uang untuk kebutuhan anak?, soalnya mas kan sering memberikan bonus , namun kali ini bonusnya sudah Yaya pakai kebutuhan mendadak.. Boleh ya mas?”

    “Baiklah yaya, ini aku berikan tuk kamu Ya..” Sembari aku mengambil uang dari kantongku sekitar 5 jutaan yang baru saja ku menangkan dari perabetmobil.com yang selalu memberi bonus besar kemenangan. Yaya terlihat cukup senang, dan sangat berterima kasih kepadaku.

    Suatu waktu aku bertemu dengannya saat dijalan pulang lalu kusapa dan kami ngobrol2 selepas itu hujan tiba2 turun tanpa ada gerimis sebelumnya jadi kami secepat kilat berlari untuk mencari tempat berteduh karena semua pakaian kami basah.

    “Hujan nih Ya” kataku.

    “Iya nih za, pakaianku jadi basaha semua hufff” jawabnya
    lalu kami berdiaman dan berusaha untuk menghangatkan diri masing masing, setelah itu tidak lama Yaya nyeletuk membuka percakapan duluan

    “Kamu kedinginan Ya ?” katanya.

    “Kalau kamu kedinginan sini aku peluk” kataku sambil bercanda.

    “Boleh saja kalau kamu mau” tawarnya

    tanpa basa-basi langsung kupeluk tubuhnya yang semok dan berisi itu, Yaya Hanya dia dan merasakan kehangatan tubuhku yang kekar. Setelah 15menitan aku mendekap tubuhnya akhirnya hujannya meredah dan kami putuskan untuk pulang ketika kami setegah perjalanan, Yaya memelukku kembali dipeluk tubuhku erat sekali ntah kenapa

    “Kamu masih kedinginan nah?”tanyaku

    Yaya hanya diam dan mempererat pelukannya dan kurasahkan bongkahan toketnya yang menempel kuat dipungggungku dan kurasakan ada tonjolan kecil yang digesek2 oleh YaYa dipunggungku. oh shit! ternyata putingnya yang sudah mengeras akibat hujan ini mungkin YaYa jadi Horny, Karena tau begitu kupercepat laju kendaraaanku sampai kerumah YaYa

    “Za? Ayuk masuk dulu ngeteh biar anget dikit” ajaknya menarik tanganku

    “Sudah kita diluar saja, ntar nggak enak dilihat tetangga”kataku

    Mungkin YaYa sudah dikuasi oleh hawa nafsunya karena tidak tahan lagi dia tidak memperdulikan ucapanku lagi, ketika sudah masuk kerumahnya kulihat ternyata sedang sepi lalu kukunci pintunya dan kudekap tubuhnya langsung kulumat bibirnya dia hanya diam dan bergerak mundur sambil membimbing mengarah kedalam kamarnya

    “Mmhhfff Srrup,” desah YaYa yang sedang kesetanan menyedot lidahku.

    Aku terus menyerangnya dengan bergairah sama dengan semangatku saat bermain slot pulsa tanpa potongan. Tangankupun tak tinggal diam, kulepas bajunya yang ternyata dia sudah dtidak memakai bra lagi lalu kuremas toketnya yang menantang itu dia semakin kepanasan seperti cacing karena sudah tidak tahan lagi

    “Mmmmhhhsss pelan2 saja Za” katanya sambil melepas celanaku dan celana dalamku.

    Kugendong dia kearah ranjangnya kubaringkan tubuhnya yang masih sedikit dingin kau kupeluk dia tapi kami masih saling melumat bibir dan tangan kami tidak berhenti memegang satu sama lain. 

    Kontolku yang dari tadi ngaceng tampak tegak sekali. Aku kembali mengulum bibirnya yang sexy itu sambil tanganku mengelusi pantat yang putih. Yaya ciumanku dengan bernafsu. Setelah puas dengan bibirnya aku menyingkapkan pakaian luar dan dalamnya termasuk CDnya, Sudah terlihat dengan jelas tubuh Yaya yang mulus, putih tergulai lemas. Kemudian aku menciumi buah dadanya yang kiri sedangkan tanganku meremas buah dadanya yang kanan.

    “Aww… Sshhhtt Mmmmhhhh” rintihnya yang membuat aku tambah bersemangat.

    “Toket kamu menggoda sekali Ya? pantes banyak yang pingin ngerasahin tubuh kamu” kataku.

    “Hushh, lagian aku sudah lama tidak pernah disentuh oleh lelaki” katanya sambil mengocok kontolku.

    “Wahh sayang banget dong, Padahal tubuh kamu masih bagus banget nih” kataku merayunya.

    “Aahh sudahlah, lanjutin permainan kita saja” katanya

    Lalu aku mulai menjilati memeknya yang telah basah oleh cairan birahi.

    “Aahh Oooshhh… Kamu bisa muasin memek ini, aku bakal kasih kesempatan sama kamu nanti” katanya sambil merintih.

    “Oooshh oooshh, Aaah.. Mmhh Sshht Mmmmhh!!” rintihnya lagi.

    Sesaat kemudian YaYa menekan kepalaku semakin dalam di memeknya, dan ternyata dia mendapat orgasmenya yang pertama. Kuhisap terus klistorisnya sambil kumainkan dengan lidahku membuat dia semakin gila mengelinjang

    “Yeh, lemah amat gitu aja kamu udah orgasmee” kataku ngeledek dia.

    “Hehe Namanya juga sudha tidak pernah dirangsang kaya gitu, Lihat aja nanti aku balas yah” jawabnya sambil mencubitku

    “Whahah,”aku hanya tertawa dan mencium bibirnya sambil tanganku mengosok klistorisnya yang membengkak

    “Ooouughh Ssshhhtt Mmmmhh” desahnya perlan dia langsung melepas kulumanku karena sudah bosen dia lebih tertarik untuk menghisap kontolku

    “Waktunya pembalasannku! Kamu nikmati saja yah sayang” katanya.

    “Lumayan besar juga kontol kamu, Sangggup nggak muasin aku dengan ukuran segini?” tanyanya memasang wajah nakal.

    “Bisa dong, malah kamu ntar yang minta tambah hihi” kataku mengoda balik

    Dia langsung melahap penuh kontolku dihisap dan dikocoknya tanpa henti seperti kehausan “Srupph Srrupphh Srupptt Mmmmhh” bunyi sedotan mulutnya tanganku memajumundurkan kepalanya dikontolku dia semakin ganas menghisap kontolku tanpa ampun dia terus saja menghisap kepala kontolku dengan kuat yang membuatku super kegelian sesekali lidahnya bermain dengan lubang kencingku. Membuatku sangat bernafsu dan menikmati permainannya. Sama ketika kenikmatan mendapatkan bonus slot pulsa.

    “Aahh enak Ya” desahku

    “Aahh enak, enak Ya jilati terus Yan aahh!!” rintihku.

    Setelah kurang lebih 20menitan YaYa menghisap kontolku tapi aku tidak segampang itu menjebolkan pertahananku, Dia hanya tertawa karena aku sangat tahan lama. membaringkannya secara telentang. YaYa mengerti dan segera membuka pahanya lebar lebar. Aku segera mengarahkan kontolku dan menyentuh lobang memeknya yang semakin banjir oleh cairannya.

    “Buruuan masukin sayang, aku udah nggak tahan lagi” pintanya.

    Aku tersenyum memandangnya sambil mengangguk.

    “Aaaahwww…Aaaahhh…Sssshht Mmmmhhh” desah YaYa

    Walaupun Memek YaYa Masih agak sempit tapi sepenuhnya kontolku masuk kedalam memeknya dibantu oleh cairan kewanitaannya,Aku menghentikan dorongan pantatku dan mendiamkannya sejenak. Setelah nafas YaYa sudah kembali normal aku mendorong laju kontolku ke dalam memeknya.

    “Mmmmmhhh Yeahh Aaaahh Yeahhh Ouughhh Sshht Ehmm” erangnya dengan liar.

    Mendengar itu aku tambah bersemangat untuk memompa kontolku didalam memeknya. Kemudian aku memeluknya sambil berbisik ditelinganya,

    “Aku mau kamu jadi milikku Ya” kataku

    “Oohh.. Sshhtt Enakkk tauu…Sudah nanti saja aku beritahu..” racaunya.

    “Sudah Entot Saja Memek aku, Puasin akuu!” Katanya lagi.

    Aku memperkencang genjotanku dan kudalamkan hujamanku sampai mengenai dinding rahimnya YaYa mendesah sejadinya karena sudah tidak memikirkan apapun karena sudah tenggelam oleh kenikmatan

    “Aaaahh teruss Za..aa Enaak bangett Entot Memek aku sampai mentokk” Rancaunya semakin menggila beberapa tangan kananku bermain dengan toketnya yang sintal itu putingnya kupelintir2 sedangkan tangan kiriku memainkan klistorisnya
    Karena semua rangsangan itu membuat dirinya bobol dannn….
    “Aahaah Sssh..hh Aaah…hh Oohh mmmhh Aaa…kuu..u keee..luuua…rrr Saaayang.g..g” tubuhnya bergetar

    hebat dan mengelinjang bicaranya terbata2 karena kenikmatan itu melanda pikirannya

    Setelah beberapa menit dia sudah agak mendingan, dia mendorongku dan mengenggam batangku dia jongkok diatas batangku dan mengarahkannya kedalam lubangnya,, “Mmmmhhh Aaahssshhh Blesssshh” Perlahan-lahan digoyang pinggulnya maju mundur maju mundur terkadang diputar putarnya kontolku dan dipomponya dengan tenang tapi membuat kepalaku ingin meledak karena goyangannya membuat kontolku serasa ingin meledakkan sperma

    “Aahh ssshhtt kamu jagoo banget goyangnya Ya” kataku mengguminya bukan karena dia cantik tapi dia juga pandai memuaskan pria sepertiku yang sudah lama tidak mendapatkan kenikmatan seperti ini. Hari ini memang keberuntungan kuu,, pagi harinya aku mendapatkan bonus deposit pulsa tanpa potongan, sore harinya aku mendapatkan Yaya..

    “Sekarang gantiian kamu yang bakalan kalah denganku” katany mempercepat goyangan dan pompahan memeknya pada kontolku

    “Ooohh Aaahhsss Mhhh Aaahh” 20menitan berlalu kami terus menggunakan gaya WOT dan akhirnya aku sudah tidak kuatlagiiii aku berteriak kencang sambil menghujam kontolku dengan kuat sampai mentok rahimnya

    “Aaakuu keeeluuarrr Yaa” kuentot memeknya dari bawah YaYa pun sepertinya ingin orgasme juga makanya dia memompa lebih kuat Dann…..

    “Aahh!!Aaaaaaaahhhhhhh!!!” kami berdua orgasme bersamaan Jeritku sambil memeluk erat tubuh YaYa lalu kutekan dalam dalam kontolku kusemburkan sperma kental itu didalam

    Kemudian kami berdua terkulai lemas

    “Nakall bangett kamu yah sampai buat aku orgasme 2kali” katanya

    “Aku sudah lama menginginkan tubuhmu Ya”

    “Aku sudah tau itu kok, kamu sering memperhatikan Toket dan Mengintip aku mandi”katanya
    “Tapi sekarang kamu tidak perlu begitu lagi, sekarang kamu bebas untuk menikmati tubuhku, Aku siap untuk melayanni kamu kok sayang” sambungnya..

    Hari itu adalah hari yang sangat berkesan bagiku dan Yaya, setelahnya pun kami cukup sering melakukannya lagi di sela sela waktu saat Yaya setelah selesai berkerja di tempatku..

    ***

    Baca Juga

  • Malapetaka Dimulai : Tragedi Aida Part 3

    Malapetaka Dimulai : Tragedi Aida Part 3

    Cerita Dewasa Bersambung – Mendadak, sangat mendadak pak Sobri menghentikan kegiatan jari-jari tangan kanannya meremas buah dada Aida, dan sebelum Aida dapat memahami apa yang terjadi, dirasakannya celana dalam sebagai pelindung auratnya yang terakhir ditarik dan diselusurkan ke bawah melewati paha betis dan kakinya. Kini sempurnalah Aida telanjang bulat di dalam cengkraman pemerkosanya, pak Sobri. Terlihat sangat kontras tubuh bidadari yang putih mulus itu ditindihi oleh tubuh besar hitam legam berbulu, istri ustadz yang alim shalihah itu tak berdaya lagi membela kesuciannya!

    “Yaa Allah, ampunilah aku ! Hambamu tak kuat lagi menahan malu dan aib ini,” tangis Aida di dalam batinnya ketika menyadari musibah yang segera akan menimpanya. Air matanya mengalir membasahi pipinya yang sedemikian halus, tubuhnya terasa panas dingin dibasahi oleh keringat yang deras mengucur karena pergumulan dan pergulatan serta rontaannya yang sia-sia.

    Tak ada yang dapat menghalangi pak Sobri dengan tenaganya, ibarat kesetanan kini ia melepaskan baju kaos dan celana dalamnya sehingga terlihatlah batang kejantanannya yang disunat telah menegang dan siap menerobos liang surgawi Aida.

    “Tak usah takut, manis. Bapak tak mau sakiti Aida, rela dan pasrah sajalah. Menyerahlah pada bapak, nanti Aida akan merasakan surga kenikmatan yang belum pernah kamu alami,” bisik pak Sobri sambil jari-jari tangan kanannya mengusap-usap kemaluan Aida yang licin tercukur rapih.

    Setelah menemukan celah yang dicarinya, maka mulailah jari telunjuk dan jari tengah pak Sobri yang besar memasuki perlahan-lahan liang vagina Aida, sementara ibu jarinya mengusap diantara belahan bibir kemaluan perempuan alim itu return to player. Perlahan-lahan tanpa dikehendaki oleh Aida, muncullah tonjolan daging kecil merah muda diantara bibir kemaluannya dan setiap kali klitorisnya ini tersentuh ibu jari pak Sobri, maka dirasanya selain geli juga bagaikan terkena aliran listrik yang menyengat tubuhnya.

    Sesuatu yang tak dimengerti oleh Aida : ia diperkosa, tapi kenapa tubuhnya memberikan reaksi saat dirangsang? Padahal itu sama sekali bukan salahnya sendiri – tubuhnya yang begitu padat montok sebagai wanita muda sehat jasmani mempunyai hormon-hormon kewanitaan yang secara normal membutuhkan ‘nafkah’ lawan jenisnya – itu sudah kodrat alam, itu naluri dasar perkembangbiakan manusia.

    Pak Sobri yang bukan pertama kali memperkosa wanita muda yang melawan menolak diawal mula merasakan bahwa daya pertahanan Aida sudah sangat lemah, sebentar lagi bukan saja ia menerima pasrah terhadap perkosaan, melainkan akan menyerah dan ‘membalas’nya dengan cara yang biasanya diberikannya kepada sang suami, namun kali ini kepada sang pemerkosanya…!

    Namun pak Sobri bukanlah pak Sobri jika ia dengan tergesa-gesa melakukan perkosaan. Pak Sobri bukanlah anak kemarin dulu, bukan anak belasan tahun disaat masuk usia pubertas melakukan sanggama dengan cara quicky. Pak Sobri mempunyai rasa ego yang besar, ia menginginkan agar Aida justru akan ketagihan dan selalu merenungkan, mengingat dan bahkan mengharap agar peristiwa perkosaan yang dialaminya akan selalu terulang lagi di masa depan. Untuk mencapai tujuan itu maka Aida harus dibantainya habis-habisan, harus dibangunkan seluruh nafsu birahinya, harus dihilangkan rasa malunya, pendek kata rtp slot : ditransformasi menjadi slutty.

    Pak Sobri menghentikan sementara ciuman dan gigitannya di puting buah dada Aida yang kini jelas semakin tegang dan mengacung peka itu. Ia memandang wajah Aida yang telah sayu dan kuyu penuh linangan air mata, namun justru terlihat semakin ayu cantik. Pak Sobri merebahkan diri agak menyamping di sisi kanan Aida, lengan kanan Aida ditindihnya dengan dadanya yang bidang penuh bulu itu. Lengan kiri pak Sobri dengan biseps amat keras diletakkan di bawah Aida yang masih tertutup jilbab seolah menjadi bantal, sedangkan tangan kiri pak Sobri berada di atas kepala Aida tetap merejang dan menekan nadi pergelangan perempuan itu ke ranjang sehingga tak dapat berkutik. Kaki kiri pak Sobri yang juga berbulu dan sangat kuat menindih paha kanan Aida serta direntangkan melebar ke samping kanan, sedangkan kaki kanan pak Sobri mulai menekan dan menguakkan paha kiri Aida semakin melebar ke arah samping kirinya. Dengan demikian Aida telentang telanjang bulat di ranjangnya dengan kedua tangan tak mampu digerakkan, demikian pula selangkangannya terbuka lebar tanpa pertahanan untuk melawan jari-jari pak Sobri.

    Menyadari betapa tak berdaya dan lemah keadaan tubuhnya, maka Aida hanya dapat menangis tersedu-sedu. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan mencerminkan ketidaksetujuannya atas apa yang sedang dialami, hidung mancung bangir dengan lubang mungil kembang-kempis menahan isak tangis pada saat dirasakan tubuh bugilnya mengkhianati kemauannya untuk tetap melawan nafsu.

    Pak Sobri semakin laju meningkatkan rabaan, usapan dan gesekan jari-jarinya di dalam liang Aida yang mulai basah licin berlendir karena limpahan air mazi dari dinding vaginanya. Isakan tangis Aida kini mulai berubah menjadi lenguhan, desahan dan rintihan wanita dewasa yang dilanda rasa gairah dan kenikmatan terlarang. Semakin lama lenguhan dan desahan itu semakin nyata di telinga pak Sobri yang semakin cepat menggesek ibu jarinya di kelentit Aida, sementara dua jari lain masuk semakin dalam ke dalam liang wanita Aida yang telah basah kuyup berlendir.

    Akhirnya dengan rintihan memilukan hati, tubuh Aida melengkung ke atas dan menegang bagai sedang sekarat, kemudian mengejang dan gemetar bagai menggigil disaat ia mencapai orgasme!

    Pak Sobri harus mengerahkan semua tenaganya untuk tetap dapat merejang tubuh Aida yang dilanda orgasme pertama akibat ulah sang pemerkosa. Beberapa menit kemudian tubuh Aida perlahan-lahan berkurang ketegangannya, menghempas lemah dan lemas basah keringat.

    Saat inilah yang telah dinantikan oleh pak Sobri yang tak kalah basah kuyup dengan keringatnya, dan kini telah siap bersetubuh dengan wanita idamannya tanpa perduli Aida telah setengah pingsan!

    “Gimana sayang, apa yang kamu rasakan sekarang, letih dan lemas tapi puas kan? Itu hanya sedikit permulaan saja. Bapak baru mulai merasa gairah dan segera akan melanjutkan permainan. Nanti neng akan merengek meminta tambah terus, bapak jamin nanti neng akan selalu ketagihan untuk dimainkan rtp slot gacor. Mau ya, neng manis?” ujar pak Sobri sambil meletakkan dirinya diantara belahan paha korbannya.

    Betapapun Aida berusaha menutup dan merapatkannya, tapi ia jauh kalah tenaga. Pak Sobri kini telah bertahta di tengah selangkangannya, kedua pergelangan kaki Aida nan langsing itu dicekal dengan geram sehingga terlihat kemerahan, kemudian diletakkannya kedua betis belalang nan langsing dengan lutut tertekuk itu di pundaknya yang bidang dan lebar. Pak Sobri kemudian menundukkan kepalanya dan mulai menciumi bagian dalam paha Aida yang begitu halus. Karena pak Sobri memang sengaja belum cukur selama tiga hari maka bukan hanya kumisnya tapi juga janggutnya telah ditumbuhi bulu jenggot pendek namun kasar ibarat sapu ijuk.

    Kini pak Sobri dengan sengaja menggesek-gesek dan menciumi paha bagian dalam Aida yang begitu halus dan peka sehingga terasa sangat geli ibarat ditusuk-tusuk ijuk. Akibatnya keadaan Aida yang telah lemas setengah sadar setengah pingsan itu dipaksa kembali bangun melawan rasa geli yang menyiksanya. Istri setia yang malang ini berusaha membalikkan tubuhnya tapi tak mampu karena kedua kakinya telah terkangkang lebar dan tergantung di pundak kiri-kanan sang pemerkosa.

    Cerita Selanjutnya..

    ***

    Baca Juga

  • Malapetaka Dimulai : Tragedi Aida Part 2

    Malapetaka Dimulai : Tragedi Aida Part 2

    Cerita Dewasa Bersambung – Aida berontak dan menggelinjang sekuat tenaga berusaha melepaskan dirinya dari ancaman bahaya yang akan menimpa, namun apalah arti tenaga seorang istri setia bertubuh asri semampai menghadapi lelaki yang telah lama menginginkannya dan kini telah menerkamnya bagai singa menerkam kancil lemah – dan kancil ini segera diseret untuk memasuki kamar tidur!

    “Hmmppffh… iieeehmph… tolooong ! N-nggak maau… lepaskan ! Auuw… ieeffhhh… ” caci maki suara Aida yang teredam sehingga tak keluar semuanya.

    Pak Sobri tak perduli atas protes dan rontaan korbannya, karena dengan tenaganya yang sangat kuat ia telah berhasil menyeret mangsanya memasuki kamar tidur yang selama ini hanya dihuni dan ditiduri oleh Aida dan suaminya yang sah, yaitu ustadz Mamat. Pergulatan dua insan tak sebanding tenaga itu semakin menjadi ketika pak Sobri telah berhasil menghempaskan Aida ke atas ranjangnya.

    Tubuh pak Sobri yang agak gemuk di atas 75 kilo itu semakin penuh dengan keringat ketika ia semakin ganas menindih tubuh Aida yang hanya sekitar 46 kilo. Mulut Aida yang selalu terhias dengan senyum manis itu kini tertutup oleh bibir dowér pak Sobri. Bukan hanya ciuman-ciuman rakus yang sangat mengganggu, namun aroma tidak menyenangkan disertai bau rokok membuat Aida sangat muak. Apalagi ketika dirasakannya bahwa pak Sobri menjulurkan lidahnya yang penuh ludah menjijikkan menerobos masuk, Aida mulai sangat mual dan terasa ingin muntah. Pak Sobri yang terbiasa ikut judi bola ini punya kebiasaan jarang membersihkan mulut.

    Aida berusaha mencakar muka dan terutama mata si pemerkosanya, namun pak Sobri sangat sigap dan langsung dengan hanya satu tangan berotot dan jari-jari sangat besar bagaikan beruang merejang kedua pergelangan tangan Aida. Ditekan dan diringkusnya kedua nadi nan langsing itu ke atas kepala yang masih terlindung jilbab, sehingga Aida tak mampu bergerak apalagi mencakar. Dengan ditindih tubuh sedemikian berat, Aida merasakan sangat sukar bernafas dan semua gelinjang gelisah serta rontaannya justru semakin memacu birahi pak Sobri.

    Dirasakan oleh lelaki durjana ini betapa lembut nan montok dua bukit gunung penghias dada Aida, membuatnya jadi semakin horny. Dengan kasar dan tanpa kesabaran sama sekali, Aida merasakan selembar demi selembar, lapis demi lapis baju gamis penutup pelindung tubuhnya dihentak ditarik oleh pak Sobri. Amat berbeda dengan apa yang dialami jika sedang bercinta dengan suaminya, ustadz Mamat… kini tubuhnya yang muda dan penuh hormon kewanitaan dipaksa menikmati nafsu hewaniah!!

    Aida menjerit dan meratap di dalam jiwanya yang tak rela untuk digagahi lelaki asing bertubuh kekar yang telah mandi keringat menyebabkan terlihat agak mengkilat. Aida tak rela menghadapi kenyataan pahit yang dialaminya akibat kebodohannya membiarkan lelaki asing masuk rumahnya saat ia hanya seorang diri. Kini semuanya telah terlambat, pak Sobri yang selama ini membantu sang suami untuk menerbitkan buku-buku berisi sbobet telah menindih badannya, merejangnya hingga jadi tak berdaya di atas ranjang, juga menarik dan melepaskan jubah baju kurungnya satu persatu, menciumi serta menyapu-nyapu lidahnya di rongga mulut, mencampurkan ludahnya yang berbau rokok dengan ludah Aida yang harum.

    Semuanya menyebabkan Aida mulai menangis tersedu terisak menimbulkan iba. Namun itu tidak menyebabkan pak Sobri menjadi kasihan, bahkan sebaliknya ia jadi semakin ganas! Lapisan demi lapisan pelindung tubuh istri setia ini dihentakkan dan ditarik lepas olehnya, sehingga kini hanya tinggal jilbab putih yang menutupi rambut Aida yang hitam bergelombang sepanjang bahu. Selain itu masih ada BH Parlay berukuran 36B serta celana dalam putih yang menutupi bagian tersembunyi dari tubuhnya yang sampai saat ini hanya pernah dilihat oleh suami Aida.

    Pak Sobri yang telah kesetanan menyeringai buas melihat betapa montoknya tubuh istri ustadz gurunya itu. “Hmm… harum, wangii nih bibir, mulut atas kamu… hmmh! Cuup, cuup, apalagi mulut bawah kamu… pernah dicium nggak mulut dan bibir bawah kamu oleh suami?” tanya pak Sobri diantara kecupan dan dekapan mulutnya menutup bibir Aida yang memang selalu terlihat merah muda merekah seolah mengundang untuk dicium.

    Aida tak sanggup lagi bertahan terlalu lama, tenaganya mulai habis ditindih dan direjang habis-habisan, terutama membela pakaiannya yang kini telah tersebar di atas ranjang dan sebagian jatuh ke lantai.

    Pak Sobri paham sekali bahwa wanita idamannya ini mulai takluk di tangannya, suaranya pun telah lunak terisak-isak dan serak karena tangisannya. Karena itu ciuman pak Sobri kini mulai meninggalkan mulut Aida, menjalar ke pipinya, mengecup dan meniup-niup liang telinga Aida, lalu juga dijilatinya rakus.

    Tak pernah suaminya melakukan hal ini padanya sehingga Aida merasa merinding kegelian, terlihat dari bulu-bulu sangat halus yang menutupi kulitnya jadi agak berdiri, dan isak tangisnya mulai berubah menjadi lenguhan, keluhan dan desahan-desahan halus sebagai tanda wanita alim ini mulai terangsang!

    “Oooh… aaah… aiihh… u-udah, pak ! Toloong, jangaan… saya tak mau ! Tak rela! Oooh… kasihani saya, pak ! Saya tak mau selingkuh… saya istri ustadz! Kasihani saya, pak Sobri !” keluh Aida sambil masih berusaha melepaskan diri dari tindihan badan pak Sobri yang begitu kekar.

    Desahan lemah lembut dari mulut Aida terdengar sangat kontras dengan dengusan berat lelaki yang sedang menggagahinya, apalagi ketika pak Sobri setelah puas menciumi telinganya, kini mulai turun ke leher jenjang Aida. Disitu pak Sobri menggigit-gigit dengan gemas sehingga terlihat cupangan-cupangan bekas bibir dowernya, setelah itu ciumannya turun ke bahu, kemudian wajah pak Sobri yang berhias kumis bagai sapu ijuk itu melekat di ketiak Aida yang licin tanpa bulu, dan bagaikan anjing kelaparan mulai menciumi dan menilati kulit yang sedemikian halus dan peka itu.

    Rasa geli tak terkira membuat Aida menggeliat berusaha meronta, tapi apa daya kedua nadinya tetap direjang di atas kepala oleh satu tangan pak Sobri yang begitu kuat ibarat belenggu besi. Geliatan dan gelinjang tubuh atas Aida tak membebaskan kedua nadi tangannya, namun justru membuat buah dadanya tanpa disadari semakin membusung dan menonjol ke atas. Dan gundukan daging kenyal montok ini adalah sasaran pak Sobri berikutnya setelah BH-nya ditarik lepas.

    Kedua bukit daging yang selama ini menjadi idaman dan impian pak Sobri kini terpampang di hadapan matanya, dan tanpa menunggu lagi segera dijadikan sasaran jari-jari tangan kanannya yang bebas. Pak Sobri tahu bahwa Aida akan mulai lagi melawan dan menjerit-jerit – oleh karena itu ia membekap lagi bibir merekah itu dengan ciuman ganas sementara jari tangan kanannya meremas dan mengelus buah dada idamannya sehingga terlihat mulai memerah dan putingnya semakin keras mencuat ke atas. Kedua paha betis langsing Aida yang kini tak terlindung lagi juga ditekannya sekuat tenaga ke kasur oleh paha dan betisnya yang penuh bulu bagaikan gorila.

    “Ummh… ini tetek montok banget, kenyal tapi kencang. Pasti tiap malam dijadikan mainan suaminya, kini jadi milik aku. Biar belum punya anak tapi mungkin keluar susunya jika diperas,” demikianlah pikir pak Sobri dan oleh karena itu semakin seru dan ganas ia meremas dan memijit puting kedua payudara mangsanya, membuat Aida jadi semakin menggelinjang-gelinjang karena kesakitan.

    “Enggak mau! Aiihh… j-jangann… auww! U-udah, eemphff… auuw!! S-sakiit…” Aida meronta-ronta dan berusaha bicara, namun suaranya hanya keluar sebagian karena terus menerus mulutnya diciumi oleh pak Sobri dengan menjulurkan lidahnya ke dalam rongga mulut Aida disertai ludahnya yang sangat dibenci dan amat memuakkan bagi Aida karena berbau rokok.

    Cerita Selanjutnya…

    ***

    Baca Juga

  • Malapetaka Dimulai : Tragedi Aida Part 1

    Malapetaka Dimulai : Tragedi Aida Part 1

    Cerita Dewasa Bersambung – Aida menarik nafas sangat dalam, kemudian dilanjutkan dengan menguap sangat panjang dan lama sambil menahan rasa kantuknya. Hari ini ia memang bangun amat dini : sekitar jam 5 pagi Aida telah menyiapkan makan pagi bagi suaminya karena ustadz Mamat mempunyai tugas. Tugas panggilan yang ditawarkan oleh pak Sobri, yaitu memberikan ceramah kepada para calon peserta Musabaqoh Tillawatil Qur’an. Pak Sobri meminta agar ustadz Mamat bersedia memberikan ceramah mengenai agama kepada para calon, karena adik terbungsu dari istrinya yang bernama Asmirandah – panggilan sehari-hari Asmi – diharapkan akan ikut pertandingan.

    Asmirandah adalah gadis remaja berusia 17 tahun yang kelakuannya sehari-hari mulai agak menyimpang dari ajaran agama, sehingga mencemaskan orang tuanya. Oleh karena itu mereka mengambil tindakan dengan menyuruhnya untuk ikut perlombaan membaca ayat-ayat Qur’an dan sebelumnya mendengarkan ceramah agar bisa memperdalam pengetahuan agamanya.

    Apakah pak Sobri kini berubah menjadi seorang yang alim saleh sehingga sangat memperdulikan persiapan iman dari calon pengikut musabaqoh, apakah tidak ada udang dibalik batu?

    Jawabannya mudah sekali diduga : tempat dari pemberian ceramah itu bukan dekat rumah ustadz Mamat, melainkan di desa Jamblang yang tak jauh dari kota Cirebon. Selain itu, ceramah yang diminta oleh pak Sobri kepada ustadz Mamat cukup memakan waktu lama sehingga tak dapat diselesaikan dalam sehari. Memang Pak Sobri menanggung semua biaya perjalanan, biaya penginapan dan segala akomodasi, di samping itu sebagai balas jasa, ustadz Mamat juga diberikan honorarium dalam jumlah cukup besar yang dapat dibandingkan dengan penjualan buku hasil karya sang Ustadz setahun lalu.

    Apakah pak Sobri sedemikian baik hati dan menjalankan fitrah sebagai dermawan?

    Semuanya itu ternyata hanyalah muslihat belaka untuk memancing ustadz Mamat agar bisa meninggalkan istrinya, Aida, selama dua malam. Selama kesempatan itu, pak Sobri ingin mendekati Aida, ingin merayunya dengan palbagai cara, ingin merasakan kehangatan tubuh bidadari idamannya itu. Pak Sobri telah dikuasai oleh bujukan iblis untuk mengatur semuanya – dan memang kemampuan iblis mengatur tak boleh dipandang ringan.

    Seolah awan gelap sedang menyelubungi keluarga ustadz Mamat, maka di hari pertama yang sama ketika ustadz Mamat berangkat ke Jamblang untuk memberikan ceramah, Farah pun kebetulan pergi menemui pak Burhan si rentenier kakap untuk negosiasi memperoleh pinjaman uang.

    Setelah memasak sederhana seadanya untuk makan siang dan menjemur pakaian kotor yang telah dicucinya di halaman belakang, maka Aida akhirnya memutuskan untuk sebentar memejamkan mata menghilangkan rasa kantuknya. Adiknya, Farah, juga telah pergi pagi tadi untuk mencari percetakan lain yang bersedia menerbitkan buku-buku agama karangannya. Farah tak mau cerita kepada Aida mengenai rencananya negosiasi dengan pak Burhan karena Farah tahu bahwa Aida tak senang dan selalu mencurigai pak Burhan sebagai lelaki mata keranjang. Setelah itu Farah mengatakan akan mengunjungi ayahnya yang masih dirawat di rumah sakit, karena itu kemungkinan besar akan lama meninggalkan rumah dan makan seadanya di kantin rumah sakit.

    Aida menghela nafas panjang dan merebahkan diri di bangku panjang di dekat ruang makan. Sayup-sayup seolah muncul terbawa deru angin, Aida mendengar ketukan pintu dan terdengar namanya dipanggil. Pertama Aida mengira bahwa itu hanya sekedar mimpi, namun setelah empat lima menit ketukan di pintu depan dan panggilan namanya tak kunjung berhenti, disadarilah olehnya bahwa itu memang bukan mimpi, tapi benar-benar ada orang yang mengetuk pintu.

    Sebagai istri yang alim shalihah, Aida agak ragu menjawab ketukan pintu, apalagi mendengar suara panggilan itu jelas keluar dari mulut seorang lelaki. Aida menjadi takut dan bertekad tak akan buka pintu!

    “Ummi Aida, ummi Aida, tolonglah buka pintu. Ban mobil saya rupanya kena paku hingga bocor, dan saya butuh air karena karburator terlalu panas sehingga tak mau jalan motornya. Tolonglah, ummi, hanya sebentar saja minta air dan ganti ban, lalu saya langsung pergi lagi, ” demikian terdengar suara lelaki di depan pintu yang akhirnya dikenali Aida sebagai suara dari pak Sobri.

    Di dalam benaknya Aida mulai ragu, bukankah menolong orang sedang kesusahan sudah menjadi kewajiban setiap manusia, apalagi seorang tekun beragama seperti ia sendiri. Lagipula yang membutuhkan pertolongan itu bukan lelaki yang sama sekali asing, melainkan pak Sobri yang di masa lalu sering kerja sama dengan suaminya untuk menerbitkan buku tafsir mimpi, juga pak Sobri bahkan hadir ketika pesta pernikahannya sendiri dengan ustadz Mamat.

    Sangat hati-hati Aida mendekati jendela kecil yang tertutup gorden untuk mengintip keluar dan diharapkannya tak langsung akan terlihat oleh pak Sobri. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh pak Sobri bahwa ban mobil belakangnya di bagian kiri kempés sehingga mobil itu terlihat miring sebelah. Namun yang mengejutkan Aida adalah ketika melihat kemeja pak Sobri telah basah kuyup dengan keringat dan tangan kirinya terlihat berlumuran cairan merah menetes dari jari-jarinya syair sgp. Pak Sobri agaknya terluka dan berdarah.

    Apakah kealiman dan ke-shalihahan seorang istri setia tetap dipertahankan dengan tidak menolong atau bahkan mengusir lelaki bukan suaminya itu, ataukah kesediaan untuk membantu sesuai dengan rasa peri kemanusiaan harus lebih diutamakan?

    Aida tidak dapat memutuskan apa yang harus dilakukannya. Di satu pihak hati nuraninya menuntut untuk wajib menolong, sementara di lain pihak fikiran sehatnya masih ragu tak yakin apakah ia tak akan salah langkah?

    “Tolonglah, ummi… saya hanya ingin diberikan air dingin untuk karburator motor, juga minum sedikit sebelum saya ganti ban dan cuci tangan. Kemudian saya segera akan pergi secepatnya, ” demikian ucapan pak Sobri memecahkan keheningan sejenak, dan dengan kalimat terakhir ini Aida memutuskan untuk melepaskan prinsip ke-aliman-nya dan bersedia menolong dengan erek erek 100.

    Padahal semuanya sudah diatur dan dirancang masak-masak oleh pak Sobri : ban mobilnya sebenarnya tidak bocor, namun beberapa menit lalu dilepaskan ventil-nya sehingga sebagian besar udara keluar menjadikan mobil itu miring. Selama perjalanan ke rumah Aida, dengan sengaja semua jendela ditutup dan airco tak dipasang, sehingga di tengah teriknya matahari pak Sobri sudah basah dengan keringat. Cairan merah yang terlihat membasahi jari-jari tangannya adalah tomato ketchup yang disimpannya minggu lalu ketika makan ayam goreng di Kentucky Fried Chicken. Sedangkan karburatornya sama sekali tidak kekurangan air.

    Namun seorang wanita seperti Aida tentu saja tak paham mengenai persoalan mesin mobil, sehingga dengan mudah dapat ditipu! Aida merapihkan pakaian dan jilbab putihnya yang lebar itu dan dengan menundukkan kepala dibukanya pintu depan rumahnya dengan perlahan…

    Pak Sobri melangkah masuk – Aida telah masuk dalam jebakan!!

    “Terima kasih banyak, ummi, saya ambil air saja di jerigen kecil ini. Mohon untuk ke belakang sebentar untuk hajat kecil dan cuci tangan, dan saya akan segera pergi lagi,” demikian pak Sobri melihat arah belakang rumah di balik hijab yang ditunjuk oleh Aida.

    Setelah itu Aida segera bergegas menuju ke dapur untuk mengambilkan segelas air minum tamunya. Tak disadari oleh Aida bahwa nafsu birahi pak Sobri telah naik ke-ubun-ubun ketika melihat betapa menggairahkan langkah Aida di balik gamisnya yang tak mampu menyembunyikan goyangan bongkah pantat yang begitu padat bulat, goyangan dan putaran sedemikian alamiah tanpa dibuat-buat!

    Aida telah meletakkan segelas air putih di atas meja kecil ruang tamu dan ingin berbalik untuk kembali ke dapur, ketika mendadak tubuhnya disergap dan dipeluk dari arah belakang. Teriakannya juga segera teredam karena mulutnya dibekap oleh tangan lelaki yang sangat besar kasar dan berbulu, tangan yang beberapa menit lalu dilihatnya berlumuran cairan merah kental kini menyekat bibir mungilnya.

    Cerita Selanjutnya…

    ***

    Baca Juga

  • Ngentot Memek Mbak Indri Yang Nikmat Part 6

    Ngentot Memek Mbak Indri Yang Nikmat Part 6

    Cerita Ngentot Bersambung – “Oke deh .. kamu juga ganteng dan gagah .. mana wanita nggak kepencut sama kamu .. kontol gedhe lagi” goda Indriani Hadi dengan manja sambil mengelus elus pipiku dengan penuh kemesraan. Kemudian wajahnya menunduk, seperti ada rasa sesal harus melakukan hubungan seks gelap ini, kunaikan dagunya itu

    “Kenapa Mbak ?” tanyaku dengan memagutnya sehingga akal sehat dan nuraninya kini kembali menjadi terbuai dengan nafsu birahi, Indriani Hadi menanggapi lumatanku dan kurasakan lidah Indriani Hadi menjulur mengajakku bermain lidah, kami sampai megap megap saling memagut dan menyedot itu

    “Sayaaaaaaang sssssssshhh .. shh hh .. segera kontoli aku lagi yaaaaa .. di mana ? keluarin pejumu di dalam memek Mbak Indri ya” tanya Indriani Hadi dengan membenahi jilbab itu, kuremas dengan lembut buah dadanya itu.
    “Oke deh .. aku pengin ngontoli Mbak Indri di sini aja .. ya … Mbak Indri yang menggenjotku naik turun .. aku pengin lihat susu Mbak Indri naik turun ketika mengenjot “ ajakku dengan menggeser tubuhku dan Indriani Hadi pun ikut menaikan kakinya ke atas sofa itu, aku kemudian rebahan di sofa itu, Indriani Hadi menekan ke dadaku

    “Oke deeh … rasain genjotan Mbak Indri yaa .. rasakan memekku .. aaaaah .. uuuuh .. kontolmu nakal sekali, sayaaang .. nakaaaaaaaaaal “ erang Indriani Hadi kesakitan ketika penisku menekan lebih dalam ke vaginanya yang basah itu.

    “Goyang deh Mbak Indri .. ayoo deh “ ajakku dengan mengelus paha mulus wanita berjilbab ini.

    Pelan pelan Indriani Hadi menaikan badannya kemudian turun dengan pelan

    “Ooh sayaang ..uuh .. kontolmu aaaaaaah .. gesekaaannyaa .. maakiin nikmaaaaaat .. ssssshh aaaaaauuh aaaaaaaauuh sssssssshh .. ayoo sayaaang .. kontolmuuu jangaaaaan diaaaaam ajaaaaaaa “ ajak Indriani Hadi dengan bergerak pelan pelan naik turun.

    “Iyaaa aaaaaaaah aaaaaaaaaauuh enaaaaaak .. aaakuu suka memek Mbak .. enaaaaak aaaaaaah sssssssshh sssssssshh uuuh jepitaaaanmuu aaaaaaaah aaaaaaaauuh sssssshh “ erangku merasakan gesekan yang membuat batangku dikunyah luar biasa dalam memek wanita berjilbab ini, ketika naik turun itu jilbabnya ikut bergerak melambai lambai menyentuh buah dadanya.

    Genjotan demi genjotan naik turun itu sampai membuat Indriani Hadi mendongak, merintih, mengerang serta melenguh dengan sebebas bebasnya. Tubuhnya semakin menggeliat ketika aku ikut meremas pantatnya yang sering kali menekan ke selakanganku itu.

    “Sayaaaang aaaaaaah aaaaaaaaaaauuh sssssssshh aaaaaaaauh .. enaaaak .. teruus Haan ..sayaaaaaaaaaaang …….sssssssssssshh ssssssshh .. gilaaaaa aaaaaaaah enaaaaaaaaknya .. uuuuuuh ssssssssshh aaaaaaaaaaaaaw huuuuuuuuuuh, mmmmmmmmmmmmmmmhh .. aaaaaaauh ssssssshh .. “ erang Indriani Hadi dengan semakin nikmat menggenjotku dengan irama konstan itu.

    Kusaksikan batangku keluar masuk memek wanita berjilbab ini dengan lancar, kusaksikan bagaimana batangku itu ketika masuk diperas luar biasa.

    “Remees susu deeh “ sahut Indriani Hadi dengan menurunkan ekor jilbabnya menutupi buah dadanya

    “Okeee “ sahutku dengan melepas remasan di pantat Indriani Hadi dan kuremas buah dadanya beserta jilbab itu.

    “Sayaaaaaang aaaaaaaaaah .. enaaak .. ssssshh ayoo sayaang .. kontolmu benaar benaaaar enaak .. besaaar .. aku suka kontolmu sayaaang .. pleasee .. kamu diam dulu yaa.. rasakan sodokan Mbak Indri .. “ kata Indriani Hadi menekan ke dadaku.

    Indriani Hadi mengatur sedikit mundur, kemudian maju mundurkan pantatnya menggesekan batangku

    “Aaaaaaaauh aaaaaaaaaaaaaaaaaaah Mbaaaaaaak …. Mbaaaaak Indriiiii nakaaaaaaal .. nakaaaaaal ……aaaaaaaaaah enaaaak teruus Mbaaaak .. enaak .. “ erangku merasakan gerakan Indriani Hadi yang maju mundur menghajar kontolku keluar masuk, batangku sampai berbunyi menggesek, makin nikmat dan kami semakin basah oleh keringat birahi itu.

    “Iyaaa aaaaaah aaaaaauuh sssssshhh .. eeeeeeh .. teruus yaaa “ ajak Indriani Hadi dengan maju mundur sehingga batangku semakin lama semakin lancar keluar masuk, gesekan demi gesekan itu sampai membuat Indriani Hadi menggeleng geleng tanda nikmat merasakan batangku keluar masuk vaginanya.

    “Uuuuuuh saaaaaaaayaaaaang capeeeeeeek aaaaaaaaah “ sahut Indriani Hadi dengan memelankan genjotannya kemudian diam.

    “Gantian aku deeh .. Mbak Indri diam yaa .. tapi naik dikit pantat Mbak Indri .. sisakan batangku separo aja .. rasakan sodokan ke atas dari kontolku yaa “ ajakku dengan meremas lembut buah dadanya

    “Oke .. “ jawab singkat wanita berjilbab ini dan menyampirkan ekor jilbabnya di pundaknya. Indriani Hadi kemudian menaikan pantatnya, kedua tangannya menekan ke dadaku, aku kemudian menyodok nyodok ke atas

    “Aaaaaaaaaauh aaaaauuh ooh Haan .. sayaang enaak Haan .. enaaaaak .. teruus sayaaaang .. aakuu aaaaah .. suka kamuu .. aaaku ketagihan sama kontolmuu “ teriak Indriani Hadi dengan memandangku senang dan menekan kuat ke dadaku

    “Memekmu enaaak aaaaaah aaaaaauh uuh ..ssshhh “ erangku dengan tetap menaikan dan menurunkan selakanganku menyodok nyodok vagina wanita berjilbab ini yang sudah terbuai nafsu, Indriani Hadi tersenyum senang sambil memandangku.

    “Uuuh .. sudaah Haan .. sudah sayaaaang .. “ sahut Indriani Hadi tak tahan akan sodokanku yang cepat sampai membuat vaginanya kesakitan.

    “Okee aaaaah .. capek juga genjot memek Mbak Indri .. sempit lagi “ sahutku yang disambut dengan gerakan naik turun Indriani Hadi itu dengan pelan pelan

    “Aayoo sayaaaang aaaaaaaaah aaaaaaaauuh enaaaak … ganti gayaa yaaa “ sahut Indriani Hadi dengan masih turun naik di selakanganku. Indriani Hadi kemudian berhenti, aku bangun dan menahan pantat Indriani Hadi agar tidak bergerak meremas batangku lebih parah.

    Aku kemudian menaikan selakanganku dan kupegang kedua pantat Indriani Hadi kemudian menggulingkan ke samping sehingga Indriani Hadi ini bersandar pada sandaran punggung sofa

    “Mbak Indri rebahan nyamping yaa “ sahutku dengan memberikan pagutan pelan ke bibir wanita berjilbab ini, ekor jilbabnya sampai menutupi buah dada sebelah kirinya

    “Genjot deeh .. akuu dah nggak tahaaaan .. semprotin memek Mbak Indri yaaa .. ayoo sayaang “ ajak Indriani Hadi dengan memejamkan matanya. Kuangkat kaki kanan Indriani Hadi ke atas, kemudian aku menyodokan batangku keluar masuk vagina Indriani Hadi

    “Aaaaaaaaaaauh saaaayaaaang saaakit aaaaaaah ..aaaaaauh teruus Haan .. teruus sayaang jadi eeenaak nih .. uuuh .. kontolmuu benar benar mantaaaaap .. ayoo aaaaaaaaaah ssssssssssh sssssssshh aaaaaaauuh teruuuuuuuuus aaaaaahh “ erang Indriani Hadi tak karuan dengan mata terlihat bola matanya memutih, tangan kirinya ditekuk menahan bobot tubuhnya

    “Iyaaaaaa aaaaaaah samaaaaaaaaaaaa.. aaakuu aaaaah “ erangku

    “Yaa .. sayaaang ada apaaa ?” tanya Indriani Hadi dengan membuka matanya, tangan kanannya mengatur kembali jilbabnya yang miring hampir menutupi matanya

    “Uuh .. memekmu makin sayaang “ sahutku.

    Bunyi keciplak alat kelamin kami semakin santer

    “Srep .. srep ..srep..srep..srep..srep..srep..srep..srep..srep..srep..srep “

    Kami semakin cepat bergerak seiring dengan nikmatnya bersetubuh itu, genjotan demi genjotan itu sampai membuat wanita berjilbab ini merem terpejam sangat erat.

    “Ng nngg ngg ngg aaaaaaah ..nnggak taaa tahaaaan .. aaaaaaaaaaauh sayaaaaaang .. teruus “ erang Indriani Hadi dengan terbata bata, bunyi gesekan itu semakin lama semakin santer akibat aku menggenjot lebih cepat

    “Sayaaaaang aaaaaaah .. berhenti ..stop .. pleasee aaaaaaah “ tahan Indriani Hadi dengan membuka matanya dan menahan ke selakanganku.

    “Kenapa, sayaaaaaaaaang “ tanyaku

    Baca Juga