KONGJONES CERITA DEWASA LENGKAP

CERITA SEX BERSAMBUNG

Category: Cerita Seks Bersambung

  • Kisah Keluarga Agak Laen – Part 1

    Kisah Keluarga Agak Laen – Part 1

    Cerita Seks Bersambung – “Kalo udah ngurusin anak… Nggak pernah bakal bisa kelar…” Ucap Citra dalam hati, “Semakin besar mereka tumbuh…. Semakin banyak pula hal yang harus diurusin….”

    Dengan malas, Citra melangkah ke meja riasnya. Duduk di bangku pendek sambil menatap lurus kedepan, kearah cermin rias yang menampakkan wajah cantiknya. 

    “Ooohh lendir Clara…” Bisik Citra sambil mengamati wajah lepeknya yang baru saja disembur oleh cairan kenikmatan putri kandungnya, “Mama sama sekali nggak nyangka… Kalo kamu juga senakal itu Sayang… Sudah mulai bermain-main dengan kontol Mike… “

    “Putri kandungku… Mempermainkan kontol suamiku….”

    “Bakal sejauh apa kamu bermain-main dengan ayahmu Sayang…?”

    “Ohhh….Clara…Mike…. dan Ciello….Kalian benar-benar membuatku pusing….” Ucap Clara yang kemudian merayap naik ketempat tidur. Berusaha menenangkan kekalutan pikirannya.

    “Apa Mike sudah tahu kelakuan mesumku dengan Ciello ya…? Sehingga ia berani berbuat seperti itu bersama Clara…?” Batin Citra berusaha mengkoreksi diri, “Ah… Tapi nggak mungkin… Mike sama sekali tak pernah berada dirumah ketika aku sedang bermesraan bersama Ciello…”

    “Tapi… Kalo Mike beneran bisa tahu mengenai hubunganku dengan Ciello… Kenapa ia tak pernah membahasnya sama sekali…? Malahan dia bermain api dibelakangku…?”

    “Bermain api….?” Ucap Citra lirih.

    “Sama sekali nggak kebayang… Kalo memek Clara yang mungil itu beneran dientot oleh kontol panjang dan besar milik Mike…” Pikir Citra lagi sambil membayangkan segala kemungkinan yang terjadi pada hubungan putri dan suaminya, “Kalau begitu… Apa itu artinya aku juga harus membalas Mike dengan melakukan perbuatan yang sama…? Ngentotin kontol Ciello yang tak kalah besar itu…?”

    “Oooohhh.. Kontol Ciello…. ” Lenguh Citra yang tiba-tiba, mulai meraba-raba liang kewanitaannya sambil membayangkan sodokan tajam penis anak kandungnya, “Kalo Mike sampai berani berlaku mesum kepada Clara…. Kenapa aku tidak ya…?” Tambah Citra yang entah kenapa merasa semakin terangsang karena bayangan erotis penis Ciello membelah liang sempit vaginanya

    “Sssshhhh… Ciellooo……Gara-gara Papa… Mama bisa ngewujudin kepengenan Mama nih… Oohhh… Disodok kontol besar anak sendiri….. Ehhmm…” Desah Citra yang dengan satu jarinya, mulai mengusap biji klitorisnya yang perlahan mulai membesar. Menggosok dan mencubiti daging mungil yang ada diantara liang bibir kenikmatannya. Semakin lama semakin cepat, cepat dan cepat. Hingga tak memerlukan waktu lama, kecipakan lendir vaginanya mulai terdengar nyaring. Meleleh keluar seiring gerakan kocokan jemarinya keluar masuk di liang peranakannya.

    CLOK CLOK… CLOK CLOK CLOK CLOK…. CLOK CLOK… CLOK CLOK…

    “Oooohhh…. Ssshhhh… Cielloo…. Sini’in kontolmu Sayang… Mama pengen ngejilat batang panjangmu… Oooohhhh…Ciellooo Saayaaangg…” Lenguh Citra sambil meremas-remas kedua payudaranya. Tak lupa, ia juga memilin sembari menggigit-gigit putingnya pelan.

    “Eeehhmmmhhh… Iyaaa Sayang…. Ssshhh…. Ooohhh….. Isep tetek Mama… Iseep… Issep yang kenceng Sayaaang… “Racau Citra keenakan sambil terus mengobel vaginanya sendiri.

    CLOK… CLOK CLOK… CLOK CLOK

    “Oooohhh… Iyaaa… Iyaaahhh… Terus Saayang… Isep tetek Mama yang kenceng Sayang… Isep yang kenceeng… Ooohhhh…” Sambung Citra yang makin tenggelam dalam gelombang birahinya. 

    CLOK CLOK CLOK… CLOK CLOK.. CLOK CLOK.. CLOK CLOK..

    Tak henti-hentinya, Ibu dua anak itu terus mengocok liang vagina sempitnya dengan kecepatan tinggi, berharap agar kedutan getar birahinya dapat segera ia rasakan dengan nikmat. 

    Namun aneh. Pada permainan jarinya kali ini, Citra merasa ada sesuatu yang berbeda. Ia merasa jika masturbasinya ini jauh lebih nikmat daripada biasanya. Terlebih ketika ia memikirkan tentang perbuatan mesum Mike ketika mencabuli putri kandungnya, membuat orgasmenya terasa lebih cepat datang. Oleh karenanya, tak jarang Citra lepas kontrol untuk menahan diri supaya tak berteriak karena kenikmatan kobelan jarinya sendiri. 

    “Ooohhh… Kamu nakal Maasss…. Kamu … Ooohh… Nakal….. Shhhhh…..” Seru Citra terus mengobel vaginanya, “Kamu tega mencabuli putri kandungmu… Oooohhh… Kamu tega menyemprotkan pejuh kontolmu pada putrimu sendiri…. Ooohhh… Kamu nakal Maaasss…..”

    CLOK CLOK CLOK… CLOK CLOK CLOK CLOK CLOK CLOK

    Semakin nikmat Citra merasakan gelombang orgasmenya datang, semakin kencang pula ia mendesah dan berteriak keenakan. Akibatnya, Ciello yang baru saja selesai membersihkan lantai didekat ruang keluarga, mampu mendengar lenguhan-lenguhan ibu kandungnya yang sedang memacu birahinya itu. Akibatnya, Ciello pun penasaran dan mendekat kearah kamar Citra. Mencari tahu lebih jelas tentang apa yang sedang terjadi pada ibunya. Dan begitu ia sampai didepan pintu kamar Citra, ia mendapati pemandangan yang seketika mampu membuat penisnya tegang kembali. 

    “ASTAGA… Memek Mamaaa…” Kaget Ciello dengan mata terbelalak menatap suguhan vagina berdaging merah muda tanpa rambut milik Citra yang menghadap tepat kearah pintu. Dengan lutut yang tertekuk keatas membentuk huruf M, membuat Ciello dapat dengan puas melahap semua tingkah mesum ibu kandungnya..

    CLOK CLOK… CLOK CLOK CLOK… CLOK CLOK CLOK CLOK

    “Oooohhh… Maaassss…. Adek bakal balas kamu Maaass…. Adek bakal balaaaasss kaamuuu….” Lenguh Citra sambil terus mengaduk jemari tangannya pada liang beceknya, “Cieeeelllooo…. Sini Sayaannggg… Oooohhh…. Ayo masuk….” Panggil Citra ditengah khayalannya.

    Mendengar namanya dipanggil, membuat Ciello mengira jika Citra benar-benar mengajaknya masuk kekamar dan bermain birahi bersamanya. Penis Ciello pun langsung ikutan mengeras melihat kondisi telanjang Citra yang begitu menggairahkan. Membuanya langsung meremas-remas batang penis kebanggannya dari luar celana.

    “Ooohhh… Ciellooooo…. Isep memek Maaamaa Sayang… Sssshhh… Ooohhh….Isep yang kenceng… Oooohhh… Ciello Sayaaang…” Erang Citra berulangkali, seolah benar-benar sedang berbicara dengan putranya.

    Mendengar kalimat-kalimat mesum Citra, membuat Ciello menjadi kehilangan akal. Ia merasa jika lenguhan-lenguhan yang diucapkan ibunya itu adalah sebuah undangan baginya untuk bisa ikut bergabung dan bermain birahi bersama wanita yang telah melahirkannya.

    “Oooohhh… Ssshhh…. Iya begitu Sayangg… Isep memek Mama Sayang… Iseeepp… Ooohh…Jilatin juga itil Mama Sayang… Ooohhh… Ngentottt….. Enak sekali lidah Sayang…Ooohhh…Enak sekali….”

    Karena berulangkali mendengar desahan ibu kandungnya, Ciello pun mulai terbuai dalam imajinasinya. Sehingga perlahan, ia pun membuka pintu kamar Citra dan melangkah kedalam. Mendekat kearah ibu kandungnya yang sedang telanjang dan memacu birahinya cepat-cepat.

    CLOK CLOK… CLOK CLOK CLOK… CLOK CLOK CLOK CLOK

    “Oooohhh.. Ngeentttooott…. Ciello Saaayaaaanngg… Isep yang kuat Sayang…. Ooohh… Enak sekali Saayaaanngg… Jilatanmu… Bikin memek Mama makin nyut-nyutan… Bikin Mama cepet mau keluaaarrr… Ooohh… Enaakk… ” Erang Citra dengan tubuh yang terus meliuk-liuk keenakan. Matanya terpejam erat dengan punggung yang melengkung-lengkung kebelakang 

    CLOK CLOK… CLOK CLOK CLOK… CLOK CLOK CLOK CLOK

    “SSHHH….Oooohhh… Ngeentttooottt… NGENTTOOTTT… Ciiieellloooo… ISEP yang kenceng Sayang… Oohh… Jilaat memek Mama….Gigit itil Maamaa… Ooohh.. Ngeentttooott….NGEENTOOOTTTTT…..”

    “Oohh… Mama… Ciello nggak tahan lagi Maaa… ” Desah Ciello yang tak mampu lagi membendung gejolak birahinya., “Kalo memang Mama mau Ciello entotin… Ciello bakal bantuin….” Tambah putra kandung Citra yang makin gelap mata. 

    Selagi Citra masih tenggelam dalam kenikmatan birahinya, Ciello pun buru-buru melepas semua baju yang menempel pada tubuhnya. Setelah itu, ia merangkak naik keatas tempat tidur Citra. Dengan perlahan, Ciello mendekat ke tubuh Citra yang masih terus mengocoki vagina beceknya sambil menatap gerakan jemari tangan ibu kandungnya dari dekat.

    CLOK CLOK… CLOK CLOK CLOK… CLOK CLOK CLOK CLOK

    “Mama rupanya sudah benar-benar tenggelam dalam lautan birahinya…. “Celetuk Ciello ketika ia naik ketempat tidur. “Mama benar-benar nggak sadar akan adanya aku…” Tambah Ciello girang.

    “Oooohhh… Ciieeellloooo… Bantuin Mama orgasme Sayaangg… Bantuin Mama buat ngebales tingkah mesum Papamu….. OOHHH.. Iyaa…. Begitu Sayang… Ssshh… OOHHHHH…. NGENTOOTTT….”

    CLOK CLOK… CLOK CLOK CLOK… CLOK CLOK CLOK CLOK CLOK… CLOK CLOK 

    “SSSHH… OOOHH… NGENTOTTT… OOHH… Jilatan lidahmu memang enak banget Cielloo… Bikin memek Mama nyut-nyutan… Oooohh… Terus Sayang… Oohhh… Ssss…. Bentar lagi Mama keluar Sayang…. Oooohh.. Bentar lagi Mama mau ngecrot Cielloku Saayang… Oooohhh….” 

    “Inilah saaatnya…” Batin Ciello ketika melihat tanda-tanda tubuh Citra yang mulai kelojotan karena akan mendapat gelombang orgasmenya, “Aku harus bisa menyodok memek Mama…. Iya… Harus bisa….” Tambah Ciello yang ingin segera mewujudkan khayalan mesumnya itu. Ia benar-benar ingin bisa menyetubuhi tubuh ibu kandungnya secepatnya.

    “Heh Kontol….Itu lubang memek yang bakal menjadi target tujuanmu… ” Ucap Ciello pada batang penisnya dalam hati, sambil merangkak lebih dekat ke tubuh ibu kandungnya, “Itu lubang nikmat yang bakal ngambil keperjakaanmu…..” Tambahnya lagi sambil mulai mengocok dan mengarahkan kepala penisnya maju keselangkangan sempit Citra.

    CLOK CLOK… CLOK CLOK CLOK… CLOK CLOK CLOK CLOK CLOK… CLOK CLOK CLOK…

    “Ooohhhh… Ciellooooo…. Iyaaaa…. Iyaaa terus begitu Saaayaaanggg…. Jilat yang kuaaat… Sedot lendir memek Mamamu ini Sayaaang… Ooohh issseeeeppp…. Ssshhh… Ooohhhh…. ” Desah Citra sambil terus mengobok-obok liang kewanitaannya, tanpa mengetahui jika ujung penis kebanggaan putranya sudah tertuju kearah vaginanya, “Kalo Papamu bisa bermain mesum dengan adikmu… Kenapa Mama nggak bisa bermain mesum ama kamu ya Sayang… Ohhh Cielloooo…. OOOHHH… NGENTOOOTT…. Mama bentar lagi keluar Sayaaang… Oooohhh…. Cieeellloooooo….”

    “Iya Maaa… Kita balas aja perlakuan Papa….” Seru Ciello yang tiba-tiba sudah berlutut di depan selangkangan Citta. Ia kemudian memegang dan membentangkan kedua lutut Citra kesamping, hingga membuat celah vaginanya terbuka lebar. Setelah itu, putra kandung Citra buru-buru mengarahkan kepala penisnya maju, ketengah-tengah selangkangan ibu kandungnya. 

    “Looohhh…? CIELLOOO….?” Kaget Citra ketika merasakan sentuhan tangan Ciello pada kakinya, “Kok kamu ada disini Sayang…?” 

    Bersambung… – Part 2 –

    Baca Juga

  • Hasrat Terpendam Ustazah Nur Part – 6

    Hasrat Terpendam Ustazah Nur Part – 6

    Cerita Seks Bersambung – ”Hah, hah,” Ustazah Nur hanya bisa terisak dan menggigit bibirnya saat dokter Pram mulai memompa tubuhnya. Mula-mula perlahan, tapi semakin lama menjadi semakin cepat hingga membuat tubuh ibu guru muda yang cantik itu jadi berguncang-guncang. Terutama tonjolan buah dadanya yang sangat besar, yang sayang jika disia-siakan. Maka dokter Pram segera menangkap dan memeganginya sambil menggigit ringan kedua puncaknya secara bergantian, membuat Ustazah Nur kian merintih dan menangis pilu.

    jilbab-montok-anggezty-solo-uns (12)

    Pagi itu, suasana yang sejuk berubah menjadi panas. Tubuh tua dokter Pram mulai dibanjiri keringat, begitu juga dengan Ustazah Nur. Kamar praktek dengan cat biru muda itu seolah-olah berubah menjadi kamar pengantin yang begitu indah (bagi dokter Pram), diiringi deritan ranjang besi yang bergerak pelan seiring goyangan sepasang manusia yang berbaring di atasnya.

    Ustazah Nur sudah terdiam, pasrah akan nasibnya. Melawan seperti apapun, semuanya pasti sia-sia. Kelakuan bejat dokter Pram tidak mungkin dapat ia hindarkan. Memang ia sendiri yang salah, mau saja dijebak dengan alasan pemeriksaan lanjutan. Kalau tahu jadinya akan seperti ini, tentu ia akan menolak tadi. Penyesalan memang selalu datang terlambat.

    Suara kecipak alat kelamin mereka semakin keras terdengar. Dokter Pram kembali melumat bibir Ustazah Nur yang mengatup rapat dan menghisapnya dengan begitu rakus. ”Jangan diam saja, Ustazah… saya tahu kalau Ustazah juga menikmatinya!” lenguh dokter Pram, membuat wajah Ustazah Nur jadi kian memerah.

    ”Auw!” Ustazah Nur menjerit ketika tiba-tiba dokter Pram merangkul dan memeluk ketat dirinya. Di bawah, ia merasakan penis sang dokter berkedut-kedut pelan saat menumpahkan segala isinya. Laki-laki itu telah orgasme, ejakulasi di dalam dirinya. Semprotan demi semprotan benih terlarangnya menerjang setiap sudut gua kenikmatan Ustazah Nur bagai air bah. Sangat kental dan banyak sekali.

    Ustazah Nur menangis pilu, ia terisak pelan tanpa mengeluarkan suara. Saat dokter Pram bangkit meninggalkan tubuh sintalnya, tampak cairan putih kental mengalir keluar dari celah bibir kemaluannya, menciptakan danau kecil di atas sprei klinik yang putih bersih. Mata Ustazah Nur menerawang ke langit-langit kamar. Dadanya naik turun membawa serta dua gunung indah di atasnya, membuat dokter Pram jadi tergoda untuk menjamahnya kembali.

    “Maafkan saya, Ustazah… saya khilaf. Sebagai lelaki normal, berat bagi saya untuk mengabaikan tubuh indah Ustazah begitu saja. Sekali lagi, maafkan saya. Kalau Ustazah ingin lapor ke polisi, silakan saja. Saya pasrah!” kata dokter Pram sambil membenahi celananya.

    Ustazah Nur melirik sekilas ke penis sang dokter yang masih basah belepotan sperma. Benda sebesar lima jari itulah yang barusan merenggut kehormatannya. Kehormatan seorang istri yang lama tidak dipuaskan oleh seorang suami, yang tragisnya, menemukan kepuasan itu dalam sebuah pemerkosaan!Ya, Ustazah Nur tidak ingin munafik. Jujur ia mengakui, inilah persetubuhan ternikmat yang pernah ia rasakan. Penis besar dokter Pram seperti memanjakannya, meski pada awalnya memang sangat menyakitkan. Namun begitu alat kelamin mereka sudah mulai bisa terbiasa dan bisa menyesuaikan diri, bukan nyeri yang dirasakan oleh Ustazah Nur, melainkan rasa nikmat yang amat sangat, yang tidak pernah ia dapatkan dari sang suami.

    Itulah sebabnya kenapa tadi ia terdiam di akhir-akhir permainan. Ustazah Nur rupanya mulai bisa menikmatinya. Tapi sayang, dokter Pram keburu keluar duluan. Kalau saja diteruskan lebih lama lagi, pasti Ustazah Nur akan orgasme juga, sesuatu yang sudah lama ia rindukan dan cari-cari.

    ”Maafkan saya, Ustazah.” kata dokter Pram sekali lagi, menyadarkan Ustazah Nur dari lamunannya.

    Wanita itu memandang dengan muka sayu dan berujar. ”Saya tidak akan melaporkan ini ke polisi, dok, karena ini merupakan salah saya juga. Tapi saya berharap, ini jadi rahasia kita berdua.”

    “Saya akan jaga rahasia ini, Ustazah,” jawab dokter Pram pelan sambil berupaya memeluknya, kali ini Ustazah Nur dengan pasrah meringkuk dalam dekapannya dan menumpahkan tangis di dada kurus sang dokter.

    Entah siapa yang memulai, kembali bibir mereka saling bertemu dan berpagutan. Tangan dokter Pram kembali meremas-remas payudara montok milik Ustazah Nur, sementara Ustazah Nur dengan malu-malu membalas dengan mengusap-usap batang penis sang dokter yang kembali siap tempur.

    ”Ustazah?” lirih dokter Pram. Menyadari kalau ibu muda itu ternyata juga memendam hasrat kepada dirinya, maka dengan cepat ia kembali menindih dan mengangkangi Ustazah Nur. Ia arahkan batang penisnya ke selangkangan perempuan cantik itu.

    ”I-iya, lakukan, dok!” sahut Ustazah Nur dengan pasti.

    Tersenyum penuh kemenangan, dokter Pram pun menusukkan penisnya. ”Jlebb!” kembali batang itu tenggelam dalam liang senggama Ustazah Nur.

    ”Arghh… dok!” Kali ini Ustazah Nur sudah tak malu-malu lagi mengeluarkan suara rintihan nikmat. Pantat moleknya tampak berguncang-guncang akibat hentakan sang dokter yang mulai bergerak cepat.

    Tangan dokter Pram meraih gunung kembar yang terayun-ayun indah di dada Ustazah Nur. Ia memijit dan meremas-remasnya sambil terus menggoyang keras.”Ouuh… Dok!” rintih Ustazah Nur menemani tusukan dokter Pram. Tubuh mereka kembali basah, berkilauan oleh keringat. Ronde kedua ini lebih lama berlangsung. Ustazah Nur makin mendesah-desah saat nikmatnya orgasme mulai terasa datang menyerang tubuh sintalnya.

    ”Dok, terus! Aku… arghhhh!” dengan satu teriakan kencang, tubuh Ustazah Nur pun berguncang. Kemaluannya berkedut cepat memijit batang penis dokter Pram yang masih bergerak cepat. Bersamaan dengan itu, cairan bening berhamburan memancar dari liang senggamanya, menyiram penis sang dokter hingga jadi terasa basah dan lengket. Tubuh montok Ustazah Nur gemetar hebat saat mengalaminya. Itulah orgasme terdahsyat yang pernah ia alami seumur hidupnya. Yang pertama, sekaligus yang ternikmat.

    ”Ustazah, ahh…” dokter Pram menyusul tak lama kemudian. Kembali cairan spermanya menyiram mulut rahim Ustazah Nur secara bertubi-tubi.

    Pagi itu, hubungan profesional seorang dokter dan pasiennya, telah melanggar batas, berubah menjadi hubungan terlarang sepasang manusia  yang masing-masing telah terikat perkawinan.

    Dokter Pram terlihat puas, begitu juga dengan Ustazah Nur. Wanita itu, yang awalnya begitu malu, sekarang sudah menjadi nakal dan ketagihan. Kembali ia merayu sang dokter tua hingga sekali lagi mereka melakukannya. Menjelang siang, saat sekolah sudah akan bubar, baru Ustazah Nur beranjak keluar dari kamar praktek dokter Pram. Tersungging senyum manis di bibirnya yang tipis.

    Hari-hari berikutnya, hubungan haram itu terus berlangsung. Dan membawa konsekuensi tumbuhnya benih di rahim Ustazah Nur, padahal bayinya yang pertama masih berumur 3 bulan. Untunglah sang suami sama sekali tidak curiga, bahkan saat Ustazah Nur meminta untuk diantar periksa ke dokter Pram, laki-laki itu dengan senang hati melakukannya. Dibiarkannya sang istri tercinta masuk ke ruang periksa tanpa ia dampingi, ia sama sekali tidak tahu kalau di dalam, dokter Pram sudah menunggu kedatangan Ustazah Nur dengan tubuh telanjang dan penis mendongak ke atas begitu kencang.

    *TAMAT*

    Baca Juga

  • Hasrat Terpendam Ustazah Nur Part – 5

    Hasrat Terpendam Ustazah Nur Part – 5

    Cerita Seks Bersambung – Keringat dingin mulai keluar dari dahi sang dokter saat ia terus bekerja. Kali ini giliran yang sebelah kanan yang ia garap. Sama seperti tadi, ia juga memencetinya bagian demi bagian hingga terjamah seluruhnya. Rintihan halus mulai terdengar dari mulut manis Ustazah Nur. Wanita itu memejamkan kedua matanya rapat-rapat sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk meredam teriakan.

    Dokter Pram tersenyum, rupanya bukan dia saja yang tengah bergairah. Menyeringai senang, iapun terus menggerakkan tangannya. Kini dengan dua tangan ia pegangi buah dada Ustazah Nur. Satu tangan untuk satu gundukan. Orang bodohpun tahu, posisi itu adalah posisi laki-laki yang sedang merangsang seorang wanita. Bukan seorang dokter yang tengah memeriksa pasiennya.”Ehm… dok!” Ustazah Nur merintih, tubuh mulusnya menggeliat. Tapi bukan karena sakit, justru karena merasa nikmat oleh pijitan sang dokter.

    ”Tahan, Ustazah. Sebentar lagi selesai.” lirih dokter Pram. Tangannya terus bergerak meremas-remas tumpukan daging kenyal di dada Ustazah Nur yang membusung indah. Ia sudah tidak lagi gemetar seperti tadi, kini sudah sangat mantab dan berani. Apalagi saat dilihatnya Ustazah Nur sama sekali tidak menolak, malah cenderung menikmatinya.

    Dengan batang penis yang kian mendesak celana panjangnya, dokter Pram menepuk bahu Ustazah Nur. ”S-sudah, Ustazah.” panggilnya mencoba menyadarkan Ustazah Nur.

    Wanita itu membuka sedikit bola matanya. “Ah, i-iya.”

    ”Tidak ada yang salah dengan tubuh Ustazah, semuanya normal dan baik-baik saja.” kata dokter Pram sambil matanya tak berkedip menatap busungan dada Ustazah Nur yang bergerak turun naik di depan hidungnya.

    ”Ah, s-syukurlah kalau b-begitu.” sahut Ustazah Nur lirih. Rasa sakit di bawah perutnya memang sudah hilang sekarang.

    jilbab-montok-anggezty-solo-uns (21)

    ”Tapi saya curiga ini karena kesalahan saya,” sambung dokter Pram.

    ”Kesalahan dokter? Maksudnya?” tanya Ustazah Nur tak mengerti.

    ”Mungkin saya kurang teliti dalam memeriksa, jadi penyakit Ustazah terlewat dari pengamatan saya.” jelas dokter Pram.

    Ustazah Nur berusaha mencerna kata-kata itu. Lalu, ”Ehm, jadi… dokter mau melakukan pemeriksaan ulang, gitu?” tanyanya.

    Dokter Pram mengangguk, ”Dengan ustazah melepas bh ini,” jarinya menunjuk beha putih susu yang masih bertengger di atas gundukan payudara ustazah Nur. ”Saya harus memegangnya langsung, kulit bertemu kulit. Dengan begitu, saya bisa memastikannya dengan lebih teliti.” tambahnya sebelum Ustazah Nur sempat membantah.

    jilbab-montok-anggezty-solo-uns (11)

    Ibu guru berjilbab itu kembali terdiam, berat sekali rasanya menanggung semua ini. Sebelum kesini tadi, ia sama sekali tidak menyangka kalau akan disuruh telanjang. Tapi sekarang?

    Ah, namun penyakitnya sangat perlu untuk diobati. Rasanya sakit sekali kalau lagi kambuh. Lebih baik ia telanjang daripada merasakannya lagi. Bisa-bisa ia pingsan kalau rasa sakit itu datang lagi.

    Maka, sambil menghela nafas panjang, Ustazah Nur pun berucap. ”Bagaimana kalau tangan dokter masuk ke dalam. Saya malu kalau harus melepasnya, malu sekali!” bisiknya.

    Dokter Pram mengangguk, ”Begitu juga bisa,”

    Selesai berkata, dengan tangan bergetar, dokter tua itupun menjamah payudara Ustazah Nur. Jari-jarinya menyusup masuk ke balik cup bh sang ibu muda.”Ahh…” Ustazah Nur melenguh saat merasakan jari-jari sang dokter yang mulai melingkupi tonjolan buah dadanya. Dokter itu mengusap-usap pelan seluruh permukaannya yang halus dan mulus, terutama putingnya, beberapa kali jari dokter Pram seperti sengaja menjepit dan memilinnya, membuat butiran keringat mulai bermuncul di dahi Ustazah Nur yang masih tertutup jilbab.Dokter Pram tersenyum menyaksikan betapa nafas pasiennya yang cantik ini mulai sedikit tidak teratur. Ia terus memijit dan meremas-remas, merasakan betapa payudara Ustazah Nur begitu licin dan empuk dalam genggaman tangannya. Pesona benda itu begitu luar biasa hingga membuat dokter Pram jadi ikut kesulitan untuk mengatur nafas.

    ”Dok…” tegur Ustazah Nur dengan suara nyaris berbisik.

    ”Shh… tenang, Ustazah.” desis dokter Pram untuk menenangkan. ”Saya masih belum selesai,” ucapnya dengan tangan terus bergerak. Dari yang kiri, selanjutnya berpindah ke yang kanan. Ia terus meremas-remas payudara Ustazah Nur yang bulat besar dengan penuh kelembutan. Dari degup jantung dan deru nafas sang dokter yang kian memacu, sudah bisa ditebak  betapa luar biasanya rasa bulatan kembar itu.

    ”Dok…” Ustazah Nur kembali berbisik, ia memegang kedua pergelangan tangan sang dokter, berusaha sedikit menarik dari permukaan buah dadanya.

    Tapi dokter Pram yang sudah terlanjur enak, tentu saja tidak mau berhenti begitu saja. ”Tahan, tinggal sedikit lagi.” sahutnya sambil terus mempertahankan remasan tangannya.

    Ustazah Nur terdiam, ia sudah tidak bisa lagi memprotes. Malah yang ada sekarang, bulu kuduknya mulai meremang. Lalu tubuhnya yang sintal jadi sedikit agak gemetar, dengan diiringi deru nafas yang mulai tidak beraturan. Sepertinya ia sudah mulai kehilangan kendali. Habisnya, siapa juga yang tahan diremas-remas seperti itu. Wanita manapun pasti takluk, tak peduli seberapa hebat imannya.

    Cup beha Ustazah Nur mulai tertarik ke atas secara perlahan-lahan, menampakkan gundukan daging kenyal yang ada di dalamnya, yang tengah ditampung oleh dokter Pram ke dalam genggaman tangannya.

    jilbab-montok-anggezty-solo-uns (22)

    ”Dok, jangan…” lirih Ustazah Nur saat melihat dokter tua itu mulai menunduk untuk menciumnya.

    Tapi dokter Pram yang pertahanan moralnya sudah tumbang, cepat menindihnya. Ustazah Nur berusaha untuk melawan dengan mencoba mendorong tubuh laki-laki tua, namun apalah arti tenaga seorang wanita dibanding pria yang tengah terbakar nafsu. Dengan mudah dokter Pram bisa meringkusnya.”Dok… jangan, ini tidak boleh… mmmff!!” ucapan Ustazah Nur terhenti ketika dokter Pram menyumpal paksa mulutnya dengan ciuman. Laki-laki itu mencucup dan melumatnya penuh nafsu sambil tangannya terus bergerak meremas-remas bukit kenyal di dada Ustazah Nur.

    ”Mmmf… Dok, mmmhh!” tangan Ustazah Nur terus meronta, namun dokter Pram cepat menangkap dan merentangkannya ke atas, membuat perempuan cantik itu jadi benar-benar tidak berdaya sekarang.

    Kembali dokter Pram melumat bibirnya, ia menahan pergelangan tangan Ustazah Nur dengan satu tangan karena sebelah tangannya sibuk berupaya melepas ikatan celana panjang yang ia pakai. Ustazah Nur mulai menangis terisak, tubuhnya menggeliat-geliat, berusaha melakukan perlawanan untuk yang terakhir kali. Namun itu justru menciptakan pemandangan sensual yang makin membangkitkan birahi sang dokter tua. Mata Ustazah Nur membelalak dan kian panik ketika dengan paksa dokter Pram merenggut celana dalamnya.”Dok, jangan!” Ustazah Nur sama sekali tidak bisa melawan. Kakinya yang tertahan di kaki ranjang tidak bisa dirapatkan. Akibatnya, batang penis sang dokter yang sudah ngaceng berat -yang ukurannya lima kali lipat dari penis sang suami- tepat berada di antara kedua pahanya, mencari-cari lubang kemaluannya untuk dimasuki.

    ”Ahh, Dok!” rintih Ustazah Nur saat merasakan tumbukan benda itu di bibir alat kelaminnya, dan terus berusaha mendorong masuk hingga menemukan celahnya, yang ternyata… telah begitu basah.

    Dokter Pram tersenyum, ”Tahan, Ustazah. Akan saya masukkan sekarang. Ustazah pasti akan menyukainya.” bisik laki-laki tua itu sambil mulai mendesakkan pinggul. ”Ahh…” ia melenguh saat merasakan jepitan kemaluan Ustazah Nur yang ternyata lebih sempit dari rongga vagina Mia, perawat yang tadi membantunya, yang sudah sering ia tiduri saat sedang bertugas.

    ”Ugh,” Ustazah Nur hanya bisa meringis pasrah, air mata terus mengalir menemani isakan masih yang keluar dari mulutnya.

    ”Maafkan saya, Ustazah… tubuh Ustazah begitu menggoda, bukan salah saya kalau jadi nggak tahan seperti ini.” ujar dokter Pram sambil berusaha mengayun-ayunkan pinggulnya.

    Bersambung… – Part 6 –

    ***

    Baca Juga

  • Hasrat Terpendam Ustazah Nur Part – 4

    Hasrat Terpendam Ustazah Nur Part – 4

    Cerita Seks Bersambung – ”Maaf tadi saya berlaku kurang ajar. Habisnya, tubuh Ustazah begitu indah. Baru kali ini saya dapat pasien yang sanggup bikin saya lepas kendali.” kata dokter Pram dengan sangat terus terang.

    ”Emm, tidak apa-apa, dok. Saya juga minta maaf, saya bisa mengerti kok.” Ustazah Nur melirik selangkangan sang dokter yang kini tepat berada di sudut matanya, tampak benda itu sudah sangat menggembung, besar sekali. Apapun sesuatu yang ada di dalamnya, kini sudah terbangun dan menggeliat, menampakkan keperkasaannya. Tanpa sadar, Ustazah Nur menelan ludahnya. Bayangan penis yang besarnya lima kali lipat dari milik sang suami kembali menggoda pikirannya.

    ”Saya ingin tahu reaksi tubuh Ustazah. Bukankah tadi ustazah bilang kalau perut bagian bawah yang sakit? Benjolan itu seharusnya tidak menghasilkan efek seperti itu. Saya takut ini karena sebab lain.” kata dokter Pram.

    jilbab-montok-anggezty-solo-uns (19)

    ”M-maksud dokter g-gimana?” tanya Ustazah Nur dengan terbata-bata. Matanya tetap melirik selangkangan si dokter tua.

    ”Saya ingin mengecek tubuh Ustazah secara keseluruhan.” kata dokter Pram.

    ”S-saya harus check-up lengkap, gitu?” tanya Ustazah Nur tak mengerti.

    Dokter Pram tertawa, “Iya, tapi itu nanti. Untuk sekarang, saya ingin melakukan pemeriksaan secara visual. Seperti yang saya lakukan pada kewanitaan ustazah.”

    Ustazah Nur terhenyak, tak tahu harus berkata apa. Dokter Pram ingin melihat seluruh tubuhnya! Apa ia tidak salah dengar? Diperiksa di bagian kemaluan saja sudah membuatnya malu setengah mati, sekarang malah dokter itu ingin melihat seluruh tubuhnya. Ini sudah tidak benar. Ia harus menolak. Seberapapun kuat gairah yang sudah menguasai tubuh sintalnya, Ustazah Nur mencoba untuk melawan. Harkat dirinya sebagai seorang wanita terhormat yang taat menjalankan ajaran agama sedang dipertaruhkan, dan ia tidak ingin kalah.

    “M-maaf, dok. Sepertinya s-saya tidak bisa melakukan itu.” kata Ustazah Nur pada akhirnya. Inilah kalimat paling benar yang ia ucapkan selama 10 menit terakhir.Dokter Pram menoleh. ”Kenapa, Ustazah malu?” tanyanya.

    ”Bukan hanya malu, ini memang tidak boleh.” kata Ustazah Nur tegas.

    ”Lalu bagaimana saya harus memeriksa Ustazah?” tanya dokter Pram, mulai terlihat tidak sabar.

    ”Tidak usah, cukup obati benjolan yang ada di kewanitaan saya saja.” dan ngomong soal kewanitaan, Ustazah Nur jadi teringat pada lubang vaginanya yang sampai saat ini masih terbuka lebar bagi sang dokter. ”Dan tolong, tutupi milik saya.” pintanya dengan muka jengah antara malu dan jengkel.

    Dokter Pram mengangguk dan tersenyum, sedikit meminta maaf. ”Ah, iya. Maaf.” segera ia menurunkan kembali celana dalam Ustazah Nur. Saat mengatur letaknya, jarinya sedikit menggesek, seperti sengaja menyentil kelentit sang ustazah untuk yang terakhir kali.

    Sedikit berjengit, namun tidak bisa marah, Ustazah Nur menghela nafas lega. Untunglah, ia bisa lolos dari awal perbuatan zina.

    Namun dokter Pram yang sudah mulai tergoda, tentu saja tidak akan melepaskan mangsanya begitu mudah. Apalagi di saat yang sama, Ustazah Nur yang akan menurunkan kaki dari topangan, tiba-tiba mengeluh kesakitan.

    ”Auw! Aduh! Aduduh! Dok… sakit!” kata perempuan cantik itu sambil memegangi bagian bawah perutnya.

    ”Kenapa, ustazah?” tanya dokter Pram dengan kaget. Cepat ia bereaksi, dielusnya pinggul Ustazah Nur dengan maksud untuk meredakan rasa sakitnya.Ustazah Nur yang tengah merintih-rintih, sama sekali tidak menghiraukan saat tangan sang dokter kembali menjamah kemaluannya.

    ”Mana yang sakit?” tanya dokter Pram sambil terus memijit-mijit pelan, kembali disingkapnya celana dalam Ustazah Nur hingga kemaluan wanita cantik itu terlihat jelas. Benjolan yang ada di kelentitnya tampak menonjol memerah. Dokter Pram segera menekannya. Tidak ada reaksi dari Ustazah Nur, sepertinya penyebab sakitnya bukan dari benda mungil itu.

    ”Arghhh… dok, sakit!” pekik Ustazah Nur sekali lagi, tubuhnya makin kuat menggelinjang. Sementara keringat dingin mulai keluar dari sela jilbabnya.

    Dokter Pram mengangguk, ”Cepat buka baju Ustazah, biar saya periksa.”

    Ustazah Nur tidak dapat lagi menolak. Rasa seperti ditusuk dan dipelintir-pelintir terus merajam bagian bawah perutnya. Membuatnya jadi benar-benar tak tahan. Maka, sambil meringis kesakitan, ia pun merelakan saat tangan kurus dokter Pram membantu mencopoti kancing bajunya.

    ”M-maaf, Ustazah.” kata dokter tua itu saat tangannya dengan tidak sengaja menyenggol tonjolan buah dada Ustazah Nur.

    Tidak menjawab, Ustazah Nur menyingkap baju panjang dan daleman yang ia kenakan. Jadilah, dengan perasaan sangat malu namun kesakitan, ia berbaring hampir telanjang di depan dokter Pram. Hanya jilbab lebar dan beha putih susu yang masih tersisa di tubuh sintalnya. Yang lain sudah terlepas begitu mudah. Memang masih ada celana dalam, tapi benda itu seperti jadi penghias saja karena sudah tersingkap dari tadi, memperlihatkan lubang kemaluan Ustazah Nur yang sudah basah dan memerah.

    jilbab-montok-anggezty-solo-uns (20)

    Dokter Pram memandangi sejenak tubuh montok Ustazah Nur yang masih menggeliat-geliat menahan sakit. Ia perhatikan bahu ibu muda itu yang ternyata begitu bersih, putih sekali, dengan lekuk tubuh yang masih menampakkan keindahan meski baru saja melahirkan. Bulatan payudaranya tampak begitu menggoda, sangat besar sekali. Sisi-sisinya yang padat dan putih mulus terlihat jelas karena beha yang dikenakan Ustazah Nur ternyata kekecilan.Ustazah Nur berusaha membenahinya dengan mendekapkan tangan di bagian atasnya, berharap bisa menghalangi pandangan sang dokter dari tonjolan buah dadanya. ”Dok, s-sakit!” ia mengingatkan laki-laki tua itu saat melihat dokter Pram cuma diam saja tanpa bertindak apa-apa.

    ”Ah… eh, iya. Maaf.” tersadar dari lamunan, cepat dokter Pram memegangi tubuh Ustazah Nur. Dimulai dari bagian bawah perut. ”Katakan kalau sakit,” perintahnya.Ustazah Nur mengangguk. Bisa dirasakannya tangan sang dokter yang tengah meraba lembut kulit selangkangannya. Dilanjutkan naik ke atas menuju bukit kemaluannya. Dokter Pram seperti meraba-raba rambut kemaluannya sebelum tangannya terus naik menuju ke bagian bawah pusar. Disini dokter Pram menekan sedikit, membuat Ustazah Nur sedikit berjengit namun tidak berteriak kesakitan.jilbab-montok-anggezty-solo-uns (10)

    ”Nggak sakit?” tanya dokter tua itu melihat pasiennya yang cuma terdiam.

    Ustazah Nur menggeleng. Wajahnya memerah karena merasakan usapan tangan dokter Pram yang seperti menggelitik lubang pusarnya. Namun itu cuma sesaat, karena dokter itu sudah keburu melanjutkan rabaannya. Kali ini makin ke atas. Setelah memenceti sisi perut Ustazah Nur yang ternyata tidak berefek apa-apa, dokter Pram menggerakkan jari-jarinya ke pangkal dada Ustazah Nur yang masih tertutup bh.

    ”Maaf ya, Ustazah. Boleh saya…” ia meminta ijin untuk memegangi payudara Ustazah Nur.

    Tidak menjawab, Ustazah Nur mengalihkan pandangannya ke samping. Tidak sanggup untuk melihat saat dokter Pram ingin menjamah bagian penting dari kewanitaannya. Kalau saja tidak sedang dalam kondisi genting dan kesakitan, tentu ia tidak akan mengijinkannya.

    Merasa mendapat restu, dokter Pram pun mengulurkan tangan. Pelan ia taruh jari-jarinya di atas gundukan payudara Ustazah Nur yang sebelah kiri. Ditekannya pelan dengan selembut mungkin. Saat melihat tidak ada reaksi, ia memindahkan tangannya sedikit lebih ke samping. Kembali ditekannya pelan. Begitu terus hingga seluruh bagian payudara Ustazah Nur yang besar dan mengkal itu berhasil ia jelajahi. Rasanya sungguh nikmat dan empuk. Meski masih tertutup bh, tetapi tetap tidak bisa menghilangkan keindahannya.

    Bersambung… – Part 5 –

    ***

    Baca Juga

  • Hasrat Terpendam Ustazah Nur Part – 3

    Hasrat Terpendam Ustazah Nur Part – 3

    Cerita Seks Bersambung – Vagina Ustazah Nur jadi terlihat licin dan mengkilap sekarang. Tadi saja sudah terlihat begitu indah, apalagi sekarang. Dokter Pram yang sering melihat kemaluan wanita saja, sempat berhenti sebentar karena saking terpesonanya. Sekilas ia menatap kemaluan Ustazah Nur tanpa berkedip, memperhatikan saat benda itu berkedut-kedut ringan seiiring nafas Ustazah Nur yang semakin cepat karena saking malunya. Ingin ia melihat lebih lama lagi, namun janji sumpah setianya sebagai dokter melarang hal itu. Maka sambil sedikit bergidik, dokter Pram menarik pandangannya.

    ”Hah,” Ustazah Nur menghela nafas lega, namun itu cuma sementara, karena selanjutnya sang dokter sudah bersiap untuk langkah berikutnya.

    ”Ustazah tidak apa-apa? Saya akan memulai pemeriksaan,” kata dokter Pram sambil mulai menutul dan menguak-nguak lubang kelamin Ustazah Nur dengan ujung jarinya.

    Ustazah Nur yang tidak diberi kesempatan untuk bernafas, kontan mengeluh karenanya. Namun sepertinya dokter Pram tidak mengetahui, atau tidak peduli? Entahlah, yang pasti, laki-laki itu terus memegang dan memeriksa alat kelamin Ustazah Nur. Dengan jari-jari tangannya yang panjang dan keriput, dia terus mengelus dan memijitinya. Ditelusurinya vagina cantik Ustazah Nur tanpa berkedip, tiap bagiannya ia perhatikan dengan teliti. Air cinta Ustazah Nur yang mulai mengalir keluar diusapnya dengan hati-hati agar tidak menghalangi pandangan. Dokter Pram sepertinya jenis orang yang teliti.

    ”Hmm, sepertinya semua baik-baik saja,” kata laki-laki tua itu, tangannya terus bermain di permukaan kewanitaan Ustazah Nur.

    Sang ibu guru muda yang diperlakukan seperti itu, sebenarnya ingin protes, namun tidak berani. Siapa tahu ini benar-benar prosedur normal, bukan seperti kata hatinya, yang merasa kalau jari-jari tangan dokter Pram seperti merangsang dirinya! Sama seperti yang biasa dilakukan suaminya ketika merayu untuk mengajak bercinta. Akibatnya, cairan kewanitaan Ustazah Nur jadi meleleh deras sekarang. Semakin lama menjadi semakin banyak. Karena malu, ia pun menguatkan diri untuk melayangkan protes. Ustazah Nur tidak ingin digoda lebih lama lagi. Sudah tahu kalau kewanitaannya baik-baik saja, kenapa masih dipegangi juga?

    jilbab-montok-anggezty-solo-uns (8)

    ”Ehm, dok… a-apa nggak sebaiknya pake s-sarung tangan? B-bersalaman aja k-kita tidak boleh, a-apalagi bersentuhan s-seperti ini!” sergah Ustazah Nur dengan nafas panjang pendek. Wajah cantiknya sudah memerah karena malu.Dokter Pram menoleh dan tersenyum bijak, ”Sarung tangan cuma membatasi feeling saya, Ustazah. Begini lebih baik, hasil diagnosanya bisa lebih akurat.” kata laki-laki tua itu.

    ”T-tapi… saya masih keberatan,” Ustazah Nur mengeluh, ia berusaha keras melawan rangsangan yang datang… karena sambil berbincang, tangan dokter Pram terus memegang dan memijit-mijit kemaluannya.

    ”Ustazah tenang saja, biar saya yang menanggung dosanya. Yang penting Ustazah cepat sembuh.” doktor Pram menggunakan dua jarinya untuk menguak lubang kemaluan Ustazah Nur. Kalau tadi cuma permukaannya yang terlihat -yang mana itu sudah membuat Ustazah Nur malu bukan main-sekarang seluruh lorong dan celah kewanitaan sang Ustazah terlihat jelas.

    Sungguh indah bukan main. Warna dan lipatannya yang masih tampak sempurna sanggup membuat dokter Pram terdiam. Lagi-lagi pria itu terpesona, bagaimana bisa wanita alim seperti Ustazah Nur yang jarang merawat tubuh bisa memiliki alat kelamin sebagus ini. Sungguh suatu anugrah dari yang kuasa. Mungkin ini yang namanya karunia, kalau tidak mau dikatakan mukjizat.

    ”Ahh, dok…” kembali Ustazah Nur membuka suara, mencoba untuk memprotes. ”K-katanya baik-baik saja, k-kenapa masih diteruskan?” tanyanya dengan suara berat.

    ”Tadi cuma bagian luar saja, yang dalam kan belum saya periksa.” kilah dokter Pram. Dengan satu jari ia mengorek kemaluan Ustazah Nur.

    Tak dinyana, Ustazah Nur yang sejak tadi sudah matian-matian berusaha menahan diri, tiba-tiba saja berteriak kencang. ”Dok, auw!” jeritnya parau.

    Doktor Pram sempat terkejut, namun selanjutnya tersenyum penuh pengertian. ”Kenapa, Ustazah? Sepertinya saya tidak menyentuh bagian yang sakit.”

    ”Ah, s-saya…”

    Belum selesai Ustazah Nur menjawab, dokter Pram sudah cepat memotong, ”Jangan bilang kalau jari saya lebih besar dari kemaluan suami Ustazah,”

    Ustazah Nur terdiam, matanya melotot, sementara mulutnya komat-kamit ingin membalas kekurang-ajaran dokter tua itu, namun ia tidak bisa mengeluarkan suara karena apa yang dikatakan oleh dokter Pram memang benar adanya. Memang tidak lebih kecil sih, tapi ukuran penis suaminya sama dengan jari dokter Pram (Menyedihkan bukan?) itulah kenapa ia menjerit, saat dokter Pram memasukkan jarinya, Ustazah Nur jadi merasa seperti disetubuhi.Melihat keterpanaan Ustazah Nur, doktor Pram tersenyum nakal dan meneruskan aksinya. Tangannya kembali mengorek-ngorek vagina Ustazah Nur, sementara mulutnya berbisik, ”Punya saya lima kali lebih besar dari ini lho,”

    jilbab-montok-anggezty-solo-uns (18)”Hah,” Ustazah Nur mendelik marah, sama sekali tidak menyangka kalau dokter tua yang kelihatan sopan itu kini menggodanya. ”Dokter jangan macam-macam ya, saya…”

    ”Kenapa, Ustazah ingin melihatnya?” tantang dokter Pram dengan lebih berani. Ia nekad berbuat seperti itu karena meski melihat Ustazah Nur marah, tapi wanita itu seperti terlihat pasrah. Hanya mulut dan matanya yang memprotes, sementara gerak-gerik dan isyarat tubuhnya menunjukkan hal yang sebaliknya.

    ”Bukan!” Ustazah Nur menggeleng cepat, ”Mana mungkin ada yang punya barang sebesar itu,” ujarnya kemudian dengan muka menunduk menahan malu, entah kenapa ia bisa berkata seperti ini, padahal biasanya ia paling anti berkata jorok.

    ”Haha,” dokter Pram tertawa, tangannya terus bergerak membelai kemaluan sang Ustazah cantik dengan mesra. Benda itu sudah sangat membanjir sekarang. ”Ustazah mau bukti?” tanyanya menggoda.

    Ustazah Nur terdiam, tubuh sintalnya menggeliat, namun tidak bisa melepaskan diri dari kekangan penyangga yang menahan kakinya. Usahanya memang tidak terlalu keras, karena meski ia tidak menginginkannya, perbuatan dokter Pram sanggup memancing gairahnya secara perlahan. Itu yang membuatnya jadi sedikit pasrah.

    ”Dari tadi, benda ini bikin saya penasaran,” kata dokter Pram sambil menekan pelan kelentit Ustazah Nur.

    ”Auw!” seperti tadi, kali ini perempuan cantik itu juga berteriak kesakitan.

    ”Aha, sepertinya kita menemukan letak penyakit Ustazah.” kata dokter Pram pura-pura gembira. Tangannya bergerak mengusap pelan kelentit Ustazah Nur, mencoba menaksir apa kiranya benjolan merah yang terasa kaku itu.

    ”I-iya, dok… i-itu yang sakit.” sahut Ustazah Nur dengan terengah-engah. Bukan saja karena kaget, tapi juga karena rangsangan birahi yang mulai menguasai tubuh sintalnya. Bagaimana tidak? Sambil mengusap kelentit, salah satu jari dokter Pram terus menjejalahi lubang kemaluannya. Laki-laki itu seperti merangsangnya. Misalkan ditambah jilatan, lengkaplah sudah ritual mesum itu.

    ”Ini cuma benjolan biasa, tapi untuk memastikannya, kita harus melakukan tes lain.” kata dokter Pram.

    ”T-tes apa, d-dok?” tanya Ustazah Nur dengan sedikit berbisik, ia mulai tidak bisa berpikir jernih. Tebalnya iman yang biasanya ia bangga-banggakan, perlahan terhapus oleh bayangan penis sang dokter yang katanya lima kali lipat besarnya. Kalau pakai jari saja sudah begini enak, gimana kalau pakai penis sungguhan? Ah, Ustazah Nur mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana ia bisa berpikir seperti itu. Mencoba mengusir bayangan mesumnya, ia pun menarik nafas panjang.

    ”Ustazah lelah?” tanya dokter Pram yang melihat Ustazah Nur menghela nafas.”Ah, t-tidak. Saya cuma pingin rileks,” Ustazah Nur melemaskan lagi tubuhnya yang tadi sempat tegang. Dengan dokter Pram yang menarik jarinya dan sekarang berdiri di sampingnya, ia jadi bisa melakukan itu.

    Bersambung… – Part 4 –

    ***

    Baca Juga

  • Hasrat Terpendam Ustazah Nur Part – 2

    Hasrat Terpendam Ustazah Nur Part – 2

    Cerita Seks Bersambung – ”I-iya, Dok.” resah Ustazah Nur, apa yang ditakutkannya ternyata terjadi juga.

    ”Saya tidak bisa menerangkan lebih banyak lagi, karena itu bukan bagian saya. Ustazah bisa bertanya nanti pada dokter Ismi, biar dia yang memeriksa lebih lanjut.”

    Ustazah Nur mengangguk lagi.

    ”Ustazah silakan tunggu di depan, nanti kami panggil.” kata dokter Aini.

    ”Periksanya harus sekarang, dok?” tanya Ustazah Nur, hari sudah siang, ia harus mengajar ke sekolah.

    ”Iya, soalnya saya takut kalau terlambat nanti jadi bahaya.” terang dokter Aini.

    ”B-baik, terima kasih, dok. Assalamu’alaikum…” Ustazah Nur pun pamit dan melangkah keluar dari ruang periksa dengan perasaan bimbang. Ia segera mengirim SMS kepada Ustazah Rina, mengabarkan kalau hari ini ia tidak bisa masuk karena sakit.

    jilbab-montok-anggezty-solo-uns (16)

    Kurang dari 15 menit, Ustazah Nur dipanggil kembali. Ia disuruh masuk ke ruang periksa oleh seorang perawat muda yang juga berjilbab lebar seperti dirinya. Kali ini ruangannya agak sedikit berada di pojok, dekat dengan ruang bersalin. Ustazah Nur membuka pintunya dan alangkah terkejutnya dia saat melihat siapa yang berada di dalam. Bukan dokter Ismi yang ia temui, melainkan seorang dokter tua yang usianya hampir setengah abad, dua kali lipat dari usianya. Badan lelaki itu kurus, tapi cukup tegap. Kulitnya agak gelap, dengan dandanan rapi dan sopan. Ada sedikit petak-petak putih di rambutnya yang tersisir rapi.

    Dokter itu tersenyum dan menyuruh Ustazah Nur untuk masuk, ”Silakan duduk, Ustazah.” Dia terlihat cukup sopan. Dr. Pramudya, begitu tulisan yang tertera di nametag-nya.

    Ustazah Nur balas tersenyum dan segera menempatkan diri di depan dokter tua itu. Perasaannya sungguh tak karuan. Dimana dokter Ismi? Apakah dia harus diperiksa oleh dokter laki-laki ini? Ustazah Nur tentu sangat keberatan. Tapi sebelum dia sempat memprotes, dokter Pram sudah keburu berkata,

    ”Maaf, Ustazah, dari hasil laporan pendahuluan yang saya terima dari dokter Aini, saya menduga ini adalah sejenis virus atau bibit kanker. Untuk memastikannya, saya harus melakukan pemeriksaan lanjutan pada diri Ustazah.” kata dokter Pram.

    jilbab-montok-anggezty-solo-uns (5)

    Ustazah Nur terhenyak, apa yang selama ini berusaha ia hindari, ternyata terjadi juga. Ia akan ’dijamah’ oleh dokter lelaki. Untuk menenangkan gejolak di hatinya, Ustazah Nur menarik nafas panjang dan kemudian bertanya, ”Kalau boleh tahu, kemana dokter Ismi? Menurut dokter Aini, dokter Ismi lah yang harusnya menangani saya.”

    Dokter Pram tersenyum, ”Dokter Ismi mendapat telepon mendadak dari keluarganya, salah satu anaknya terlibat kecelakaan di luar kota. Saya terpaksa datang untuk menggantikannya.”

    ”Ehm, begitu ya. A-apakah tidak ada dokter yang lain, yang wanita maksud saya.” kata Ustazah Nur terbata-bata.

    Dokter Pram tertawa, ”Jangan takut, Ustazah. Saya tidak akan berbuat macam-macam pada Ustazah. Saya sudah berkerja puluhan tahun, sudah tidak terhitung jumlah pasien yang saya tangani. Semuanya tidak ada masalah, saya akan perlakukan Ustazah seperti saya memperlakukan mereka. Saya terikat sumpah kalau sampai berbuat buruk pada Ustazah.”

    Ustazah Nur menunduk, ia jadi tidak punya argumen lagi untuk menolak.

    ”Bagaimana, Ustazah, bisa kita mulai sekarang?” tanya dokter Pram melihat Ustazah Nur yang terdiam membisu.

    ”I-iya, Dok. Tapi sebelumnya, kalau boleh tahu, pemeriksaan macam apa yang akan dokter lakukan?” tanya Ustazah Nur malu-malu.

    ”Pap smear dan VE. Dengan begitu saya bisa memastikan jenis benjolan yang ada di kewanitaan Ustazah.” jelas dokter Pram. ”Sekarang, silakan Ustazah berbaring di situ,” laki-laki itu menunjuk kasur yang ada di pojok ruangan. Perawat berjilbab yang sejak tadi menyiapkan segala sesuatu, sekarang berbalik pergi meninggalkan ruangan, menyisakan dokter Pram dan Ustazah Nur hanya berdua di tempat yang sepi itu.

    Jantung Ustazah Nur berdegup kencang, dia teringat berbagai cerita mengenai pap smear dari rekan-rekannya. Kebanyakan kisah mereka sungguh menakutkan karena harus memamerkan mahkota yang paling berharga kepada lelaki yang bukan muhrim, padahal sepatutnya hanya kepada suami sajalah mereka boleh memperlihatkan pemandangan indah itu. Dalam hati, Ustazah Nur ingin menolak, namun dia bingung juga akan keadaan dirinya, apalagi mengingat kata-kata dokter Pram barusan. Ia terancam terkena kanker rahim! Oh, sungguh sangat menakutkan.

    jilbab-montok-anggezty-solo-uns (17)

    Dan ketakutan ternyata bisa meruntuhkan akal sehatnya, terbukti saat dokter Pram berkata, ”Silakan Ustazah letakkan kedua kaki di atas sini,” Ustazah Nur sama sekali tidak bisa menolak. Bayangan akan ancaman kanker rahim membuatnya menurut dengan cepat.

    Dokter Pram menunjuk dua penyangga yang ada di ujung ranjang, saat Ustazah Nur meletakkan kedua kakinya disana, posisinya sekarang jadi seperti mengangkang. Kedua pahanya terbuka lebar, sementara kemaluannya terekspos bebas, siap menerima tatapan dokter Pram yang akan menghujam sebentar lagi.

    Laki-laki itu berdiri di ujung ranjang, tepat di tengah-tengah celah kaki Ustazah Nur. Tampak sebagian paha Ustazah Nur sedikit terbuka, juga selangkangan perempuan cantik itu yang tampak menggembung indah. Dokter Pram menatap nanar kesana, seperti tengah menyantap dan menikmati betapa mulus dan mempesonanya aurat Ustazah Nur.

    Ustazah Nur sendiri bukannya tak sadar diperhatikan seperti itu, namun apa daya, ia tidak bisa melakukan apapun untuk mencegah semua itu. Sama sekali tidak ada! Yang bisa ia lakukan sekarang cuma duduk terdiam pasrah sambil berharap pemeriksaan itu berlangsung cepat sehingga rasa malu yang menggumpal di hatinya tidak bertambah menjadi lebih besar lagi.

    ”Maaf, Ustazah.” Dokter Pram menarik jubah terusan panjang warna hijau muda bercorak bunga yang dikenakan Ustazah Nur ke atas, kain daleman warna putih yang dipakainya turut disingkap ke atas sampai ke batas pinggang, membuat sebagian paha dan celana dalam si ustazah terlihat jelas. Ustazah alim ini memakai stoking putih panjang hingga ke ujung lututnya, meski begitu, separuh tubuhnya sudah telanjang sekarang. Memang dia masih memakai baju dan jilbab lebar untuk menutupi tonjolan buah dadanya yang membusung indah, tapi bagian bawah tubuhnya -yang merupakan bagian paling intim- justru terbuka lebar.

    jilbab-montok-anggezty-solo-uns (7)

    Dokter Pram menelan ludah, dia memang beruntung. Meski sudah banyak melihat berbagai bentuk dan rupa kemaluan wanita, namun milik Ustazah Nur ini tampak sangat spesial. Masih tertutup celana dalam saja sudah terlihat begini indah, apalagi kalau dibuka. Membayangkannya membuat penis sang dokter yang sudah lama tidak terbangun, jadi menggeliat lagi. Ditambah kulit paha Ustazah Nur yang begitu putih dan mulus, jadilah dokter Pram menyeringai mesum karenanya.

    ”Maaf ya, Ustazah, ininya saya buka,” kata dokter tua itu sambil menyingkap sedikit celana dalam Ustazah Nur hingga celah kemaluannya terlihat jelas. Tampak begitu indah dan sempurna. Meski baru saja dipakai untuk melahirkan, benda itu tetap terlihat imut dan lucu, begitu sempit dan mungil, tampak tidak melar sama sekali. Pasti rasanya masih sangat menggigit. Dengan warna merah kecoklatan, dan rambut yang tercukur rapi tumbuh di bagian atasnya, jadilah kemaluan itu begitu mantab dan mempesona.

    Ustazah Nur bukannya ikhlas diperhatikan seperti itu, tapi mau bagaimana lagi, mau mundur sekarang juga percuma, dokter Pram sudah terlanjur menatap kemaluannya. Ia sebenarnya malu bukan main, air mata mulai menetes di sudut kelopaknya, tapi apa yang bisa ia lakukan? Ini prosuder normal, hanya dengan begini dokter Pram bisa mendiagnosis penyakitnya, meski itu artinya ia harus merelakan dokter tua itu mengutak-atik kemaluannya. Ustazah Nur menghela nafas, demi kesembuhan, tampaknya ia harus rela melakukan itu.

    ”Maaf, Ustazah,” sekali lagi dokter Pram meminta maaf. Tanpa memperhatikan ekspresi Ustazah Nur yang malu dan takut, ia mengambil krim dari salah satu tube yang tertata rapi di meja dan mengoleskan ke telapak tangannya. Ustazah Nur memperhatikan dengan seksama saat dokter Pram meratakan krim itu ke permukaan kemaluannya.

    ”Agar Ustazah nyaman dan tidak sakit.” kata dokter tua itu sambil tangannya terus bergerak. Ustazah Nur bergidik, baru kali ini ada lelaki lain yang memegang kemaluannya, dan bukan cuma memegang, tapi sudah memijit dan menggesek-gesek meski sama sekali tidak terlihat punya niat buruk. Jari-jari dokter Pram bergerak dengan  ringan, membelai bibir kemaluan Ustazah Nur, berusaha meratakan krim di tangannya sesempurna mungkin.

    Bersambung… – Part 3 –

    ***

    Baca Juga

  • Hasrat Terpendam Ustazah Nur – Part 1

    Hasrat Terpendam Ustazah Nur – Part 1

    Cerita Seks Bersambung – Hari masih pagi. Masih belum banyak murid yang hadir di sekolah. Ustazah Nur Saffiyah sengaja berangkat lebih pagi untuk mampir ke klinik kesehatan yang ada di sebelah sekolah. Ia ingin memeriksakan diri, sudah hampir 3 hari ini ia merasa nyeri dan sakit di bagian bawah perut. Terutama di dekat kemaluannya, padahal saat itu ia tidak sedang datang bulan. Tidak biasanya ia begini, karena itulah ia jadi takut. Jangan-jangan ini tanda-tanda kanker rahim, rekan sesama guru pernah mengalaminya. Lebih baik berjaga-jaga daripada terlambat sama sekali.

    jilbab-montok-anggezty-solo-uns (1)

    Usia Ustazah Nur sendiri masih muda, berkisar 26 tahun. Baru tahun kemarin menikah dan dikaruniai 1 orang anak. Sekarang bayinya yang baru berusia 2 bulan diasuh oleh ibunya karena tidak mungkin Ustazah Nur membawanya ke sekolah. Selain karena sifatnya yang rendah diri dan baik hati, ibu guru yang satu ini juga dikenal karena kecantikan dan kemolekan tubuhnya. Mungkin itu turunan dari ibunya yang berdarah Cina.

    Setelah melahirkan, pesona dan kharismanya bukannya berkurang, malah semakin menjadi-jadi. Wajahnya jadi tampak dua kali lebih jelita, kulitnya jadi lebih putih, sementara body-nya -jangan ditanya lagi- begitu montok dan mengundang birahi. Payudaranya jadi semakin besar karena berisi air susu, dulu saja sudah kelihatan membusung, apalagi sekarang. Baju selebar dan selonggar apapun tidak bisa menutupi kemolekannya. Setiap mata lelaki yang memandangnya pasti berdecak kagum, dan ujung-ujungnya timbul keinginan untuk menjamahnya, atau minimal memandanginya sepuas hati. Karena itulah, sekarang Ustazah Nur selalu memakai jilbab lebar kalau ke sekolah. Ia ingin mengalihkan perhatian para lelaki, meski dalam hati tahu kalau itu sia-sia belaka.

    jilbab-montok-anggezty-solo-uns (14)

    Dan tak cuma payudara, pinggul dan paha Ustazah Nur juga membengkak makin sempurna. Kalau dulu masih agak kecil dan kerempeng, sekarang sudah membulat begitu indah. Kalau dia berjalan, goyangan pantatnya sanggup membuat semua mata lelaki berpaling, padahal sehari-hari Ustazah Nur senantiasa mengenakan jubah panjang dan stoking kaki. Tak lupa juga sarung tangan dan kain dalaman, namun tetap saja para lelaki memandang lapar kepada dirinya. Sebagai seorang ustazah yang sehari-hari mengajar pendidikan agama, Ustazah Nur bukannya tidak tahu hal itu. Namun segala cara sudah ia lakukan, dan sampai sekarang hasilnya masih minim. Ia masih terlihat seperti ikan asin diantara para kucing, keberadaannya terlalu sukar untuk diabaikan.

    Ia pernah mengutarakan hal ini pada sang suami, bukannya jawaban memuaskan yang ia terima, malah kecupan mesra di bibir yang ia dapat. Dan ujung-ujungnya, mereka sama-sama tak tahan dan akhirnya bercinta di ruang tengah, di sebelah bayi mereka yang tidur pulas dalam buaian. Ibu mertua yang memergoki aksi mereka, pura-pura tidak tahu, dan melanjutkan kegiatannya di dapur. Menghadapi kecantikan dan kemolekan Ustzah Nur, memang selalu membikin suaminya lepas kendali.

    jilbab-montok-anggezty-solo-uns (2)

    Dan begitu lepas kendalinya hingga membuat laki-laki itu jadi tidak tahan lama. Tahu kan artinya? Ya, suaminya selalu keluar duluan sebelum Ustazah Nur melenguh puas. Sebenarnya ini tidak terlalu dirisaukan oleh sang ibu guru muda, karena sebagai istri yang baik, ia harus menurut dan tidak boleh mengecewakan sang suami. Apapun keadaannya harus ia terima, meski itu artinya ia tidak pernah sekalipun mengalami orgasme selama 1 tahun pernikahannya.

    Ustazah Nur bukannya tidak menginginkannya, kadang ia mengharapkannya juga, bahkan cerita-cerita dari rekan sesama guru yang kehidupan ranjangnya begitu panas dan menggelora, sering membuatnya berpikir; senikmat apakah orgasme itu? Tapi sekali lagi, ia terlalu sungkan untuk mengutarakan pada sang suami. Didikan agama yang begitu ketat membuatnya memandang tabu pembicaraan seperti itu. Lagian, sebagai seorang istri yang solehah, cukup baginya melihat sang suami melenguh puas, tak peduli dengan dirinya sendiri yang tidak pernah merasa nikmat.

    Ya, Ustazah Nur berani berkata seperti itu karena memang itu yang ia alami. Sudah ejakulasi dini, barang suaminya juga kecil lagi pendek. Memang terasa saat dimasukkan, tapi masih seperti ada yang kurang. Benda itu tidak bisa menjangkau seluruh lorong kewanitaannya. Hanya terasa di gerbang depan saja, itupun cuma membentur-bentur ringan, tidak bisa menyesaki seperti cerita Ustazah Rina yang suaminya seorang Perwira Polisi. Bikin Ustazah Nur jadi gatal setengah mati. Dan saat gatalnya perlahan memuncak, sang suami malah sudah KO duluan. Ustazah Nur memang tidak pernah protes, ia bisa menerima semua itu dengan ikhlas, namun dalam hati kecilnya tetap terbersit keinginan untuk dipuaskan seperti wanita pada umumnya.

    Yang lebih tragis lagi, bahkan untuk menembus keperawanan Ustazah Nur saat malam pertama dulu, suaminya tidak menggunakan penisnya. Ia tidak mampu! Laki-laki itu menggunakan dua jari tangannya untuk merobek selaput dara Ustazah Nur. Kecewa pastinya, tapi apa mau dikata. Ia sudah memilih laki-laki itu sebagai suaminya, apapun keadaannya harus diterima. Memang di atas ranjang, suaminya tidak mampu. Tapi sehari-hari, lelaki itu itu adalah sosok yang alim lagi bertanggung jawab. Dan itulah yang dicari oleh Ustazah Nur, ia harus bisa menekan hasrat birahinya demi kebahagiaan keluarga. Itu yang lebih penting.

    jilbab-montok-anggezty-solo-uns (15)

    Ustazah Nur masuk ke dalam klinik yang sudah menjadi langganannya itu. Setiap kali sakit atau ada keluhan kesehatan, ia selalu pergi kesana karena selain dekat dan murah, juga karena ada beberapa doktor muslimah yang bertugas di sana. Ustazah Nur kurang sreg kalau diperiksa oleh dokter lelaki, batasan bukan muhrim membuatnya jadi tidak leluasa berbincang dan berkonsultasi. Beda kalau ditangani dokter wanita, untuk suntik atau apapun, Ustazah Nur bisa bebas melakukannya. Kalau dengan dokter lelaki, jangankan memamerkan pinggulnya yang seksi, untuk tensi darah saja ia malu setengah mati.

    Setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam, Ustazah Nur masuk ke ruang periksa. Untunglah saat itu dokter Aini yang sedang bertugas, Ustazah Nur lega saat melihatnya.

    ”Keluhannya apa, bu Ustazah?” tanya dokter Aini ramah. Lesung pipitnya tampak indah di bawah kacamata bulatnya.

    ”Ini, dok,” Ustazah Nur pun menceritakan keluhannya.

    jilbab-montok-anggezty-solo-uns (6)

    Dokter Aini mendengarkan dengan seksama, setelah itu ia meminta ustazah Nur untuk naik ke atas tempat tidur. ”Maaf, bisa diangkat bajunya, mau saya USG dan periksa secara visual.” kata dokter cantik yang usianya baru lewat 40 tahun itu.

    Ustazah Nur segera menyingkap baju kurungnya ke atas, dan dililitkannya ke dada. Juga dalemannya. Dengan hanya berstocking dan bercelana dalam, ia berbaring di atas ranjang. Dokter Aini memandangnya, sekilas tampak mengagumi kemolekan dan kesintalan tubuh Ustazah Nur. ”Bisa dilepas juga celananya?” tanya dokter itu.

    Ustazah Nur pun melepas celana dalamnya, tanpa malu-malu ia kini berbaring setengah telanjang di depan dokter Aini.

    ”Buka sedikit kakinya,” dokter Aini meminta. Dengan alat semacam pengait, ia membuka lipatan vagina Ustazah Nur. ”Bilang kalau misalnya ada yang sakit ya,” kata Dokter Aini sambil mulai menekan-nekan lorong vagina Ustazah Nur dengan alatnya.

    Ustazah Nur merasakan sensasi dingin logam menjalari dinding-dinding vaginanya. Dokter Aini menekan di beberapa tempat, sampai menemukan suatu benjolan aneh di sisi klitoris Ustazah Nur. ”Apakah sakit?” tanya sang Dokter sambil sedikit menusuk.

    ”Auw! Ahh,” Ustazah Nur berjengit dan sedikit kaget, itu sudah cukup sebagai jawaban.Dokter Aini melanjutkan pemeriksaannya dengan melakukan USG. Setelah selesai, ia mempelajari hasilnya lalu berkata. ”Nampaknya ini sedikit serius.”

    ”Ada apa, dok?” tanya Ustazah Nur pelan, takut mendengar jawabannya.

    ”Ustazah sudah menikah?” tanya dokter Aini.

    ”Iya, sudah.” jawab Ustazah Nur.

    ”Anak?””Baru satu. Memangnya kenapa, Dok?” tanya Ustazah Nur lagi.

    ”Begini, dari hasil pemeriksaan, sebaiknya Ustazah menjalani pemeriksaan lebih lanjut dengan seorang doktor ahli kandungan. Sepertinya ada masalah serius di bagian kewanitaan Ustazah.” terang dokter Aini.

    ”Ah, begitu ya, dok?” gumam Ustazah Nur lirih.

    ”Tapi jangan khawatir, ini cuma dugaan awal saja. Siapa tahu itu cuma bisul yang salah tempat.” dokter Aini berusaha menenangkan.

    Bersambung.. – Part 2 –

    ***

    Baca Juga

  • Desahan Mbak Yuniku – Part 2

    Desahan Mbak Yuniku – Part 2

    Cerbung Sex – “gimana mbak? Enak ga mbak?”

    Mbak Yuni hanya mengangguk, matanya sayu menandakan dia sangat menikmati goyangan ku.

    “mau yang lebih enak ga mbak?”
    “apa den.?” Jawabnya tersenggal.
    “kita main yuk mbak, aku juga ga tahan nih.”
    “jangan den, ntar ketahuan orang. Kaya gini aja udah cukup den.”
    “ga bakal ada orang yang tau selain kalo mbak yang bilang kepada orang lain mbak.”
    “tapi mbak takut hamil den. Trus mbak juga takut kalo ntar aden ngadu sama nyonya.”
    “mbak percaya deh sama aku. Aku ga bakal bilang sama siapa-siapa asal mbak juga gitu.” Jawabku sambil membalikkan badan. Sekarang aku berada di atas menindih mbak Yuni sambil terus menggoyang selangkangannya mbak Yuni.

    Mbak Yuni menikmati banget apa yang aku lakukan terhadapnya. Dia tampaknya sudah setuju dengan apa yang aku ingin kan.

    Melihat lampu hijau telah menyala. Tangan ku mulai menggerayangi tubuh mbak Yuni. Bibirku langsung menyambar bibir mbak Yuni dan mbak Yuni pun menanggapi ciuman ku. Tangan ku mulai mendaki gunung indah yang dari dulu menjadi impian ku. Aku remas kedua gunung identik itu terasa banget kalo mbak Yuni ga pake BH di dalamnya. Soalnya putting susu mbak Yuni terasa keras dan mencetak keluar. Ternyata mbak Yuni punya putting yang kecil sehingga dari tadi aku ga sadar kalo mbak Yuni ga pake BH.

    Serangan terus ku lakukan. Leher dan belakang telinganya ku cium dan ku jilat. Mbak Yuni menggeliat pertanda nafsunya sangat menggebu-gebu. Tangan kupun telah masuk kedalam baju you can see yang di pakai mbak yuni. Kenyal sekali memang. Si otong berada di puncak akibatnya. Dan pastinya semakin terasa sama mbak Yuni. Cairan beningpun sudah keluar dari ujung penis ku bahkan telah tembus sampai keluar celana boxer yang aku pakai. Tapi mak Yuni lebih parah. Celananya telah basah akibat gesekan yang aku berikan, membuat aku tambah bersemangat menggempur mbak Yuni.

    “mbak, bajunya aku buka yah, biar tambah enak.”

    Mbak Yuni hanya mengangguk menjawab pertanyaan yang aku berikan. Tak menunggu waktu lama baju mbak Yuni telah terlempar ntah kemana. Remasanku semakin kuat, mbak Yuni semakin menggeracau dan mendesah tak karuan hanya kata kata

    “ahhh.. sssshhh… dan terus den” yang aku dengar dari tadi.

    Kedua putting kecil itupun tak lupa aku jilat dan aku hisap. Sangat nikmat rasanya. Meremas sambil menghisap susu besar seperti ini. Tak lupa aku tinggalkan dua tanda cupangan di kedua susunya mbak Yuni. Tanda aku telah pernah menidurinya. Dan tanda yang selalu aku berikan kepada semua payudara yang telah pernah aku hisap. 

    Gempuran kembali aku tambah. Tanganku turun menuju selangkangan mbak Yuni dan menggosok-gosoknya. Merasa kurang nyaman, aku pelorotkan celana beserta celana dalamnya sehingga sekarang mbak Yuni bugil total. Alangkah terkesimanya aku melihat ternyata mbak Yuni mencukur habis semua bulu kemaluannya. Vaginyanya tampak bersih dan mengkilat karena lendir yang dia keluarkan.

    Kembali aku gesekkan tanganku ke bibir vaginanya. Klitorisnyapun tampak membengkak karena nafsunya yang menggebu. Cairan beningpun tampak banjir keluar dari lobang surganya mbak Yuni. Ku jilat vaginanya mbak Yuni. Namun mbak Yuni menolaknya. Dia langsung menutup vagina mulus yang dia punya.

    “jorok atuh den. Masa tempat kencing aden jilat.”
    “ga apa-apa mbak. Mbak nikmati aja. Pasti rasanya enak banget.” Jawabu meyakinkannya.

    Ku angkat tangan mbak Yuni dari vaginanya dan langsung ku sergap. Mbak Yuni tambah menggeracau ga karuan

    “enak den.. aden bener,.. enak banget… terus den.. hisap yang,.. keras” ucapnya tak karuan. Terus aku jilat dan aku hisap lobang surganya.

    Jari tengah ku pun aku masukkan ke dalam lubang vagina nya membuat caian didalamnya meluber keluar. Kelihatannya mbak Yuni emang udah lama ga di sentuh sama lelaki. Nafsunya sampai sebegini banget , fikirku.

    Tak lama aku menjilat vaginanya mbak Yuni, mbak Yuni mendapatkan orgasmenya yang pertama. Orgasme yang sangat dasyat, sampai sampai muncrat keluar. Langsung saja aku hisap semua cairan kental yang keluar tanpa ada sisa. Lumayan lama mbak Yuni menegang karena orgasmenya. Dia tampak kelelahan karena orgasme pertamanya.

    “gimana mbak?? Capek yah mbak??”
    “iya den. Mbak jadi lemes gini. Tapi enak banget den. Mbak aden apain tadi sampai mbak kenikmatan gini.. rasanya mbak kaya terbang gitu den” nafasnya tersenggal.
    “ga di apa-apain kok mbak. Sekarang mbak istirahat dulu.. ntar aku kasih yang lebih nikmat.”

    Mbak Yuni pun ketiduran di kamarku tanpa busana. Spray tempat tidurku basah karena cairannya mbak Yuni. Aku biarkan mbak Yuni istirahat biar nanti mbak Yuni bisa fresh lagi.

    Akupun tidur di sebelah mbak Yuni sambil memeluk nya.

    Saat itu mbak Yuni masih tertidur, sepertinya dia benar-benar keletihan semalam.

    “mbak.. mbak.. keletihannya sampai ketiduran sampai jam segini.”

    Aku bangunkan mbak Yuni dengan meremas-remas dadanya. Namuan dia masih saja tidur. Dasar mbak Yuni. Tidurnya kaya orang mati kataku dalam hati. Aku cium bibirnya pun dia masih belum juga bangun, malahan adekku yang bangun karena ngebangunin mbak Yuni. Mungkin karena semalam aku belum ngeluarin stok sperma yang udah seminggu aku simpan karena ga berhubungan dengan pacar ku.

    Vaginanya pun kembali aku gosok-gosok dengan tangan ku. Tapi mbak Yuni tetap tidak bangun, namun lama-lama aku gesek vaginanya menjadi lembab dan basah. Nafasnya pun kembali memburu. Melihat kejadiannya begini, langsung saja aku buka celanaku beserta CD yang aku pakai, keluarlah si otong dari sarangnya dengan tegap minta sarapan pagi.

    Mbak Yuni yang sedang tidur ini akan langsung aku genjot buat ngebanguninnya. Aku buka lebar-lebar selangkangannya dan kembali aku jilat biar lendirnya tambah banyak dan ga susah buat coblos lobangnya mbak Yuni.

    Setelah 15 menit aku jilat, aku langsung mengambil posisi dan mengancang-ancang kuda-kuda buat menikmati vaginanya mbak Yuni. “dengan masuknya si otong kedalam vaginanya Mabak Yuni, maka aku akan berhasil menjalankan taktik kuno ini” kataku. Si otong aku gesek-gesekkan ke vaginanya mbak Yuni biar ada pelicinnya.

    Tak lama aku masukkan kontolku pelan-pelan, agak susah memang, mungkin karena mbak Yuni udah lama ga di entot ato karena emang batangku yang kegedean buat vaginanya mbak Yuni. Setelah berusaha menekan akhirnya kepala kontolku pun masuk kedalam vaginanya mbak Yuni. Namun dia masih saja belum bangun. Aku tekan keras kontolku ke dalam vaginanya mbak Yuni sampai mentok dan mbak Yuni pun terbelalak merasakannya. “aden Andra.. Sakit den.. kok adeng ga ngomong-ngomong mau masukin kontolnya?”

    “mbak sih, susah banget bangunnya. Udah dari tadi aku bangunin tapi masih belum bangun. Ya langsung aja aku masukin, udah ga tahan sih..” jawab ku cengengesan.

    Aku mulai mengocok kontolku yang ada di dalam vaginanya mbak Yuni. Dia terlihat masih meringis karena perih yang dirasakannya, namun lama kelamaan ringisannya berubah menjadi desahan kenikmatan. Bahkan kata-kata kotor mulai keluar dari mulutnya. Tapi kata-kata kotor yang keluar makin membuat aku bernafsu menikmati tubuhnya mbak Yuni dan semakin kencang pula aku menusuk vaginanya mbak Yuni.

    Tak lama memakai gaya standar mbak Yuni meminta kami ganti posisi. Dia meminta berganti menjadi doggy style. Aku kembali menggoyang mbak Yuni dari belakang.

    “enak kaya gini den. Lebih kerasa. Tapi kok kontol aden gede banget sampai rasanyanya ga muat di memeknya mbak”
    “yang penting enak kan mbak sayang” jawabku sambil terus menggoyang kontolku di memek mbak Yuni. Desahan dan erangan nikmat tak henti-hentinya keluar dari mulut mbak Yuni, membuat suasana menjadi semakin panas.

    Lima menit bersama doggy style, mbak yuni semakin liar. Kelihatannya dia akan mengalami orgasmenya. Aku yang merasakan kontraksi otot vagina mbak Yuni semakin cepat, terus memompa semakin cepat sampai akhirnya tubuh mbak Yuni kejang menandakan puncak kenikmatannya telah datang. Batang kontolku terasa di siram dan di remas kuat oleh cairan dan dinding vagina mbak Yuni.

    “ahh… nikmat banget den.. Aden hebat banget nunggangi mbak Yuni.”
    “heheh.. emang kuda di tunggangi mbak?” Jawabku bercanda melonggarkan ayunanku.

    Sebenarnya aku juga hampir mengalami klimaks saat mbak Yuni orgasme tadi. Namun karena mbak Yuni sempat minta berhenti, sehingga semprotan sperma ku pun tertunda. Beberapa saat mbak Yuni mengambil nafas. Kemudian dia meminta aku berbalik dan segera naik ke pangkuan ku. Kontolku yang masih ereksi dimasukkannya kedalam lobang surganya. Gampang saja, lobang yang telah basah itu langsung terisi oleh kontolku.

    Goyangan pinggul mbak Yuni mulai mengocok kontolku yang minta di keluarkan laharnya. Lambat dan lemah, tapi pasti goyangan itu di lakukannya. Memberi kenikmatan yang berbeda. Semakin lama goyangannya semakin cepat. Terkadang naik turun, atau berputar putar. Sepertinya mbak Yuni sangat mahir dalam gaya woman on top ini.

    Aku tidak hanya menerima kenikmatan yang diberikan mbak Yuni. Tangan nakalku langsung ku letakkan di payudara mbak Yuni dan tak hanya diam. Remasan dan cubitan ku berikan untuk menambah kenikmatan permainan kami ini. Sesekali aku sempatkan menghisap putting tegang yang terpampang di depan ku dan tidak jarang aku gigit kecil putting itu.

    “den,, enak gigitannya den. Ahhh… “ kata yang keluar dari mulutnya. Aku teruskan kerjaan ku. Cupanganku pun telah meraja lela di susunya mbak Yuni.

    Goyangan mbak yuni tampaknya berhasil membobol pertahanan ku. Rasanya tidak lama lagi spermaku akan muncrat dari ujung senapan ku.

    “mbak,.. akk.. akku udah ma.. mau keluar nih mbak.. shshhh.”
    “keluarin di dalam aja denhh… mbak kayaknya juga udah ga lama lagi..”

    Mendengar itu ku balikkan tubuh mbak Yuni dan langsung ku pompa keras memek nikmat tersebut.

    “ahhh… aku keluar mbaaaakkk” teriak ku mengiringi semprotan deras sperma ku di dalam memek mbak Yuni. Dan ternyata semprotanku pun di sambut oleh orgasme mbak Yuni yang kesekian kalinya.

    Tubuhku langsung melemas menindih tubuh mbak Yuni. Kami terdiam sejenak. Nafas kami tersenggal tak beraturan. Kontolkupun semakin lama semakin melemas dan mengecil di dalam memeknya mbak Yuni. Ku cabut kontolku dan aku beranjak berbaring di sebalah mbak Yuni.

    “makasi yah mbak. Mbak udah mau ngelayani aku.”
    “sama-sama den. Mbak juga udah lama kepengan ngentot yang kaya gini. Tapi kok aden mau main sama pembantu kaya mbak. Kan aden sendiri punya pacar.”
    “ya ga apa-apa mbak. Emang ga boleh yah seorang majikan main sama pembantunya.?”
    “ya ga apa-apa sih den.” Jawabnya singkat.
    “ehh mbak. Ga apa-apa tuh aku nyemprotin sperma aku di dalam memeknya mbak.”
    “ndak apa-apa den. Ntar mbak minum jamu biar ga hamil.” Katanya sambil tersenyum.

    Kami terdiam. Dan tak terasa kami kembali ketiduran sampai pukul tiga sore. Ketika aku bangun mbak Yuni sudah tidak ada di sampingku lagi. Mungkin sudah kembali ke kamarnya. Segera aku bangkit dan mandi membasuh keringat dan sperma kering yang menempel di batang kontolku.

    Setelah mandi, aku langsung kebawah mencari mbak Yuni. Ku temui dia sedang masak makan siang di dapur. Saat itu dia memakai baju kaos dengan stelan celana pendek ¾ . Lagi asik tampaknya sehingga tidak menyadari kehadiran ku. Tubuh indah mbak Yuni langsung ku peluk dari belakang mengagetkannya.

    “udah bangun toh den..”
    “udah sayang.. mbak, jangan panggi aku aden lagi yah. Kalo ada Mbak Yuni sama keluarganya aja panggil aden.”
    “trus panggil apa dong den?”
    “terserah kamu aja sayang.” Kataku mengecup pipinya.
    “iya deh sayang.” Jawabnya
    “sayang, aku boleh minta sesuatu ga?”
    “minta apa den.. eh sayang?”
    “kalo Cuma aku di rumah, kamu jangan pake baju yang kaya gini yah.”
    “trus baju apa dong?”
    “maunya sih telanjang aja. Gimana sayang.. mau yah?”
    “kok gitu sayang.?”
    “ya biar kalo aku lagi pengen, aku bisa masukin di mana aja.” Jawabku cengengesan.
    “tapi kamu juga harus gitu. Baru aku mau.”
    “OK” jawabku singkat.

    Langsung ku telanjangi mbak Yuni saat itu juga. Begitu juga dengan aku. Kami sudah seperti kaum nudis saja di dalam rumah ini.

    Sejak saat itu, kami sudah seperti suami dan istri. Mbak Yuni pun aku suruh pindah tidur ke kamarku. Tentu saja kalau tidak ada om dan Mbak Yuni. Dan selama kami berdua di rumah, kami selalu telanjang ria. Dan kami juga melakukan hubungan dimana saja kami suka. Di kamar, dapur, kamar mandi, ruang tamu, bahkan di kolam renang belang rumah. Kami selaku melakukannya tanpa kondom.

    Sempat sih mbak Yuni hamil. Namun dia menggugur kannya dan sejak saat itu dia rajin mengkonsumsi pil KB. Kamipun terus melakukannya sampai aku tamat sekarang. Walaupun aku telah menyelesaikan kuliah ku dan bekerja di luar kota.

    *TAMAT*

    Baca Juga

  • Desahan Mbak Yuniku – Part 1

    Desahan Mbak Yuniku – Part 1

    Cerbung Sex – Perkenalkan aku Andra, mahasiswa teknik semester 5 universitas negeri di kotaku. Kalo perawakan, aku terus terang sering di bilang ganteng mirip tantowi yahya. Tinggi rata-rata 170 cm, namun agah sedikit padat.

    Aku aktif di organisasi BEM sejak awal semester 4 ini. Aku kira enak menjadi ketua BEM. Namun ternyata tidak seenak yang aku bayangkan. Kuliahku jadi terbengkalai, ntah bagaimana hasil semester ini.

    Kita langsung mulai saja ceritanya. Cerita ini adalah cerita yang menurutku serba kebetulan. Aku pun ga nyangka semua ini akan terjadi.

    Sepulang rapat BEM aku langsung pulang ke rumahku. Rumah Mbak Yuniku lebih tepatnya. Aku tinggal di sana karena tidak ada yang menghuni rumah itu. Mbak Yuni dan keluarganya telah pindah ke Amerika mengikuti om yang bekerja sebagai seorang supervisor di salah satu perusahaan tambang emas terbesar di dunia. Rumahnya sangat besar, aku tinggal disini bersama dengan seorang pembantu wanitanya Mbak Yuni yang bertanggung jawab membersihkan rumah tersebut.

    Sampai di rumah perasaanku emang sudah serba uring-uringan. Rasanya darah tinggiku kumat. Pusing menang, pandanganku kabur sampai aku pingsan di bawah tangga menuju lantai 2 dimana kamarku berada.

    Ntah berapa lama aku tidak sadarkan diri. Yang aku tau waktu aku sadar aku berada di atas sofa ruang keluarga didampingi mbak Yuni.

    “den Andra udah sadar..” suara mbak Yuni memecah kebuyaranku.
    “ehh… mbak Yuni, aku tadi pingsan yah mbak. Maaf merepotkan mbak, aku emang lagi ga enak badan..”
    “ahh,, ga apa-apa lagi den. Emang den Andra kenapa?? kok bisa sampai pingsang segala??”
    “ga tau lah mbak, kayaknya darah tinggi ku kumat gara-gara rapat tadi.”
    “den Andra ini ada-ada saja, masa masih muda udah kena darah tinggi.”
    “hahah… mau gimana lagi mbak, kata dokter emang begitu. Yaudah mbak, aku mau ke atas dulu, mau mandi trus istirahat.”
    “jangan lupa makan den. Mbak udah masak tuh. Aden mau makan d bawah atau di atas??”
    “di atas aja kalo begitu mbak”

    Percakapan kami pun berlalu seiring dengan berjalannya aku menuju kamarku. Mbak Yuni merupakan seorang janda muda beranak satu. Anaknya di tinggal di kampung halamannya bersama dengan keluarganya. Sebenarnya dia cantik, wajahnya ayu, kulitnya putih terawat. Mungkin karena di rumah tidak terlalu banyak kerjaan dia bisa merawat tubuhnya. Yang paling menarik itu tubuhnya yang sangat-sangat proporsional. Payudaranya tetep kenceng walau udah beranak satu dan pinggulnya padet berisi. Bisa di katakan dia adalah miss pembantu, heheh.

    Sesampainya di kamar, aku langsung mandi. Walau ada air panas, tapi aku paling malas mandi dengan air panas, soalnya ga ada segarnya jadinya. Setelah mandi aku rebahkan diri di atas ranjang kesayanganku dengan masih mengenakan handuk. Tak lama berselang mbak Yuni datang membawa makanan dan susu coklat hangat kesukaan ku. Situs Judi Slots

    “ini den, makanannya. Jangan lupa di makan trus minum susunya biar ga tambah sakit.”
    “iya mbak, makasih..” jawabku dengan senyuman.
    “kalo gitu mbak ke bawah dulu yah den. Kalo ada apa-apa panggil aja mbak.”
    “iya mbak Yuni yang bawel..”

    Mbak yuni pun keluar dari kamarku. Langsung saja aku ganti pakaianku dengan pakaian resmi di rumah. Yah celana boxer sama baju singglet. Makanan yang telah d antar mbak yuni pun tak lupa aku santap.

    Makanan habis aku pun mulai untuk istirahat. Namun mataku tetap ga bisa di bawa tidur. Ntah kenapa sejak ngeliat mbak Yuni yang tadi makai baju you can see aku selalu kepikiran dia. Biasanya dia lebih suka pakai daster ato baju kaos sama celana pendek selutut. Eh tadi dia pakai celana pendek sepaha plus baju you can see. Pokoknya mempertontonkan banget deh.

    Pikiranku mulai kotor, aku mulai membayangkan gimana yah kalo aku tidurin mbak Yuni. Tapi aku juga takut, ntar dia marah dan nadu sama om dan Mbak Yuni. Bisa diusir aku. Namun si otong udh minta di kasih jatah dan setan pun membujuk-bujuk supaya cari akal buat bisa nidurin mbak Yuni.

    Tak lama lampu neon un menyala di atas kepalaku. Bagai mana kalo aku coba minta pijitin sma mbak Yuni. Kalo berhasil taktik berikutnya bisa nyusul. Emang sih cara ini cara paling kuno dalam menjebak pembantu, tapi apa salahnya di coba.

    Aku mulai ideku tadi. Aku turun ke lantai satu untuk mencari mbak Yuni. Aku mencari ke kamarnya, namun mbak Yuni ga ada di sana. Aku cari lagi, mungkin di toilet, tapi juga tidak ada. Malas mencari aku panggil saja dia. Eh ternyata dia lagi nonton di ruang tangah.

    “ada apa den?”
    “eh mbak Yuni di cariin ke kamarnya alah ada di ruang tengah..”
    “iya den, mbak lagi nonton tadi. Ada apa yah den cari mbak?”
    “ini mbak, badan aku capek-capek semua. Mbak misa mijit ga?”
    “mbak ga bisa mijit den, ntar takut aden jadi salah urat. Aden mau di panggilin tkang urut langganannya nyonya?”
    “mbak aja deh mbak, ntar nunggunya lama. Lagian sekarang udah jam berapa.”
    “gimana yah den. Tapi kalo salah urat jangan salahin mbak loo..”
    “iya deh mbak. Aku tunggu di kamar yah”

    Langkah pertama berhasil, sekarang tinggal bagaimana membujuk nya saja. Aku langsung ke kamar. Kubuka bajuku dan langsung aku tengkurep di atas ranjang. Tak lama mbak Yuni datang dengan masih memakai pakaian yang tadi.

    “den Andra ada body lotion ga buat mijit?”
    “ada tuh mbak di atas meja. Ambil aja.” Kataku singkat
    “kalo ga enak bilang aja yah den.”

    Aku tidah menjawab. Mbak Yuni duduk di pinggir ranjang dan menuang body lotion ke tangannya dan mulai memijit punggungku. Emang sih pijitannya kurang enak, tapi lumayan lah demi bisa menggoyang ranjang ini.

    “mbak kalo susah mijitnya dari samping, naik aja duduk di atas punggung aku mbak, ga apa-apa kok.”
    “ahh ga usah den. Ga enak di lihat orang.”
    “siapa yang bakal lihat mbak, kan di rumah ini Cuma ada kita berdua, gabakal ada yag liat. Kalo mijitnya kaya gini kan mbak juga yang bakal susah. Ntar pinggangnya keseleo lagi.”
    “iya deh den. Maaf loo den.” Katanya sopan sambil beranjak naik dan duduk ke atas pinggang ku.

    Saat memijit mbak Yuni terus bercerita tentang pengalamannya bekerja di rumah ini selama 5 tahun terakhir. Ternyata dari ceritanya mbak Yuni emang masih muda. Umurnya baru 25 tahun. Dulu dia nikahnya umur 16 tahun trus punya anak cowok. Waktu dia umur 20 taun dia mulai kerja di sini sama Mbak Yuni, sampai sekarang. Aku berfikir, mungkin inilah saatnya aku mulai melencengkan pertanyaanku.

    “sekarang umur anak mbak udah brapa taun??”
    “sekarang mah udah 8 taun den, namanya Rangga.”
    ”pasti orangnya ganteng. Soalnya mamanya cantik banget.”
    “ah aden ni bisa aja. Mana pula ada pembantu yang cantik den.”
    “serius mbak, mbak itu cantik, putih, sexy lagi. Terus terang aku suka lo sama gaya berpakaian mbak yang kaya gini. Mbak nampak lebih muda dan lebih segar.”
    “ihh aden pinter banget ngegombalnya.”
    “mbak ga percaya yah. Kalo aku belum punya tunangan, aku mau tuh jadiin mbak pacar.”
    “ihh udah ah den. Aden ni ada-ada aja.”

    Mbak Yuni terus memijit tubuh ku. Setelah bagian punggung selesai pijitannya pindah ke kaki. Kami terus bercerita dan aku terus memberi serangan agar cita-cita ku tercapai.

    “mbak, kok mbak ga nikah lagi? Kan mbak cantik?”
    “ga ah den, belum saatnya rasanya. Mbak mau fokos buat ngebesari anak mbak dulu. Mbak mau ngumpulin duit dulu, biar nanti dia ga kaya orang tuanya. Mbak mau dia nanti kuliah kaya den Andra trus jadi orang gede biar bisa ngebehagiain orang tuanya.”
    ”trus misalnya kalo mbak lagi kepengan gimana mbak?”
    “kepengen apa yah den?”
    “iya, kepengen itu. Biasanya kalo orang udah berkeluarga dan udah punya anak kan ketagihan buat gituan. Emang mbak ga kepengen lagi gituan?”
    “ya kepengen lah den. Tapi mau gimana lagi. Ya terpaksa harus di tahan-tahan aja.”
    “kasian yah mbak. Harus tersiksa gini. Tapi kalo mbak emang kepengen aku mau lo bantuin mbak.”
    “ihh aden nih. Kan ga boleh den. Ntar ketauan orang bisa brabe. Ehh aden kakinya udah selesai mbak pijit nih.”
    “ya ga apa-apa lah mbak, daripada tersiksa. Bagian depan juga dong mbak, masa bagian belakangnya doang.”

    Mbak Yuni tampak berfikir karena ucapan ku tadi. Aku berbalik menelentang, terus terang aku lumayan terbawa karena pembicaraan kai tadi, batangku pun mulai berdiri, tercertak jelas dari boxer yang aku pakai. Dan sempat aku melihat mbak Yuni beberapa kali melihat ke arah selangkangan ku.

    Sebenarnya ukuran batangku pun tidak begitu panjang, hanya rata-rata orang Indonesia, namun diameternya emang agak besar sekitar 5 cm. Dan saat ini si otong sudah agak ngeceng.

    Mbak Yuni mulai memijit badian dadaku, dia memijit dari arah samping. Dan dari sini aku dapat melihat wajah cantiknya dan belahan dada montoknya. Selain itu tanganku juga bergesekan teru dengan paha mulusnya.

    “tuhkan mbak masih cantik banget.”
    “aden mulai lagi kan. Jangan gitu dong den, mbak kan jadi malu.”
    “aku serius lo mbak. Sexy lagi, pasti bakal beruntung orang yang dapat mbak sebagai istrinya nanti.”

    Mbak Yuni hanya tersenyum-senyum dengan pujian ku. Dia terus saja memijit dada ku hingga puting kupun menegang. Mungkin dia suka dengan dadaku yang memang bidang karena aku sering angkat beban di tempat aku biasa fitnes.

    “mbak, masa mijit dada aku terus. Pijit yang lain dong.” Kataku protes.
    “maaf den, keasikan ngobrol sampai lupa deh.”
    “ngomong-ngomong ga susah mbak pijit dari situ?”
    “iya sih den. Tapi mau ginama lagi. Ntar adeknya aden kedudukin lagi sama mbak.”
    “ahh ga apa-apa mbak. Dudukin aja.”
    “ga usah lah den, mbak jadi ga enak ntar.”
    “enak kok mbak, dudukin aja” memaksa

    Mbak Yuni pun pindah duduk ke atas paha ku. Kira-kira pas antara adek ku dengan selangkangannya. Muka mbak Yuni memerah mungkin merasa malu dengan keaadan kami saat ini. Dengan begini payudara mbak Yuni makin terlihat jelas sangat kontras dengan baju hitam yang dia pakai. Lama kelamaan si otong malah semakin bangun. Aku yakin mbak Yuni merasakannya karena dia tepat mendudukinya.

    Tanganku mulai nakal mengelus-elus pahanya mbak Yuni. Namun tidak ada penolakan dari mbak Yuni dan tampaknya mbak Yuni juga menikmati elusanku di pahanya. Tidak hanya itu aku mulai menggoyang-goyangkan badanku sedikit demi sedikit, sehingga otongku dapat bergesekan dengan nonanya mbak Yuni, walau masih terlapisi oleh celana kami. Tapi lumayan lah untuk memancing-mancing mbak Yuni.

    Wajahnya semakin memerah, nafasnya mulai memburu. Aku dapat merasakan nafasnya semakin cepat. Aku tingkatkan lagi serangan ku. Tangan ku ku pindahkan ke pantatnya dan sedikit aku elus-elus. Selain itu goyangan tubuhku semakin aku perkencang. Namun yang teradi karena goyangan itu, tangannya yang saat itu memijat bahuku malah terpeleset. Dia terjatuh di dada ku. Dan yang lebih ajaib lagi bibirnya mbak Yuni pas mendarat di bibir ku.

    “maaf den, mbak kepeleset tangannya.” Mukanya merah padam.
    “ga apa-apa kok mbak. Kalo minta tambah boleh ga mbak?” pancingan ku.
    “tambah apa den?”
    “tambah ciumannya. Heheh” aku cengengesan.
    “tuhkan aden tambah nakal. Udah dari tadi tangannya kemana-mana. Sekarang malah minta cium. Ntar mbak aduin sama nyonya lo.”
    “jangan dong mbak. Maaf deh, aku Cuma kebawa aja. Tapi mbak suka kan?” jawabku memancing lagi.

    Mbak Yuni tidak menjawab pertanyaan ku. Walau begitu dia tetap berada di atas ku. Dengan nafas yang masih memburu menikmati goyangan yang aku berikan kepadanya.

    Mbak Yuni tidak melakukan apa-apa. Dia tetap duduk di atasku dan tanyanya tenang menopang badannya di dadaku. Matanya merem, seperti menikmati sesuatu. Goyangan semakin ku percepat. Al hasil mbak Yuni mendesah.

    Aku bersorak dalam hatiku. Aku berhasil memancing mbak yuni untuk masuk ke jebakan ku. Kembali ku mainkan tangan ku. Tanganku kembali ke pantatnya mbak Yun dan meremas-remas pantatnya sambil terus menggoyang-goyang. Dia tidak lagi protes dengan apa yang aku lakukan. Dia malah semakin menikmati.

    Bersambung… – Part 2

    ***

    Baca Juga

  • Bercinta dengan Calon Istri Orang – Part 5

    Bercinta dengan Calon Istri Orang – Part 5

    Cerbung Sex – “Aku ingin bercinta denganmu, Santi”, bisikku pelan, sementara kepala kejantananku masih menempel di belahan liang kewanitaan Eksanti. Kata-kataku yang terakhir ini ternyata membuat wajah Eksanti memerah. Mungkin, ketika bersama Yoga, dia jarang mendengar permintaan yang terlalu to the point begitu. Aku bisa memastikan, Eksanti agak malu. Aku sewaktu-waktu untuk menunggu jawaban dariku kepadanya, karena bagaimana pun aku tidak mau melakukan persetubuhan tanpa persetujuan darinya. Aku bukan tipe laki-laki yang demikian. Bagiku berpaducinta adalah kesepakatan, berdasarkan kesadaran tanpa adanya unsur pemaksaan. Eksanti melihat lalu mengangguk sebelum membuka matanya. Bukan main rasa senangnya hatiku.

    Akhirnya.. “..yes!”. Aku akan memperlakukannya dengan hati-hati sekali, begitu yang ada dalam fikiranku. Kini aku berkonsentrasi penuh dengan menuntun batang kejantananku yang perlahan mulai menyusup melesak ke dalam liang kewanitaan Eksanti. Mula-mula terasa seret memang, namun aku malah semakin menyukainya. Perlahan namun pasti, kepala kejantananku memuji liang kewanitaannya yang ternyata begitu menjepit batang kejantananku.

    Dinding dalam kewanitaan Eksanti ternyata begitu licin, sehingga agak memudahkan kejantananku untuk menyusup lebih ke dalam lagi. Eksanti memeluk erat sambil membenamkan kuku-kukunya di punggungku, hingga agak terputus. Namun aku tak peduli. “Mas, gede banget, occhh..”, Eksanti berteriak pelan.Tangannya turun menangkap batang kejantananku. “Pelan maas..”, ujarnya kali, padahal aku merasa sudah melakukannya dengan pelan dan hati-hati. Mungkin karena lubang kewanitaannya tidak pernah dimasukkan lagi ke dalam batang video seperti milikku ini. Soalnya aku tahu pasti ukuran kejantanan Yoga, pacar Eksanti harga yang aku miliki.

    agak merasa nyaman. Akhirnya batang kejantananku terbenam juga di dalam kewanitaan Eksanti. Aku berhenti menikmati untuk menikmati denyutan-denyutan yang timbul akibat kontraksi otot-otot dinding kewanitaan Eksanti. Denyutan itu begitu kuat, sampai-sampai aku memejamkan mata untuk merasakan kenikmatan yang begitu sempurna. Aku melumat bibir Eksanti sambil perlahan-lahan menarik batang kejantananku,.. untuk selanjutnya aku benamkan lagi, masuk.., keluar.., masuk.., keluar.. Aku meminta Eksanti untuk membuka kelopak mata. Eksanti menurut. Saya sangat senang melihat matanya yang semakin mengatakan Anda menikmati batang kejantananku yang keluar masuk di dalam kewanitaannya.

    “Aku suka kewanitaanmu, Santi, kewanitaanmu masih tetap rapet, ‘yang”, ujarku sambil merintih keenakan. Sungguh, liang kewanitaan Eksanti masih terasa enak sekali. “Icchh.. Mas ngomongnya sekarang vulgar banget”, balasnya sambil tersipu malu, lalu ia mencubit pinggangku. “Tapi enak ‘kan, ‘yang?”, bertanya, yang dijawab Eksanti dengan sebuah anggukan kecil. Aku meminta Eksanti untuk menggoyangkan pinggulnya. Eksanti langsung gerakanku yang naik turun dengan goyangan memutar pada pinggangnya. “Suka batang kejantananku, Santi?”, tanya lagi. Eksanti hanya tersenyum.

    Batang kejantananku terasa seperti diremas-reMas. Masih ditambah lagi dengan jepitan liang senggamanya yang sepertinya punya kekuatan magis untuk menyedot meluluh lantakkan otot-otot kejantananku. “Makin pintar saja dia menggoyang”, batinku dalam hati. “Occhh..”, teriakku panjang. Rasanya begitu nikmat. Aku mencoba mengangkat dadaku, membuat jarak dengan bertumpu pada kedua tanganku. Dengan demikian aku semakin bebas dan bebas untuk mengeluar-masukkan batang kejantananku ke dalam liang senggama Eksanti. Aku memperhatikan dengan hati-hati kejantananku yang keluar dengan lincah di sana. Dengan posisi seperti ini aku merasa begitu jantan. Eksanti memperbesar kedua pahanya, sambil membantu erat di pinggangku.

    Gerakan naik turunku semakin cepat goyangan pinggul Eksanti yang semakin tidak terkendali. “Santii.. enak banget, ‘yang, kamu makin pintar, ‘yang..”, ucapku merasa tertarikakan. “Kamu juga, Mas.., Santi juga enakk..”, agak malu-malu. Eksanti merintih dan mengeluarkan erangan-erangan kenikmatannya. Berulang kalih mengeluarkan kata-kata, “aduh..occh..”, yang diucapkan terputus-putus. Aku liang senggama Eksanti semakin berdenyut sebagai pertanda Eksanti akan mencapai puncak pendakiannya. Aku juga merasakan hal yang sama dengannya. Namun aku mencoba bertahan dengan menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan pelan-pelan, untuk menurunkan daya rangsangan yang aku alami. Aku tidak ingin segera menyudahi permainan ini dengan tergesa-gesa.

    Aku mempercepat goyanganku ketika aku menyadari Eksanti hampir mencapai orgasmenya. Aku meremas payudaranya kuat-kuat, seraya mulutku menempel dan menggigiti puting susu Eksanti. Aku masuk dalam-dalam. “Occhh.. Mas..”, jerit Eksanti panjang. Aku membenamkan batang kejantananku kuat-kuat ke liang senggamanya hingga mencapai dasar rongga yang terdalam. Eksanti mendapatkan kenikmatan yang sempurna.

    Tubuhnya indah dan indah untuk beberapa saat tubuhnya mengejang. Kepalaku ditarik kuat-kuat hingga terbenam di antara dua bukit payudaranya. Pada saat menghentak-hentak, ternyata saya merasa tidak tahan lagi untuk bertahan lebih lama. “Saanntii.. aakuu.. mau keluaarr.. saayang.. occhh.. hh..”, jeritku.Aku ingin menarik keluar batang kejantananku dari dalam liang senggamanya. Namun Eksanti masih ingin merasakan orgasmenya, sehingga tubuhku serasa terkunci oleh kakinya yang tegak di pinggangku. Saat itu juga saya merasa hampir saja memuntahkan cairan hangat dari ujung kejantananku yang hampir meledak. Aku merasakan seolah-olah layang-layang putus yang melayang terbang, tidak berbobot. Aku tidak perlu menarik keluar batang kejantananku lagi, karena secara spontan Eksanti juga menarik pantatku kuat untuk tubuhnya, berulang kali.

    Mulutku yang berada di belahan dada Eksanti memasang kuat kulit putihnya, sehingga meninggalkan bekas disana. Telapak tangan mencengkram buah dada Eksanti. Saya meraup semuanya, sampai-sampai Eksanti merasa agak senang. Aku tak peduli lagi. Hingga akhirnya.. plash.. plash.. plash.. (8X), spermaku akhirnya muncrat menyiram lubang sorganya. Aku merasakan nikmat yang tiada duanya ditambah dengan goyangan pinggul Eksanti pada saat aku mengalami orgasme. Tubuhku akhirnya lunglai tak berdaya di atas tubuh Eksanti. Batang kejantananku masih berada dalam kenikmatan Eksanti.

    Eksanti mengusap-usap permukaan punggungku. “Kamu menyesal, Santi?”, ujarku sambil mencium pipinya. Eksanti sambil pelan pelan membocorkan rambutku. Aku tersenyum kepadanya. Eksanti membalas. Aku menyandarkan penjagaan di belakang. Jam telah menunjukkan pukul 21:00 dan aku harus cepat pulang ke rumah, karena tadi aku tidak sempat membuat alasan untuk pulang terlambat. Begitu pula dengan Eksanti, yang saat itu telah memiliki kebiasan baru selayaknya calon pasangan suami istri, yaitu makan malam bersama Yoga di rumah kost mereka. Sebelum berpisah, kami berciuman untuk beberapa saat.Itu adalah ciuman kami yang terakhir.., percintaan kami yang terakhir.., sebelum akhirnya Yoga menikahi Eksanti, 2 bulan kemudian.

    Selesai.

    ***

    Baca Juga