KONGJONES CERITA DEWASA LENGKAP

CERITA SEX BERSAMBUNG

Tag: cerita ngentot bersambung

  • Ngentot Memek Mbak Indri Yang Nikmat Part 4

    Ngentot Memek Mbak Indri Yang Nikmat Part 4

    Cerita Ngentot Bersambung – “Aku suka kamu Han, sayaang .. kamu romantis deh “ sahut Indriani Hadi dengan tersenyum

    “Aku sudah tidak sabaran pengin kontoli dan ngentotin Mbak Indri lagi “ sahutku dengan memegang pinggangnya

    “Idih .. kamu kok jorok banget sih .. “ sahut Indriani Hadi dengan mata membelalak.

    “Please .. segera memekin kontolku yaa .. ayo deh .. nggak usah dipikir .. aku pengin Mbak Indri juga jorok, biar makin nikmat malam ini “ ajakku yang disambut dengan gelengan kepala Indriani Hadi namun kemudian tersenyum padaku dan kembali memagutku sebentar

    “Ayo deeh .. kita lanjutin di tangga .. aku pengin diewe dari belakang, pengin merasakan dikontoli lagi sama kamu “ ajak Indriani Hadi dengan berdiri dan keluar dari bathtub dan menarik tanganku, kami berdua keluar dengan bertelanjang setelah mengeringkan tubuh kami dengan handuk, Indriani Hadi menarikku keluar kamar mandi, kemudian kami keluar menuju ke ruang depan ketika lewat ruang tengah, Indriani Hadi menarik jilbab yang masih rapi dibekas strika pakaian itu, dipakainya jilbab itu dengan rapi kemudian tersenyum padaku, kuremas pantatnya yang berisi itu sampai Indriani Hadi tersenyum menggodaku

    “Kamu nakal sekali, sayaaaaaaang “ bisik Indriani Hadi dengan mesra seolah olah pengin menelanku bulat bulat, apalagi tangannya memegang penisku dengan meremas. Aku kemudian menyaut kerudung yang tersampir di kursi setrika itu. Indriani Hadi sampai tidak mengerti.

    “Buat apa itu, sayang ?” tanya Indriani Hadi pengin tahu. Aku tak menjawab hanya merangkul wanita berjilbab bertelanjang ini, buah dadanya benar benar sekal dan ranum, mulus dan puntingnya mencuat tegak, kuremas sebentar dan kutarik ke arah tangga menuju lantai atas itu.

    “Mbak Indri sekarang kangkangkan kaki yaa .. aku pengin oral memek Mbak Indri “ sahutku sambil meletakan kerudung itu di anak tangga

    “Oke deeh .. pelan ya sayaang “ sahut Indriani Hadi dengan menaikan kaki kirinya ke anak tangga yang lebih tinggi, aku kemudian mengarahkan mulutku menuju ke selakangannya, Indriani Hadi sampai meringgis ketika lidahku dengan nakal mengoral tempeknya itu

    “Oh Haaan .. enaaaaaaak .. teruus sayaang .. mainin memekku .. aaaaaaaaah ssssssssh ssssssssssshh hhh .. aaaaaaaaaaauh .. lidaaahmu aaaaah sayaaaaaaang .. nakaaaaal “ erang dan desis Indriani Hadi dengan mata memandang ke bawah di mana aku menjilati memeknya yang dengan cepat membasah itu. Lubang kemaluan yang sempit itu dagingnya aku kuakan, kekiri kanan sampai membuat Indriani Hadi mendengus tak karuan, pegangan tangannya di pagar tangga itu dikuatkan.

    “Haaaaan .. sssssssssshh ssssssssssssssshh hhh .. hhh ssssssshh .. teruuuuuuuus .. enaaaak aaaaaaaah .. waaaaaaaauh waduuuuh .. aaakuu aaaaaaah .. ketagihaaaaaan .. enaaaaaaaak bangeeeet .. teruuus sayaaang ssssssssssh sssssssssshh “ desis dan desah wanita berjilbab ini tak karuan, jilbabnya kembali membasah di dekat pipinya itu. Gelengan kepala itu sampai membuat ekor jilbabnya menutupi buah dadanya.

    “Remes susu Mbak Indri, sayaaang .. pleasee “ ajak Indriani Hadi dengan tak sabaran, kemudian memejamkan matanya merasakan oralku yang semakin menggila, kusedot kuat lubang vaginanya sampai membuat wanita berjilbab ini menjerit tak karuan

    “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaw “ teriak Indriani Hadi dengan suara nyaring, kuremas buah dadanya dengan menaikan tanganku, kuremas buah dada sebelah kirinya di balik jilbabnya yang menutupi buah dadanya, nikmat sekali, terkadang dengan ekor jilbabnya yang menutupi buah dadanya aku remas, Indriani Hadi sampai membantuku meremas buah dadanya

    “Oooooooh enaaaaaaaaaaknyaaaaaaaaaaa aaaaaaaaaaaaah ssssssssssshhh ssssssssshh .. “ desis Indriani Hadi dengan menggeliat ke sana kemari dengan tangan kirinya memegang pagar tangga sekuatnya.

    “Sudaah sayaaaaaang .. sudaaah .. jangan bikin Mbak Indri orgasme .. aku pengin dientotin sampai orgasme .. gantian dong aaaaah . aku oral kontolmu “ sahut Indriani Hadi dengan suara yang jorok dan kepingin, bahkan tangannya sampai memegang kepalaku. Kepalaku akhirnya menjauh dari vaginanya yang memerah akibat oralku, bahkan aku sempat menyedot klitorisnya sampai membuat Indriani Hadi meringgis sambil menggigit bibirnya kuat.

    Aku kemudian berdiri, gantian Indriani Hadi yang berjongkok dan memegang batangku serta dikocok.

    “Kontolmu gedhe banget Han .. lebih besar dari punya suamiku “ sahut Indriani Hadi dengan memandangku sambil tersenyum.

    “Iyaa .. nikmati saja Mbak Indri .. aku senang jika Mbak Indri mau rela bercinta denganku “ sahutku mengelus elus kepalanya yang berjilbab itu.

    “Asal kamu mau pegang rahasia deh “ sahut Indriani Hadi dengan menjilati batangku dengan rakus.

    “Terus Mbak Indri .. uuuuuuuh .. lidahmu nakal, sayaaaaaang “ sahutku dengan mengelus elus kepala wanita berjilbab ini.

    Jilatan demi jilatan yang rakus dan cepat itu sampai membuatku menahan nafas, kutahan sensasi seksku yang naik berlipat lipat melihat wanita berjilbab ini, yang sehari hari merupakan wanita yang sangat taat beribadah, taat dalam aturan keluarga, namun kini sudah menjadi penyelingkuh, menyukai petualangan seks bersamaku.

    Jilatan demi jilatan itu sampai membuat batangku membasah, kemudian batangku dimasukan dalam mulutnya namun sangat sesak dalam mulutnya, dikeluarkannya batangku dan dikocok kocok

    “Gedhe aaaaaaaaah .. “ sahut Indriani Hadi dengan tersenyum manja, kemudian kembali menelan batangku dengan paksa, sehingga giginya sampai bersentuhan dengan batangku

    “Aaaaaaaah aaaaaaauh Mbak Indri aaaaaaah .. gigimu aaaaaaaaaah “ sahutku dengan bertahan sekuatku kesakitan dan nikmat dioral itu. waniat berjilbab ini mengeluarmasukan batangku berulang ulang, bahkan air liurnya sampai menetes ke lantai. Sedotan demi sedotan, permainan lidahnya lumayan piawai mempermainkan batangku di dalam mulutnya. Nafasnya semakin memburu, dengan rakus batangku berulang ulang dimainkan dengan lidah dan bibirnya

    “Sudah Mbak Indri .. sudaaaaaah .. trim yaa “ sahutku dengan membungkuk kemudian memegang kedua lengannya dan kuangkat agar berdiri sejajar denganku.

    “Ya Han .. aku suka sama kontol besarmu .. tapi Han .. kalo pengin ngewein aku lagi kabarin yaa .. awas kalo nggak mau “ sahut Indriani Hadi dengan nakal sambil membenahi jilbabnya agar rapi kembali, kupagut bibirnya sebentar.

    “Lha tadi nolak nolak “ debat

    “Ah kamu .. tadi khan belum ngerasain enaknya kontol besarmu “ sahut Indriani Hadi dengan mengerling nakal.

    “Enak ya kontolku ?” tanyaku

    Indriani Hadi tidak menjawab lalu membelakangi aku, kedua tangannya berpegangan pada pagar tangga itu, kuambil kerudung itu dan aku hendak menutup matanya

    “Haan .. jangan deeh . pleasee “ tolak Indriani Hadi

    “Enaaaak kok .. kamu akan merasakan nikmatnya dikontoli dengan tutup mata .. biar pikiranmu ngeres membayangkan kontolku keluar masuk memek Mbak Indri “ sahutku dengan mengikatkan kerundung itu sehingga Indriani Hadi kini tidak bisa melihat

    “Aduuh Han .. kamu nakal sekali .. nanti gantian ya .. kalo di tempat tidur kamu gantian Mbak Indri tutup matamu “ balas Indriani Hadi dengan berpegangan kuat

    “Oke deh Mbak .. tahan ya Mbak .. kontolku mau masuk memek Mbak Indri .. nungging yaaa “ kataku dengan mundru sejengkal, Indriani Hadi kemudian menungging dengan kaki mengangkang itu.

    “Tunggu sebentar yaa .. agar nyaman kakimu kuganjal bantal “ kataku dengan turun cepat mengambil bantal sofa, tak lama kemudian aku meletakan bantal itu di kaki sebelah kiri Indriani Hadi.

    Baca Juga

  • Ngentot Memek Mbak Indri Yang Nikmat Part 3

    Ngentot Memek Mbak Indri Yang Nikmat Part 3

    Cerita Ngentot Bersambung – “Ayo deh Mbaak .. diperkosa nggak enak .. ayo deh, sayaaang .. “

    “Han .. kenapa kamu nggak minta baik baik .. malah memperdaya aku ?” tanya Indriani Hadi dengan wajah memelas.

    “Aku tidak memperdaya Mbak Indri, birahilah yang memperdaya kita “ kataku dengan akal bulus.

    “Tapi Han .. aku ini muslimah .. ini dosa besar .. aduuh .. Haan .. jangan teruskan … aaaaaaaaaaauh “ teriak Indriani Hadi ketika aku menarik dan menenggelamkan batangku lebih dalam.

    “Enak khan Mbak ? kontolku sesak dalam memek Mbak Indri “ kataku dengan wajah melotot karena kesakitan batangku dijepit dalam vaginanya yang sempit itu.

    “Kusodok sodok ya Mbak .. Mbak Indri nikmati saja .. lagian Mbak Indri makin seksi dengan berjilbab itu” kataku dengan memandang wajahnya itu.

    “Sesaak Haan .. jangan teruskan, ndak muaaat aaaaah “ elak Indriani Hadi dengan memalingkan wajahnya

    “Kalo begini bagaimana ? “ tanyaku dengan menghujamkan batangku membuat Indriani Hadi mendongak kesakitan

    “Aaaaaaaaampuuuuuun aaaaaah aaaaaaaaaaaaaauh sssssssssshh ssssssssshhh hhhh “ jerit Indriani Hadi dengan nafas ngos ngosan. Jepitan vaginanya semakin rapat seiring batan besarku masuk lebih dalam.

    “Ayo deh Mbak Indri .. goyang deeh .. nih aku genjotin ya “ kataku sambil menggejotnya, ketika aku menggenjot itu Indriani Hadi menahan ke pahaku

    “Sudahlah Han .. tapi .. tapi “ sahut Indriani Hadi dengan wajah kawatir

    “Tapi kenapa Mbak “ kataku menahan sodokanku

    “Aku takut ketahuan .. “ ujar Indriani Hadi dengan lirih

    “Tenang aja Mbak Indri .. yang penting nikmat .. rasakan kontolku ya Mbak .. tanggung sudah masuk ke memek Mbak Indri, jangan menangis donk “ hiburku dengan mengelus elus pipinya selepas tangannya kulepas.

    “Kamu sangat jorok .. “ maki Indriani Hadi dengan memandangku sayu

    Aku kemudian kembali menggejotnya, menindih tubuhnya dan kuremas buah dadanya, Indriani Hadi kemudian menanggapi dengan memegang kepalaku dan mengajak saling berpagutan, kami semakin terbakar birahi.

    “Aaaaaaaaauuh aaaaaaaah .. memekmu enaaaak aaaaaaah .. aaaaaaaayo Mbaaaaak uuuuuuh ..ssssssssshh sssssssssshh hh “ desisku ditengah genjotan naik turun di selakangan wanita berjilbab ini, kami terus saling bergerak

    “Haaaaaan ooh .. enaaaaak aaaaaaaaaaaah .. teruuuuuusin aaaaaaaaah enaaaaaaak .. sssssssssh sssssssssshhh “ erang Indriani Hadi ketika aku melepas pagutan itu, Indriani Hadi ikut menggoyangkan pantatnya mengimbangi aku, aku kemudian tersenyum

    “Jangan lepas jilbabmu Mbak .. aku suka kau berjilbab “

    “Tauk “ jawab wanita berjilbab ini dengan singkat, genjotan demi genjotan kulakukan, Indriani Hadi sampai terpejam merasakan sodokanku yang semakin cepat

    “Haaan aaaaaaah .. nggaaaaak kuaaaaaaaat aaaaaaaaaah “ teriak Indriani Hadi dengan suara keras, jilbabnya sampai menutupi buah dadanya, kuremas buah dada itu di bawah jilbab warna abu abu itu, luar biasa sensasi remasanku di buah dadanya yang terbalut jilbab

    “Haaan .. aaakuu sudaah nggak taaaa taaa haaan “ erang Indriani Hadi dengan memejamkan matanya, dadanya ikut naik turun seiring genjotan itu. Tubuhnya semakin melemah dan vaginanya semakin menyempit dengan cepat, Indriani Hadi sampai tidak tahan lagi, tubuhnya kembali menegang kaku, matanya memutih, suaranya hanya merintih dan mendesah serta melenguh.

    “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaw “ erang Indriani Hadi panjang dengan wajah penuh keringat, jilbabnya sampai setengah basah. Kuhentikan sodokanku ketika vaginanya kembali memancarkan cairan panas membasahi batangku.

    Lepas itu aku langsung menarik batangku, kemudian mengocok batangku sendiri, aku ingin memuntahkan isi penisku di atas wajahnya.

    “Aaaaaaaaauh aaaaaaaaah ssssssssshhh “ desisku merasakan kocokanku sendiri, aku mengocok cukup lama sehingga aku sampai tidak kuat lagi, kocokan yang lama dan cepat itu semakin lama semakin membuatku ingin muncrat di penisku, ketika hendak mencapai orgasme dengan cara manual itu, aku menghentikan, kulihat Indriani Hadi yang mengelap mukanya dengan ekor jilbabnya, aku langsung berpindah mengangkang, kukocok penisku, pelan pelan penisku mulai memuntahkan spermaku, muncratan pertama langsung mengena hidung Indriani Hadi.

    “Aapaaaaan Haaaaaaaaaaah “ pekik Indriani Hadi kaget merasakan ada lendir menempel di hidung sampai dahinya, Indriani Hadi sampai terperanjat dan membuka matanya, namun aku terus mengocok batangku, spermaku muncrat banyak sekali

    “Haaaaaan pleasee aaaaaah “ tolak Indriani Hadi dengan menutup mukanya, akibatnya tangan lentik Indriani Hadi penuh dengan spermaku.

    “Jangan .. jangaaaaaaaaaan “ tolak Indriani Hadi dengan membuka tangannya, ketika hendak teriak itu, aku langsung menyumpalkan batangku masuk ke mulutnya. Indriani Hadi sampai tergangga namun terlambat, batangku masuk

    “Telaaaaaaaaaaaaaaan, seedooooooooot “ ancamku, Indriani Hadi tak bisa menolak karena ketakutan, disedotnya penisku itu dengan pelan, sisa sisa air maniku disedot dan dengan berat Indriani Hadi sampai masuk kerongkongannya. Kutahan kepalanya, kutarik penisku.

    Kukocok lagi untuk mengeluarkan sisa sisa air maniku, kusemprotkan ke jilbabnya, sehingga kini wanita berjilbab ini penuh dengan sperma lendir kental.

    “Kenapa kau lakukan ini Han ? aku tak suka “ maki Indriani Hadi

    “Karena Mbak Indri nolak nolak “ jawabku singkat

    “Kenapa nggak kau semprotin di dalam .. aku nggak suka di luar .. jijik kalo di mukaku “ debat Indriani Hadi dengan wajah masih kesal.

    “Kalo nggak mau lagi .. sekujur tubuhmu kusemprotin lagi “

    “Jangan Han .. oke deh Han .. aku mau aja .. tapi kau jangan sembarangan nyimpen video aib ini, cukup kita berdua pegang rahasia ini .. “ jawab Indriani Hadi dengan mengelap mukanya yang berlendir itu, tangannya sampai berlepotan spermaku.

    “Kita mandi yuk Mbak .. kumandikan Mbak Indri .. kita terusin di lain tempat “ ajakku yang disambut anggukan kepala wanita berjilbab ini.

    “Janji ya Han .. jangan bocorin ini .. nggak mau aku .. ini sudah doooooos “ jawab Indriani Hadi dengan kubekap mulutnya

    “Sudahlah .. jangan bilang itu .. kita nikmati saja ya “ kulepas bekapanku, tanganku juga berlendir. Kutarik tangannya dan kemudian kupondong wanita berjilbab ini.

    “Aku pengin ngentotin kamu dengan berjilbab lagi “ ajakku yang disambut anggukan Indriani Hadi dengan tersenyum

    “Boleh .. dimana ?” tanya Indriani Hadi dengan tersenyum

    “Aku pengin Mbak Indri ngangkang di tangga itu .. belum pernah khan gaya doggy style ?” tanyaku

    “Boro boro .. tapi Han . penismu gedhe banget ya “ tanya Indriani Hadi dengan bloon, kubawa wnaita ini ke kamar mandi, kuturunkan kemudian kutarik jilbabnya.

    Kumandikan wanita berjilbab ini dengan kusabuni, demikian pula aku pun diguyur dengan semprotan air di tubuhku, rasa dingin menggelayut tubuhku, dengan telaten kami saling menyabuni, Indriani Hadi sering tersenyum ketika mencuci batangku itu yang kembali ngaceng. Tangannya terkadang nakal berlama lama di penisku. Aku juga semakin nakal sering menyabuni pada bagian buah dadanya yang segar dan ranum itu, kurasakan kelembutan buah dadanya walau sudah menyusui anaknya dua kali, namun buah dadanya benar benar kenyal dan segar, kami berdua sambil berdekapan di dalam bathtub itu, sesekali kucium pipinya dan Indriani Hadi tidak menolak. Bahkan Indriani Hadi semakin senang dengan kenakalanku sesekali meraba raba vaginanya dalam air itu.

    “Ih .. kamu kok nakal sekali ya, sayang “ rajuk Indriani Hadi di dalam bathtub itu

    “Habis tubuhmu segar banget, aku sering nggak tahan deh lihat Mbak Indri “ sahutku dengan gemas memalingkan kepalanya dan kupagut, Indriani Hadi pun menanggapi pagutanku, pagutan kami sangat mesra, terbukti Indriani Hadi terus melakukan pagutan ketika aku hendak berhenti. Aku terus melayani pagutan Indriani Hadi yang kemudian langsung berbalik menaikku dan menopangkan tangannya dipundakku dengan tersenyum

    Baca Juga

  • Ngentot Memek Mbak Indri Yang Nikmat Part 2

    Ngentot Memek Mbak Indri Yang Nikmat Part 2

    Cerita Ngentot Bersambung – “Segera lepas celanaku .. kontolku besar deeh “ rayuku yang disambut dengan gelengan Indriani Hadi, kurangsang kembali dengan meremas buah dadanya membuat Indriani Hadi menjadi terpejam lagi, kudorong tubuhnya dan kutindih di sofa wanita ini, kuremas lagi kuat dadanya sampai membuat Indriani Hadi semakin termakan birahi.

    “Uuuh .. ssssssssshhh .. mmmmmmmhh .. enaaaaak .. sssssssshh jangaaaaaaan .. ssssssssshh .. “ desis Indriani Hadi semakin tenggelam dalam rangsangan itu, kupegang jilbabnya dan kutahan kepalaku, kupagut dengan lembut sampai Indriani Hadi memejamkan matanya menikmati pagutan itu. Kuangkat kepalaku dan kubuka celana panjang, celana dalamnya sekalian aku tarik, mata Indriani Hadi menjadi melotot melihat batangku yang ngaceng besar itu, matanya menggeleng geleng, kemudian mengalihkan pandangan seolah menolak penis besar, kuarahkan kepalanya yang berjilbab itu, matanya kini memandang ke batangku, tanganku turun dan memegang baju warna abu abu itu dan kutarik ke atas, Indriani Hadi menolak namun lama lama menyerah, membiarkan aku membebaskan tubuhnya dari penutup bagian atas. Kubiarkan jilbabnya tetap bertengger, Indriani Hadi sampai menutupi dadanya, namun kuturunkan.

    “Jilat kontolku sayaaang “ kataku dengan menekan kepalanya di belakang jilbabnya itu. Habis itu langsung ke belakang tubuhnya , menarik kaitan rok itu, reslutingnya aku tarik.

    “Mbak Indri lepasin dulu roknya yaa .. kita telanjang deeh “ sahutku yang tidak dijawab, Indriani Hadi malah memegang batangku.

    “Dikocok aja dulu Mbak “ rayuku yang dijawab dengan kocokan pelan Indriani Hadi itu.

    Kubiarkan wanita itu mengocok batangku pelan pelan, kulepas kemudian kaitan branya, luar biasa bentuk buah dadanya, tidak besar namun cukup montok juga, putih dan sangat segar dengan punting agak besar.

    “Susumu segar Mbak Indri “ kataku dengan menarik kepalanya dan kudorong dadanya agar rebahan, kali ini wanita berjilbab tidak menolak, kutari roknya beserta celana dalamnya, kulucuti wanita ini sampai telanjang bulat hanya menyisakan roknya saja. Aku kemudian membuka bajuku dan kulepas cepat, kemudian celanaku juga aku buang, Indriani Hadi hanya menatapku dengan nafas tak karuan.

    Kutekuk kedua kakinya agar aku bisa masuk ke dalam selakangannya, ketika aku hendak membungkuk tangan kanan wanita berjilbab ini menahan

    “Jangaaan aaaaaaaah .. dosaaaaaaaaaa “ sahut Indriani Hadi dengan menahan kepalaku dengan tenaga yang seolah olah tidak menahan kuat.

    “Sudaahlah Mbaak Indri . kita sudah sama sama telanjang .. “ kataku menarik tangan itu, kusaksikan vaginanya benar benar luar biasa indah, jembutnya tipis dan rapi, lubangnya menyempit, aku kemudian langsung menjilati memeknya dan tanganku meremas remas buah dadanya sampai membuat Indriani Hadi merintih, melenguh dan mendesah tak karuan

    “Aaaaaaaaaaaaaaaaaah ..ssssssssssssshh sssssssssshh ssssssssssshh .. hhhhh … aaaaaaaauuh .. huuuuh .. enaaaaaaak .. teruuuuuuuuuuusss aaaaaaaaaaaaaaaaaah “ desis Indriani Hadi dengan tak karuan itu, kedua tangannya kuat memegang kepalanya yang berjilbab, nafasnya semakin memburu, tubuhnya yang telanjang dan hanya menyisakan jilbab itu semakin membuat tubuhku semakin panas, kemolekan istri sakinah ini sudah dalam kekuasaanku.

    Kugali terus vagina Indriani Hadi yang sudah termakan gairah birahi itu, kujilati vaginanya yang sempit itu, wanita berjilbab ini menggelinjang bak cacing kepanasan, geliat tubuhnya di sofa itu kian basah oleh keringat yang membanjir, ketika hendak melepas jilbabnya aku langsung menahan tangannya, Indriani Hadi memandangku dengan mata sayu, giginya menggigit bibirnya dengan kuat tak tahan kenakalanku yang makin nakal meremas buah dadanya dengan lembut sampai Indriani Hadi melihat tanganku yang meremas nakal itu. Matanya kemudian menatapku dengan pandangan menggeleng geleng, kesadarannya semakin tampak, seolah olah mantra yang kuberikan semakin lama semakin tidak kuat lagi, seolah wanita berjilbab ini tidak terpengaruh mantra, kemungkinan besar karena aku belum menguasai mantra, selama ini hanya mengandalkan feeling. Kembali kuoral vaginanya wanita berjilbab ini sehingga Indriani Hadi langsung memejamkan matanya

    “Uuuuuuuuuh .. ssssssssssshhhhhhhhhh ssssssssssshhh hhhhhhhhh .. mmmmmmmmmhhh .. “ desis Indriani Hadi dengan mendongakan kepalanya.

    Sementara aku di selakanganya menjilati lubang yang sudah membasah itu, lubang yang sempit itu aku sibakan dengan lidahku, yang kanan kusibakan membuat Indriani Hadi menggeliat tak karuan, demikian daging sebelah kiri gantian aku sibakan sehingga wanita berjilbab ini semakin terbuai oleh nafsu birahi

    “Haaaaan aaaaaaaaaaaah .. aaakuu nggak kuaaaaat aaaaaaah .. sudah aaaaaaaaah .. pleasee .. masukin .. aaaaaaaaah .. “ lenguh Indriani Hadi dengan memandangku kembali, matanya kemudian tertuju ke selakanganku, bibirku terus menghisap lubang itu membuat wanita berjilbab ini sampai terpejam erat merasakan sensasi oralku.

    “Kamu nakaaaal aaaaaaaaaaah pleaseeeee “ erang Indriani Hadi dengan tangannya telentang, tangan kanannya sampai mendorong meja sofa itu, lubangnya semakin membesar, kumainkan klitorisnya dengan kujilat dan kusedot

    “Gila aaaaaaaah .. aduuuh Haaaaaaan .. pleaaaaaaaaaseeeeeeee “ lenguh Indriani Hadi dengan kembali bola matanya memutih tak kuat rangsanganku, lubangnya sangat sempit, kini tanganku masuk ke dalam lubang itu mengorek ke samping membuat jeritan Indriani Hadi semakin membahana.

    “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah “ jerit Indriani Hadi dengan kuat, jepitan pahanya kini semakin menguat di kepalaku, kumainkan kembali klitorisnya dan membuat Indriani Hadi membusung ke atas, kuremas remas buah dadanya agar bisa mendapatkan orgasme.

    “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaw ..aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah “ erang wanita berjilbab ini sambil mencengkeram kuat sofa itu. Tubuhnya menegang kaku, kemudian berdebam ke bawah dengan nafas ngos ngosan, vaginanya mengucurkan cairan panas membasahi sofa dan aku terciprat di bibirku, kutekan pahanya dan kuelus elus paha mulus Indriani Hadi, kemudian aku merapikan jilbabnya yang miring itu. Kuletakkan handphone yang berada di meja sofa itu dan kuarahkan ke tubuh kami agar bisa merekam adegan yang kuinginkan ini. Indriani Hadi memejamkan matanya dengan tangannya menggapai gapai, aku merangsangnya pelan pelan, pahanya yang sangat mulus itu menjadi incaran tanganku, mengelus dari paha sampai di pinggangnya kemudian naik dan menindih wanita berjilbab ini, Indriani Hadi kemudian membuka matanya, dugaanku benar, wanita ini sudah tidak dalam kendali mantraku, ketika membuka matanya langsung saja Indriani Hadi menjerit

    “Aapaa apaaan ini Han ? pleasee .. jangan ! Jangan .. ini dosaaa ! tolong ! “ Indriani Hadi seakan akan hendak berontak. Kubekap mulutnya dengan tangan kananku, dan tangan kiri memegang batangku dan kuarahkan ke vaginanya, Indriani Hadi sampai melotot merasakan vaginanya ada benda tumpul masuk ke selakangannya

    “Mmmmmmmmmmmmh …… “ suara yang keluar dari mulut Indriani Hadi yang kubekap

    “Jangan teriak sayaaang .. rasakan kontolku “ kataku mendesakan batangku agar bisa masuk, Indriani Hadi sampai terkaget kaget dan melotot, bahkan hendak berontak

    Indriani Hadi semakin ketakutan, sial mantraku sudah tidak mempan lagi, kini wanita berjilbab ini semakin kuat berontak, tangannya mencakar lenganku, namun aku gantian mengunci tangannya, kurentangkan kedua tangannya

    “Teriaklah, sayaaang .. kau lihat kamera di meja itu ?” ancamku

    “Haaan aaaaaaaaaaauuh .. jangan lakukan Haan .. jangan kaaau aaaaaaah aaaaaaaaaauh “ pemberontakan itu semakin kuat, namun desakan penisku semakin dalam membuat Indriani Hadi semakin melemah pelan pelan.

    “Aku sudah lama menginginkan dirimu Mbak Indri .. “ kataku yang dijawab dengan ludahan di mukaku

    “Kau biadab ! “ maki Indriani Hadi yang sudah sadar kalo vaginanya sudah dimasukan batangku walau kurang dari separo.

    “Ayolah Mbak .. sudah tanggung nich ..” kataku mendesakkan batangku pelan membuat Indriani Hadi menjerit lagi

    “Jangan Haaan .. jangan .. auuuh .. ooh .. vaginaku “ jerit Indriani Hadi dengan berusaha melepaskan tanganku.

    Baca Juga

  • Ngentot Memek Mbak Indri Yang Nikmat Part 1

    Ngentot Memek Mbak Indri Yang Nikmat Part 1

    Cerita Ngentot Bersambung – Menonton acara siaran langsung acara selebritis di Mall Taman Anggrek sangat mengesalkan, selain penuh sesak, juga tidak bisa mendekati artis. Belum lagi untuk keluar dari Mall Taman Anggrek butuh Perjuangan. Kulangkahkan kakiku keluar dari mall, namun mataku tertumbuk pada pojokan tempat artis yang mau tampil sedang saling canda, beberapa artis senior juga berada di situ, namun mataku lebih tertuju pada wanita berjilbab warna abu abu yang sedang digandeng mesra oleh suaminya, aku mencoba mendekat, aku mengenal wanita ini sejak lama sebelum menjadi istri salah satu aktor beken Indonesia. Ketika MC memanggil nama aktor tersebut untuk tampil ke panggung, sang istri pun memberikan semangat padanya. Aku semakin terpana dengan jilbab dan pakaiaanya yang sangat kontras, pakaian abu abu dengan jilbab abu abu. Ketika aku mendekat, istri aktor tersebut terkejut melihatku

    “Oh Haan .. lama nggak kelihatan .. kemana aja kamu ?” tanya Indriani Hadi yang merupakan istri dari Syahrul Gunawan, wanita muslimah ini cukup sopan, menyalamiku dengan hanya bersentuhan pada jari jariku, tidak bersalaman

    “Baik .. masih banyak pekerjaan “ kataku enteng dengan sebentar memandang kesintalan tubuhnya, aku menjadi terangsang dengan kontrasnya pakaian itu, ditunjang dengan jilbabnya yang anggun menambah libido birahi kumat lagi jika melihat artis berjilbab. Kupandang ke arah panggung, Indriani Hadi berada di sampingku. Sesekali mengobrol sedang aku sendiri hanya melirik nakal ke arah busungan dadanya itu.

    Mantra yang kudapatkan dari temanku yang ahli di bidang klenik kupraktekan, aku kurang yakin, namun temanku bilang harus yakin, karena keyakinan itu paling penting, aku pengin menikmati tubuhnya yang mengundang air liurku. Aku mencoba mengorek tentang tempat tinggalnya setelah menikah, ketika bertanya itu malah wanita berjilbab ini bertanya balik

    “Kapan mau ke rumah ?” tanya Indriani Hadi dengan membenahi jilbabnya.

    “Ya ntar malam kalo bisa “ kataku enteng yang disambut tawa Indriani Hadi

    “Ntar malam ??? .. gila apaa .. suamiku keluar kota .. ada job “ balas Indriani Hadi dengan tertawa renyah

    “Justru itu .. bisa curhat .. ada banyak masalah “ kataku menggoda

    “Makanya .. cari istri donk “ canda Indriani Hadi dengan gemas

    “Cariin donk .. yang secantik Mbak Indri “ kataku untuk lebih mendalami tingkah laku Indriani Hadi.

    “Haaah .. aku dah jelek “ tolak Indriani Hadi dengan suara dilemahkan, lirikan matanya sungguh menggodaku.

    “Naah .. aku aja senang lihat Mbak Indri secantik ini “ kataku dengan menatapnya tajam membuat tatapan mataku membuat Indriani Hadi kebingungan. Matanya tidak berani menatapku, namun kembali mata itu memandangku, seolah aku menghipnotisnya, lagian aku cukup tajam memandang kesintalan tubuhnya sampai Indriani Hadi menutupi bagian dadanya.

    “Iiih .. kamu sekarang kok kayak buaya sih ? “ lontaran kata kata pedas dari Indriani Hadi kuanggap biasa saja.

    “Yang penting tetap lelaki .. di sana di bilang kadal, di sini dibilang buaya .. tapi yang penting perkasa “ sahutku dengan nada datar

    “Haaaaaaaaaaah .. kamu belum nikah sudah gituan ? ck ck ck ck ck “ balas Indriani Hadi dengan geleng geleng

    “Dah jamannya orang muda sekarang mengenal seks kok .. mau coba apa ?” kataku dengan berbisik sampai membuat Indriani Hadi terdiam dengan menutup mulutnya karena terkejut. Justru itu menambah cantiknya wanita berjilbab ini.

    Indriani Hadi semakin tidak tenang di dekatku, tangannya diremas kuat, entahlah apa mantra dari temanku ini manjur, tak ada sahutand ari Indriani Hadi, namun gemuruh nafasnya menjadi tak karuan, sesekali matanya melirikku, aku hanya memberikan senyum saja. Kusentuh tangannya untuk lebih membuat Indriani Hadi termakan mantraku, benar saja selepas tangannya kusentuh itu Indriani Hadi tidak menolak, lalu kuremas remas dengan pelan pelan Indriani Hadi juga tidak menyingkirkan tangannya, hanya bersifat pasif, namuan matanya melirikku sesekali

    “Malam nanti akan kutiduri kamuuu “ bisikku yang membuat Indriani Hadi menjadi kaget. Kulepas tangannya yang kupegang, aku kemudian melangkah pergi dari dekat wanita berjilbab ini.

    Selepas aku lenyap Indriani Hadi celingukan mencari aku, terlihat kepalanya sampai mencari cari, namun aku sudah lenyap. Aku kemudian menunggu sampai acara bubar, kutunggu mobil Syahrul Gunawan keluar dari Mall Taman Anggrek, kuganti bajuku agar tidak membuat curiga, kupakai topi untuk menyamarkan, keduanya lewat di samping mobilku. Bokongnya sungguh menggodaku, aku menjadi tidak tahan.

    Mobil itu keluar dari mall dan menuju ke arah Grogol, kubuntuti mereka sampai rumahnya, namun tak berapa lama kemudian Syahrul keluar dari rumahnya dengan membawa mobilnya sendirian. Indriani Hadi mengantar sampai gerbang dan diciumnya wanita berjilbab itu dan akhirnya mereka berpisah.

    Aku kemudian menyelinap masuk ke dalam rumahnya, entah kenapa gerbang rumah itu tidak dikunci, herannya wanita ini kok sendirian di rumahnya, entah kemana anaknya, aku tak perduli, aku terus masuk terus sampai depan pintu, kuketuk pintu rumahnya, dari korden sampai pintu yang terbuka itu seorang wanita berjilbab membukakan pintu, melihatku muncul Indriani Hadi menjadi terkejut namun diam saja, matanya memandangku

    “Malam ini kau milikku, sayaaang “ bisikku dengan masuk dan menutup pintu rumah itu.

    Mantra dari temanku benar benar mancur, terbukti wanita berjilbab ini tidak berontak namun tetap saja ketakutan, kemudian menjawab dengan nada datar

    “Mau apa kau Han ?” tanya Indriani Hadi dengan wajah setengah bingung dan takut

    “Memberikan kenikmatan surgawi “ kataku lagi yang disambut dengan pandangan kosong, namun kemudian menjawab

    “Jangan Haan .. jangan “ tolak Indriani Hadi dengan mundur, namun kutahan pantatnya dan kuremas remas pelan membuat wanita ini memejamkan matanya.

    “Sssssssssssh .. ssssssshhh “ desis Indriani Hadi dengan suara yang jelas ditelingaku, kemudian kutarik tangannya menuju ke sofa, wanita ini seolah menolak

    “Jangan .. jangan .. aku istri yang setiaaa “ tolak Indriani Hadi dengan wajah memelas, tidak ada pemberontakan yang frontal.

    “Tidak malam ini kau setia “ kataku dengan menarik tangannya, perlahan wanita ini mengikuti aku dan aku menariknya dan kudekap serta kuremas buah dadanya

    “Jangaaaaaan .. jangaaaaaaaan .. aaaaaaah .. pleasee .. “ tolak Indriani Hadi dengan suara yang pelan, memang mantra dari temanku ini hanya membuat wanita tidak berontak, masih menyisakan kesadaran, tinggal dibuai dengan rangsangan birahi maka wanita ini akan mudah dikendalikan.

    Kuremas buah dadanya dengan lembut, tanganku menyilang sampai membuat wanita ini mendesah desah keenakan.

    “Pleasee .. jangan lakukaan .. jangaaaaaaan .. uuuuuuuuh ssssssshhh ssssssshhh “ tolak Indriani Hadi dengan mendesis lagi, tanganku semakin nakal. Indriani Hadi masih menggunakan pakaian yang sama, baju lengan panjang warna abu abu dan rok panjang warna hitam, kususupkan tanganku masuk ke dalam baju tanpa kancing itu dan meremas lembut buah dadanya, Indriani Hadi sampai terpekik

    “Maksiaaat .. ini maksiaaaaaaat .. jangan pleasee “ tolak Indriani Hadi dengan mencekal tanganku yang sudah masuk ke dalam bajunya dan meremas gundukan kebar itu, tanganku lebih nakal lagi, melepas cekalan di telapak tanganku dan menyusup ke dalam cup branya, kuremas buah dadanya, kucium pada jilbabnya

    “Mbak Indri akan nikmat merasakan kontolku “ kataku dengan mendesakkan ke atas selakanganku, kuremas buah dadanya itu sampai membuat Indriani Hadi terpejam

    “Ssssssssssssssssshh ssssssssshhh .. uuuuuuuuuuuuuuuuuh “ desis dan lenguh Indriani Hadi semakin lama semakin terbuai dengan rangsanganku itu, kutarik kepalanya dan langsung kupagut bibirnya, pelan pelan wanita berjilab ini menyambut pagutanku, namun tak lama kemudian tangannya berusaha menarik kepalaku, kutarik badannya dan kini Indriani Hadi menindihku dengan perasangan bingung campur nikmat, kurapikan jilbabnya

    Baca Juga

  • Cerita Ngentot Bersambung | Dibantu Intan Di Kamar Mandi Part 2 [Last]

    Cerita Ngentot Bersambung | Dibantu Intan Di Kamar Mandi Part 2 [Last]

    “Sssshhhh…Aahhhh…” desahnya sambil meremas rambutku. Kuselipkan dua jemariku, kuputar dan kumasukan perlahan dalam-dalam, lalu kutarik dengan cepat, untuk kembali kuhujamkan ke dalam sambil menjilati ujung klitorisnya. Intan semakin menggelinjang ke-enakan, bibirnya digigit, dan mulai meracau.

    Didorongnya pundakku tiba-tiba, dan keluar kata singkat dari bibirnya yang berpulas lipstik pink tipis menggoda “Duduk di kloset gih…”, senyumnya tersimpul. Aku segera bangkit, menutup kloset, dan duduk di atasnya, mengangkangkan kaki, sehingga batang kemaluanku mendongak seolah menantan, dengan testis terkerut karena terangsang. Intan tak berlama-lama, langsung berlutut bertumpu pada kedua telapak atas kakiku yang masih bersepatu, memandangku sebentar dengan gemas.

    Kuelus rambut sebahunya, kuremas gemas, lalu kudorong perlahan ke arahku. Seolah mengertim dikejapkannya dengan jenaka kedua bola matanya, bibirnya menyungkup menyambut kepala penisku yang sudah demikian merona merah.. cup.. dikecupnya, lalu dijulurkannya lidahnya tepat pada lubang bagian atas, ditariknya garis ke bawah lewat jalur pada kepala penis, batang bawah, terus ke bawha, dan di lahapnya sebelah bola nagaku, dikulum, dipijat digigit kecil dan diputarnya kembali lidahnya ke atas, membuatku menggelinjang tertahan. Sungguh sensasi yang sangat luar biasa.

    Aksi nekat kami masih berlangsung sampai saat terdengar suara langkah mendekat yang membuat desah nafas kami sama-sama tertahan sesaat. “Sssttt…”, instruksiku singkat agar Intan menghentikan aktifitasnya kami sama-sama diam sampai akhirnya suara langkah yang sempat mendekat itu beranjak terdengan menjauh. Kami saling memandang dengan sedikit rasa tegang dan deg-deg’an yang masih tersisa dalam hati. Tapi kemudian berubah menjadi senyum merona pada wajah kami masing-masing.

    Batang kemaluanku yang sempat melemas kembali digenggam oleh Intan, sambil kembali dia dengan gemas mengecup dan mengulum burungku. dengan sesekali membuat gerakan “deep throat” yang membuat nafasku tertahan, seolah akan mencapai klimaks saja. “Steven…emmmmhhh…masukin sekarang ya?” Pintanya manja. Akupun segera berdiri dan membimbing kedua lenganya untuk bangkit. Aku berdiri membelakanginya, sementara dia membalikkan diri untuk berpegang pada tepian bak kamar mandi, mengambil posisi menungging sambil berdiri. Aku segera mengelus pantatnya yang mulus & menggairahkan itu, mencari sela-sela di antara rambut kemaluannya yang tipis, daging bertumpuk kemerahan itu tampak menggoda dengan sedikit lelehan bening yang mengalir basah.

    Aku mengarahkan batang penisku ke belahan merekah itu dengan tangan kiri, sementara tangan kananku terlingkar lewat pada kanan Intan, membuat huruf V terbalik dari arah depan, membuka bibir kemaluannya agar mempermudah penetrasi. Kugesekkan kepala kontolku perlahan untuk merasakan sensasi hangatnya cairan miliknya, dan setelah licin, aku mulai mendorong kepala penisku ke dalam mulut mekinya yang mulai melebar, terus semakin dalam, setelah masuk sepertiganya aku berhenti.

    Kedua belah tanganku meraih payudaranya dari belakang, merabanya, memberi pijatan kecil pada putingnya yang menegang. meremasnya, sementara Intan membalikkan lehernya ke arah mukaku. Aku lidahku di dalam mulutnya yang mengeluarkan rintihan-rintihan pelan, sambil menggerakan pantatku dengan gerakan mendorong. Kedepan, membuat kontolku semakin tertanam dalam hangatnya dua belah daging lembu lembap yang seolah merangkul dan menghisapnya dalam sebuah lobang meki.

    “Emmmhhhkk Ahhhkk” Suara Intan tertahan sesaat aku memasukan kontolku dengan gerakan tusukan mendalam, bibirnya masih menempel dan mendesah, mengeluarkan aroma nafas hangatnya yang mulai memburu Intan menggoyangkan pantatnya dengan gerakan memutar, sementara aku memaju mundurkan kontolku dengan sedikit memiringkan pantatku, menciptakan sensasi luar biasa bagi kami berdua.. “Aaahhh..Eeehhhkk..Ouchh…Steven”, seru nya perlahan sambil terus menggoyangkan pantatnya. Peluh menetes di lehernya yang kujilati, dan cairan dari kemaluannya membuat sensasi suara bergesekan yang terdengar merdu di telinga.

    “Cpakkkk…cpakkk…”, membuatku semakin bersemangat meremas payudara Intan yang saat ini demikian keras. “Masukin yang dalam doongggg”, pintanya. Aku menurutinya dengan memperlahan gerakanku dengan tetap mempertahan ritme, irama, dan sodokan yang semakin intensif, agresif dan dalam. Ingin aku memandang wajah Intan lebih leluasa saat bercinta, aku mencabut kemaluanku, membalikkan badan Intan dengan segera, mendudukkannya di tepian bak kamar mandi membimbing kedua kakinya melingkari pantatku, dan kembali aku memasukkan burungku.

    Aku memeluk punggunya, menahan tubuhnya agar tak terjatuh ke belakang, sambil terus menggoyangkan pantatku, menggauli Intan yang terengah-engah sambil memejamkan matanya sambil mencium bibir dan mulutku dengan penuh gairah “Steven… cepetin donk” please, aku mau nyampai nih…”, serunya di antara desahan nafas yang memburu dan lenguhannya yang menggairahkan. Aku menciumi bibirnya sambil mempercepat gerakanku, menahan agar teriakan orgasmennya tak terdengar dari luar kamar mandi

    “Steven, sekarang ya.. sekarang !!”, aku memberi beberapa sodokan mendalam sambil menggoyang pantatku memutar, dan disambut gelora dahsyat hentakan tubuh Intan yang terhempas pada dada dan perutku. “Aaahhkkk.. Steven…Ouuchhhh..Emmmhhh”, tanganya menggapai testisku dan meremasnya, membuat gerakan ku semakin mendalam di dalam hangatnya memek Intan yang mengeluarkan lelehan lendir bening keputihan yang membasahi seluruh batang kontolku. Intan melemas, namun masih memeluk dan menciumiku.. “Ah, curang, kamu belum nyampai ya? “tanyanya “Iya nih”, sahutku sambil tersenyum.. “Kamu memang perkasa ya”, pujinya. “Ah, bisa aja kamu”, aku lalu mencabut penisku, dan tampak lelehan dari vaginanya menetes ke lantai kamar mandi, dan sebagian mengalir di paha mulusnya. “Ayo sini aku keluarin kamu”, katanya singkat, dan aku dibimbingnya duduk di kloset, dia membelakangiku, duduk di atas pangkuanku dengan mengangkangkan kakinya lebar-lebar, sambil tangan kirinya membimbing kontolku kembali membelah memeknya yang basah.

    “Aaahh .. Intan.. ..” , pahaku menegang sesaat, pantatku terhunjam dalam, batang penisku hilang tertelan memeknya yang merekah merah, spermaku muncrat deras ke dalam memeknya yang disambut lenguhan panjang Intan yang ternyata meraih orgasmenya untuk kali yang kedua “Aaahh…”, “Steven…”, tubuhnya memompa beberapa kali sampai kontolku melemah. Lelehan spermaku dan cairan mekinya meluber kelaur membasahi paha, selangkangan dan kemaluan kami. Intan menciumiku dengan lembut. “Kamu hebat banget sih”, senyumnya aku hanya menjawab pujian dengan senyuman.

    Baca Juga

  • Cerita Ngentot Bersambung | Dibantu Intan Di Kamar Mandi Part 1

    Cerita Ngentot Bersambung | Dibantu Intan Di Kamar Mandi Part 1

    Di suatu siang yang panas sekali, aku menghapus peluh yang menetes hampir seperti hujan.Dengan sapu tangan coklat yang selalu kutaruh di saku celana sebelah kanan, setengah celingak-celinguk di depan papan pengumaman jadwal ujian, aku beranjak gontai melangkahkan kaki ke kantin fakultas ekonomi di belakang kampus.

    Beberapa anak angkatan di bawahku tersenyum menyapa ke arahku sambil menundukkan kepala, aku kurang seberapa mengenal mereka, tapi kubalas senyuman itu dengan ramah sambil tetap menunjukkan kerepotanku membawa buku-buku akuntansi yang super duper berat itu.

    Singkat cerita, setelah menenggak sebotol kecil sprite dingin dan membayarnya, aku kembali ke gedung ekonomi, menanti kuliah siang yang terasa lama, karena waktu itu masih jam 11 lebih, dan kampus sepi karena hari jum’at. Akupun memilih duduk di taman kampus dengan rindangya pohon-pohon hijau taman gedung ekonomi.

    Sekitar 10 atau 15 menit melamun, sesosok gadis yang kukenal melangkah tergesa-gesa sambil membetulkan BH nya, dan tampak sama kerepotannya dengan aku, membawa setumpuk buku yang tampak tak seimbang dengan ukuran tangannya yang mungil. Gadis berkulit putih itu tampak mengenaliku, lalu setengah berlari menghampiriku sambil mengurai seulas senyuman manisnya. “Haiiiii”

    Serunya. “Hai juga”, sahutku.. Dia langsung mengibaskan tangganya ke bangku tempat aku duduk, takut ada debu yang akan mengotori celana jeans ketatnya, seketat jeansnya itu membelit pantat cantiknya yang terbungkus CD berenda hitam kesukaanku, yang nampak samar tercetak padat pada lekukan antara paha, memek dan batas paha belakangnya, aku menelan ludah dan kontol ku mulai bergejolak.

    Dia menunduk, tak sengaja memperlihatkan BH renda nya yang tampak menggantungan dada nya yang ber-cup B, lalu segera mengambil posisi memulai obrolan dengan segala keluh kesah kerepotannya di rumah mengerjakan tugas akuntansi manajemen, sampai ribetnya mengurusi manajemen pabrik pakaian milik bokapnya yang sedikit mengalami mis-manajemen.

    Aku menanggapinya dengan senyum dan komentar-komentar singkat yang membangun, sampai tanpa sadar tangannya mendarat di tengah pahaku, tak sengaja menyenggol burungku yang lagi berdiri yang entah kenapa membuat aku tidak tahan dan ingin memasukan kontol ku kedalam lobang vagina nya yang sangat menawan itu.

    Spontat dia nyeletuk bingung : “Eh, lho, kamu kok bangun ? sejak kapan ? hayoop… mikirin apaa?pasti yang jorok-jorok yaa ?, dan komentar itu semakin panjang sering makin merahnya mukaku, aku hanya bisa menunduk malu.

    Tanpa bisa kutebak dia memberikan sebuah kejutan yang sangat-sangat membuat aku suprise setengah mati jantungan “Emmm, mau dibantuin nga ?”

    Wow, pikirku, hemm, aku setengah binguhng juga, bagaimana kita bisa “gituan” di kampus? setengah sadar bibirku mengucap, “Wah, Intan… mau dimana nih ?”. kita ke lantai 3 aja yuk, kan masih sepi. Setengah ragu namun dikalahkan oleh nafsuku aku menurut saja dengan sarannya. Biar nggak bikin curiga OB nya kampys yang bagian nge-pel, Intan pun beranjak duluan ke lantaii 3 dan langsung menuju kamar mandi, lalu menguncinya dari dalam, selang 5 menit, aku menyusuk naik ke lantai 3 dan telah memastikan sama sekali tidak ada orang, aku menuju kamar mandi yang letaknya di pojok dan relatif terhalang pembatas ruangan, aku mengetuk pintu kamar mandi yang tertutup.

    Cklik, terdengan slot dibuka, lalu aku mendorong pelan pintu itu sedikit, menyelinap, lalu cepat-cepat menutupnya seraya menghela nafas panjang karena deg-deg’an sekaligus capek merasakan terjalnya tangga gedung ekonomi, Intan tersenyum sambil langsung menarik pinggangku mendekat, sehingga bibirku yang setengah terburu-buru, dan langsung tanganku ter-alih membuka kancing kemeja Intan, dan menyelipkan tanganku ke sela-sela bh rendanya.

    Bunyi kecipak ciuman seolah bergema, menyadarkan kami yang larut dalam ciuman untuk mengurangi volume suara yang akan membuat orang penasaran saat mendengarkannya itu. Aku yang sangat tak sabar mencumbu Intan dengan ganas, leher dan telinganya tak luput dari sasaran jilatan lidahku, yang membuatnya mendesah manja. Dilepasnya kacamatanya dan ditaruh didalam tasnya yang tergantung di pintu, lalu tangannya beraksi dengan lihai melepas kancing celana, melorotkan celana panjangku, dan menyelipkan tangannya untuk meraih, menarik, dan mengurut batang kemaluanku yang menegang dan puncaknya berubah kemerahan karena terangsang.

    Aku juga melakukan hal yang sama dengan menarik celana panjang jeans ketatnya sebatas paha, berikut celana dalam berenda hitamnya yang sexy, lalu meraba kemaluannya dengan gemas, karena bulu-bulunya tampak selesai dicukur, sehingga belahan kemaluan pinknya sangat menggoda jari telunjuk dan manis tangan kananku bulu-bulunya tampak selesai dicukur, sehingga belahan pinknya sangat menggoda. Jari telunjuk dan manis tangan kananku mengarah ke bibir kemaluannya dan menariknya ke samping kiri dan kanan, sementara jari tengahku memainkan klitorisnya yang mungil dan mulai menegang.

    “Ouchhh…” rintih Intan di telingaku sambil matanya berkejap-kejap merasakan nikmat yang menjalari tubuhnya. “Sssshhh..Ahhhh”, balasku merasakan nikmatnya kocokan tangan Intan yang dibasahi sedikit air. Sambil terus meremas dada mungiknya yang mulus, adegan saling meraba itu berlangsung selama beberapa menit.

    “Steven…”, bisiknya sambil mendorong tubuhku perlahan menjauh, aku mengerti apa yang dimauinya, Aku membantunya melepas celana jeans dan celana dalamnya, menggantungnya di dekat tas. Intan lalu duduk di tepian bak kamar mandi, satu kakinya diangkat ke atas kloset duduk, tanganya ke belakang menyangga tubuhnya, dan setengah meliuk menggoda dengan tatapan penuh birahinya, dia menyorongkan memeknya ke depan, sambil tangannya meraih dadanya sendiir, memilin putingnya, dan meremas payudaranya dengan gerakan memutar ke atas.

    Aku langsung melepas celanaku, menaruhnya lalu segera berjongkok di depan selangkangan Intan, lalu menjilati belahan mekinya yang terbuka lebar, menjejakan hidungku, menghirup aroma wangi khas memeknya yang selalu harum karena dia rajin membasuhnya dengan ramuan jawa dan meminum jamu-jamu yang selalu membuat kondisi memeknya terjaga.

    Baca juga

  • Kisah Istri Yang Diperkosa Supir Part 4 [Last]

    Kisah Istri Yang Diperkosa Supir Part 4 [Last]

    Kurasakan telapak tangannya menggosok-gosok bibir vaginaku naik turun dan kemudian membelah bibir vaginaku dengan jemari tangannya yang lincah dan cekatan dan kembali menggosok-gosokkannya hingga sabun Lux cair itu menjadi semakin berbusa. Setelah memandikan tubuhku lalu dia pun membasuh tubuhnya sendiri sambil membiarkan tubuhku tetap bersandar di bawah pancuran shower. Usai membersihkan badan, supirku lalu menggendongku keluar kamar mandi dan menghempaskan tubuhku yang masih basah itu ke atas kasur tanpa melap tubuhku terlebih dahulu. “Saya akan bawakan makanan ke sini yach!” ucapnya sambil supirku melilit handuk yang biasa kupakai kepinggangnya lalu ngeloyor ke luar kamarku tanpa sempat untuk aku berbicara. Sudah tiga tahun lebih aku tidak pernah merasakan kehangatan yang demikian memuncak, karena keegoisan suamiku yang selalu sibuk dengan pekerjaan.

    Memang dalam hal keuangan aku tidak pernah kekurangan. Apapun yang aku mau pasti kudapatkan, namun untuk urusan kewajiban suami terhadap istrinya sudah lama tidak kudapatkan lagi. Entah mengapa perasaanku saat ini seperti ada rasa sedang, gembira atau.. entah apalah namanya. Yang pasti hatiku yang selama ini terasa berat dan bosan hilang begitu saja walaupun dalam hati kecilku juga merasa malu, benci, sebal dan kesal.

    Supirku cukup lama meninggalkan diriku sendirian, namun waktu kembali rupanya dia membawakan masakan nasi goreng dengan telor yang masih hangat serta segelas minuman kesukaanku. Lalu tubuhku disandarkan pada teralis ranjang. “Biar saya yang suapin Bu Vivi yach!” ucapnya sambil menyodorkan sesendok nasi goreng yang dibuatnya. 

    “Kamu yang masak Ben!” tanyaku ingin tahu. “Iya, lalu siapa lagi yang masak kalau bukan saya, kan di rumah cuma tinggal kita berdua, si neri kan udah saya suruh pulang duluan sebelum hujan tadi turun!” kata supirku. “Ayo dicicipi!” katanya lagi. Mulanya aku ragu untuk mencicipi nasi goreng buatannya, namun perutku yang memang sudah terasa lapar, akhirnya kumakan juga sesendok demi sesendok. Tidak kusangka nasi goreng buatannya cukup lumanyan juga rupanya. Tanpa terasa nasi goreng di piring dapat kuhabisi juga.

    Bolehkan saya memanggil Bu Vivi dengan sebutan mbak?” tanyanya sambil membasuh mulutku dengan tissue. “Boleh saja, memang kenapa?” tanyaku. “Engga apa-apa, biar enak aja kedengaran di kupingnya.” Kalau saya boleh manggil Mbak Vivi, berarti Bu Vivi eh.. salah maksudnya Mbak Vivi, panggil saya Bang aja yach!” celetuknya meminta. “Terserah kamu saja ” kataku. “Sudah nggak capai lagi kan Mbak Vivi!” sahut supirku.

    “Memang kenapa!?” tanyaku. “Masih kuatkan?” tanyanya lagi dengan senyum binal sambil mulai meraba-raba tubuhku kembali. Aku tidak memberi jawaban lagi, hanya menunduk malu, tadi saja aku diperkosanya malah membuatku puas disetubuhinya apalagi untuk babak yang kedua kataku dalam hati. Sejujurnya aku tidak rela tubuhku diperkosanya namun aku tidak mampu untuk menolak permintaannya yang membuat tubuhku dapat melayang-layang di udara seperti dulu saat aku pertama kali menikah dengan suamiku.

    Baca juga

  • Kisah Istri Yang Diperkosa Supir Part 3

    Kisah Istri Yang Diperkosa Supir Part 3

    “Eee..” pekikku begitu kurasakan di belahan pangkal pahaku ada benda yang cukup keras dan besar mendesak-desak setengah memaksa masuk belahan bibir vaginaku. “Tenang sayang.. tenang.. dikit lagi.. dikit lagi..” “Aah.. sak.. kiit..!” jeritku keras-keras menahan ngilu yang amat sangat sampai-sampai terasa duburku berdenyut-denyut menahan ngilunya. Akhirnya batang penis supirku tenggelam hingga dalam dibalut oleh lorong kemaluanku dan terhimpit oleh bibir vaginaku.

    Beberapa saat lamanya, supirku dengan sengaja, penisnya hanya didiamkan saja tidak bergerak lalu beberapa saat lagi mulai terasa di dalam liang vaginaku penisnya ditarik keluar perlahan-lahan dan setelah itu didorong masuk lagi, juga dengan perlahan-lahan sekali seakan-akan ingin menikmati gesekan-gesekan pada dinding-dinding lorong yang rapat dan terasa bergerenjal-gerenjal itu. Makin lama gerakannya semakin cepat dan cepat sehingga tubuhku semakin berguncang dengan hebatnya sampai, “Ouhh..” Tiba-tiba suara supirku dan suaraku sama-sama beradu nyaring sekali dan panjang lengkingannya dengan diikuti tubuhku yang kaku dan langsung lemas bagaikan tanpa tulang rasanya. Begitu pula dengan tubuh supirku yang langsung terhempas kesamping tubuhku. “Sialan kamu Ben!” ucapku memecah kesunyian dengan nada geram. Cerita Bokep

    Setelah beberapa lama aku melepas lelah dan nafasku sudah mulai tenang dan teratur kembali. “Kamu gila Ben, kamu telah memperkosa istri majikanmu sendiri, tau!” ucapku lagi sambil memandang tubuhnya yang masih terkulai di samping sisiku. “Bagaimana kalau aku hamil nanti?” ucapku lagi dengan nada kesal. “Tenang Bu Vivi.., saya masih punya pil anti hamil, Bu Vivi.” ucapnya dengan tenang. “Iya.. tapi kan udah telat!” balasku dengan sinis dan ketus. “Tenang bu.. tenang.. setiap pagi ibu kan selalu minum air putih dan selama dua hari sebelumnya saya selalu mencampurkan dengan obatnya jadi Bu Vivi enggak usah khawatir bakalan hamil bu,” ucapnya malah lebih tenang lagi. “Ouh.. jadi kamu sudah merencanakannya, sialan kamu Ben..” ucapku dengan terkejut, ternyata diam-diam supirku sudah lama merencanakannya. “Bagaimana Bu Vivi..?

    Bagaimana apanya? Sekarang kamu lepasin saya Ben..” kataku masih dengan nada kesal dan gemas. “Maksudnya, tadi waktu di Entotin enak kan?” tanyanya lagi sambil membelai rambutku. Wajahku langsung merah padam mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh supirku, namun dalam hati kecilku tidak dapat kupungkiri walaupun tadi dia sudah memperkosa dan menjatuhkan derajatku sebagai majikannya, namun aku sendiri turut menikmatinya bahkan aku sendiri merasakan organsime dua kali. “Kok ngak dijawab sich!” tanya supirku lagi.

    “Iya..iya, tapi sekarang lepasin talinya dong Benny!” kataku dengan menggerutu karena tanganku sudah pegal dan kaku. “Nanti saja yach! Sekarang kita mandi dulu!” ucapnya sambil langsung menggendong tubuhku dan membawa ke kamar mandi yang berada di samping tempat ranjangku. Tubuhku yang masih lemah lunglai dengan kedua tangan dan kakiku yang masih terikat itu diletakkan di atas lantai keramik berwarna krem muda yang dingin tepat di bawah pancuran shower yang tergantung di dinding. Setelah itu supirku menyalakan lampu kamar mandiku dan menyalakan kran air hingga tubuhku basah oleh guyuran air dingin yang turun dari atas pancuran shower itu.

    Melihat tubuhku yang sudah basah dan terlihat mengkilat oleh pantulan lampu kamar mandi lalu Benny supirku berjongkok dekatku dan kemudian duduk di sampingku hingga tubuhnya pun turut basah oleh air yang turun dari atas. Mata supirku yang memandangiku seperti terlihat lain dari biasanya, dia mulai mengusap rambutku yang basah ke belakang dengan penuh sayang seperti sedang menyayang seorang anak kecil.

    Lalu diambilnya sabun Lux cair yang ada di dalam botol dan menumpahkan pada tubuhku lalu dia mulai menggosok-gosok tubuhku dengan telapak tangannya. Pinggulku, perutku lalu naik ke atas lagi ke buah dadaku kiri dan kemudian ke buah dadaku yang kanan. Tangannya yang terasa kasar itu terus menggosok dan menggosok sambil bergerak berputar seperti sedang memoles mobil dengan cairan kits. Sesekali dia meremas dengan lembut buah dada dan punting susuku hingga aku merasa geli dibuatnya, lalu naik lagi di atas buah dadaku, pundakku, leherku lalu ke bahuku, kemudian turun lagi ke lenganku. “Ah.. mas..” pekikku ketika tangannya kembali turun dan turun lagi hingga telapak tangannya menutup bibir vaginaku.

  • Kisah Istri Yang Diperkosa Supir Part 2

    Kisah Istri Yang Diperkosa Supir Part 2

    Lagi-lagi aku kalah cepat dengan supirku, dia berhasil menangkap tubuhku kembali namun belum sempat aku bangkit dan berusaha merangkak lagi, tiba-tiba saja pinggulku terasa kejatuhan benda berat hingga tidak dapat bergerak lagi. “Benny.. Jangan.. jangan.. mas..” kataku berulang-ulang sambil terisak nangis. Rupanya supirku sudah kesurupan dan lupa siapa yang sedang ditindihnya. Setelah melihat tubuhku yang sudah mulai kecapaian dan kehabisan tenaga lalu supirku dengan sigapnya menggenggam lengan kananku dan menelikungnya kebelakan tubuhku begitu pula lengan kiriku yang kemudian dia mengikat kedua tanganku kuat-kuat, entah dengan apa dia mengikatnya. Setelah itu tubuhnya yang masih berada di atas tubuhku berputar menghadap kakiku. Kurasakan betis kananku digenggamnya kuat-kuat lalu ditariknya hingga menekuk.

    Lalu kurasakan pergelangan kaki kananku dililitnya dengan tali. Setelah itu kaki kiriku yang mendapat giliran diikatkannya bersama dengan kaki kananku. “Saya ingin mencicipi ibu..” bisiknya dekat telingaku. “Sejak pertama kali saya melamar jadi supir ibu, saya sudah menginginkan mendapatkan kesempatan seperti sekarang ini.” katanya lagi dengan suara nafas yang sudah memburu. “Tapi saya majikan kamu Ben..” kataku mencoba mengingatkan. “Memang betul bu.. tapi itu waktu jam kerja, sekarang sudah pukul 7 malam berarti saya sudah bebas tugas..” balasnya sambil melepas ikatan tali BH yang kukenakan. “Hhh mm uuhh,” desah nafasnya memenuhi telingaku. “Tapi malam ini Bu Vivi harus mau melayani saya,” katanya sambil terus mendengus-denguskan hidungnya di seputar telingaku hingga tubuhku merinding dan geli. Setelah supirku melepas pakaiannya sendiri lalu tubuhku dibaliknya hingga telentang.

    Aku dapat melihat tubuh polosnya itu. Tidak lama kemudian supirku menarik kakiku sampai pahaku melekat pada perutku lalu mengikatkan tali lagi pada perutku. Tubuhku kemudian digendongnya dan dibawanya ke pojok bagian kepala ranjang lalu dipangkunya di atas kedua kaki yang diselonjorkan, mirip anak perempuan yang tubuhnya sedang dipeluk ayahnya.

    Tangan kirinya menahan pundakku sehingga kepalaku bersandar pada dadanya yang bidang dan terlihat otot dadanya berbentuk dan kencang sedangkan tangan kanannya meremasi kulit pinggul, pahaku dan pantatku yang kencang dan putih bersih itu. “Benny.. jangan Ben.. jangan!” ucapku berulang-ulang dengan nada terbata-bata mencoba mengingatkan pikirannya. Namun Benny, supirku tidak memperdulikan perkataanku sebaliknya dengan senyum penuh nafsu terus saja meraba-raba pahaku. “Ouh.. zzt.. Euh..” desisku panjang dengan tubuh menegang menahan geli serta seperti terkena setrum saat kurasakan tangannya melintasi belahan kedua pahaku.

    Apalagi telapak dan jemari tangannya berhenti tepat di tengah-tengah lipatan pahaku. “Mass.. Eee” rintihku lebih panjang lagi dengan bergetar sambil memejapkan mata ketika kurasakan jemarinya mulai mengusap-usap belahan bibir vaginaku. Tangan Mas Benny terus menyentuh dan bergerak dari bawah ke atas lalu kembali turun lagi dan kembali ke atas lagi dengan perlahan sampai beberapa kali. Lalu mulai sedikit menekan hingga ujung telunjuknya tenggelam dalam lipatan bibir vaginaku yang mulai terasa berdenyut-denyut, gatal dan geli.

    Tangannya yang terus meraba dan menggelitik-gelitik bagian dalam bibir vaginaku membuat birahiku jadi naik dengan cepatnya, apalagi sudah cukup lama tubuhku tidak pernah mendapatkan kehangatan lagi dari suamiku yang selalu sibuk dan sibuk. Entah siapa yang memulai duluan saat pikiranku sedang melayang kurasakan bibirku sudah beradu dengan bibirnya saling berpagut mesra, menjilat, mengecup, menghisap liur yang keluar dari dalam mulut masing-masing. “Ouh.. Vivi.. wajahmu cukup merangsang sekali Vivi..!” ucapnya dengan nafasnya yang semakin memburu itu.

    Setelah berkata begitu tubuhku ditarik hingga buah dadaku yang menantang itu tepat pada mukanya dan kemudian, “Ouh.. mas..” rintihku panjang dengan kepala menengadah kebelakan menahan geli bercampur nikmat yang tiada henti setelah mulutnya dengan langsung memagut buah dadaku yang ranum itu. Kurasakan mulutnya menyedot, memagut, bahkan menggigit-gigit kecil punting susuku sambil sekali-kali menarik-narik dengan giginya. Entah mengapa perasaanku saat itu seperti takut, ngeri bahkan sebal bercampur aduk di dalam hati, namun ada perasaan nikmat yang luar biasa sekali seakan-akan ada sesuatu yang pernah lama hilang kini kembali datang merasuki tubuhku yang sedang dalam keadaan tidak berdaya dan pasrah. “Bruk..” tiba-tiba tangan Mas Benny melepaskan tubuhku yang sedang asyik-asyiknya aku menikmati sedalam-dalamnya tubuhku yang sedang melambung dan melayang-layang itu hingga tubuhku terjatuh di atas ranjang tidurku.

    Tidak berapa lama kemudian kurasakan bagian bibir vaginaku dilumat dengan buas seperti orang yang kelaparan. Mendapat serangan seperti itu tubuhku langsung menggelinjang-gelinjang dan rintihan serta erangan suaraku semakin meninggi menahan geli bercampur nikmat sampai-sampai kepalaku bergerak menggeleng ke kanan dan ke kiri berulang-ulang. Cukup lama mulutnya mencumbu dan melumati bibir vaginaku terlebih-lebih pada bagian atas lubang vaginaku yang paling sensitif itu. “Benny.. sudah.. sudah.. ouh.. ampun Aar.. riss..” rintihku panjang dengan tubuh yang mengejang-ngejang menahan geli yang menggelitik bercampur nikmat yang luar biasa rasanya saat itu. Lalu kurasakan tangannya pun mulai rebutan dengan bibirnya.

    Kurasakan jarinya dicelup ke dalam lorong kecil kemaluanku dan mengorek-ngorek isi dalamnya. “Ouh.. Ben..” desisku menikmati alur permainannya yang terus terang belum pernah kudapatkan bahkan dengan suamiku sendiri. “Sabar Win.., saya suka sekali dengan lendirmu sayang!” suara supirku yang setengah bergumam sambil terus menjilat dan menghisap-hisap tanpa hentinya sampai beberapa menit lagi lamanya. Setelah puas mulutnya bermain dan berkenalan dengan bibir kemaluanku yang montok itu si Benny lalu mendekati wajahku sambil meremas-remas buah dadaku yang ranum dan kenyal itu. “Bu Vivi.., saya entot sekarang ya.. sayang..” bisiknya lebih pelan lagi dengan nafas yang sudah mendesah-desah.

    Baca juga