Cerita Seks Bersambung – Latifa telah mulai bersiap-siap untuk kembali Yogyakarta setelah seminggu berada di desa kelahirannya. Telah bulat tekadnya bahwa kedatangannya ke desa kelahirannya di pulau bali kali ini adalah yang terakhir kali, bukan karena Latifa telah menjadi angkuh dan lebih senang di kota besar, melainkan ada sebab lainnya. Telah terpenuhi tugasnya sebagai putri yang berbakti yaitu menghadiri dan mendampingi ibu kandungnya disaat-saat terakhir sakit dan sampai menutup mata serta dimakamkan.
Latifa yang berwajah cantik itu adalah seorang jururawat dengan kedudukan cukup mantap dan baik di sebuah rumah sakit terkenal di ibukota. Ia telah menikmati pendidikan sebagai jururawat bukan saja di Yogyakarta, namun telah dilanjutkannya di Amsterdam, Belanda dan memperoleh ijazah perawat internasional. Oleh karena itulah setelah kembali dan memperoleh pekerjaan di Yogyakarta, hanya dalam waktu singkat Latifa – dengan nama lengkap sebenarnya Putri Latifa, telah menduduki jabatan kepala dari seluruh team perawat, termasuk bagian operasi dan juga ICU/CCU – meskipun usianya baru 22 tahun dan belum berkeluarga karena sibuk dengan tugasnya sehari-hari di tempat kerja. Telah banyak dokter-dokter muda yang mengincarnya namun belum ada satupun yang dapat merebut hati si perawat cantik ini.
Ibu kandungnya yang tetap tinggal di desa telah menikah lagi beberapa tahun lalu karena suaminya telah meninggal dunia akibat kecelakaan. Sebagai “janda kembang” berusia awal empat puluhan dan masih terlihat anggun menarik, tak mudah hidup di desa pedalaman, selalu dijadikan bahan pergunjingan. Latifa sebenarnya tak begitu senang bahwa ibu kandungnya menikah lagi – apalagi ketika diketahuinya bahwa ayah tirinya adalah Kades Dollah yang terkenal “hidung belang” dan sering main gila dengan istri orang lain. Dollah telah tiga kali menikah dan semua pernikahannya kandas karena perselingkuhannya.
Terbukti pada saat duduk di pelaminan bersama dengan ibunya, terlihat sering sekali mata Dollah mampir ke arah Latifa anak tirinya seolah ingin menelanjangi tubuhnya, membuat Latifa resah dan tak betah.
Oleh karena itu pula Latifa jarang pulang ke desa kelahirannya karena segan bertemu dengan ayah tiri yang mata keranjang itu, justru sang ibu yang lebih sering datang ke kota mengunjungi putrinya dan selalu menanyakan kapan kiranya putri semata wayangnya itu akan menikah dan mempunyai keturunan.
Sebelum keinginan mempunyai cucu dari putrinya tercapai terjadilah musibah tak terduga: desa kecil itu mengalami wabah demam berdarah – dan salah satu korbannya adalah ibu kandung Latifa. Entah karena memang daya tahan tubuhnya kebetulan sedang lemah atau ada faktor lain, maka proses sakit ibu Latifa itu sangat cepat dan hanya dalam waktu tak ada 2 hari langsung meninggal akibat pendarahan hebat.
Kesedihan Latifa tak dapat diuraikan dengan kata-kata, namun sebagai seorang yang taat beragama maka Latifa menerima tabah percobaan yang menimpanya. Semua acara adat dan tradisi desa diikuti oleh Latifa dengan patuh, semua kebiasaan ritual yang sangat melelahkan dijalankannya pula.
Selama upacara sampai dengan pemakaman selesai, Latifa selalu memakai chadar tipis berwarna hitam dan demikian pula jilbab dengan warna serupa. Dihadapan semua yang hadir sebelum jenazah ibunya dimakamkan, Latifa berjanji akan selalu memakai jilbab putih selama satu tahun – juga selama menunaikan tugasnya di RS sekembalinya di yogyakarta , ini sebagai tanda penghormatan dan juga masih berkabung.
Dengan dalih bahwa masih ada sedikit warisan dan peninggalan pribadi ibunya almarhum yang masih harus diurus dan setelah itu disimpan sendiri oleh Latifa, maka sang ayah tiri Dollah dan putra kandungnya (kakak tiri Latifa) bernama Ghazali dengan nama panggilan Ali meminta agar Latifa tak langsung keesokannya kembali ke ibukota, melainkan menginap satu dua malam lagi setelah acara duka cita dengan penduduk desa selesai.
Sebetulnya Latifa telah ingin segera meninggalkan ayah dan kakak lelaki tirinya secepat mungkin, tapi dengan muslihat kata-kata keduanya mengemukakan bahwa apalah pandangan penduduk desa jika putri satu-satunya langsung meninggalkan desa kelahiran sementara tanah pemakaman ibunya masih basah.
Akhirnya Latifa mengalah dan menelpon RS tempatnya bekerja bahwa ia baru akan kembali bekerja dua hari kemudian – sebuah kesalahan yang tak dapat dibayar atau ditebus kembali dengan apapun.
***
Di sore hari itu hujan turun dengan amat deras – disertai suara petir dan guntur silih berganti, karena itu jalanan diluar sepi tak ada tukang jualan. Setelah makan malam bersama ayah dan kakak laki tirinya, Latifa dengan sopan santun mengundurkan diri masuk kamar tidurnya dan mulai membenahi pakaian di kopernya. Karena malam minggu maka para pembantu pun diizinkan Dollah pulang ke rumah masing-masing.
Dollah dan Ali juga berpamitan dengan Latifa dan mengatakan bahwa mereka masih harus selesaikan pelbagai urusan kantor di kelurahan yang juga ada hubungannya dengan persoalan catatan sipil. Tanpa curiga dan bahkan merasa lega, Latifa melepaskan kedua laki-laki itu dan melihat mereka menghilang di tikungan sudut jalan dengan mengendarai motor masing-masing di tengah arus hujan lebat. Sangat naif sekali Latifa mengira bahwa keduanya betul-betul pergi – padahal mereka hanya naik motor sekitar tiga menit, menyembunyikan motor mereka di belakang ruangan sholat pelataran jual pompa bensin, lalu dengan memutar jalan kaki sedikit telah kembali lagi memasuki kebun belakang rumah.
Hujan yang sangat deras disertai bunyi petir dan guntur memudahkan dan menutup semua bunyi langkah kaki mereka ketika memasuki pekarangan rumah dari belakang. Bahkan bunyi terputarnya kunci pintu belakang sama sekali tak dapat didengar oleh Latifa yang merasa aman seorang diri di rumah dan sedang bersiap untuk mandi menghilangkan kepenatan tubuhnya. Baju tidur telah digantungnya di kamar mandi, demikian pula celana dalam bersih putih berbentuk segitiga kecil, sedangkan bh-nya yang berukuran 34B serta celana dalam yang dipakainya telah dilepaskan dan terletak di ranjang.
Hanya jilbab hitamnya masih menutup rambutnya yang bergelombang melewati bahu, sedangkan badan yang langsing namun sintal menggairahkan setiap lelaki dibalut dengan kain batik kemben. Sebagaimana pada umumnya wanita pedesaan yang akan mandi di sungai, maka kain kemben itu dibawah menutup setengah betis sedangkan bagian atas pas-pasan dilipat di tengah melindungi tonjolan buah dada.
Dengan hanya terlindung balutan kain kemben itu Latifa keluar dari kamar tidurnya untuk berjalan lima meter memasuki kamar mandi namun merasa aneh bahwa lampu di gang mati padahal dua menit lalu masih menyala ketika ia membawa celana dalam bersih, baju tidur dan handuk ke kamar mandi itu.
Disaat Latifa meraba-raba dinding untuk mencari tombol lampu, tiba-tiba ia merasa tubuhnya disergap dari belakang dan sebelum ia sempat berteriak, mulutnya juga dibekap dan disumbat oleh seseorang. Meskipun sangat kaget, Latifa langsung berontak sekuat tenaga dan berusaha menendang ke kiri dan ke kanan, namun pukulan tinju keras menghantam ulu hati, membuatnya kehilangan nafas dan menjadi lemas lunglai.
Kesempatan ini segera dipakai oleh salah satu lelaki penyergapnya yaitu Dollah untuk menggendong dan membawa Latifa ke kamar tidurnya sendiri yang memang letaknya paling dekat dengan kamar mandi.
Sementara itu Ali mengencangkan kembali sekring listrik yang tadi sengaja dikendorkan sehingga tak ada aliran listrik, kemudian kembali ke kamar Latifa untuk membantu ayahnya menikmati mangsa mereka. Lampu yang telah menyala kembali kini memberikan cahaya cukup, menampilkan dengan jelas apa yang sedang terjadi di kamar tidur : Latifa si cantik direbahkan di tengah ranjangnya sendiri yang cukup besar. Tubuhnya nan ramping namun sintal menggeliat-geliat berusaha melepaskan diri dari tindihan ayah tirinya, Dollah, yang penuh kerakusan sedang melumat bibir Latifa dengan mulut besarnya yang berbau rokok.
Dollah tahu bahwa putri tirinya ini sangat benci terhadap lelaki merokok – oleh karena itu ia senang sekali saat ini dapat melumat mulut Latifa dengan bibir manisnya hingga membuatnya membuka dan menerima uluran lidah penuh ludah berbau rokok miliknya. Terlihat Latifa berusaha selama mungkin menahan nafas agar tak mencium bau yang sangat tak disenanginya itu, namun akhirnya terpaksa menerima limpahan ludah sang ayah tiri serta lidahnya yang berusaha mengelak kini telah ditekan dan disapu-sapu oleh lidah ayahnya yang kasar itu.
***
Baca Juga
- Cerita Dewasa Bersambung: Kenikmatan Tante Girang
- Cerita Seks Bersambung Birahi Ibu dan Anak
- Cerita Panas Bersambung Bugil dengan Pembantu
- Novel Dewasa: Seks Teman Kantor
- Cerita Dewasa: Seks Kebaya Merah
- Cerita Panas: Tukang Kebun Besar Kali
- Novel Erotis Istri Selingkuh
- Wattpad Dewasa Ngentot Anak SMP
- Cerbung Ngeseks Dengan Kakak Dan Adik Kandungku
- Ketahuan Coli Jadi Ngewe sama Bibi
- Ngentot Ukhti di Hutan
- Istri yang Diperkosa Supir
- Dibantu Intan di Kamar Mandi
- Hilangnya Perawan Pramugari











