KONGJONES CERITA DEWASA LENGKAP

CERITA SEX BERSAMBUNG

Tag: cerita seks bersambung

  • Cerita Seks Bersambung – Anakku ajak Temannya setubuhiku 6

    Cerita Seks Bersambung – Anakku ajak Temannya setubuhiku 6

    Cerita Seks Bersambung – Dugaannya sepertinya benar karena dia melihat ada bercak putih di bawah sofa itu. Sepertinya jaka yang belum puas meminta jatah lagi walau sudah ngecrot, pikirnya lagi.

    “Sayang, sorry yah. Ini Jaka masih belum puas aja” kata Novia pada Dennis. Memang tidak ada batasan waktu sampai kapan hadiah nyusu itu diberikan sehingga Jaka masih saja meneruskan aksinya. Jaka sebenarnya sudah kenyang meminum susu dari payudara Novia, sekarang dia lebih tepatnya menjilati dan memainkan payudara Novia dengan mulut dan lidahnya. Dennis yang memang jadi pihak yang kalah terpaksa hanya menuruti apa yang telah dijanjikan.

    Melihat anaknya yang mupeng dari tadi Novia tidak tega juga. Dia dorong dengan paksa tubuh Jaka dari dirinya.

    “Udah dulu Jaka, kasian Dennis tuh.. kita mulai ronde selanjutnya yah.. kayaknya kalian udah tegang lagi tuh..”kata Novia mencoba memberi Dennis kesempatan sekali lagi.
    “Kalau gitu boleh dong Dennis nyusu kalau Dennis menang?” tanya Dennis semangat.
    “Iya.. boleh..” jawab Novia sambil tersenyum manis.
    “Terus kalau Jaka yang menang gimana tante?” tanya Jaka yang masih belum puas juga.
    “Hmm.. kamu maunya apa?” kata Novia balik nanya.

    “gimana kalau Jaka boleh ngentotin tante.. hehe” jawab Jaka kurang ajar. Dennis sendiri terkejut bukan main mendengar permintaan temannya ini, betul-betul kurang ajar. Ingin sekali rasanya dia melayangkan tinju ke mulut Jaka. Tapi dia melihat ibunya malah tertawa mendengar permintaan Jaka ini.

    “Hihi.. kamu ini, enak aja. Ini punyanya papanya Dennis” kata Novia sambil mencubit perut Jaka.
    “Gitu yah tante.. duh, pengen banget padahal genjotin memek tante.. hehe”
    “Hush.. kamu ini ngomongnya kurang ajar banget, ada Dennis tuh..” kata Novia sambil melirik ke anaknya.

    “Gimana Dennis? Gak boleh kan?” tanya Novia ke Dennis.
    “Nggg…”
    “Boleh kan DEN? Gue hajar lo kalau gak boleh!!” kata Jaka main serobot.

    “Eh eh, enak aja main hajar anak tante. Gak boleh pokoknya, pake mulut tante aja yah.. gak apa kan? jejalin deh suka-suka kamu ke mulut tante kalau kamu menang.” tawar Novia dengan senyum nakal. Memberi Jaka harapan kalau dia boleh melampiaskan nafsunya menggunakan mulutnya.

    “Ya udah tante.. oke deh.. hehe” setuju Jaka. Dennis yang mendengar tawaran dari mulut ibunya makin membuat hatinya tidak karuan. Kalau dia kalah berarti dia kalah satu putaran lagi dari Jaka, yang juga berarti Jaka akan semakin berbuat tidak senonoh terhadap ibunya, tubuhnya jadi panas dingin dibuatnya. Dia ingin sekali menang dan mencoba mendapatkan kenikmatan itu. Tapi dia juga penasaran melihat apa yang akan dilakukan Jaka ke ibunya kalau dia kalah. Entah kenapa hatinya jadi bimbang begini.

    “Tante, lepasin aja dasternya, nanggung tuh” pinta Jaka.

    “Apaan nanggung-nanggung.. dasar kamu, iya deh tante lepasin” setuju Novia. Diapun membuka dasternya yang sedari tadi memang sudah terpasang tidak karuan karena bagian atasnya sudah terbuka. Kini Novia hampir benar-benar telanjang di depan kedua remaja tersebut, dia saat ini mengenakan celana dalam berenda yang menjadi satu-satunya pakaian yang masih menempel di tubuhnya. Dennis yang meskipun sudah pernah melihat tubuh telanjang ibunya tetap saja sekarang membuat dadanya berdecak kagum serta langsung membangkitkan nafsunya.

    “Dennis.. semangat yah.. masa sih kalah terus” kata Novia.
    “Gak bakal menang dia tante..hehe” serobot Jaka.
    “Ayo dong Dennis, kalau kamu kalah lagi nanti mama dimesumin lagi nih sama teman kamu ini, kamu gak mau kan?” kata Novia menyemangati anaknya.

    Ronde selanjutnyapun dimulai, Dennis ternyata memang kalah pengalaman dari Jaka. Dengan berat hati dan kecewa dia harus merelakan kalau dia lagi-lagi harus kalah dari Jaka. Dia sungguh kecewa tidak bisa menyelamatkan ibunya dari perlakuan mesum Jaka.

    “Haha.. gue bilang juga apa? Gue yang bakal menang. Yes” sorak Jaka. Novia tersenyum mendengarnya.

    “Iya-iya kamu menang.. menang terus nih kamunya, kasihan anak tante gak dapat dari tadi” kata Novia sambil melirik ke Dennis yang sedang terduduk kecewa. Jakapun mendorong tubuh Novia ke sofa dan menghimpitnya lagi. Dia sepertinya ingin melanjutkan aksinya tadi yang belum selesai.

    “Duh.. aww.. Jaka, pelan-pelan dong..” kata Novia. Tanpa menjawab Jaka meneruskan perbuatannya ini, dia mulai menciumi bagian tubuh Novia yang lain, termasuk wajah dan mulut Novia. Dennis lagi-lagi hanya bisa memandang temannya berbuat mesum ke ibunya. lidah Jaka dan Novia kini saling membelit, saling berbagi liur satu sama lain. Jaka lalu menjulurkan lidahnya, Novia yang tahu berbuat apa langsung mengulum lidah Jaka tersebut, sungguh erotis sekali. Jaka juga melakukan hal yang sama dengan mengulum lidah Novia yang dijulurkan, mereka lakukan hal tersebut bergantian beberapa kali.

    “Tante lihat tuh, anak tante ngiri tuh..” kata Jaka. Novia melirik ke arah anaknya yang memang lagi mupeng berat melihat aksi mereka ini. Sebuah pemandangan yang malah membuat hati anaknya panas dingin tidak karuan.

    “Coba buka mulut tante..” suruh Jaka. Novia mengikuti kemauan remaja ini dan membuka mulutnya lebar-lebar. Jaka kini dengan kurang ajarnya meludah ke dalam mulut Novia, di depan mata anaknya sendiri yang dari tadi hanya memperhatikan mereka. Lagi-lagi Jaka cengengesan sambil melirik ke Dennis setelah melakukan hal bejat tersebut, bahkan ibunya juga melirik sambil tersenyum ke arah Dennis setelah menelan liur Jaka.

    Bagi Novia sendiri ini juga merupakan sensasi yang baru pertama dia rasakan. Bergumul dengan pria yang seumuran anak laki-lakinya, bahkan di depan anak laki-lakinya itu sendiri. Menelan liur seperti inipun tidak pernah dia lakukan dengan suaminya, tapi kini dia malah melakukan hal menjijikkan ini dengan teman anaknya. Dennis yang melihat itu begitu terbakar hatinya, tapi dia juga terangsang melihat aksi mereka. Membuatnya tidak tahu harus bagaimana dan berbuat apa.

    “Lagi ya tante..” kini Jaka tampak komat-kamit mengumpulkan liur sebanyak mungkin dan akhirnya menumpahkan kembali liurnya ke dalam mulut Novia. Kini bahkan lebih banyak dari sebelumnya. Tampak lelehan liur Jaka keluar dari mulut Novia karena tidak mampu menelan semuanya.

    “Udah ah kamunya, ada-ada aja”
    “Hehe.. lanjut yah tante, hadiah utamanya belum nih, pengen rasain mulut tante”
    “Hmmhhh.. iya-iya, tapi jangan disini yah.. di kamar tante aja yuk.. malu nih di depan Dennis”
    “hehe.. oke deh..” setuju Jaka. Mereka kemudian bangkit dan menuju kamar Novia.
    “Tapi sebentar aja yah, gak lama lagi suami tante pulang nih, bisa dihajar kamu kalau nampak sama om, hihi..”

    “oke tante.. hehe” jawab Jaka.
    “Ma.. terus aku gimana nih?” tanya Dennis dengan wajah kecewa. Dia sebenarnya masih ingin di antara mereka, walau hanya untuk sekedar melihat saja.

    “Maaf yah sayang, Kan Jaka yang menang. Kamu kalah sih.. kamu tolongin lihat situasi aja yah sayang, siapa tahu papa kamu pulang, gak papa kan?” Dennis hanya mengangguk lesu menyetujui perintah mamanya ini. Sebelum mereka masuk ke kamar, lagi-lagi Jaka mengeluarkan cengengesan menjijikkannya ke arah Dennis.

    Kini Dennis tinggal sendiri di luar kamar, entah apa yang sedang mereka lakukan Dennis benar-benar tidak mengetahuinya, sama sekali tidak terdengar suara dari luar kamar tempat Dennis berdiri ini. Tubuh Dennis jadi panas dingin membayangkan apa yang terjadi pada mamanya di dalam sana. Dennis penasaran apa yang terjadi, selang beberapa lama dia putuskan untuk berusaha mencuri dengar apa yang sedang terjadi di dalam.

    “Enak sayang?” terdengar suara mamanya samar-samar.
    “Enak tante..”
    “Enak banget yah?? hihi”

    “…. Duh, aw.. Jaka, pelan-pelan sayang.. geli.. hahaha..” terdengar tawa renyah mamanya yang sepertinya sedang kegelian.
    “Oughh.. Novia..”
    “Ngghh.. sayang, udah… sshhh.. kamu ini, ntar Windy nya bangun”
    “Nggmmhh..”
    “Oughh..”

    Beberapa kali terdengar suara lenguhan ibunya dan Jaka, entah apa yang mereka lakukan. Dennis betul-betul tidak tenang di luar sini. Hatinya begitu tidak karuan mendengar dan membayangkan apa yang sedang terjadi di dalam. Suara Windypun terdengar dari sana, sepertinya Windy terbangun karena ulah Novia dan Jaka di dalam sana.

    “Tuh kan.. anak tante bangun, kamu sih..”
    “Windy, kamu mau ikutan nyusu kaya om Jaka?, sini-sini..” kata mamanya. Deg, Dennis terkejut mendengarnya. Dia semakin panas dingin karena membayangkan mamanya menyusui mereka sekaligus. Yang satu memang bayinya sendiri, tapi orang yang satu lagi?

    Dennis putuskan untuk tidak meneruskan menguping. Hatinya sudah begitu panas mendengar dan membayangkan itu semua. Lebih setengah jam lamanya Dennis hanya duduk di sofa terdekat dari kamar orangtuanya ini hingga akhirnya pintupun terbuka dan mereka keluar dari kamar. Tampak Novia sudah kembali mengenakan pakaian lengkap, tapi rambut dan wajahnya terlihat acak-acakan, membuat Dennis betul-betul penasaran apa saja yang telah mereka lakukan.

    “Lama amat sih ma?” tanya Dennis dengan wajah kesal setelah mereka keluar.
    “Habis.. temanmu ini sih..” jawab Novia sambil tersenyum ke Jaka.
    “Udah yah Jaka, pulang dulu yah.. bentar lagi Om pulang” katanya lagi.
    “Iya deh tante, makasih banyak ya.. hehe” Jakapun akhirnya pulang tidak lama kemudian. Jaka bahkan tidak pamit dengan Dennis, Jaka hanya berpamitan dengan Novia sambil mencium tangannya.

    “Ma..” kata Dennis lirih memanggil mamanya.
    “hmm? Apa sayang?”
    “Dennis juga mau dong..”
    “ Hihihi.. kamu mau juga?”
    “Iya mah..”
    “Kalau gitu besok kamu harus menang yah..”
    “Yah.. mama kok gitu sih, sekarang dong ma.. cuma nyusu aja juga boleh kok ma”

    “Gimana sih kamu ini, itu kan hadiah kalau kamu bisa menang. Ya udah sekali saja, ntar malam kamu tungguin mama yah, jangan tidur dulu” kata Novia memberi harapan pada Dennis sambil mengedipkan matanya.

    “Kok gak sekarang aja sih ma?”

    “Udah mau malam nih, ntar papa kamu keburu pulang. Ntar malam aja yah..” katanya lagi sambil mengelus kepala Dennis. Akhirnya Dennis setuju saja dari pada tidak sama sekali. Hati Dennis senang bukan main mendengar perkataan ibunya, dia tidak sabar menunggu malam tiba.

    Lanjut Baca

    Baca juga

  • Cerita Seks Bersambung – Anakku ajak Temannya setubuhiku 5

    Cerita Seks Bersambung – Anakku ajak Temannya setubuhiku 5

    Cerita Seks Bersambung – Novia melepaskan Windy dari sisinya. Tampak Windy sudah tenang, mungkin karena sudah kenyang menyusu. Novia lalu meletakkan Windy ke kursi di sebelahnya.

    “Mau sekarang?” tanya Novia dengan tatapan nakal tanpa menutup payudaranya dengan baju terlebih dahulu, membiarkan payudara sebelah kanannya menjadi santapan mereka. Membuat kedua remaja itu hanya mengangguk-angguk mupeng karenanya.

    Dennis dan Jaka mendekati Novia, meloloskan celananya hingga mereka sekali lagi mengacungkan penis mereka ke Novia. Tangan Novia mulai mengocok kedua penis itu lagi. Saat penis mereka dikocok Novia, mata mereka tidak henti-hentinya menatap ke payudara yang terpampang bebas itu, membuat si punya penis makin kelojotan.

    “Ayo Dennis.. semangat sayang, jangan kalah lagi” kata Novia menyemangati anaknya.
    “Oughh.. iya ma..” jawab Dennis. Tapi apa daya, ketahanan Dennis masih belum dapat menandingi Jaka. Diapun akhirnya keluar duluan dan kalah lagi dari Jaka.

    “Yes, gue menang.. hehe” sorak Jaka penuh kemenangan dengan diiringi tawa mesum.
    “Tuh kan.. kamunya kalah lagi” kata Novia dengan wajah yang dicemberutkan ke Dennis.
    “Kamu mau ambil hadiahnya sekarang jaka?” tanya Novia dengan tatapan nakal ke Jaka.
    “Boleh tante.. ”

    “Huu.. udah gak sabar yah kamunya, ya udah sini duduk dekat Tante” kata Novia sambil menggeser posisi duduknya memberi tempat untuk Jaka untuk duduk di sebelahnya. Jaka pun akhirnya duduk di sebelah Novia dan mulai mengarahkan mulut hitamnya ke pucuk payudara Novia yang siap menyambut mulutnya. Walau agak grogi, tapi akhirnya mulut Jaka menempel ke pucuk payudara kanan Novia. Terasa cairan hangat mulai masuk ke mulutnya saat dia coba mengenyot putting payudara tersebut.

    Melihat temannya yang asik menyusu ke ibu kandungnya membuat perasaan Dennis tidak karuan saat itu. Cemburu, sakit hati, horni, semua campur aduk. Bagaimanapun itu adalah ibu kandungnya dan kini payudara ibunya sedang dinikmati temannya yang cabul itu. Sambil menyusu ke Novia, mata Jaka sesekali menatap ke Dennis sambil cengengesan seperti sedang memberitahunya betapa nikmatnya menyusu ke ibunya.“Jaka, jangan godain Dennis seperti itu dong, kasihan anak tante” kata Novia yang tahu apa yang sedang dipikirkan Jaka.
    “Hehe.. gak kok tante..” jawab Jaka enteng.
    “Ma…” kata Dennis lirih.
    “Ya sayang?”
    “Dennis mau juga dong…”

    “Yee.. ini kan hadiah untuk yang menang. Jadinya khusus untuk Jaka dong.. kalau kamu juga mau, ronde selanjutnya kamu harus menang yah sayang..” jawab Novia. Sekali lagi tampak Jaka cengengesan melirik ke Dennis, membuat hati Dennis makin pedih.

    “Tante, yang satu lagi buka juga dong..” pinta Jaka.
    “Lah, untuk apa? Emang kamu mau nyusu yang sebelah juga??”
    “Iya.. boleh yah tante..”
    “Hmm.. iya-iya, dasar kamunya” Novia akhirnya menyetujui permintaan mesum Jaka. Dia lalu membuka sisi bajunya sebelah kiri sehingga kini kedua payudaranya terpampang bebas.

    “Tanggung tuh tante, buka aja semua bajunya..” pinta Jaka lagi.
    “Dasar nakal. Dennis, gak papa kan mama telanjang dada? Temanmu nakal nih..” Novia malah meminta persetujuan pada anaknya yang sedari tadi melongo mupeng ke arah mereka berdua.

    “Eh.. i-iya ma, gak papa” jawab Dennis. Rasa pedih di hatinya entah kenapa kalah dengan rasa horni dan penasaran melihat tubuh telanjang dada ibunya. Mendengar jawaban anaknya Novia cuma tersenyum, dia kemudian mulai meloloskan daster bagian atasnya sehingga kini bagian atas tubuhnya tidak tertutup kain sedikitpun. Memamerkan tubuh bagian atasnya dengan buah dada sekal yang penuh cairan susu.

    “Udah nih, puas kan kamu Jaka?”
    “Hehe.. tante emang baik”

    “Dasar” kata Novia sambil mencubit pipi Jaka. Remaja itu kemudian melanjutkan acara nyusunya lagi. Kali ini payudara kiri Novia yang dijilat dan dihisapnya, sambil payudara kanannya menjadi sasaran remasan tangan nakal Jaka. Memang tidak ada persetujuan kalau yang menang boleh melakukan hal mesum seperti meremas payudara Novia. Tapi Novia tidak menganggapnya masalah.

    “Tante, kocokin lagi dong.. kan tadi belum keluar. Pasti enak nih nanti rasanya ngecrot sambil nyusu.. hehe” pinta Jaka mesum.

    “Hmm.. iya-iya. Porno kamunya. Kamu baring deh sini.” setuju Novia menyuruh Jaka berbaring di atas sofa dengan kepala Jaka berada di atas paha Novia yang diberi bantal sofa, sehingga mulut Jaka kini tepat di depan payudara Novia. Tangan Novia kini meraih penis Jaka dan mulai mengocoknya lagi. Sungguh beruntung Jaka ini, merasakan kenikmatan menyusu dari payudara yang putih sekal sambil penisnya dikocok oleh wanita secantik dan seseksi Novia. Sambil membiarkan Jaka menyedot susu dari buah dadanya, dia mengocok batang penis teman anaknya tersebut. Anaknya sendiri masih melongo menatap nanar aksi temannya yang semakin mesum ke ibu kandungnya. Jaka masih saja melirik cengengesan ke arah Dennis. Kini ibunyapun juga ikut-ikutan melirik tersenyum ke Dennis yang cemburu dari tadi, yang membuat hati Dennis makin tidak karuan.

    Tapi suara rewelan Windy menganggu suasana mesum ini. Tentu saja Jaka yang merasa sangat terganggu karena aksinya belum selesai.

    “Jaka, bentar yah.. tante urus Windy dulu” kata Novia melepaskan kocokan tangannya dari penis Jaka.
    “Duh tanggung nih tante, bentar lagi..” tolak Jaka tidak tahu diri.
    “Bentar kok sayang.. yah?” kata Novia lagi ke Jaka, tapi Jaka sepertinya belum mau melepaskan kulumannya dari buah dadanya. Novia akhirnya menuruti kemauan Jaka dan kembali mengocok penis Jaka.
    “Bentar yah Windy sayang.. Om jaka masih belum puas nih.. hihi” kata Novia ke bayinya. Sungguh gila, Novia lebih memilih memuaskan Jaka dulu dari pada mengurus bayinya yang sedang menangis ini.

    “Belum Jaka? Kasihan tuh Windy..” tanya Novia.
    “Belum tante, duh si Windynya berisik amat siih tante. Suruh diam dong..” kata Jaka yang betul-betul tidak tahu diri.

    “Kamunya kan yang gak mau ngalah. Hmmhh.. dasar. Dennis, tolong kamu timang-timang adek kamu dulu dong” suruh Novia ke anaknya. Dennis dengan perasaan yang tidak karuan menuruti saja perintah ibunya ini. Dia ambil Windy yang masih menangis dan menimang-nimangnya. Dennis menggendong adeknya itu mutar-mutar rumah. Meninggalkan ibu dan temannya yang masih saja asik dengan aktifitas mesum mereka. Cukup lama untuk membuat Windy untuk tertidur lagi. Setelah Windy tertidur, barulah Dennis kembali ke tempat tadi.

    “Ma, udah tidur nih.. bawa ke kamar aja yah Windynya?” tanya Dennis berbisik sambil melihat ibunya yang masih saja menyusui Jaka.

    “Ngghh, iya sayang, bawa ke kamar aja” jawab Novia. Dengan berat hati Dennis membawa Windy ke kamar, sudah tidak dapat apa-apa malah harus urusin Windy, gerutunya.

    Saat Dennis kembali dia melihat mereka sudah berganti posisi. Kali ini Novia berada di bawah tindihan Jaka yang masih sibuk mengenyot buah ibunya ini. Penis Jaka pun masih tetap dikocok oleh Novia dengan posisi seperti itu. Tampak daster yang dikenakan Novia makin acak-acakan karena perbuatan Jaka ini. Temannya benar-benar melakukan hal mesum ke ibunya. Novia sendiri mulai melenguh karena permainan lidah dan tangan Jaka di buah dadanya. Melihat anaknya sudah kembali Novia berusaha untuk mendorong tubuh Jaka.

    “Jaka.. udah dong.. lama amat sih” kata Novia. Jaka tidak memperdulikan omongan Novia dan masih saja meneruskan menghisap payudara tersebut walau dia juga tahu bahwa Dennis sudah kembali.
    “Udah dong Jaka sayang..” katanya lagi.

    Sebenarnya Dennis cukup heran, padahal dia cukup lama menimang-nimang Windy tapi Jaka belum juga ngecrot. Apa Jaka sudah ngecrot waktu dia menimang-nimang Windy tadi? Pikirnya.

    Lanjut Baca

    Baca juga

  • Cerita Seks Bersambung – Anakku ajak Temannya setubuhiku 4

    Cerita Seks Bersambung – Anakku ajak Temannya setubuhiku 4

    Cerita Seks Bersambung – Walaupun Novia sudah berumur 34 tahun dan sudah melahirkan 2 orang anak, bahkan yang paling kecil sedang tahap menyusui, tapi tubuh Novia masih terawat dengan baik karena dia rajin olahraga untuk mengembalikan bentuk tubuhnya setelah melahirkan. Dengan kulit putih mulus dan bentuk tubuh yang bagus serta wajahnya yang manis menjadi daya tariknya. Suami-suami tetanggapun banyak yang melirik-lirik ke Novia saat Novia belanja ke warung ataupun melakukan aktifitas di luar rumah.

    Sungguh anak-anak remaja sekarang mudah sekali mendapat akses porno dari internet, hal itulah yang membuat mereka begitu labilnya kalau melihat wanita cantik. Dennis yang sebenarnya polos, mulai ikut-ikutan temannya. Diantara teman-temannya yang rata-rata berpikiran mesum ini ada yang paling parah, Jaka namanya. Jaka sendiri dianggap bos oleh rombongan geng yang Dennis ikut-ikutan ini. Itu karena usia Jaka yang sudah 17 tahun yang memang selayaknya sudah sma. Dennis sering dimintai uang rokok oleh Jaka, walaupun berat hati tapi terpaksa juga diberi oleh Dennis.

    Beberapa hari kemudian di sekolah, entah kenapa Dennis malah ingin mengajak Jaka ke rumah. Ya.. sebaga rival latihannya bersama mamanya tentunya. Dennis sendiri yang menerangkan panjang lebar ke Jaka tentang maksud tujuannya. Mendengar penjelasan Dennis ini, tentu saja Jaka semangat bukan main dan menyetujuinya. Sudah lama dia tertarik pada mamanya Dennis. Walaupun Novia bukan gadis abg tapi sungguh menggoda dan nafsuin seperti artis milf Jav yang sering dia tonton. Akhirnya setelah pulang sekolah Dennis mengajak Jaka ke rumahnya.

    “Ma.. Dennis pulang mah.. Dennis ajak teman nih..” kata Dennis masuk ke rumah yang tidak terkunci dan mempersilahkan Jaka duduk di sofa tamu.

    “Mah, ni Jaka.. yang dulu juga pernah main kesini” kata Dennis pada Novia. Tidak lama kemudian Novia muncul yang sepertinya habis menidurkan bayinya di kamar. Dia mengenakan daster rumahan biasa, meskipun begitu dia tetap saja terlihat cantik.

    “Oh.. Jaka” Novia tersenyum manis sambil menerima salaman tangan teman anaknya itu. Jaka mencium punggung tangan Novia. Mata Jaka tentu saja sudah mulai kelayapan kesana kemari menerawang ke tubuh wanita ini. Novia sebenarnya sadar mata anak itu kelayapan melihat tubuhnya, tapi entah kenapa dia merasa horni diperhatikan seperti itu. Sepertinya sifat eksibisionisnya muncul kembali. Sifat nakalnya yang pertama dia alami saat dia masih gadis dahulu yang sampai sekarang masih tetap ada. Ya.. dia memang senang kalau dirinya menjadi pusat perhatian kaum Adam. Tidak terkecuali oleh teman-teman anaknya sendiri.

    “Kamu udah dengar kan dari Dennis?”
    “Hehe.. udah tante, tapi beneran nih boleh ikutan?”
    “Hihi.. iya, boleh kok. Kamu mau kan bantu Dennis?”
    “Hehe.. oke tante, Jaka senang malah bisa bantu kaya gini” Novia tersenyum manis mendengar ucapan Jaka tersebut.

    “Ya udah, kalian mau sekarang?” tanya Novia dengan senyum di bibirnya.
    “Ntar yang menang tante kasih uang jajan deh..” tambahnya lagi. Dennis dan Jaka akhirnya setuju untuk saat itu juga memulai latihan ketahanannya. Dennis cukup malu-malu juga untuk telanjang di depan Jaka. Tapi Jaka malah terlihat tidak sabaran dan langsung saja membuka celananya. Cukup terkejut Novia melihat kelamin Jaka yang ternyata cukup besar, beda sekali dengan milik anaknya Dennis. Novia berusaha menyembunyikan keterkejutannya tersebut, walaupun matanya tetap menatap takjub anak seusia Jaka memiliki penis sebesar itu.

    “Umur kamu berapa sih Jaka?” tanya Novia ke Jaka.
    “17 tahun tante”
    “Ohh.. pantesan” sebenarnya Novia cukup heran juga Jaka masih smp dengan usia segitu, tapi Novia tidak ingin terlalu mempedulikannya dan membahas hal tersebut.

    “Pantesan kenapa ya tante?” tanya Jaka karena sedikit bingung.
    “Ahh.. nggak, mau tau aja.. hihi”

    “Yuk mulai” ajak Novia. Dia kemudian bersimpuh di tengah-tengah Dennis dan Jaka yang telah bertelanjang bulat dan sudah ngaceng dari tadi. Dennis sendiri sebenarnya masih merasa tidak nyaman dengan adanya Jaka yang ikut. Tapi sudah terlambat, dia sendiri yang mengajak Jaka kemari. Dada Dennis berdebar karena akan melakukan hal ini lagi, bahkan kini temannya ikut serta. Tangan Novia mulai mengocok kedua penis remaja tanggung ini di sisi kiri dan kanannya. Yang mana salah satunya milik anaknya sendiri.

    “Ahh… ma..” lenguh Dennis penuh kenikmatan.
    “Enak sayang? Kamu sendiri gimana jaka? Enak kocokan tante?” tanya Novia dengan wajah nakal pada dua remaja itu.

    “Iya tante, sedaap.. hehe, akhirnya kesampaian juga bisa dikocokin tante”
    “hmm?? Maksud kamu?”
    “hehe.. iya, sejak liat tante pertama kali Jaka jadi suka sama tante. Jaka jadi ngayalin tante tiap coli.”

    “Ha? jadi kamu sering ngayalin tante? Dasar kamu kecil-kecil udah gini..” kata Novia sambil tetap mengocok penis mereka.

    Setelah beberapa saat, terlihat ekspresi dari Dennis yang sepertinya sudah tidak tahan untuk keluar.“Ma… gak tahan.. agghh…”
    “Croot.. crroot” tumpahlah sperma Dennis di hadapan ibu dan temannya itu. Spermanya berlumuran tumpah di tangan ibunya.
    “Oughhh.. mah.. enak..” lenguh Dennis kenikmatan.
    “Yess.. gue menang, iya kan tante? Jaka yang menang kan?”
    “Iya-iya kamu yang menang. Hmm.. kamu mau tante lanjutin sampe keluar gak?”
    “hehe.. mau dong tante”
    “Ya udah..” tangan Novia kembali mengocok penis Jaka. Tidak butuh waktu lama karena Jaka memang sudah horni dari tadi. Tangan Novia pun kini berlumuran sperma Jaka.

    “Udah kan? kalian bersih-bersih dulu sana gih”
    “Iya ma..”
    “Iya tante..” jawab Dennis dan Jaka bersamaan. Mereka akhirnya bersih-bersih tidak lama setelah itu. Dennis dan Jaka kemudian menghabiskan waktunya dengan nonton tv sedangkan Novia ke dapur mempersiapkan makan malam. Selang beberapa lama terdengar suara tangisan bayi, tidak lain adalah tangisan Windy, adiknya Dennis. Novia yang mendengar suara tangisan anaknya pun segera menghentikan aktifitasnya di dapur. Novia kembali dari kamar sambil menenteng bayinya yang masih kecil, lalu duduk di kursi yang cukup jauh dari Dennis dan Jaka.

    “Oi, Den.. liat tuh.. jadi ngiler gue pengen nyusu ke nyokap lo” kata-kata yang sebenarnya sangat kurang ajar. Mengomentari ibunya seperti itu. Tapi entah kenapa Dennis juga merasakan hal yang sama dengan Jaka. Nalurinya tidak dapat dibohongi kalau dia juga ngaceng liat payudara ibunya sendiri yang sedang menyusui adeknya.

    “Gini deh, gue punya ide” kata Jaka.
    “Tante, mulai lagi yuk ronde selanjutnya. Kami udah tegang lagi nih..” pinta Jaka ke Novia.
    “Bentar yah sayang, tante lagi nyusuin Windy. Ntar dia gak kenyang lagi”
    “Tante.. hadiah untuk yang menang ronde selanjutnya tambahin dong tante.. masa cuma uang jajan”

    “Hmm.. terus?”
    “Gimana kalau.. ngggg… itu tante” kata Jaka sambil menunjuk ke arah payudara Novia yang masih menyusui bayi kecilnya.

    “Hihihi.. dasar kamu. Maksudnya nyusu? Porno yah kalian.. hihi” Novia malah merespon permintaan mesum Jaka sambil tertawa-tawa.

    “Oke deh, tante turutin. Dennis, kamu harus menang yah kali ini, jangan biarkan teman kamu yang malah dapat susu mama, kan kamu yang anaknya mama. Hihi..”

    “Iya ma.. Dennis usahain”

    Lanjut Baca

    Baca juga

  • Cerita Seks Bersambung – Anakku ajak Temannya setubuhiku 3

    Cerita Seks Bersambung – Anakku ajak Temannya setubuhiku 3

    Cerita Seks Bersambung – “Oughh.. enak mah.. terus..” racau Dennis. Sepertinya Dennis masih berusaha menahan mulutnya untuk tidak berkata-kata kotor. Novia putuskan untuk memancing anaknya dahulu.

    “Sayang.. menurut kamu mama cantik nggak?”

    “Cantik mah.. cantik banget..”

    “Seksi nggak sayang?”

    “iya mah..”

    “Berarti kamu nafsu dong liat mama?”

    “Iya mah.. Dennis nafsu liat mama.. mama cantik banget, seksi, menggoda..” Novia tersenyum mendengar jawaban Dennis, sepertinya caranya cukup berhasil.

    “Hihi, kamu nakal yah.. Apanya mama yang bikin kamu nafsu sayang?” goda Novia lagi sambil tetap mengocok penis Dennis.

    “Semuanya mah.. wajah mama, susu mama, paha mama, memek mama.. kontol Dennis ngaceng terus kalau liat mama” kata Dennis mulai berani ngomong jorok.

    “Hihi.. mesum kamunya.. udah pandai yah ngomong jorok ke mama.. terusin sayang.. ngomong aja..”

    “Dennis pengen ngentotin mama.. oughh.. ngulum tetek mama yang penuh susu sampai puas”

    “terus sayang? apa lagi? puas-puasin aja ngomong joroknya ke mama”

    “Dennis pengen genjotin memek mama pake kontol Dennis terus terusan.. siramin peju Dennis ke memek mama tempat Dennis lahir dulu sampai mama hamil anak Dennis” Novia tertawa renyah mendengar ucapan anaknya ini, ternyata bisa-bisanya anaknya berfantasi seperti itu ke mamanya.

    “Ngghh.. mau keluar mah.. gak tahan lagi..” lenguh Dennis.

    “Keluarin aja sayang.. gak usah ditahan”

    “Aaah…. Noviaaaaa” teriak Dennis menyebut nama mamanya. Novia menutup kepala penis Dennis dalam genggaman tangannya, sehingga akan membuat sperma Dennis tertampung di tangannya.

    Beberapa detik kemudian muncratlah sperma Dennis dengan banyaknya ke tangan Novia. Melumuri tangan mamanya dengan spermanya sendiri. Dennis merasa sangat puas sekali, semakin hari onani yang dia rasakan semakin nikmat saja.

    “Hihi.. banyak nih sperma kamu” kata Novia menunjukkan tangannya yang berlumuran sperma anaknya.

    “Enak yah sayang? Puas kan?”

    “Eh, tapi kayaknya kamu masih cepat aja keluarnya.. sepertinya perlu mama kasih latihan nih” kata Novia sambil membersihkan tangannya.
    “Latihan gimana mah?” tanya Dennis yang tidak paham maksud mamanya.

    “Latihan biar kamu bisa tahan lebih lama.. kan malu ntar kamu sama pacar kamu kalau kamu kecepetan keluarnya” jelas Novia. Sebuah ide yang gila yang entah dari mana datangnya tapi dia coba menjelaskannya dengan alasan yang masuk akal.

    “Oo.. emang gimana caranya mah?”
    “Hmm.. kamu biar mama bantuin onani, ntar kita hitung berapa waktunya sampai kamu keluar. Kita lihat perkembangan kamu tiap onani” kata Novia menjelaskan layaknya seorang trainer, dan benar kalau dia mulai saat itu menjadi seorang trainer sex bagi anaknya Dennis.

    Novia mulai membantu melatih ketahanan Dennis dengan tetap menggunakan tangannya, bagaimanapun dia tidak mau untuk melakukan hal lebih dari ini. Novia sendiri tidak begitu yakin benar atau tidak cara ini ampuh bagi Dennis. Tapi sedikit demi sedikit Dennis mulai lebih lama jebol pertahanannya.

    Mereka melakukan itu siang atau sore hari saat papanya Dennis sedang berkerja, rata-rata mereka melakukannya 1 sampai 2 hari sekali. Meski pernah juga dalam sehari Dennis sampai 2 kali berlatih hal tersebut. Untuk memberi Dennis semangat, mamanya kadang memberinya hadiah kalau Dennis bisa mencapai waktu yang ditentukan Novia. Bisa berupa ciuman, pelukan, dan uang jajan tapi Novia tidak mau memberinya lebih dari itu seperti hadiah-hadiah erotis.

    Sampai saat ini mereka masih menjaga agar hal ini tidak ketahuan oleh papanya Dennis. Pernah hari itu Dennis yang tidak tahan minta dionanikan oleh mamanya, padahal papanya berada di rumah saat itu. Mereka melakukannya diam-diam di dalam kamar mandi saat papanya sedang menonton tv. Dennis yang masuk duluan dengan dalih akan mandi, kemudian dengan diam-diam mamanya juga masuk tidak lama kemudian.

    “Gila kamu.. entar ketahuan papa bisa dihajar kamu”
    “Maaf deh ma..”
    “Hihi.. kayaknya makin hari kamu makin lancang aja yah.. tapi gak papa deh.. mama suka kalau kamu terus terang gini”

    Merekapun akhirnya melakukan hal itu lagi di sela-sela mandinya Dennis, tapi Novia masih tetap mengenakan pakaiannya. Tentu saja mereka tidak bisa bebas bicara mendesah seperti biasanya karena ada papanya di rumah.

    “Ayo sayang.. keluarin yang banyak” kata Novia berbisik sepelan mungkin.

    “Ngghh.. mah..” lenguh Dennis tertahan. Sperma Dennis tumpah lagi di tangan mamanya. Tapi apa yang dilihatnya kemudian membuat darahnya berdesir, mamanya menjilati sedikit lelehan spermanya.

    “Ueekk.. asin yah ternyata peju kamu..” kata Novia berbisik sambil tersenyum menggoda. Dennis cuma merespon ucapan mamanya dengan tersenyum karena tidak tahu harus ngomong apa. Setelah itu mamanya keluar dari kamar mandi setelah membersihkan tangannya, meninggalkan Dennis yang masih meneruskan mandinya.

    Hari itu Dennis melakukan hal itu lagi dengan Novia. Tapi lagi-lagi dia tidak dapat bertahan lama hanya dengan kocokan tangan mamanya. Spermanya kembali tumpah hanya dalam tiga menit lebih sedikit.
    “Udah keluar sayang?” tanya Novia melihat ke arah mata anaknya yang sedang meringis kenikmatan sehabis ejakulasi. Dia sadar anaknya sedikit demi sedikit mulai menunjukkan perkembangan, yang dulunya hanya tidak mampu lebih dari satu menit kini sudah lebih baik.

    “Masih belum bisa lama nih ma..” kata Dennis, terlihat wajah lesu di raut mukanya. Dia masih belum bisa untuk mencatatkan rekor waktu yang lebih lama lagi.

    “Udah lebih bagus kok.. setidaknya ada perkembangan, mama yakin kok kamu bisa lebih baik besok..” Kata Novia sambil mengedipkan matanya. Dia ingin anaknya mendapatkan pengalaman seks yang cukup nantinya dan tidak ingin membuat anaknya mendapatkan malu dari pacarnya karena ejakulasi yang cepat.

    “Gimana kalau kamu ajak temanmu kemari, ikut latihan denganmu” sebuah usul yang terdengar gila meluncur dari mulut Novia. Dennis sendiri terkejut mendengar usul ibunya tersebut. Mengajak temannya kemari? Untuk ikutan merasakan kenikmatan dari tangan ibunya? sungguh gila ide mamanya.

    “Kok harus mengajak orang lain segala sih ma?” tanya Dennis mencoba mengetahui apa yang sebenarnya mamanya pikirkan.

    “Gini sayang.. mama pikir kamu akan lebih semangat kalau kamu ada lawannya. Jadi ntar kamu lomba deh sama temanmu siapa yang paling lama, ntar yang menang dapat hadiah deh dari mama” jawab Novia. Sebuah alasan yang Dennis pikir ada benarnya juga omongannya, pasti dengan suasana seperti itu membuatnya lebih semangat dan tidak ingin cepat cepat keluar, pikir Dennis.

    “Oke deh ma.” Kata Dennis menyetujui. Dennis sebenarnya sedikit ragu untuk mengajak temannya. Dia juga tidak tahu siapa yang akan dia ajak. Beberapa temannya memang ada yang menyukai mamanya Dennis. Hal itu Dennis ketahui saat mengajak temannya main ke rumah. Teman-temannya yang abg labil seperti halnya Dennis tentu saja tidak bisa lepas melihat wanita cantik, termasuk Novia, mamanya Dennis. Mereka berkomentar betapa cantik dan seksi mamanya. Dennis yang mendengar hal tersebut awalnya tidak suka, tapi setelah dia perhatikan ternyata omongan temannya ada benarnya juga.

    Lanjut Baca

    Baca juga

  • Cerita Seks Bersambung – Anakku ajak Temannya setubuhiku 2

    Cerita Seks Bersambung – Anakku ajak Temannya setubuhiku 2

    Cerita Seks Bersambung – Novia tersenyum melihat penis anaknya yang sudah menegang maksimal walaupun ukurannya terbilang sedang. Sedangkan Dennis merasa begitu malunya telanjang dengan penis tegang mengacung di depan mamanya yang juga telanjang bulat ini. Dia berusaha menutup-nutupi kemaluannya dengan tangannya.

    “Gak usah ditutup-tutupi segala sayang, kan mama sendiri.. lagian mama juga udah pernah lihat” goda Novia. Memang Novia sudah pernah melihatnya, tapi itu beberapa tahun yang lalu. Sekarang sungguh berbeda, usia Dennis sudah jauh bertambah dan tanda-tanda kelakiannya sudah muncul. Dennis dengan masih malu-malu akhirnya membuka juga tangannya.

    Mereka akhirnya mandi bersama, Novia berusaha untuk tidak terlalu memperdulikan Dennis yang mupeng berat agar Dennis tidak tambah malu. Busa sabun yang tadi menutupi selangkangan Novia kini sudah terbilas bersih dengan air, sehingga kini Dennis bisa melihat vagina beserta bulu kemaluan milik mamanya lagi yang sudah lama tidak dilihatnya. Novia juga membantu Dennis menyabuni punggung Dennis dan membasuh rambut Dennis dengan busa sampo selayaknya ibu yang perhatian pada anaknya. Selama acara mandi tersebut penis Dennis selalu ngaceng, tentu saja karena terangsang karena keadaan ini.

    Akhirnya acara mandi itu selesai juga, mamanya keluar dari kamar mandi terlebih dahulu. Tapi sebelum keluar mamanya mengatakan sesuatu yang membuat Dennis jadi terkejut dan malu.

    “Kamu pasti udah gak tahan kan? kamu keluarin deh.. tapi jangan lupa dibersihin.. hihi.. mama ke kamar dulu yah” bisik Novia menggoda kemudian keluar dari kamar mandi. Sungguh malu Dennis karena mamanya mengetahui bebannya itu. Setelah mamanya keluar dan menutup kamar mandi, Dennis beronani menuntaskan nafsunya yang sudah sedari tadi diubun-ubun. Tentu saja yang menjadi objek onaninya kali ini adalah mamanya.

    Setelah saat itu, Novia semakin berani saja menggoda anaknya Dennis. Dia bahkan pernah hanya mengenakan kemeja dan celana dalam saja ketika hanya berduaan dengan anaknya di rumah. Saat Novia menyusui bayinya, dia tidak berusaha menutup-nutupi padangan Dennis ke arah buah dadanya, bahkan membuka kedua payudaranya sekaligus. Intensitas onani Dennis semakin bertambah karenanya, tentu saja selalu mamanya yang menjadi objeknya. Pernah saat mandi bersama dengan Dennis lagi, dia bahkan berada disana menyaksikan anaknya onani di depannya.

    “Gak apa nih ma? Dennis malu nih..”

    “Iya gak apa, mama tahu kok kalau kamu sering bayangin mama. Kali ini mama kasih bonus deh.. mama bakal temanin kamu, gak perlu cuma ngayal lagi kamunya..” kata Novia menggoda Dennis. Darah Dennis berdesir mendengarnya, walaupun malu dia sebenarnya senang bukan main mamanya mau menemaninya, bersedia membantunya onani dengan memandangi tubuh telanjang Novia langsung. Dennis akhirnya mulai beronani, dia mengocok penisnya sendiri. Sungguh berbeda sekali rasanya dengan hanya bisa membayangi, karena kini mamanya berada di depannya langsung. Bersedia tanpa paksaan menyerahkan tubuh telanjangnya menjadi objek onani anaknya.

    Novia hanya tersenyum saja selama anaknya beronani tersebut, membuat Dennis makin belingsatan. Tidak butuh waktu lama bagi Dennis untuk keluar. Itu karena sensasi yang dia alami kali ini jauh lebih luar biasa dari pada hanya dapat membayangi mamanya saja. Mamanya tertawa renyah melihat anaknya ejakulasi begitu cepatnya. Tapi dia dapat memaklumi karena anaknya memang masih hijau dalam urusan begini.

    “Udah keluar yah sayang? Enak kan? enakan mana dari pada ngebayangin doang?” goda Novia.
    “Enakan ini mah..” jawab Dennis malu.
    “Hihi.. kalau kamu mau boleh kok kapan-kapan minta mama bantuin kamu lagi” kata Novia tersenyum sambil mengedipkan mata kirinya ke Dennis. Dennis senang bukan main mendengar tawaran mamanya tersebut.

    “Eh.. tapi ngomong-ngomong tadi kamu keluarnya cepat amat”
    “Gak tau nih ma.. keenakan sampai gak tahan Dennis” jawab Dennis malu.
    “Hihihi.. iya.. mama maklum kok. Udah sana keringkan badan kamu. Mama masih mau lanjutin mandi, ini biar mama yang bersihin” kata Novia menyiram genangan sperma Dennis.

    Sebenarnya Novia menyuruh Dennis keluar karena dia juga merasa horni, dia ingin sedikit bersenang-senang dengan melakukan masturbasi dahulu sebelum menyelesaikan acara mandinya. Setelah Dennis keluar dan pintu tertutup. Novia berbaring di atas lantai kamar mandi berlapis marmer yang dingin, meskipun lantai itu terkesan kotor tapi dia tidak peduli lagi. Aksinya terhadap Dennis tadi betul-betul sudah membakar birahinya, dia ingin segera menuntaskan nafsunya. Dia mainkan vaginanya sendiri menggunakan jarinya, mengusap-ngusap klirotisnya sendiri. Tapi entah kenapa dia malah memikirkan Dennis, mungkin karena aksi nakalnya tadi yang cukup berani.

    “Ohh.. Dennis.. kamu nakal sayang, onani di depan mama.. nggmmhh..” racau Novia berbicara sendiri sambil mengusap-ngusap klirotisnya.

    “Kamu nakal Dennis.. mesum ke mama kamu sendiri.. oughh.. kamu mau ngentotin mama kamu sendiri? Nih.. boleh.. masukin gih..” racaunya lagi. Dia masukkan jarinya sendiri ke dalam vaginanya setelah mengatakan hal itu. Dia aduk-aduk vaginanya sendiri menggunakan jarinya sambil terus meracau sendiri.

    “Iyaah.. terus sayang.. entotin mama sayang.. yang kencaaang.. ougghh” Dia terus memainkan jarinya di vaginanya sendiri selama beberapa saat serta memilin-milin putingnya hingga air susunya merembes keluar.

    “mama mau sampai sayang.. kita keluar barengan.. terus sayang.. iya.. teruuusss.. mama sampaaaaaiiiiiiii.. aaaaahhhhhhhh…” lenguh Novia cukup kuat saat dia klimaks, dia tidak peduli kalau lenguhannya itu bisa terdengar oleh Dennis. Novia baru tersadar apa yang baru saja dia katakan saat masturbasi tadi, membayangi kalau dia bersetubuh dengan Dennis anaknya. Dia sendiri bingung kenapa sampai membayangi hal tersebut, tapi dia tidak memungkiri sensasi nikmat berbeda yang baru saja dia alami. Apakah itu nikmatnya sensasi incest? Pikirnya.

    Setelah saat itu Dennis beberapa kali mengajak Novia mandi bersama, tentu saja selalu disertai dengan onani di depan mamanya. Dia yang awalnya malu-malu, sekarang tidak segan lagi untuk mengajak dan meminta bantuan mamanya. Tidak jarang juga Novia melanjutkan masturbasi sendiri setelah itu, baik di kamar mandi maupun di kamar. Seiring waktu berlalu, Novia mulai menggunakan tangannya membantu Dennis onani. Mengocok penis anaknya dengan tangannya sendiri, sebuah kemajuan yang luar biasa dan cukup gila yang dilakukan oleh mereka. Novia juga mempersilahkan anaknya untuk ngomong kotor padanya.“Gak apa mah? gak usah deh ma.. gak sopan rasanya” kata Dennis berusaha menolak walaupun dia sebenarnya mau.
    “Hihi… Gak apa kali sayang.. kan pasti lebih enak, gak perlu ditahan-tahan lagi kalau kamu mau ngomong yang jorok-jorok ke mama.. keluarin aja dari mulut kamu apa yang kamu pikirin” kata Novia tersenyum manis sambil meneruskan mengurut penis anaknya.

    Lanjut Baca

    Baca juga

  • Cerita Seks Bersambung – Anakku ajak Temannya setubuhiku 1

    Cerita Seks Bersambung – Anakku ajak Temannya setubuhiku 1

    Cerita Seks Bersambung – “Iya.. hati-hati yah sayang..” kata ibunya. “Maaf yah sayang, papa gak bisa antar” kata papanya karena papanya juga akan berangkat kerja tidak lama lagi. “Gak apa kok.. daaaah..” kata Dennis dengan sedikit berlari meninggalkan rumahnya menuju sekolahMa.. Pa.. Dennis berangkat dulu” Kata Dennis pamit mencium tangan ke dua orang tuanya. 

    Namanya Dennis, umur 15 tahun dan masih duduk di kelas 3 smp. Tampang Dennis biasa-biasa saja bahkan dapat dikatakan culun dan cupu. Pengetahuannya akan seks juga sangat minim sampai akhirnya teman-temannya mulai memperkenalkannya vcd dan situs-situs porno hingga akhirnya dia mulai tertarik dan membuatnya kecanduan melihat sosok wanita telanjang. Keluarganya dapat dikatakan cukup mampu, rumah mereka cukup bagus meskipun tidak terlalu mewah. Papanya seorang pegawai swasta memiliki penghasilan lebih dari cukup untuk membiayai kehidupan keluarganya.

    Ibunya Dennis, Novia, berusia 34 tahun, telah melahirkan dua orang anak. Dennis dan satu lagi si kecil Windy yang masih bayi dan masih menyusu. Usianya cukup muda meskipun telah memiliki dua orang anak, itu karena Novia menikah dengan suaminya Panji, papanya Dennis, saat masih berumur 19 tahun. Novia sendiri memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang masih bagus. Keseharian Novia dihabiskan untuk mengurus rumah dan keluarganya. Tapi siapa sangka, dia merupakan seorang wanita yang memiliki hasrat seksual yang cukup tinggi. Bahkan dia memiliki sifat eksibisionis yang dimilikinya sejak masih abg dulu.

    Tentu saja sekarang dia tidak bisa bebas lagi melakukan hal tersebut karena sudah berumah tangga. Tapi sesekali kalau ada kesempatan, nalurinya beraksi kembali. Kadang dia sengaja mengenakan pakaian yang sekedarnya saat menerima tamu laki-laki saat suaminya tidak ada di rumah, membuat tamu itu menjadi mupeng melihat kulit Novia yang putih mulus tersaji di depan mata mereka. Atau pernah juga dia menggoda teman-teman Dennis yang masih abg labil itu dengan sengaja menyusui Windy di depan mereka, memperlihatkan buah dadanya yang sekal dengan urat-urat hijau yang tampak membayang.

    Kalau sedang dirumah memang Novia hanya mengenakan pakaian yang seadanya saja, termasuk dihadapan anaknya Dennis. Awalnya Dennis tentu saja tidak mempunyai pikiran macam-macam ke ibu kandungnya sendiri. Tapi karena pergaulan dengan teman-teman yang salah, otaknya mulai diracuni hal-hal mesum. Terlebih Dennis juga semakin dewasa dan naluri kelakiannya sudah mulai muncul. Sehingga kini bila melihat paha ibunya, ataupun buah dada ibunya saat menyusui adiknya, darahnya mulai berdesir dan kemaluannya juga merespon.

    Suatu hari Novia kedapatan memergoki Dennis yang sedang nonton bokep di laptopnya. Agak kesal juga sebenarnya Novia melihat kelakuan anaknya. Diberi fasilitas laptop dan internet ternyata malah digunakan seperti itu. Tapi dia paham kalau anaknya juga lelaki normal yang juga punya rasa penasaran dengan tubuh lawan jenis. Karena itu dia tidak terlalu memarahi anaknya, hanya sekedar menasehati saja.

    “Mama gak marah kan?” tanya Dennis lesu karena masih takut dimarahi, apalagi kalau sampai diaduin ke papanya.
    “Hmm.. gak, tapi jangan keseringan yah.. gak baik” ujar Novia.
    “Jangan kasih tau papa juga yah ma?” pinta Dennis lagi.
    “Hihi.. kenapa emang? Takut yah.. iya deh mama bakal diam”
    “Ya udah, lanjutin deh sana kalau mau lanjut.. mama mau ke mini market dulu..” sambungnya lagi.

    “Hihi.. sepertinya kamu udah besar yah sekarang?” Goda Novia lagi mengedipkan salah satu matanya sambil beranjak dari kamar Dennis. Tentu saja hal itu membuat Dennis jadi salah tingkah karena malu.

    Sejak saat itu Dennis merasa malu bila berjumpa mamanya, terlebih kalau dirinya kedapatan mencuri pandang ke arah mamanya. Novia hanya tersenyum dan tertawa renyah saja mendapati kelakuan anak sulungnya ini. Pernah saat itu Dennis pulang sekolah dan menemukan ibunya membukakan pintu hanya mengenakan handuk, tampak butiran air masih menempel di kulitnya yang masih lembab. Saat itu Novia sedang mandi dan acara mandinya terganggu karena Dennis pulang. Dennis tentu saja terpana melihat sosok indah di depannya ini. Novia yang sadar diperhatikan Dennis memergoki anaknya yang melongo memandang kearahnya.

    “Ayo kamu liatin apaan? Masa sama mama sendiri nafsu sih? Hihi..” goda Novia.
    “Eh, ng-nggak kok ma..” jawab Dennis tergagap karena mati kutu ketahuan melototi mamanya.
    “Beneran gak nafsu?” entah kenapa Novia malah tertarik menggoda anaknya sendiri.
    “Ng-nggak mah.. maaf mah..”
    “Hihi.. gak usah grogi gitu ah kamunya.. ya udah.. masuk sana, ganti baju” suruh Novia.

    “Kalau kamu mau mandi, sekalian aja mandi sama mama.. mama juga belum selesai mandinya” entah darimana lagi ide gila Novia itu berasal. Mengajak anaknya yang sedang mupeng itu mandi bersama. Dennis yang mendengar ajakan mamanya makin salah tingkah saja, dia tidak tahu harus menjawab apa, walaupun dia sebenarnya mau.

    “Kenapa? Gak mau? Ya udah terserah kamu deh.. mama lanjutin mandi dulu. Hmm.. ntar kalau kamu berubah pikiran datang aja.. hihi” kata Novia menuju kamar mandi meninggalkan Dennis yang masih melongo disana. Tampak hidungnya Dennis mengeluarkan darah karena mimisan.

    Setelah mengganti pakaiannya, Dennis sempat ragu menerima ajakan mamanya tadi. Apa mamanya serius tentang hal itu? Pikirnya. Tapi dia yang memang penasaran akhirnya menuju kamar mandi yang mana mamanya masih berada di sana.

    “tok-tok” suara ketukan pintu kamar mandi oleh Dennis. Tidak lama kemudian pintu kamar mandipun terbuka, kepala mamanya muncul dari balik pintu, menutupi tubuh telanjangnya.
    “Hihi.. beneran datang yah kamu akhirnya.. padahal mama cuma bercanda aja” kata Novia pura-pura.
    “Oh.. bercanda aja yah ma.. ya udah deh..” kata Dennis dengan wajah kecewa.

    “Eh eh, jangan ngambek gitu dong.. gak apa kok kalau kamu emang mau barengan.. sini masuk” ajak Novia lagi. Dennis dengan agak ragu akhirnya mau juga melangkah masuk. Dadanya berdebar bukan main ketika melangkah masuk ke kamar mandi. Dia mendapati mamanya telanjang bulat, dengan tubuh berlumuran busa sabun. Tampak busa sabun itu menggumpal menutupi daerah selangkangannya, memberi kesan seksi dan erotis. Kepala Dennis terasa berat menyaksikan itu semua, hidungnya serasa mau berdarah lagi, sungguh membuatnya tidak tahan. Penis di dalam celananya berontak bukan main ingin bebas.

    “Ye.. cepetan buka bajunya.. katanya mau ikutan mandi.. buruan telanjang” suruh Novia pura-pura tidak tahu kalau anaknya sedang mupeng berat ke dirinya. Dennis yang tersadar dari lamunannya jadi salah tingkah lagi, dia bahkan seperti kesusahan membuka pakaiannya sendiri, membuat Novia jadi tertawa geli melihatnya. Terakhir kali Dennis mandi bareng dengan mamanya waktu dia kelas 4 sd sebelum Dennis disunat, Dennis masih ingat betul bagaimana lekuk tubuh telanjang mamanya waktu itu. Tapi dulu dia tidak punya nafsu sama sekali melihat tubuh mamanya, berbeda sekali dengan sekarang.

    Lanjut Baca

    Baca juga

  • Cerita Dewasa Bersambung: Kenikmatan Tante Girang Part 4

    Cerita Dewasa Bersambung: Kenikmatan Tante Girang Part 4

    Cerita Dewasa Bersambung – Kami pun langsung mandi ke kamar mandi berdua dengan telanjang bulat dan kami melakukannya lagi di kamar mandi dengan posisi Tante Nina menungging di pinggir bak mandi. Aku melakukannya dengan cermat atas arahan Tante Nina yang hebat. Selasai itu jam pun menunjukan pukul 1 siang langsung makan siang dengan telur dadar buatan Tante Nina, setelah itu kamipun capai sekali sampai-sampai tertidur dengan Tante Nina di sampingku, tapi tanganku kuselipkan di dalam celana dalam Tante Nina. Kami terbangun pada pukul 3 sore dan sekali lagi kami melakukannya atas permintaan Tante Nina, tepat jam 4:30 kami mengakhiri dan kembali mandi, dan rombongan ibu-ibu pun pulang pukul 6 sore.

    “Sen kamu sudah baikan?” tanya Mamiku. “Sudah mam, aku sudah seger n fit nih” kataku. “Kamu kasih makan apa Ni, si Jansen sampai-sampai langsung sehat” tanya Mami sama Tante Nina. “Hanya bubur ayam sama makan siang telur dadar terus kukasih saja obat anti panas” kata Tante Nina. Esoknya kamipun pulang ke jakarta dan di mobil pun aku duduk di samping Tante Nina yang semobil denganku. Mami yang menyopir ditemani Ibu Herman di depan. Di dalam mobilpun aku masih mencuri-curi memegang barangnya Tante Nina.

    Sampai sekarang pun aku masih suka melakukannya dengan Tante Nina bila rumahku kosong atau terkadang ke hotel dengan Tante Nina. Sekali waktu aku pernah mengeluarkan spermaku di dalam sampai 3 kali. Kini Tante Nina sudah dikarunia 2 orang anak yang cantik. Baru kuketahui bahwa suami Tante Nina ternyata menagalami ejakulasi dini.

    Sebenarnya kini aku bingung akan status anak Tante Nina. Yah, begitulah kisahku sampai sekarang aku tetap menjadi PIL Tante Nina bahkan aku jadi lebih suka dengan wanita yang lebih tua dariku. Pernah juga aku menemani seorang kenalan Tante Nina yang nasibnya sama seperti Tante Nina, mempunyai suami yang ejakulasi dini dan suka daun muda buat obat awet muda, dengan menelan air mani pria.

    Lanjut Baca

    Baca juga

  • Cerita Dewasa Bersambung: Kenikmatan Tante Girang Part 3

    Cerita Dewasa Bersambung: Kenikmatan Tante Girang Part 3

    Cerita Dewasa Bersambung – “Sen, kenapa? Biasa saja donk kok gemetar kaya gitu sih” kata Tante Nina. Dia mulai memegang penisku lagi, “Sen Tante mau itu nih”. “Mau apa Tante?” “Itu tuh”, aku bingung atas permintaan Tante Nina. “Hmm itu tuh, punya kamu di masukin ke dalam itunya Tante kamu mau kan?” “Tapi Jansen enggak bisa Tante caranya” “Sudah, kamu diam saja biar Tante yang ajarin kamu yah” kata Tante Nina padaku.

    Mulailah tangannya mengelus penisku biar bangun kembali tapi aku juga enggak tinggal diam aku coba mengelus-elus vagina Tante Nina yang di tumbuhi bulu halus. “Sen jilatin donk punya Tante yah” katanya. “Tante Jansen enggak bisa, nanti muntah lagi” “Coba saja Sen” Tante pun langsung mengambil posisi 69. Aku di bawah, Tante Nina di atas dan tanpa pikir panjang Tante Nina pun mulai mengulum penisku. “Achh.. hgghhghh.. Tante” Aku pun sebenarnya ada rasa geli tapi ketika kucium vagina Tante Nina tidak berbau apa-apa. Aku mau juga menjilatinya kurang lebih baunya vagina Tante Nina seperti wangi daun pandan (asli aku juga bingung kok bisa gitu yah) aku mulai menjilati vagina Tante Nina sambil tanganku melepaskan kaus u can see Tante Nina dan juga melepaskan kaitan BH-nya, kini kami sama-sama telanjang bulat.

    Tante Nina pun masih asyik mengulum penisku yang masih layu kemudian Tante Nina menghentikannya dan berbalik menghadapku langsung mencium bibirku dengan nafas yang penuh nafsu dan menderu. “Kamu tahu enggak mandi kucing Sen” kata Tante Nina. Aku hanya menggelengkan kepala dan Tante Nina pun langsung menjilati leherku menciuminya sampai-sampai aku menggelinjang hebat, ciumannya berlanjut sampai ke putingku, dikulumnya di jilatnya, lalu ke perutku, terus turun ke selangkanganku dan penisku pun mulai bereaksi mengeras.

    Dijilatinya paha sebelah dalamku dan aku hanya menggelinjang hebat karena di bagian ini aku tak kuasa menahan rasa geli campur kenikmatan yang begitu dahsyat. Tante Nina pun langsung menjilati penisku tanpa mengulumnya seperti tadi dia menghisap-hisap bijiku dan juga terus sampai-sampai lubang pantatku pun dijilatinya sampai aku merasakan anusku basah. Kulihat payudara Tante Nina mengeras, Tante Nina menjilati sampai ke betisku dan kembali ke bibirku dikulumnya sambil tangannya mengocok penisku, tanganku pun meremas payudara Tante Nina

    Entah mengapa aku jadi ingin menjilati vagina Tante Nina, langsung Tante Nina kubaringkan dan aku bangun, langsung kujilati vagina Tante Nina seperti menjilati es krim. “Achh.. uhh.. hhghh.. acch Sen enak banget terus Sen, yang itu isep jilatin Sen” kata Tante Nina sambil menunjuk sesuatu yang menonjol di atas bibir vaginanya. Aku langsung menjilatinya dan menghisapnya, banyak sekali lendir yang keluar dari vagina Tante Nina tanpa sengaja tertelan olehku. “Sen masukin donk Tante enggak tahan nih” “Tante gimana caranya?” Tante Nina pun menyuruhku tidur dan dia jongkok di atas penisku dan langsung menancapkannya ke dalam vaginanya. Tante Nina naik turun seperti orang naik kuda kadang melakukan gerakan maju mundur.

    Setengah jam kami bergumul dan Tante Nina pun mengejang hebat. “Sen Tante mau keluar nih eghh.. huhh achh” erang Tante Nina. Akupun di suruhnya untuk menaik turunkan pantatku dan tak lama kurasakan ada sesuatu yang hangat mengalir dari dalam vagina Tante Nina. Hmm sungguh pengalaman pertamaku dan juga kurasakan vagina Tante Nina mungurut-urut penisku dan juga menyedotnya. Kurasakan Tante Nina sudah orgasme dan permainan kami terhenti sejenak.

    Tante Nina tidak mencabut penisku dan membiarkanya di dalam vaginanya. “Sen nanti kalau mau kencing kaya tadi bilang ya” pinta Tante Nina padaku. Akupun langsung mengiyakan tanpa mengetahui maksudnya dan Tante Ninapun langsung mengocok penisku dengan vaginanya dengan posisi yang seperti tadi. “Achh .. Tante enak banget achh.., gfggfgfg..” kataku dan tak lama aku pun merasakan hal yang seperti tadi lagi.

    “Tante Jansen kayanya mau kencing niih” Tante Nina pun langsung bangun dan mengulum penisku yang masih lengket dengan cairan kewanitaanya, tanpa malu dia menghisapnya dan tak lama menyemburlah cairan maniku untuk yang ke 2 kalinya dan seperti yang pertama Tante Nina pun menelannya dan menghisap ujung kepala penisku untuk menyedot habis maniku dan akupun langsung lemas tapi disertai kenikmatan yang alang kepalang.

    Lanjut Baca

    Baca juga

  • Cerita Dewasa Bersambung: Kenikmatan Tante Girang Part 2

    Cerita Dewasa Bersambung: Kenikmatan Tante Girang Part 2

    Cerita Dewasa Bersambung – Lalu Tante Nina menaikan celana dalam juga celana pendeknya terus kami gabung lagi sama ibu-ibu yang lain. Esoknya aku masih belum bisa melupakan hal semalam sampai sampai aku panas dingin.

    Hari ini semua pengen pergi jalan-jalan dari pagi sampai sore buat belanja oleh-oleh rekreasi. Tapi aku enggak ikut karena badanku enggak enak. “Sen, kamu enggak ikut?” tanya mamiku. “Enggak yah Mam aku enggak enak badan nih tapi aku minta di bawain kue mochi saja yah Mah” kataku.

    Yah sudah istirahat yah jangan main-main lagi” kata Mami. “Nina, kamu mau kan tolong jagain si Jansen nih yah, nanti kalau kamu ada pesenan yang mau di beli biar sini aku beliin” kata Mami pada Tante Nina. “Iya deh Kak aku jagain si Jansen tapi beliin aku tales sama sayuran yah, aku mau bawa itu buat pulang besok” kata Tante Nina.

    Akhirnya mereka semua pergi, hanya tinggal aku dan Tante Nina berdua saja di villa, Tante Nina baik juga sampai-sampai aku di bikinin bubur buat sarapan, jam menunjukan pukul 9 pagi waktu itu. “Kamu sakit apa sih Sen? kok lemes gitu?” tanya Tante Nina sambil nyuapin aku dengan bubur ayam buatannya.

    “Enggak tahu nih Tante kepalaku juga pusing sama panas dingin aja nih yang di rasa” kataku. Tante Nina begitu perhatian padaku, maklumlah di usia perkawinannya yang sudah 5 tahun dia belum dikaruniai seorang buah hati pun. “Kepala yang mana Sen atas apa yang bawah?” kelakar Tante Nina padaku. Aku pun bingung, “Memangya kepala yang bawah ada Tante? kan kepala kita hanya satu?” jawabku polos. “Itu tuh yang itu yang kamu sering tutupin pake segitiga pengaman” kata Tante Nina sambil memegang si kecilku.

    “Ah Tante bisa saja” kataku. “Eh jangan-jangan kamu sakit gara-gara semalam yah” aku hanya diam saja. Selesai sarapan badanku dibasuh air hangat oleh Tante Nina, pada waktu dia ingin membuka celanaku, kubilang, “Tante enggak usah deh Tante biar Jansen saja yang ngelap, kan malu sama Tante” “Enggak apa-apa, tanggung kok” kata Tante Nina sambil menurunkan celanaku dan CDku. Dilapnya si kecilku dengan hati-hati, aku hanya diam saja. “Sen mau enggak pusingnya hilang? Biar Tante obatin yah”

    “Pakai apa Tan, aku enggak tahu obatnya” kataku polos. “Iyah kamu tenang saja yah” kata Tante Nina. Lalu di genggamnya batang penisku dan dielusnya langsung spontan saat itu juga penisku berdiri tegak. Dikocoknya pelan-pelan tapi pasti sampai-sampai aku melayang karena baru pertama kali merasakan yang seperti ini.

    “Achh.. cchh..” aku hanya mendesah pelan dan tanpa kusadari tanganku memegang vagina Tante Nina yang masih di balut dengan celana pendek dan CD tapi Tante Nina hanya diam saja sambil tertawa kecil terus masih melakukan kocokannya. Sekitar 10 menit kemudian aku merasakan mau kencing.

    “Tante sudah dulu yah aku mau kencing nih” kataku. “Sudah, kencingnya di mulut Tante saja yah enggak apa-apa kok” kata Tante Nina. Aku bingung campur heran melihat penisku dikulum dalam mulut Tante Nina karena Tante Nina tahu aku sudah mau keluar dan aku hanya bisa diam karena merasakan enaknya.

    “Hhgg..achh.. Tante aku mau kencing nih bener ” kataku sambil meremas vagina Tante Nina yang kurasakan berdenyut-denyut. Tante Ninapun langsung menghisap dengan agresifnya dan badanku pun mengejang keras. “Croott.. ser.. err.. srett..” muncratlah air maniku dalam mulut Tante Nina, Tante Nina pun langsung menyedot sambil menelan maniku sambil menjilatnya.

    Dan kurasakan vagina Tante Nina berdenyut kencang sampai-sampai aku merasakan celana Tante Nina lembab dan agak basah. “Enak kan Sen, pusingnya pasti hilang kan?” kata Tante Nina. “Tapi Tante aku minta maaf yah aku enggak enak sama Tante nih soalnya Tante..” “Sudah enggak apa-apa kok, oh iya kencing kamu kok kental banget, wangi lagi, kamu enggak pernah ngocok Sen?” “Enggak Tante” Tanpa kusadari tanganku masih memegang vagina Tante Nina. “Loh tangan kamu kenapa kok di situ terus sih”. Aku jadi salah tingkah “Sudah enggak apa-apa kok, Tante ngerti” katanya padaku. “Tante boleh enggak Jansen megang itu Tante lagi” pintaku pada Tante Nina.

    Tante Nina pun melepaskan celana pendeknya, kulihat celana dalam Tante Nina basah entah kenapa. “Tante kencing yah?” tanyaku. “Enggak ini namanya Tante nafsu Sen sampai-sampai celana dalam Tante basah”. Dilepaskannya pula celana dalam Tante Nina dan mengelap vaginanya dengan handukku. Lalu Tante Nina duduk di sampingku “Sen pegang nih enggak apa-apa kok sudah Tante lap” katanya. Akupun mulai memegang vagina Tante Nina dengan tangan yang agak gemetar, Tante Nina hanya ketawa kecil.

    Lanjut Baca

    Baca juga

  • Cerita Dewasa Bersambung: Kenikmatan Tante Girang Part 1

    Cerita Dewasa Bersambung: Kenikmatan Tante Girang Part 1

    Cerita Dewasa Bersambung – Kejadian ini terjadi ketika aku kelas 3 SMP, yah aku perkirakan umur aku waktu itu baru saja 14 tahun, Aku entah kenapa yah perkembangan sexnya begitu cepat sampai-sampai umur segitu ssudah mau ngerasain yang enak-enak. Yah itu semua karena temen nyokap kali yah.

    Soalnya temen nyokap Aku yang namanya Tante Nina (biasa kupanggil dia begitu) orangnya cantik banget, langsing dan juga awet muda bikin aku bergetar. Tante Nina ini tinggal dekat rumahku, hanya beda 5 rumahlah, nah Tante Nina ini cukup deket sama keluargaku meskipun enggak ada hubungan saudara.

    Dan dapat dipastikan kalau sore biasanya banyak ibu-ibu suka ngumpul di rumahku buat sekedar ngobrol bahkan suka ngomongin suaminya sendiri. Nah Tante Nina inilah yang bikin aku cepet gede (maklumlah anak masih puber kan biasanya suka yang cepet-cepet).

    Biasanya Tante Nina kalau ke rumah Aku selalu memakai daster atau kadang-kadang celana pendek yang bikin aku ser.. ser.. ser.. Biasanya kalau sudah sore tuh ibu-ibu suka ngumpul di ruang TV dan biasanya juga aku pura-pura nonton TV saja sambil lirak lirik. Tante Nina ini entah sengaja atau nggak aku juga enggak tahu yah. Dia sering kalau duduk itu tuh mengangkang, kadang pahanya kebuka dikit bikin Aku ser.. ser lagi deh hmm.

    Apa keasyikan ngobrolnya apa emang sengaja Aku juga enggak bisa ngerti, tapi yang pasti sih aku kadang puas banget sampai-sampai kebayang kalau lagi tidur. Kadang kalau sedang ngerumpi sampai ketawa sampai lupa kalau duduk nya Tante Nina ngangkang sampai-sampai celana dalemnya keliatan (wuih aku suka banget nih).

    Pernah aku hampir ketahuan pas lagi ngelirik wah rasanya ada perasaan takut malu sampai-sampai Aku enggak bisa ngomong sampai panas dingin tapi Tante Nina malah diam saja malah dia tambahin lagi deh gaya duduknya. Nah dari situ aku sudah mulai suka sama tuh Tante yang satu itu.

    Setiap hari pasti Aku melihat yang namanya paha sama celana dalem tuh Tante. Pernah juga Aku waktu jalan-jalan bareng ibu-ibu ke puncak nginep di villa. Ibu-ibu hanya bawa anaknya, nah kebetulan Mami Aku ngsajak Aku pasti Tante Nina pula ikut wah asyik juga nih pikir ku. Waktu hari ke-2 malam-malam sekitar jam 8-9 mereka ngobrol di luar deket taman sambil bakar jagung.

    Ternyata mereka sedang bercerita tentang hantu, ih dasar ibu-ibu masih juga kaya anak kecil ceritanya yang serem-serem, pas waktu itu Tante Nina mau ke WC tapi dia takut. Tentu saja Tante Nina di ketawain sama gangnya karena enggak berani ke WC sendiri karena di villa enggak ada orang jadinya takut sampai-sampai dia mau kencing di deket pojokan taman. Lalu Tante Nina menarik tangan Aku minta ditemenin ke WC, yah aku sih mau saja.

    Pergilah aku ke dalam villa sama Tante Nina, sesampainya Aku di dalam villa Aku nunggu di luar WC eh malah Tante Ninan ngsajak masuk nemenin dia soalnya katanya dia takut. “Sen temenin Tante yah tunggu di sini saja buka saja pintu nya enggak usah di tutup, Tante takut nih”, kata Tante Nina sambil mulai berjongkok.

    Dia mulai menurunkan celana pendeknya sebatas betis dan juga celana dalamnya yang berwarna putih ada motif rendanya sebatas lutut juga. “Serr.. rr.. serr.. psstt”, kalau enggak salah gitu deh bunyinya. Jantungku sampai deg-degan waktu liat Tante Nina kencing, dalam hatiku, kalau saja Tante Nina boleh ngasih liat terus boleh memegangnya hmm. Sampai-sampai aku bengong ngeliat Tante Nina.

    “Heh kenapa kamu Sen kok diam gitu awas nanti kesambet” kata Tante Nina. “Ah enggak apa-apa Tante”, jawabku. “Pasti kamu lagi mikir yang enggak-enggak yah, kok melihatnya ke bawah terus sih?”, tanya Tante Nina. “Enggak kok Tante, aku hanya belum pernah liat cewek kencing dan kaya apa sih bentuk itunya cewek?” tanyaku.

    Tante Nina cebok dan bangun tanpa menaikkan celana sama CDnya. “Kamu mau liat Sen? Nih Tante kasih liat tapi jangan bilang-bilang yah nanti Tante enggak enak sama Mamamu”, kata Tante Nina. Aku hanya mengangguk mengiyakan saja. Lalu tanganku dipegang ke arah vaginanya.

    Aku tambah deg-degan sampai panas dingin karena baru kali ini Aku megang sama melihat yang namanya memek. Tante Nina membiarkanku memegang-megang vaginanya. “Sudah yah Sen nanti enggak enak sama ibu-ibu yang lain dikirain kita ngapain lagi”. “Iyah Tante”, jawabku.

    Lanjut Baca

    Baca juga